Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Perasaan Cemas


__ADS_3

“Kita akan tahu nanti, apakah kau masih bisa memegang kata-katamu itu saat kau sudah bertemu dengan Evans,” ucap Rendi dengan wajah datar


“Apa Kakak nggak percaya dengan perasaanku?”


“Bukannya aku nggak percaya. Hanya saja aku nggak akan bisa bersaing dengannya. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menahanmu di sisiku kalau dia benar-benar dia datang lagi ke dalam kehidupanmu. Aku nggak akan menang melawan masalalumu, Mel.” Rendi memalingkan wajahnya ke samping.


Dia kemudian memegang wajah Rendi agar bisa bertatapan dengannya. “Meskipun dia orang terdekat dari masalaluku, tapi Kakak harus ingat juga kalau Kakak adalah cinta pertamaku. Walaupun Kakak selalu mengacuhkan aku dulu, tetapi aku tetap menyukai Kakak. Aku nggak pernah menyukai orang lain selain, Kakak. Kakak bisa tanya kepada teman-temanku, sebesar apa perasaanku selama ini kepada kakak,” ujar Amel meyakinkan Rendi.


“Aku hanya nggak bisa membayangkan kalau suatu saat kau tidak lagi ada di sampingku.”


“Harus dengan apa aku meyakinkan Kakak kalau aku nggak akan meninggalkan Kakak?”


“Dengan ini.” Rendi meraih tangan Amel dan memasukkan sebuah cincin berwarna putih ke dalam jari manis Amel.


Mata Amel membelalak. “Kapan Kakak membelinya?”


“Aku membelinya di mall kemarin waktu aku ninggalkan kamu sebentar.”


“Tapi Kakak nggak perlu membelikan aku cincin ini." Amel menatap cincin yang ada di jarinya saat ini.


“Mulai sekarang, jangan pernah kamu lepaskan cincin ini dari tanganmu. Kalai suatu saat ku sudah nggak mencintaiku lagi atau kamu nggak mau lagi ingin bersama aku, cukup lepaskan cincin itu dari jarimu, maka aku akan mengerti kalau kamu nggak bisa meneruskan hubungan kita lagi.”


Amel memalingkan wajahnya. “Aku nggak mau menerima cincin ini.”


“Kenapa?”


“Bagaimana kalau cincinnya hilang? Apa Kakak akan menganggap kalau aku yang memutuskan hubungan kita?”


Rendi meraih dagu Amel supaya bisa bertatapan dengannya. “Tentu aja nggak. Cincin ini cumq sebagai simbol kalau aku mengikatmu secara pribadi,” ujar Rendi dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Mel, apa kamu yakin bisa menunggu sampai aku kembali ke sini lagi? Sepertinya keberangkatanku keluar negeri akan dipercepat.” Rendi menatap lekat iris hitam Amel.


“Kenapa tiba-tiba dipercepat?” tanya Amel dengan mata sedih. Ada perasaan tidak rela jika Rendi akan pergi begitu cepat meninggalkannya.


“Banyak dokumen yang harus aku urus di sana. Aku nggak bisa tinggal lebih lama di sini.”


“Apa Kakak harus pergi secepat itu?” tatap Amel dengan wajah sedih.


“Yaa, kau jangan khawatir. Kita masih bisa melakukan vidiocall setiap hari kalau kamu kangen denganku.”


“Aku cuma takut Kakak tiba-tiba menghilang dan meninggalkan aku seperti yang kak Evans lakukan,” ujar Amel sambil menunduk.


“Aku nggak akan pernah meninggalkanmu.”


“Janji?” Amel mengangkat jari kelingkingnya.


Rendi menatap sejenak jari kelingking Amel, dia tampak sedang berpikir. Ada keraguan di sorot matanya. “Kenapa Kakak diam saja? Apa jangan-jangan Kakak memang berencana meninggalkan aku?” tanya Amel saat melihat Rendi diam saja.


“Kenapa kakak berbicara seperti itu? Seolah-olah akan pergi jauh dan nggak bak kembali lagi,” tatap Amel dengan wajah penuh tanda tanya.


Rendi tersenyum lalu mengelus pipi Amel dengan lembut. “Maksudku, selama aku tidak di sini. Kau nggam boleh sedih. Aku takut kamu akan menangis seperti anak kecil saat merindukan aku. Kamu tenang saja, aku nggak akan tergoda dengan gadis di sana karena aku sudah mempunyai pacar yang sangat cantik sepertimu." Rendi berusaha untuk mencairkan suasana agar Amel tidak sedih.


“Beneran? Aku dengar gadis di sana cantik-cantik,” ucap Amel dengan tatapan penuh keraguan.


“Kamu nggak percaya sama aku? Aku ini laki-laki yang setia.”


“Nggak, gadis di sana itu lebih agresif dari pada di sini. Kakak bisa saja tergoda nanti.” Amel memalingkan wajahnya ke samping.


Sudut bibir Rendi melengkung, membentuk senyum manis di wajahnya. “Aku udah terbiasa hidup di luar negri, jadi aku sudah tahu kehidupan di sana. Aku nggak akan tergoda dengan gadis di sana, Mel,” jelas Rendi sambil menggenggam tangan Amel.

__ADS_1


“Itu kan dulu, beda cerita kalau sekarang. Bisa saja Kakak bertemu dengan gadis yang menarik, apalagi Kakak berencana berkuliah di kampus terbaik yang ada di sana. Kakak bisa bertemu dengan berbagai macam orang dari penjuru dunia, gadis-gadis yang tidak hanya cantik, tetapi juga pintar dan berwawasan luas, tidak seperti aku.”


Amel menundukkan kepalanya. Dia menyadari memiliki banyak kekurangan. Selama ini dia selalu khawatir Rendi akan berpaling darinya dan memilih gadis yang lebih baik darinya.


“Aku ke sana untuk sekolah, bukan untuk mencari pacarx apalagi pendamping hidup. Aku sudah memilikimu, untuk apa mencari yang lain. Memang banyak yang lebih darimu, tapi hanya kau yang aku mau, aku selalu merasa nyaman jika di dekatmu. Aku janji nggak akan tergoda dengan gadis lain.”


“Bagaimana kalau Kakak yang mengingkari janji Kakak sendiri?”


“Nggak akan,” jawab Rendi cepat. “Aku akan memberikan hotel dan resortku yang ada di Jepang untukmu kalau aku mengingkari janjiku. Aku akan meminta pengacaraku mengalihkan nama kepemilikan menjadi namamu sebagai jaminan kalau aku nggak akan mengingkari janjiku. Aku lalukan itu agar kau percaya kepadaku. Bagaimana?” tanya Rendi saat melihat keraguan di mata Amel yang tampak diam saja.


Amel langsung menggeleng cepat. “Bukan itu yang aku mau.”


“Lalu apa yang kau mau?”


“Setiap hari kakak harus selalu vidiocall dan menelpon aku. Kakak harus memberitahukan kepadaku apa saja yang kakak lakukan. Kakak juga harus ijin kepadaku kalau ingin pergi bersama teman-teman Kakak, terutama wanita. Kakak nggak boleh berdekatan dengan wanita lain. Aku nggak menginjinkan Kakak menerima tamu wanita dan membawanya masuk ke dalam apartemen Kakak. Aku juga nggam mengijinkan Kakak untuk berkunjung ke apartemen wanita lain, walaupun hanya teman.”


Rendi tertawa kecil saat mendegar permintaan Amel. “Iyaaa, sayaang. Aku bakal nurutim semua perintahmu." Rendi kemudian memencet lembut hidung Amel.


“Aku akan langsung memutuskan hubungan kita kalau aku tahu Kakak berbohong kepadaku, apalagi kalau sampai Lakak selinguh dariku. Aku akan langsung meninggalkan Kakak,” ancam Amel dengan wajah serius.


”Kalau kamu takut aku macam-macam di sana, maka, ikutlah denganku agar kau bisa melihat sendiri.”


“Kakak tahu sendiri kalau aku nggak bisa ikut dengan Kakak." Wajah berubah menjadi muram.


Melihat Amel yang tertunduk, Rendi kemudian mengelus pucuk kepala Amel. “Iyaa aku tahu. Aku nggak akan memaksamu. Aku bakal memasang CCTV di setiap ruangan apartemenku di sana, kecuali kamar mandi. Aku akan menghubungkan ke ponselmu juga, jadi kau bisa melihat apa saja yang aku lakukan saat di sana. Kamu bisa mengawasiku tanpa takut aku berbohong kepadamu. Kalau nggak terlalu penting, aku nggak akan pergi kemana-mana saat di sana." Rendi mencoba untuk meyakinkan Amel.


Amel kemudian mengangkat wajahnya. “Maafkan aku Kak karena bertingkah seperti anak kecil. Aku cuma takut. Entah kenapa waktu dengar Kakak akan pergi lebih cepat, muncul berbagai macam pikiran buruk di kepalaku.”


Rendi meraih tubuh Amel dan memeluknya. “Aku mengerti. Maafkan aku karena harus meninggalkanmu lebih cepat. Aku akan berusaha menyelesaikan kuliahku dengan cepat dan segera kembali ke sini.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2