
Rendi tersenyum miring. “Selain uangmu, tidak ada yang bisa dibanggakan darimu Kenan. Wajah standar, kelakuan minus, otak pas-pas-an, beruntung kau berasal dari keluarga kaya. Jika tidak, aku khawatir tidak akan ada wanita yang mau menikah denganmu nanti.”
“Kauu...!!!” tunjuk Kenan ke arah wjaah Rendi dengan wajah emosi dengan tangan kiri yang terkepal.
“Apa..??” tanya Rendi dengan wajah menantang.
Kenan menggeleng lemah. “Tidak apa-apa,” ucap Kenan pasrah. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ada di pikirannya. Dia berpikir tidak akan menang jika dia berdebat dengan Rendi. “Kau pernah juara lomba debat ya? Aku bahkan tidak pernah bisa menang melawanmu.”
“Tentu saja, apa kau tidak tahu, aku selalu menjadi juara pertama lomba debat dalam bahasa inggris saat sekolah, terlebih lagi saat kuliah. Aku bahkan mematahkan argumen salah satu dosen killerku, saat sesi debat ketika aku kuliah di Inggris. Dia bahkan diam tidak berkutik tanpa bisa membalasku. Otakku ini memang pernah bermasalah karena kecelakaan, tetapi disaat bersamaan aku juga memiliku IQ tinggi. Jadi, jangan pernah berpikir kau bisa membodohiku.”
“Kau benar-benar menakutkan. Bagaimana bisa ada orang sepertimu. Kau seharusnya tidak memborong semuanya. Setidaknya kalau kau tampan dan kaya, kau tidak boleh memiliki IQ tinggi juga, jadi aku tidak bisa membodohimu lagi. Kau benar-benar membuatku frustasi.”
Saat masih kecil kecerdasan Rendi sudah mulai terlihat. Otaknya berkembang lebih cepat dibandingkan anak seumurannya. Setelah dilakukan tes terbukti dia memiliki IQ tinggi.
Awalnya orang tua Rendi ingin menyekolahkannya di tempat khusus, tetapi diurungkan karena mereka ingin Rendi berkembang dan menjalani masa kecilnya layaknya anak kecil pada umumnya.
Sebenarnya kecerdasan Rendi menurun dari Ibunya yang memiliki IQ tinggi sama seperti dirinya. Rendi memiliki IQ 140, itulah sebabnya Rendi dengan mudah masuk universitas terbaik di Inggris. Saat masih duduk sekolah dasar, dia sudah menguasai 4 bahasa, yaitu Jerman, Jepang, Mandarin, dan Inggris. Ketika menginjak bangku SMA, dia menguasari 3 bahasa lagi yaitu Spanyol, Prancis, dan Rusia.
“Kalau aku tidak memiliki IQ tinggi, mungkin saja saat ini, aku sudah menjadi miskin karena dibodohi olehmu. Aku Amnesia sebentar saja kau sudah mengambil apatemenku yang seharga 30 Miliar, apalagi kalau aku Amnesia selamanya. Aku rasa aku akan menjadi gembel karenamu.”
Kenan tersenyum lebar. “Tidak mungkin aku setega itu padamu. Aku tidak akan membuatmu hidup susah, aku hanya akan mengambil hotel, rumah sakitmu dan perusahaanmu yang di sini dan di Jerman serta beberapa asetmu yang lain,” ucap Kenan enteng.
Rendi melmepar bantal sofa pada Kenan. “Itu sama saja kau membuatku menjadi gembel.”
“Tentu saja tidak, kau masih memiliki beberapa apartemen mewah dan Vila di puncak. Kau juga masih memiliki deposito dalam jumlah besar dan saham di perusahaanku, bukan? Aku ini tidak sekejam dirimu Ren.”
“Apanya yang tidak kejam? Kau memanfaatkan sepupumu sendiri saat sedang amnesia demi keuntanganmu sendiri.”
“Itu karena kau sudah mengerjaiku selama kau amnesia. Kau memperlakukan aku seperti babumu,” ucap Kenan kesal.
“Benarkah??”
“Lihatlah wajah tidak bersalahmu itu..! membuat orang kesal saja.”
__ADS_1
“Apa ada yang salah dengan wajahku? Amel bilang aku ini tampan. Aku tahu kau hanya iri dengan ketampananku, kan?”
“Asataga.. Kau ini seperti ABG saja. Kenapa wajahmu senang sekali, apa selama ini dia tidak pernah memujimu tampan?”
“Tentu saja, ini pertama kalinya dia memujiku.”
“Kasihan sekali, Amel saja pernah bilang aku ini tampan, berarti ketampananmu masih dibawahku, karena dia memujiku terlebih dahulu,” ejek Kenan.
“Benarkah? Kapan dia memujimu? Apa saat aku sudah menjadi kekasihnya? atau setelah putus? atau ketika aku ke Amerika? Beritahu aku kapan mangatakannya? Kenapa aku tidak pernah tahu?” Rendi mencecar Kenan dengan banyak pertanyaan. Dia tidak terima karena istrinya memuji pria lain selain dirinya.
“Rahasia.” Kenan sengaja ingin membuat Rendi kesal dengan tidak mengatakannya.
“Apa jangan-jangan kau masih menyimpan hati kepada Amel? Ingat Kenan..! dia itu sudah menjadi istriku. Aku tidak akan memandang persaudaraan kita kalau kau mempunyai niat lain pada istriku.” Rendi langsung berpikiran yang tidak-tidak pada Kenan.
Kenan tertawa dalam hati ketika dia berhasil memancing emosi Rendi. Menurutnya sangat mudah memancing emosi Rendi menggunakan nama Amel. “Kalau aku memiliki niat lain pada Amel, seharusnya aku lakukan dari dulu, saat kau mengalami amnesia.”
“Amel tidak akan pernah menyukaimu. Dari dulu sampai sekarang dia hanya mencintaiku seorang,” ucap Rendi dengan mantap.
Rendi menatap acuh pada Kenan. “Aku percaya dengan Amel, tetapi aku tidak percaya pada laki-laki sepertimu!”
“Aku ini laki-laki yang bermoral. Tidak mungkin aku memiliki niat lain pada istri sepupuku sendiri.”
“Bagusslah kalau kau sadar diri,” ucap Rendi acuh.
“Tapi, lain ceritanya kalau Amel mau denganku,” sambung Kenan lagi.
“Kau bosan hidup ya..??” Rendi memberikan tatapan menghunus pada Kenan.
Kenan tersenyum lebar. “Bercanda Ren, aku hanya bercanda! Tatapan matamu itu masih saja mengerikan.”
“Kenan, apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Ellen?” Semenjak menikah Rendi tidak tahu sama sekali kabar Friska.
“Sudah, tapi aku belum bertemu dengannya. Devan, si brengsek itu menyembunyikan keberadaan Ellen. Dia tidak mau memberitahuku ke mana dia membawanya.”
__ADS_1
Ketika mendapatkan nomor ponsel dan alamat apartemen baru Devan dari Amel. Kenan yang mendatangi apartemennya, tetapi saat dia ke sana, dia tidak menemukan keberadaan Devan. Kenan kemudian menghubungi ponsel Devan. Saat itu Devan hanya mengatakan kalau dia sedang bersama dengan Friska. Kenan juga sempat berbicara dengan Friska sebentar.
“Kenapa dia bisa bersama dengan Devan? Bukankah mereka tidak saling kenal?” Selama ini Rendi hanya tahu, kalau Friska pernah beberapa kali bertemu dengan Devan.
“Kau ingat malam ketika Ellen datang ke pesta pernikahanmu? Setelah pulang dari pesta pernikahanmu, Friska berencana untuk bunuh diri lagi dengan cara berjalan ke tengah laut. Dia berencana untuk menenggelamkan diri. Untung saja saat itu ada Devan yang menolongnya.”
Pupil mata Rendi membesar. Dia terlihat sangat terkejut. “Apa dia sudah gila? Kenapa dia ingin bunuh diri lagi?” ucap Rendi dengan nada sedikit tinggi.
Kenan menghela napas kasar. “Karena dia tidak bisa melihatmu hidup bahagia dengan Amel. Kau tahu sendiri Ren, dia sangat mencintaimu. Perasaan cintanya padamu sudah mendarah daging. Dia menyukaimu sejak kecil, tentu saja sulit untuknya melihatmu bahagia dengan wanita lain.” Walapun Kenan tidak menyukai tindakan Friska, tetapi dia bisa memahami sedikit perasaan Friska, karena dia tahu bagaimana pengorbanan dan perjuangan Friska untuk meluluhkan hati Rendi.
“Iyaa, aku tahu, tetapi dia bilang akan merelakanku asalkan aku berjanji untuk tidak menjauhi dan tidak membencinya.”
Rendi berpikir kalau Friska sudah merelakan dirinya setelah menuruti permintaan terakhirnya waktu itu untuk pergi ke Bali. Ternyata dugaannya salah, Friska melakukan hal itu untuk berpamitan dengannya karena dia ingin mengakhiri hidupnya. Dia ingin membuat kenangan bahagia sebelum dia pergi.
Kenan menatap ke bawah dengan wajah lesu. “Kau tahu dia sangat keras kepala. Tidak mudah untuk mengubah pola pikir dan keputusannya.”
“Lalu bagaimana bisa Devan menemukannya?” tanya Rendi heran.
“Kau lihat saat Friska datang ke pestamu dia terlihat sangat pucat. Setelah keluar dari ballroom, Friska tampak menangis sambil berjalan tanpa arah dengan tatapan kosong dan tidak sengaja menabrak Devan di dekat parkiran. Friska tampak tidak menyadari, kalau orang yang ditabrak adalah Devan. Dia hanya berjalan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kencang keluar dari lingkungan hotelmu. Melihat tingkah Friska yang aneh, dia memtuskan untuk mengikuti Friska dari belakang. Ternyata Friska tidak pulang melainkan pergi ke pantai. Devan melihat Friska berjalan ke tengah pantai. Awalnya Devan berpikir kalau Friska hanya ingin menenangkan diri saja, tetapi ketika dia melihat tubuh Friska yang tidak terlihat lagi di permukaan laut. Dia langsung berenang ke tengah untuk menolong Friska,” ungkap Kenan.
“Lalu bagaimana keadaan Ellen sekarang?”
“Entahlah, aku sempat bertanya langsung pada Ellen ditelpon. Dia bilang ingin menenangkan diri dulu. Devan juga mengatakan akan menjaga Ellen sementara waktu. Dia hanya takut Ellen berubah pikiran dan akan merusak rumah tanggamu dengan Amel nanti.”
“Lagi-lagi aku berhutang budi padanya. Kenapa harus selalu dia yang terlibat dengan orang-orang terdekatku.”
“Kau harus bersikap baik padanya Ren, bagaimanapun dia juga sudah banyak berjasa dalam menjaga Amel dan menyelematkan nyawa Ellen.”
“Iyaa aku tahu. Entah harus bagaimana aku membalas kebaikannya. Dia sudah memiliki segalanya. Satu-satunya yang dia inginkan hanya Amel, dan aku tidak bisa melepaskan Amel hanya untuk dia.”
“Kalau begitu berikan Amel padaku!” ucap Kenan enteng yang langsung disambut tatapan mematikan dari Rendi. “Sepertinya aku harus menyuruh Jhon untuk menjahitmu mulutmu agar tidak bicara asal lagi.”
Bersambung...
__ADS_1