Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kemarahan Ibu Rendi


__ADS_3

Rendi hanya menatap Amel yang tampak diam setelah berbicara dengan Devan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka sampai mereka tiba di Jakarta, tepatnya di hotel Rendi.


Kenan memutuskan untuk pulang setelah memastikan Rendi dan Amel masuk ke dalam hotel. Amel menghentikan langkahnya sebelum sampai di kamar orang tua Rendi.


“Kak, aku takut, Bagaimana kalau orang tuamu marah dan mengusir kita?” tanya Amel sambil memegang lengan Rendi.


"Tenang saja ada aku. Itu tidak akan terjadi. Kau hanya perlu diam dan tetap di sampingku. Aku yang akan berbicara dengan orang tuaku,” ucap Rendi sambil memegang bahu Amel dan menatap lekat matanya.


Setelah meyakinkan Amel, Rendi memencet bel kamar orang tuanya. “Kak masuklah, mama dan papa sudah menunggumu,” ucap Sofi saat melihat kakak dan Amel sudah berada di depan pintu.


Saat dalam perjalanan menuju Jakarta, Rendi sudah menghubungi ibunya kalau dirinya dan Amel sedang berada dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.


Rendi memegang tangan Amel dan berjalan masuk lalu berhenti tepat di depan ibu dan ayahnya yang sedang duduk di sofa sambil menatap kedatangan mereka.


Rendi maju selangkah kehadapan orang tuanya. “Ma,Pa ... Aku ingin meminta restu pada kalian untuk menikahi Amel besok,” ucap Rendi dengan wajah serius.


Lilian langsung menatap tajam anaknya. “Apa kamu pikir pernikahan sebuah permainan? Bagaimana mungkin kamu mengatakannya dengan mudah? Kamu baru saja membantalkan pertunanganmu dengan Friska dan sekarang kamu sudah mau menikahi Amel? Apa kamu sudah gila?” tanya Lilian dengan suara tinggi.


Papa Rendi hanya menghela napas dan lebih memilih diam karena tidak ingin memperkeruh suasana.


“Maa, aku tidak mencintai Friska. Mama tahu sendiri, saat itu aku hilang ingatakan aku dan mengira dia adalah Kila sehingga aku menerima perjodohan itu. Aku mencintai Amel dan hanya akan menikah dengannya.”


“Seharusnya kamu berdiskusi dengan mama dan papa dulu sebelum kamu memutuskan pertunanganmu dengan Friska. Tindakan gegabahmu sudah merusak hubungan baik antara kami dan orang tua Friska karena tindakanmu bodohmu itu,” ucap Lilian dengan tatapan marah.


“Aku akui itu salah. Aku hanya tidak ingin Amel meninggalkan aku, Ma. Aku sangat mencintainya.”


Lilian menatap Amel sejenak lalu beralih pada Rendi. “Bagaimana kalau kami tidak merestuimu? Apa kamu akan tetap menikahinya?”


Tubuh Amel menegang. Dia sudah menduga kalau orang tua Rendi tidak akan merestuinya. Apalagi alasan Rendi membatalkan pertunangannya dengan Friska adalah karenanya.


“Aku akan tetap menikahinya. Aku akan melepas semua yang aku punya, Ma. Tolong berikan restu kepada kami. Saat ini Amel sedang hamil anakku. Aku tidak bisa melepasnya,” ucap Rendi dengan wajah serius.


Mata Amel membelalak saat mendengarkan perkataan Rendi. Bukan hanya Rendi, tapi kedua orang tua Rendi dan Sofi pun dibuat terkejut saat mendengar pengakuan Rendi.


Amel seketika menoleh pada Rendi. “Kaaaak,” ucap Amel dengan nada terkejut.


Rendi menoleh pada Amel sambil memegang tangannya. "Percaya padaku."


Lilian maju mendekati Rendi lalu mengangkat kepalanya dengan cepat.


“Plaaak.” Lilian menampar Rendi dengan


keras. “Berani sekali kamu merusak anak gadis orang. Apa kami pernah mengajarkanmu berbuat seperti itu?” tanya Lilian dengan nada tinggi.


Sofi dan Amel menatap iba pada Rendi ketika melihat wajahnya memerah.


Roy melangkah maju saat Lilian akan menampar Rendi lagi. “Sudaah Ma, kita harus bicarakan dengan kepala dingin." Ayah Rendi membimbing istrinya untuk duduk kembali.


Setelah sedikit tenang, Amel melangkah dan menghampiri Rendi lalu memegang lengannya. "Kak."


Amel nampak merasa bersalah sekaligus prihatin melihat Rendi mendapatkan tamparan dari ibunya. Amel hanya tidak menyangka kalau Rendi akan mengatakan itu.


Rendi menoleh pada Amel sambil mengelus lengannya dengan pelan. “Aku tidak apa-apa." Rendi tahu kalau saat ini Amel sedang mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Setelah duduk, Lilian menatap marah pada Rendi. “Kalau kamu memang mencintainya, kau seharusnya berusaha menunjukkan keseriusanmu pada kami agar kami setuju. Bukan dengan cara merusak Amel, Ren! Kamu benar-benar sudah mengecewakan kami. Mama selalu mendidikmu untuk menghargai dan menghormati wanita, tapi kenapa sekarang kau malah berbuat hal rendah seperti itu, Ren? Kau sudah merusak kepercayaan kami."


Mata Lilian mulai berkaca-kaca. Rasa kecewanya sangat besar terhadap anaknya. Dia merasa kalau dia sudah gagal mendidik anaknya. Dia bahkan tidak pernah menyangka kalau anaknya akan merusak anak orang lain.


“Maafkan aku, Ma. Aku terpaksa melakukannnya. Hanya ini caranya agar Mama dan Papa bisa meresetui hubungan kami.”


“Ren, kami pasti akan merestuimu dengan Amel jika kau melakukannya dengan benar. Mamamu memang sempat menentangnya dulu. Mamamu tidak pernah membenci Amel, dia hanya ingin melihat keseriusanmu dengan Amel,” ucap Ayah Rendi dengan wajah tenang.


“Semenjak kapan kau menjadi pria brengksek, Ren! Selama ini kamu selalu bisa menjaga diri dengan baik. Kenapa sekarang kau seperti ini?” tanya Lilian sambil menitikkan air mata. Dia sudah tidak bisa menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.


Rendi maju dan bersimpuh di depan ibunya. Sebenarnya dia tidak tega menyakiti hati ibunya. Hanya saja, dia tidak bisa membiarkan Amel menikah dengan Devan.


“Maafkan aku, Ma. Aku hanya takut kehilangan Amel.”


Roy mencoba menenangkan istrinya yang terlihat masih marah dan kecewa. “Ma, bagaimanapun ini sudah terjadi. Lebih baik kita segera menikahkan mereka sebelum perut Amel membesar.”


Lilian menoleh pada suaminya. “Anak ini sudah merusak anak orang, Pa. Mama tidak mempunyai muka lagi untuk menemui ibunya Amel. Bagaimana cara kita untuk meminta maaf pada keluarganya? Mereka pasti akan kecewa saat mendengar anaknya sudah dirusak oleh Rendi." Air mata Lilian kembali menetes di pipinya.


Roy mencoba mengusap lembut mengelus punggung istrinya untuk menenangkannya. “Aku dan Jhon yang akan menemui keluarga Amel kalau kau tidak sanggup bertemu dengan mereka. Kami akan meminta maaf pada keluarganya secara langsung,” ucap Roy kepada istrinya.


Roy lalu menoleh pada anaknya. “Papa akan meminta Jhon untuk mengurus pernikahanmu. Papa juga akan meminta bantuan pada Bianca untuk membantu mempersiapkan pernikahanmu. Kamu tidak bisa menikahi Amel besok. Pernikahanmu akan di lakukan 3 hari lagi. Resepsi kedua akan di lakukan di Jerman. Papa juga akan mengumumkan tentang pernikahanmu kepada semua media.” Roy terlihat lebih bisa mengendalikan dirinya. Dia tidak terpengaruh dengan suasana yang sempat menegang.


“Bangunlah,” lanjut Ayah Rendi lagi.


“Terima kasih, Pa." Rendi berdiri lalu mengampiri Amel lagi.


“Sudah berapa bulan kehamilan Amel?” tanya Lilian sambil menatap tajam anaknya.


“Aku juga tidak tahu, Ma,” jawab Rendi pelan.


Lilian kemudian berjalan mengampiri Rendi lagi. “Tante, tolong jangan menyalahkan Kak Rendi, Ini salahku,” ucap Amel saat melihat Lilian akan memukul Rendi lagi.


Lilian kemudian menoleh pada Amel. “Jangan membelanya, Mel. Dia memang pantas untuk dipukul. Dia sudah merusak masa depanmu,” ucap Lilian marah.


Rendi menarik Amel berdiri di belakangnya. “Maa, ini memang salahku. Tolong maafkan aku,” ucap Rendi memohon.


Lilian menatap marah pada anaknya. “Dasar anak kurang ajar! Menjauh dari Amel!" Lilin memukul lengan Rendi berkali-kali agar melepaskan penganngan tangannya pada Amel.


Setelah tangan mereka terlepas, Lilian menghampiri Amel dan menuntunnya untuk duduk. “Maafkan mama, Mel. Mama tahu ini tidak akan cukup untuk menebus kesalahan Rendi padamu. Ini salah Mama karena tidak becus dalam mendidiknya,” ucap Lilian sambil memeluk Amel.


“Tapi Rendi nggak salah Tante, ini ....”


Lilian melepaskan pelukannya. “Ku jangan membela anak itu lagi. Lebih baik kamu pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu bersama Rendi. Kamu sudah melakukan perjalanan jauh. Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganmu. Bagaimanapun itu adalah cucumu mama juga.”


“Tapi Tante ....”


“Panggil Mama. Kamu akan segera menikah dengan Rendi dan menjadi bagian keluarga kami,” ucap Lilian dengan lembut.


Amel mengangguk. ”Baik, Ma.” Lilian lalu menoleh pada anaknya. “Apa yang kau lakukan di situ? Cepat antar Amel ke rumah sakit. Kalau sampai calon cucu mama kenapa-napa. Aku akan mencoretmu dari daftar keluarga,” ucap Lilian dengan tatapan kesal.


“Baik, Ma." Rendi menghampiri Amel kemudian berpamitan pada ibu dan ayahnya, setelah itu mereka keluar dari kamar orang tua Rendi.


Amel berhenti sejenak di depan pintu kamar orang tuanya Rendi setelah pintu tertutup “Kak, aku tidak mau di periksa. Aku tidak hamil,” ucap Amel dengan tegas.

__ADS_1


“Apa kamu nggak lihat tatapan mengerikan mama padaku tadi? Dia seperti ingin membunuhku. Kita harus tetap ke rumah sakit. Aku juga ingin tahu apa kau hamil anak Devan atau tidak,” ucap Rendi sambil menarik tangan Amel cepat.


Amel terpaksa mengikuti langkah Rendi. “Sudah aku bilang aku tidak hamil, Kak. Kenapa Kakak tidak percaya padaku?” tanya Amel sambil terus berjalan.


“Kita akan mengetahuinya nanti. Yang pasti kita harus ke rumah sakit sekarang.” Rendi berjalan menuju mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit miliknya


Sesampainya di rumah sakit, Rendi langsung menemui Dokter Jhon di ruangannya. Saat ini, Dokter Jhon sudah menjabat sebagai Direktur di rumah sakit itu. “Jhon, tolong carikan Dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini,” ucap Rendi setelah dia berada di dalam ruangan Dokter Jhon.


Dahi Dokter Jhon mengerut. “Untuk apa?” tanya Kokter Jhon dengan wajah heran.


“Untuk memeriksa kandungan Amel,” jawab Rendi singkat. “Carikan Dokter wanita. Aku tidak mau kalau lelaki yang menanganinya,” lanjut Rendi lagi.


“Apa kamu mabuk?” tanya Dokter Jhon saat melihat Rendi terlihat duduk santai di sofa bersama Amel.


Rendi menoleh dengan wajah acuu tak acuh. “Amel sedang mengandung anakku. Jangan banyak tanya, cepat carikan sekarang,” ucap Rendi dengan wajah tidak sabar saat melihat Dokter Jhon tampak masih diam di tempat duduknya.


Dokter Jhon terdiam beberapa setelah itu berjalan menghampirinya dan duduk di depannya. “Jangan bercanda denganku. Aku ini sedang sibuk.”


“Apa kau melihatku sedang tertawa? Aku serius,” jawab Rendi kesal.


“Aku mengenalmu lebih dari pada orang tuamu. Kau tidak bisa membohongiku. Kau tidak mungkin menghamilli anak orang sebelum menikah.”


Rendi menghela napas. “Aku akan melangkahimu. Tiga hari lagi aku akan menikah. Papa akan menghubungimu nanti untuk mengurus pernikahanku. Kau tunggu saja,” ucap Rendi santai.


Dokter Jhon masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rendi. “Baiklah, kau harus menceritakan semuanya padaku nanti,” ucap Dokter Jhon sambil berdiri. “Sekarang ikut aku ke bawah. Aku akan mengantarmu untuk menemui Clarisa, Dia adalah Dokter kandungan terbaik di sini,” ucap Dokter Jhon sambil berjalan menuju pintu keluar. 


Rendi dan Amel mengikuti Dokter Jhon menuju ruangan Dokter Clarisa. “Kak, aku benar-benar tidak hamil,” ucap Amel sambil terus mengikuti langkah Rendi dan Dokter Jhon.


Rendi menoleh sebentar pada Amel. “Aku hanya ingin tahu. Mama juga sudah memintaku untuk memeriksanya. Kau tidak perlu takut. Cukup ikuti saja pemeriksaan ini." Rendi terus berjalan mengikuti langkah Dokter Jhon sambil memegang tangan Amel.


Amel menghela napasnya. Dia nampak sudah pasrah. Dia memilij untuk diam karena tidak mau berdebat lagi dengan Rendi. “Masukklah,” ucap Dokter Jhon setelah pintu ruangan Dokter Clarisa dibuka.


Dokter Jhon tampak berbicara sebentar dengan Dokter Clarisa setelah itu kembali lagi kepada Rendi.


“Mel, masuklah ke dalam." Dokter Jhon menunjuk ruangan yang di tutupi oleh sebuah tirai.


Amel mengangguk dan berjalan masuk. “Kau di sini saja. Biarkan dia sendirian,” ucap Dokter Jhon saat melihat Rendi akan melangkah mengikuti Amel.


Rendi terpaksa mengikuti Dokter Jhon duduk sambil menunggu Amel selesai diperiksa.


Setelah 20 menit menunggu, Dokter Clarisa memanggil Dokter Jhon untuk masuk ke ruangan yang di tutupi oleh tirai. Rendi menanti dengan perasaan cemas. Dia berpikir kalau terjadi sesuatu pada Amel saat melihat Dokter Jhon tidak kunjung keluar.


Kecemasan Rendi bertambah saat melihat wajah lesu Dokter Jhon. “Apa yang terjadi?” tanya Rendi pada Dokter Jhon saat dia sudah berada di depannya.


Tidak lama kemudian Amel juga ikut keluar. “Lebih baik kita bicara di ruanganku,” ucap Dokter Jhon pelan. “Aku yang akan menjelaskan secara detail nanti,” ucap Dokter Jhon lagi saat melihat wajah cemas Rendi.


Rendi menghampiri Amel. Setelah mengucapkan terima kasih pada Dokter Clarisa, mereka menuju ruang Dokter Jhon lagi. Setelah sampai di ruangannya, Dokter Jhon menghempaskan tubuhnya di sofa dan memijit keningnya.


“Apa kau impoten?” tanya Dokter Jhon setelah melihat Rendi sudah duduk di depannya.


“Kau menyumpahiku atau meremehkan aku?” tanya Rendi dengan wajah kesal.


Amel menahan senyumnya saat mendengar pertanyaan Dokter Jhon pada Rendi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2