
Sofi terbangun saat mendengar suara pesan masuk dari ponselnya. Dengan mata terpejam dia meraih ponselnya yang berada di atas nakas lalu mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya. Sofi tampak diam setelah membaca pesan yang baru saja masuk.
Dia menghela napasnya, kemudian menoleh pada Raka yang masih tertidur di atas sofa panjang yang berada tepat di depan tempat tidurnya. Sofi turun dari ranjangnya, menghampiri Raka lalu berjongkok dan menatap wajah Raka.
“Dia terlihat lebih tampan saat tidur dan diam seperti ini. Berbeda sekali jika dia sudah bangun, sangat menyebalkan,” gumam Sofi pelan.
Melihat Raka yang tampak masih pulas, tiba-tiba Sofi memiliki ide untuk menjahili Raka. Dia kemudian mengambil beberapa helai rambut panjangnya lalu memainkan dan menggerak-gerakkan ujung rambutnya di sekitar wajah Raka.
Sofi terkekeh saat melihat Raka tampak mengusap wajahnya karena merasa geli. Sofi semakin ingin menjahilli Raka. Dia kembali mengambil beberapa helai rambutnya lalu mendekatkan wajahnya. Dia meneliti wajah Raka lagi saat tidak melihat pergerakan lagi.
Sofi kembali menggerakkan ujung rambutnya ke wajah, kemudian beralih ke telinga Raka. Sofi terkejut ketika ada yang menarik tengkuknya ke arah depan. Matanya terbelalak saat merasakan benda kenyal menempel di bibirya.
Raka membuka matanya saat bibir mereka sudah menempel. Tatapan mereka beradu. Raka belum melepaskan tangannya dari tengkuk Sofi. Sofi sangat terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Raka. Mereka sama-sama diam dengan bibir yang masih saling menempel.
“Kauuu,” teriak Sofi sambil mendorong tubuh Raka, lalu kemudian berdiri.
Wajah dan telinganya memerah, napasnya tidak beraturan. Raka kemudian bangun dari tidurnya kemudian mengusap bibirnya sambil menyeringai lalu menatap Sofi yang sedang memegang bibir ranumnya.
Melihat Sofi termenung, Raka akhirnya berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya setelah itu dia kembali duduk lagi dan bersandar di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Raka menatap Sofi yang tampak menatap marah padanya. “Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau ingin dicium lagi?” tanya Raka santai.
“Heeeyyy, apa kau sudah gila?? Kau sudah mengambil ciuman pertamaku,” teriak Sofi marah.
Raka menyunggingkan bibirnya. “Pantas saja masih kaku,” ucap Raka tenang.
“Kaauu. Jangan samakan aku dengan dirimu yang playboy,” tunjuk Sofi dengan wajah yang bertambah merah.
Dia sangat malu mendengar penuturan Raka. Sofi memang belum pernah berciuman sama sekali. Dia hanya pernah berpacaran satu kali, itupun hanya sebatas berpengang tangan dan berpelukan saja.
Raka kemudian berjalan mendekati Sofi. “Kau... kau mau apa?” tanya Sofi gugup seraya berjalan mundur saat melihat Raka terus berjalan mendekat ke arahnya.
Raka memajukan tubuhnya lalu mensejajarkan wajahnya dengan Sofi. “Kau yang menggangguku terlebih dahulu. Aku hanya memberikan sedikit pelajaran untukmu. Jangan pernah melakukan hal seperti tadi lagi. Jika tidak, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah,” ucap Raka dengan wajah datar.
Sofi memalingkan wajahnya ke samping. “Ak-aku hanya bercanda, kenapa kau begitu marah?” tanya Sofi dengan suara pelan.
Tidak ada lagi suara dengan nada tinggi yang keluar dari mulutnya. Seketika dia merasa gugup. “Aku hanya memperingatkanmu. Kau harus lebih berhati-hati. Aku bisa saja berbuat yang lebih dari tadi jika aku mau. Jangan pernah melakukan hal itu pada laki-laki lain.”
Raka menjauhkan tubuhnya lalu kembali duduk di tempat duduknya.
“Disini aku yang rugi. Kau sudah mengambil ciuman pertamaku. Huuuh, nasibku sunggul sial, kau bahkan bukan pacarku,” ucap Sofi kesal sambil menghentakkan kakinya lalu melangkah menuju lemari.
“Kalau begitu jadilah pacarku,” ujar Raka enteng.
Langkah Sofi langsung terhenti, kemudian menoleh pada Raka. “Apa kau mabuk juga seperti Kakakku? Lebih baik kau berendam sana supaya otakmu kembali jernih,” ucap Sofi malas.
__ADS_1
Raka menyilangkan kakinya lalu menatap Sofi dengan santai. “Aku hanya ingin bertanggung jawab karena sudah mengambil ciuman pertamamu. Aku ini bukan laki-laki brengsek yang bisa mencium siapa saja,” ucap Raka santai.
Sofi menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, terima kasih atas tawaranmu. Aku tidak mau menjadi pelarianmu. Aku tahu kau menyukai kak Amel. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa diantar kita.” Sofi melangkah menuju lemari mengambil baju, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat Sofi sudah menutup pintu kamar mandinya. Dia awalnya hanya ingin menjahili Sofi karena sudah mengganggu tidurnya.
Sebenarnya sia hanya berencana untuk mengagetkan Sofi dengan menahan tangan Sofi yang berada di wajahnya saat Sofi sedang menjahilinya, tetapi justru dia menarik tengkuk Sofi dengan reflek dan menciumnya. Raka juga tidak menyangka akan begtiu akhirnya.
Raka menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa sambil memejamkan matanya. “Mandilah. Aku akan mengambil baju Kakakku untukmu,” ucap Sofi setelah dia selesai mandi dan sedang berjalan ke arah pintu.
Raka membuka matanya kemudian menoleh pada Sofi. Raka menatap tajam pada Sofi. “Kau benar-benar tidak mempunyai rasa waspada terhadapku ya?”
Sofi tidak jadi membuka pintu saat mendengar ucapan Raka. “Apa maksudmu?” tanya Sofi sambil membalikkan tubuhnya menghadap Raka.
“Apa kau selalu berpakaian seperti itu saat sedang bersama pria yang tidak dikenal?” tanya Raka dengan nada tidak suka.
Sofi menatap sejenak ke pakaian yang dia kenakan. “Kenapa memangnya dengan pakaianku?”
“Kau tidak melihat celanamu itu seperti kekurangan bahan? Kau ingin menggodaku ya?” ujar Raka dengan wajah kesal.
“Ini adalah celana yang biasa di pakai oleh orang lain saat berada di dalam rumah. Aku tidak memakainya untuk keluar rumah. Apa saudara perempuanmu tidak pernah memakai celana pendek seperti ini?” tanya Sofi malas.
“Asal kau tahu saja, aku tidak mempunyai saudara perempuan. Aku anak tunggal.”
Sofi menatap Raka dengan kesal. “Pantas saja. Dengar ya, diluar sana banyak yang memakai celana sependek ini untuk bepergian. Aku hanya memakainya saat berada di rumah atau di kamarku. Kenapa kau sekaget itu! Apa selama ini kau tidak pernah melihat orang lain memakainya di luar rumah di kota sebesar ini?” tanya Sofi dengan wajah malas.
“Lalu kenapa kau memperhatikan penampilanku? Apa kau mulai menyukaiku?” tanya Sofi dengan wajah kesal.
Raka melirik Sofi tanpa minat. “Pakaianmu itu membuat mataku sakit,” jawab Raka ketus.
“Aku berpakaian seperti ini tidak untuk dilihat olehmu." Dia selalu saja merasa kesal jika berbicara dengan Raka. Ada saja halyang membuatnya marah jika mereka bertemu.
“Mandilah, aku mau ke kamar kakakku dulu untuk mengambilkan baju untukmu.” Sofi menutup pintu lalu berjalan ke kamar Rendi.
Raka berjalan ke kamar mandi setelah Sofi menghilang di balik pintu. Dia memutuskan untuk mandi.
*******
Sofi memencet bel kamar kakaknya setelah berada di depan kamar Rendi. “Masuk Sofi," ucap Amel setelah dia membuka pintu dan melihat Sofi ada di depan pintu kamar Rendi.
Sofi mengangguk kemudian berjalan masuk. “Kak Rendi mana, Kak?” tanya Sofi saat dia tidak melihat kakaknya di dalam kamarnya.
Amel duduk di sofa setelah melihat Sofi berjalan menuju lemari. “Kakak kamu tidur di kamar orang tua kamu.”
Sofi mengangguk tanda mengerti. Dia berjalan menuju Amel setelah mengambil pakaian untuk Raka. “Sofi kira, kakak tidur di sini,” ucap Sofi setelah duduk di depan Amel sambil meletakkan baju untuk Raka di sampingnya.
__ADS_1
Amel tersenyum. “Tadinya kak Rendi emang mau tidur di sofa, tapi kakak larang, kasian. Kakak minta kak Rendi tidur di kasur dia nggak mau. Akhirnya kak Rendi milih tidur di kamar orang tua kamu,” jelas Amel.
“Itu baju untuk siapa?” tunjuk Amel pada pakaian yang ada di samping Sofi. Sofi melirik sebentar ke arah tangan Amel menunjuk.
“Untuk Raka kak.” Amel terkejut. Dia berpikir kalau Raka semalam langsung pulang ke rumahnya, karena sebelumnya dia menolak untuk tidur di kamar Sofi.
“Dia tidur di kamar kamu?” tanya Amel cepat.
Sofi mengangguk. “Iyaa Kak, Sofi yang maksa dia. Raka tidur di sofa, Sofi nggak tega biarin dia pulang pagi buta.”
“Makasih ya Sofi karena kamu uda bolehin bang Raka tidur di kamar kamu,” ucap Amel tulus.
Sofi tersenyum. “Iyaa, Kak. Gimana juga dia uda nolongin kak Rendi.”
“Tapi bang Raka nggak ngerepotin kamu, kan?”
Wajah Sofi memerah. Sofi tiba-tiba terdiam ketika sekelabat bayangan kejadian tadi pagi kembali terlintas di pikirannya. Sofi menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan yang mulai mengganggu pikirannya. Bayangan saat Raka menciumnya terus saja berlarian di kepalanya.
“Nggak, Kak,” jawab Sofi singkat.” Dia tidak mungkin menceritakan soal Raka yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
“Syukurlah. bmBang Raka uda bangun?” tanya Amel lagi saat melihat Sofi tampak melamun.
“Lagi mandi kayaknya kak, Kakak uda mandi?” tanya Sofi.
“Udaah.”
Sofi kemudian berdiri. “Yaa udah, ke kamar Sofi yuk, sekalian kakak ganti baju pake punya Sofi,” ajak Sofi yang sudah meraih pakaian untuk Raka. Amel mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Amel yang sudah membuka pintu kamar Rendi.
Sofi memencet bel kamarnya beberapa kali ketika sudah berada di depan kamarnya. “Abang baru selesai mandi?” tanya Amel saat melihat Raka membuka pintu kamar sambil mengerikan rambutnya yang masih basah.
“Iyaaa,” jawab Raka sambil berjalan masuk dan duduk di sofa diikuti Sofi dan Amel di belakangnya.
Sofi kemudian duduk berhadapan dengan Raka. “Ini bajunya.”
Sofi meletakkan pakaian untuk Raka di atas meja. Raka meraih baju yang ada di atas meja. “Mel, abang ganti baju dulu,” ucap Raka sambil berjalan ke kamar mandi setelah melihat Amel mengangguk pelan.
“Sofi, kakak kamu uda bangun belum ya?” tanya Amel sambil menoleh pada Sofi yang tampak serius dengan ponselnya.
“Bentar Sofi telpon dulu.”
Sofi menempelkan ponsel di telinganya. Terdengar nada telpon masuk berbunyi, tetapi tidak ada jawaban di sebrang sana. Sofi mencoba menghubungi kakaknya lagi, tetapi tidak ada jawaban juga. Sofi sudah mencoba 5 kali tapi tidak diangkat juga.
“Kayaknya kakak belum bangun deh, Kak,” ucap Sofi menoleh pada Amel.
“Jangan-jangan kakak kamu sakit lagi gara-gara kebanyakan minum?" Amel terlihat mulai cemas.
__ADS_1
Bersambung....