
Rendi merubah posisinya lalu duduk tegak menghadap Amel. "Mel, kalau suatu saat terjadi sesuatu sama aku? Apa kamu bakal berpaling sama laki-laki lain?" Rendi tidak menjawab pertanyaan Amel, melainkan melayangkan pertanyaan yang lain.
Amel merasa heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Rendi. "Apa maksud Kakak tanya kayak itu? Apa ada masalah dengan hasil pemeriksaan, Kakak?" Amel menatap Rendi dengan tatapan khawatir. Perasaannya tidak nyamannsaat Rendi mengajukan pertanyaan itu kepadanya.
Rendi menggeleng. "Semuanya baik-baik aja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Rendi berbohong.
Amel menatap Rendi dengan tatapan menyelidik. "Benaran, Kakak nggak bohong sama aku?"
"Hhmm," gumam Rendi sambil mengangguk. Dia berusaha untuk menutupinya dari Amel.
"Terus kenapa Kakak tanya kayak gitu?" Amel belum mau menyerah begitu saja. Dia merasa ada yang aneh dengan Rendi.
Rendi mengusap lembut kepala Amel. "Aku cuma mau tahu. Nggak ada hubungannya sama hasil pemeriksaan aku. Aku cuma takut kamu bakal ninggalin aku suatu saat nanti." Rendi menurunkan tanganya dan menghindari tatapan menyelidik Amel.
"Dengarin aku, Kak. Aku nggak suka kalau Kakak nyembunyiin sesuatu dari aku, apapun itu. Kalau aku tahu ada yang Kakak rahasiakan dari aku, aku baka marah sama Kakak," ucap Amel dengan tatapan tajam. "Aku juga nggak suka kalau kakak berpikir yang macam-macam seperti tadi."
"Iyaa sayaang." Rendi tersenyum paksa kepada Amel.
Pikirannya berkecamuk setelah mendengar kata-kata Amel.
"Kakak kenapa diam?" Amel menyentuh tangan Rendi saat melihatnya tampak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Rendi mengalihkan pandangannya pada Amel dan mengelus tangan Amel. "Nggak apa-apa." Rendi tersenyum paksa, "mungkin aku belum bisa sekolah besok, aku harus beristirahat beberapa hari lagi."
"Iya Kak, Kakak lebih baik beristirahat sampai sembuh."
"Selama aku nggak masuk sekolah, kamu harus ingat nggak boleh berdekatan dengan siapapun. Aku ngelarangn kamu untuk berduaan sama laki-laki lain, termasuk Raka. Kau harus kasih tahu aku apapun yang kamu lakuin di sekolah. Kalau kamu mau perg, kamu harus ijin sama aku."
Apalagi ini. kenapa dia semakin mengekangku. Aku bahkan nggak bisa bebas bertemu dengan orang lain.
__ADS_1
Amel menghela napas beratnya. "Iyaa, Kak. jangan khawatir." Bagaimanapun Amel harus menyetujuinya. Suasana hati Rendi baru saja membaik. Dia tidak mau bertengkar lagi dengan Rendi.
Amel dan Rendi menoleh ke pintu saat terdengar suara ketukan pintu. Rendi lalu berdiri dan membuka pintunya. "Mama mencari Kakak, Kakak di tunggu dibawah," ucap Sofi saat melihat Rendi yang membuka pintu.
Sofi mendekat ke Rendi, dia melirik sekilas ke dalam kamar seperti sedang mencari seseorang. "Ada kak Friska juga di bawah, Kak," ucap Sofi pelan agar tidak terdengar oleh Amel.
Rendi terlihat malas setelah mendengar perkataan Sofi yang terakhir. "Nanti kakak ke bawah." Sofi mengangguk lalu berlalu meninggalkan kamar Rendi.
Rendi kemudiab berjalan mendekati Amel. "Mama nyari aku," ucap Rendi sesaat setelah dia duduk di samping Amel.
"Kalau gitu ayo kira turun." Rendi menahan tangan Amel saat melihatnya sudah berdiri. "Kenapa, Kak?" Amel menoleh pada Rendi.
Rendi mengangkat kepalanya, menatap Amel yang masih berdiri di dekatnya. "Ada Friska di bawah." Raut wajah Amel tampak berubah. "Jangan dengarin apapun yang dia katakan. Aku cuma takut, dia nyari masalah lagi sama kamu. Aku harap kamu nggak memasukkan ucapannya ke dalam hati." Rendi khawatir jika kejadian terakhir terjadi lagi saat Friska menghina Amel.
"Tenang saja, aku bakal berusaha sabar ngadepin dia demi Kakak." Amel menarik tangan Rendi untuk bangun dari duduknya.
Lilian menoleh, menatap Rendi yang sedang berdiri di belakangnya. "Ada yang mau mama bicarain sama kamu, tapi nggak di sini." Amel berjalan dan duduk di samping Sofi, sementara Rendi duduk di pinggir yang langsung berhadapan dengan Friska dan Lilian.
"Mel, makasih ya udah nemenin Rendi ke rumah sakit," ujar Lilian saat Amel sudah duduk di depannya. Sementara Friska menatap tidak suka kepada Amel.
"Iya, Tante," jawab Amel sambil tersenyum.
"Amel kamu tunggu di sini dulu, mama mau bicara dengan Rendi sebentar" Lilian bangun dari duduknya. "Ikut mama sebentar Ren."
Rendi berdiri mengikuti mamanya, saat melihat mamanya sudah berjalan meninggalkan ruangan tamu, menuju ruang kerja yang berada di lantai 2.
***
Amel hanya duduk diam. Dia membuka tasnya sambil mencari ponselnya. Dia tahu kalau saat ini Friska masih menatapnya dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Untuk apa kamu nemanin Rendi ke rumah sakit?" Friska membuka suaranya, tanpa basa-basi terlebih dahulu. Sofi mengalihkan pandangannya sejenak ketika mendengar perkataan Friska. Dia memandang Amel dan Friska secara bergantian.
"Rendi adalah pacarku, jadi wajar aja kalau aku nemenin dia." Amel menampilkan wajah acuh tak acuhnya.
Friska tertawa sinis saat mendengar jawaban Amel. Dia tidak menyangka kalau Amel berani menjawab seperti itu. Terakhir kali bertemu dengannya, Friska berhasil menghina Amel sampai dia pergi. "Kamu jangan bangga dulu.Kamu pikir kamu sudah menang karena sudah menjadi pacar Rendi?"
Amel menghentikan tangannya yang sedang mengetik sesuatu pada ponselnya lalu mengalihkan pandangannya pada Friska. "Setidaknya, akulah yang dicintai Rendi saat ini," jawab Amel sambil menatap malas pada Friska.
Friska tertawa mengejek. "Jangan buat aku tertawa. Sepertinya kamu belum tahu, siapa sebenarnya yang selama ini ada di dalam hati Rendi. Orang yang sampai detik ini belum bisa dilupakannya." Friska tersenyum bangga sekaligus mengejek Amel yang tidak tahu apa-apa mengenai Rendi.
"Apa maksudmu?"
Friska memajukan tubuhnya. "Maksudki adalah Rendi nggak benar-benar mencintai kamu. Ada orang lain di hatinya yang sangat dia dicintai selama ini." Amel tampak diam sambil menantap heran pada Friksa. "Apa kamu nggak mau tahu siapa gadis itu?" pancing Friska.
Amel tampak berpikir. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa, yang dikatakan oleh Friska, hanya saja dia tidak berani untuk bertanya langsung. "Aku nggak peduli," jawab Amel acuh tak acuh.
Sofi tertawa dalam hati saat mendengar perkataan Amel, semetara Friska nampak kesal setelah mendengar jawaban Amel.
"Kita lihat aja, apa kau masih nggak peduli, setelah kamu mengetahuinya nanti," ujar Friska dengan angkuh. "Kau bahkan nggak tahu sama sekali masa lalu Rendi. Aku yakin, Rendi belum berani cerita sama kamu sampai sekarang."
"Cukup Friska!" Terdengar suara berat dari belakangnya. Amel mengalihkan pandangannya dan melilhat sudah ada Rendi yang berdiri dengan wajah dinginnya.
Friska menoleh ke Rendi. "Aku cuma bilang yang sebenarnya. Nggak seharusnya kamu menutupi terus darinya." Rendi berjalan mendekat dan duduk di sebelah Amel lalu menggenggam tangan Amel di depan Friska.
"Aku rasa kamu nggak berhak ikut campur urusanku sama Amel."
"Kau jangan lupa Ren, aku bahkan lebih berhak terhadapmu dari pada dia," tunjuk Friska kepada Amel. "Apa kamu mau, aku bongkar di sini masa lalu kita supaya dia menyadari di mana tempat yang pantas untuknya?" Friska berbicara dengan nada angkuh dan sombong.
Bersambung...
__ADS_1