
Amel langsung mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan Kenan. “Tapiii, kamu sudah mempunyai sekertaris, bagaimana dengan Siska?”
Kenan mulai membersihkan luka Amel. Amel tampak sedikit meringis saat Kenan menyentuh lukanya. “Aku akan memindahkan dia ke departemen lain.”
“Tapi kenapa tiba-tiba?”
“Aku tidak bisa mengawasimu kalau kamu masih bekerja di departemen itu, hanya dengan cara ini aku bisa menjagamu, agar tidak ada yang bisa melukaimu lagi!”
Amel memandang Kenan yang tampak fokus membersihakn lukanya. “Tapii, aku sudah nyaman dengan orang-orang di sana, apalagi ada sahabatku di departemen itu. Aku tidak ingin berpisah dengannya.”
Kenan menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap Amel sejenak. “Aku akan memindahkan temanmu juga ke sini. Dia bisa membantu pekerjaanmu sebagai asistenmu.”
Amel tertawa kecil. “Kamu jangan bercanda Kenan. Semenjak kapan sekertaris memiliki asisten.”
Setelah Kenan membersihakn luka dan menempelkan perban untuk menutup luka Amel. Kenan kemudian duduk bersandar di sofa. “Aku melakukan karena kamu tidak ingin pisah dengannya. Dia juga bisa meringankan pekerjaanmu agar kamu tidak lelah dalam bekerja.”
“Kamu benar-benar aneh Kenan, aturan yang mana kamu pakai. Tugasku adalah untuk bekerja bukan untuk bersantai di sini, tentu saja semua pekerjaan pasti melelahkan.”
“Tentu saja ini aturanku. Lambat laun kamu akan menjadi pemilik perusahaan ini, tentu saja kamu tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Aku akan meminta Fadil untuk mengatur meja untuk temanmu, di samping meja kerjamu.”
“Kamu tidak perlu melakukan ini Kenan, aku takut akan ada gosip yang aneh-aneh nanti. Lagi pula, siapa yang akan menikah denganmu. Kamu jangan sembarangan bicara.”
“Aku tidak peduli. Wku akan langsung memecat siapa saja yang berani bergosip tentangmu,” ucap Kenan acuh.
“Kenapa kamu melakukan ini semua?"
"Kamu akan mengerti nanti, kenapa aku melakukan semua ini untukmu."
"Aku hanya ingin berkerja dengan tenang di kantor ini Kenan, aku tidak ingin diistimewakan di sini.”
“Tapi sayangnya kamu memang istimewa, jadi kamu harus menerimanya. Bukankah, aku sudah pernah bilang kalau aku akan yang akan menjagamu sekarang,“ ucap Kenan santai.
“Aku akan baik-baik saja tanpa kamu jaga.”
Kenan menoleh pada Amel dengan senyum meremehkan. “Apa begini yang kamu maksud baik-baik saja?” Kenan menunjuk pada wajah Amel yang bengkak dan tangannya yang terluka.
“Kedepannya ini tidak akan terjadi lagi.”
Kenan berdiri. “Aku yang akan memastikan kalau kejadian ini tidak akan terjadi lagi.” Kenan berjalan menuju meja kerjanya. Dia berdiri menghadap dinding kaca dan menatap keluar. “Ini adalah tugasku. Kamu tidak perlu terbebani.”
__ADS_1
Amel menoleh pada Kenan yang tampak diam sambil berdiri membelakanginya.
Amel berdiri. “Baiklah, itu terserah padamu saja. Aku akan kembali ke ruanganku dulu.” Amel mulai berjalan menuju pintu keluar.
“Ingat, besok kamu langsung bekerja menjadi sekertarisku dan temanmu akan membantumu sebagai asistenmu.”
Amel berhenti lalu menoleh pada Kenan sebelum dia meninggalkan ruang Kenan. “Iya, terima kasih Kenan.” Amel kemudian berjalan meninggalkan ruangan Kenan.
******""
Sepulang kerja Amel tidak meminta jemput Devan karena dia akan pergi ke rumah sakit. Kenan memaksanya untuk pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka dan wajahnya yang bengkak. Kenan menelponnya sebelum jam pulang kantor. Kenan mengancam akan menyeretnya ke rumah sakit, jika dia tidak pergi sendiri untuk berobat.
Akhirnya, Amel memutuskan untuk ke rumah sakit sendiri. Dalam hati, Amel mengutuk permintaan Kenan yang terdengar konyol. Amel merasa kalau lukanya adalah luka kecil, wajahnya juga cukup di kompres denagn air dingin pasti akan sembuh.
Amel sebenarnya malu ke rumah sakit hanya karena hal sepele seperti itu, tetapi karena ancaman Kenan, dia terpaksa menebalkan wajahnya dan pergi berobat ke rumah sakit rekanan kantornya, jadi dia tidak perlu membayar untuk berobat di sana.
Saat ini Amel sedang berdiri di depan rumah sakit yang sudah lama tidak dia datangi. Rumah sakit yang penuh dengan kenangan masa lalunya. Rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat Rendi pernah dirawat.
Amel menatap rumah sakit itu dengan tatapan menerawangan, seolah mengingat kejadian dulu. Amel menghempuskan napas kemudian untuk masuk ke rumah sakit itu.
Setelah Amel mendaftar, Amel kemudian duduk menunggu antrian. Bersama dengan orang-orang yang sudah datang lebih dulu dari pada dia. Amel mendaftar ke dokter umum, pada sore hari poli umum tampak sangat ramai. Amel memutuskan untuk bermain ponselnya sambil menunggu antrian.
Dokter itu beberapa kali meminta maaf sebelum menyentuh wajah dan tangannya. Bahkan dokter itu meminta suster yang pergi mengambilkan obat di apotik rumah sakit itu. Padahal biasanya pasienlah yang akan pergi ke apotik rumah sakit untukuntuk mendapatkan obat.
Dokter itu bahkan meminta Amel untuk menunggu di ruangannya sampai suster itu datang membawa obatnya. Amel merasa kalau perlakuan dokter itu kepadanya tidaklah wajar.
Amel belum pernah bertemu dengan dokter yang berprilaku seperti itu sebelumnya. Apalagi ini adalah rumah sakit terbesar sekaligus terbaik di Jakarta, tidak mungkin memperkerjakan sembarangan dokter.
Amel mengelengkan kuat kepalanya, mengusir pikiran-pikiran konyol yang muncul di kepalanya. Amel memasukkan obat ke dalam tas, kemudian berjalan menuju lantai dasar rumah sakit.
Amel memutuskan untuk langsung pulang ke rumah karena langit sudah mulai gelap. Amel berjalan pelan sambil sesekali mengedarkan pandngannya kesekeliling rumah sakit.
Mata Amel tidak sengaja menangkap sosok pria tinggi dengan badan tegap sedang berjalan cepat meninggalkan pintu rumah sakit menuju parkiran depan rumah sakit dengan seorang wanita.
Amel tampak mematung sebentar, kemudian dia berjalan cepat menyusul orang yang dilihatnya tadi. Amel menoleh ke kanan dan kiri saat sudah berada di depan rumah sakit.
Napasnya terengah-engah saat dia berlari ke sana kemari dan tidak menemukan orang tersebut. Amel tampak tidak asing dengan punggung itu, tapi dia tidak bisa melihat wajahnya karena jarak antara orang itu dengan dirinya tadi cukup jauh.
Amel berdiri dengan napas yang terengah-engah. Dia menatap lurus ke depan.
Bisakah kita bertemu lagi?
__ADS_1
Mungkin cerita kita menjadi sebuah mimpi yang tidak bisa terwujud. Aku masih merindukanmu dan berpikir bahwa kau akan datang menghampiriku.
Aku masih berharap bahwa kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Meski aku mencoba untuk melupakanmu, tetapi tetap aku tak bisa kehilangan ingatan tentangmu. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu. Jangan membuatku menagis lagi Ren.
Aku masih sangat mencintaimu, jauh di dalam lubuk hatiku. Jika aku bisa kembali ke waktu itu, bahkan hanya satu hari saja, aku ingin membalikkan tindakanku dan ucapanku yang menyakitimu.
Aku tak akan membiarkan dirimu pergi. Aku akan terus memelukmu erat. Jika teringat waktu itu, aku sangat menyesal... sungguh sangat menyesal.
Jika waktu itu, aku mencoba untuk menahanmu, mungkinkah kisah kita akan berakhir bahagia? Aku masih di sini menunggumu, Ren. Tolong datang kembali padaku. Tak peduli kapan, tolong temukan jalan kembali padaku.
Amel menghela napas panjang lalu berjalan masuk lagi ke rumah sakit, setelah dia lelah berdiam diri di depan rumah sakit. Dia meminta Raka untuk menjemputnya.
Saat Amel melihat mobil Raka sudah berada di depan rumah sakit, Amel langsung berlari menuju mobil Raka. “Tumben lo minta jemput gue? Biasanya minta jemput Devan.” ucap Raka saat Amel sudah masuk dalam mobilnya.
“Abang kebaratan kalau Amel minta jemput,” ucap Amel dengan wajah kesal saat melihat wajah Raka yang tampak mengejeknya.
Raka memencet hidung Amel. “Lagi dapet ya? Sensitif banget.” Raka tertawa saat melihat wajah kesal Amel.
Amel menatap tajam Raka. “Jangan ganggu Amel. Amel lagi pengen makan orang nih. Buruan jalan, Bang,” ucap Amel ketus.
Suasana hati Amel sedang tidak baik hari ini. Dia sangat lelah karena berbagai macam kejadian tidak terduga terjadi hari ini.
“Sereem amat. Masa cantik-cantik makan orang,” canda Raka sambil melajukan mobilnya.
“Bang besok sibuk nggak?” tanya Amel tanpa menggubris ucapan Raka.
Dahi Raka mengerut. “Kenapa?” Raka malah balik bertanya pada Amel.
“Pulang kerja besok anterin Amel ke rumah sakit itu ya?” pinta Amel.
“Lo sakit?” tanya Raka.
Amel menggeleng kuat. “Amel cuma mau mastiin sesuatu.”
Raka menautkan alisnya. “Kenapa nggak minta anter Devan?”
“Kak Evans lagi keluar kota, ada meeting di luar kota.”
Raka mengangguk. “Okeee,” jawab Raka singkat.
Bersambung....
__ADS_1