
"Apa bedanya? Kalian bukan kakak-adik sungguhan. Kita juga bukan pacar sungguhan, itu sama aja, 'kan?"
Amel menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak bisa membalas perkataan Rendi lagi. Perkataan Rendi memang ada benarnya.
Amel menghela napas sebentar. Ingin rasanya Amel mencubit pipi Rendi karena merasa gemas melihat tingkah Rendi yang seperti anak kecil karena tidak terima jika permennya diambil orang lain.
"Sebagai permintaan maaf Amel, bagaimana kalau minggu ini kita jalan-jalan," usul Amel.
Wajah Rendi langsung berubah menjadi cerah. Eia merasa seperti Amel sedang mengajaknya berkencan. "Kita mau kencan ke mana?" goda Rendi.
"Bukan kencan, Kak, tapi jalan-jalan," jelas Amel.
"Sama saja itu namanya kencan."
"Kalau kencan itu berdua kalau kitakan pergi sama Sofi juga nanti."
Seketika wajah Rendi berubah masam. "Aku cuma mau pergi berdua aja." Rendi membuang muka ke samping.
"Kasian Sofi Kak kalau dia nggak diajak. Dia juga butuh hiburan," jelas Amel.
"Lebih baik aku nggak ikut. kamu aja yang pergi dengan Sofi," ucap Rendi kesal.
Melihat Rendi yang sedang ngambek, membuat Amel semakin gemas. "Wajah Kakak imut banget sih kalau lagi ngambek begitu." Tanpa sadar mencubit kedua pipi Rendi, seperti yang sering dilakukan jika adik laki-laki Amel sedang ngambek.
Rendi menangkap kedua tangan Amel dan menariknya hingga tubuh Amel maju dan berdekatan dengan tubuh Rendi. Dengan cepat Rendi memegang wajah Amel dan mengecup bibirnya.
Mata Amel membelalak beberapa detik karena terkejut saat Rendi tiba-tiba menciumnya.
Rendi menjauhkan wajahnya setelah mengecup sebentar bibir Amel. "Ciuman pertamamu itu denganku, maka, seterusnya cuma aku yang boleh menciummu. Ingat itu, Mel." Rendi menjauhkan tangannya dari wajah Amel dan berjalan menuju kamar mandi.
Rendi membasuh wajahnya lalu melihat ke cermin. Entah kenapa sejak pertama mencium bibir Amel, membuatnya candu. Dia selalu ingin merasakannya, apalagi ketika Amel menampilkan wajah polosnya. Rendi sering kali frustasi jika sudah berdekatan dengan Amel, apalagi kalau mereka berada di jarak yang dekat.
Amel masih diam di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah karena malu setelah mendengar ucapan Rendi tadi.
Rendi keluar dari kamar mandi dan melihat Amel masih dengan posisi yang sama seperti tadi. Amel masih diam mematung. "Kenapa kau masih diam di situ? Apa kau mau melanjutkan yang tadi?" goda Rendi sambil tersenyum nakal.
Amel kemudian tersadar. "Nggak, Amel cuma kaget aja," jawab Amel cepat sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kenapa terkejut? Apa kamu nggak suka kalau aku menciummu?" tanya Rendi sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.
Amel yang ditanya seperti itu seketika menjadi salah tingkah. "Bukan seperti itu, tapi...."
"Tapi apa? Berarti kamu menyukainyakan?" Rendi mendekati Amel dengan senyum menggoda.
"Nggak gitu juga, Kak. Aku cuma kaget karena Kakak tiba-tiba menciumku. Harusnya Kakak bilang dulu," ucap Amel tanpa sadar.
Rendi menunduk, mendekatkan wajahnya lalu menatap bola mata Amel. "Jadi kalau aku bilang dulu, kamu mau aku cium?" tanya Rendi sambil mengangkat alisnya sebelah.
Seketika wajah Amel bertambah merah. "Maksud Amel jangan cium Amel tiba-tiba. Udah laah, percuma Amel ngejelasin juga. Kakak nggam akan ngerti." Amel mendorong tubuh Rendi untuk memberikan jarak antara mereka.
__ADS_1
Rendi mundur beberapa langkah ke belakang saat Amel mendorongnya. "Aku memang nggak ngerti," jawab Rendi santai.
"Udah lupain aja kalau gitu." Amel berjalan mengambil tasnya berjalan cepat menuju pintu.
"Kamu mau ke mana?" Rendi berjalan ke tempat tidur dan kemudian duduk bersandar.
"Amel mau pulang." Amel memegang handle pintu, tapi tidak bisa.
"Aku ngunci pintunya, Mel." Rendi menunjukkan kunci pintu yang sedang di pegang di tangan kirinya. "Lagian, aku belum mengijinkan kamu pulang." Rendi memasukkan kembali kuncinya ke saku celananya.
Amel menoleh ke Rendi lalu melepaskan tangannya dari handle pintu. "Kenapa dikunci? Gimana kalau nanti ada yang mau masuk?" tanya Amel.
"Nggak akan ada yang berani masuk kamar aku," jawab Rendi tenang, "kamu nggak akan bisa keluar, meskipun kamu menggedor pintunya sekalipun. Nggak akan ada yang datang ke sini karena kamar ini kedap suara," lanjut Rendi lagi.
Amel menghela napas dengan wajah pasrah. "Terus Amel ngapain di sini?"
Rendi menepuk tempat tidur di sebelahnya. "Temani aku tidur di sini. aku nggak akan macam-macam kecuali kamu memancingku," ujar Rendi.
"Kak, yang benar dong! Jangan bercanda terus," pekik Amel. Dia ngeri dengan perkataan Rendi. Membayangkannya saja membuat Amel malu.
"Aku cuma bercanda. Aku bakal sabar nunggu sampai kita menikah nanti."
Apa dia sadar dengan ucapannya? Bagaimana dia bisa dengan mudahnya bicara seperti itu. Bisa-bisanya hati ini sangat bahagia mendengar ucapannya itu.
Amel masih diam. "Cepat ke sini, aku lagi nggak enak badan karena kurang tidur. Aku butuh istirahat," ucap Rendi.
Amel berjalan ke tempat tidur ke arah Rendi ke tempat tidur dan duduk di sebelah Rendi. "Apa mau aku ambilkan obat, Kak?" tanya Amel memandang wajah Rendi yang terlihat lelah.
Rendi membaringkan tubuhnya, meraih tangan Amel dan menggenggamnya, kemudian memejamkan matanya. Wajah Rendi terlihat lesu dan sedikit pucat, mungkin karena dia kurang tidur.
Amel hanya diam melihat Rendi memegang tangannya. Dia tidak ingin mengganggu Rendi istirahat. Tidak butuh waktu lama Rendi sudah terlelap. Terdengar dari nafasnya yang sudah teratur dan tubuhnya sudah tidak bergerak lagi.
Amel menarik selimut untuk menutupi tubuh Rendi karena suhu di kamar Rendi cukup dingin. Mungkin karena pendingin ruangannya disetel dengan suhu rendah.
Amel terus memandang wajah Rendi, tangan satunya lagi terangkat mengelus lembut kepala Rendi. Dia tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Rendi, padahal dulu Rendi sangat sulit didekati. Dia beruntung karena insiden kecil waktu itu, membuatnya bisa seperti sekarang, bisa lebih dekat dengannya.
**********
Amel yang sedang duduk melamun di meja, belakangnya, seketika di kagetkan oleh teriakan dari luar kelas. "Mel, kantin yuuk..?"
Amel menghela napas saat melihat Raka yang sedang berjalan menghampirinya. "Emangnya Abang belum sarapan?"
"Belum, lagi pengen makan sama ayang." Raka menarik tangan Amel tanpa menunggu persetujuannya dulu.
"Bang, kalau di depan Rendi jangan manggil aku kayak gitu. Nanti dia marah," gerutu Amel. Mekipun mereka hanya pacaran pura-pura, tapi Rendi sudah memperingatkan Amel untuk tidak terlihat mesra dengan Raka seperti dulu.
Raka menampilkan wajah malasnya sambil terus menarik Amel ke kantin. "Abang nggak peduli. Lagian dari dulu abang uda sering manggil kamu gitu, jadi uda kebiasaan. Susah ngerubahnya." Padahal itu hanya alasan Raka saja.
Amel menghela napasnya. "Aku cuma nggak mau nanti kalian berdebat lagi atau sampe saling pukul. Liat tuh muka masih ada bekas lukanya." Amel menatap wajah Raka yang memang masih memili bekas akibat perkelahiannya dengan Rendi.
__ADS_1
"Kami nggak bakal berantem lagi Mel kalau dia nggak mulai duluan. Abang janji."
Amel memicingkan matanya karena tidak percaya dengan ucapan Raka. Pasalnya perkelahian waktu itu dipicu oleh Raka. "Aku bakal marah kalau Abang asal mukul kak Rendi kayak waktu itu."
Raka menatap malas ke arah Amel yang sedang menikmati sarapannya setelah makanannya datang. "Iyaaa, kecuali dia nyakititin kamu."
Sudah tiga hari berlalu semenjak perkelahian itu terjadi, Raka sudah mulai masuk hari ini karena luka di wajahnya sudah berangsur hilang. Hanya menyisakan sedikit bekas saja di wajahnya. Sementara Rendi belum juga masuk. Dia masih ijin tidak masuk sekolah.
Semenjak Rendi terluka, Amel setiap hati ke rumah Rendi setiap pulang sekolah dan akan pulang malam hari. Amel merawat Rendi layaknya pacar sungguhan. Hubungan mereka juga semakin dekat dari ke hari sampai Amel lupa kalau dia hanya menjadi pacar pura-pura Rendi.
Sikap Rendi yang duluny dingin kini berubah menjadi perhatian dan lembut. Sangat berbeda dengan sikapnya yang dulu. Amel juga sudah dekat dengan ibu Rendi dan juga Sofi. Amel dan Sofi sering menghabiskan waktu berdua di rumah Rendi jika tidak sedang bersama Rendi.
Luka Rendi sebenarnya juga sudah hampir sembuh, tetapi keluarganya meminta Rendi untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum dia kembali masuk ke sekolah. Awalnya Rendi menolak, tetapi dia dipaksa oleh ibunya. Maka dari itu, Rendi belum masuk sekolah sampai hari ini.
Selesai sarapan, Raka melihat memeriksa isi ponselnya. "Mama nanyain nih, kapan kamu nginep di rumah." Raka menunjukkan isi pesan dari ibunya pada Amel.
"Ntar deh bang Amel kabarin. Kalau nggak bisa nginep minggu ini, Amel ke rumah abang aja buat ketemu sama mama."
Raka memasukkan ponselnya lagi ke sakunya setelah membalas pesan ibunya. "Ke kelas yuk, bentar lagi masuk."
Saat jam istirahat, Amel pergi ke kantin bersama ketiga temannya. "Mel, Raka habis berantem sama siapa? Mukanya ada lukanya gitu," tanya Olive setelah selesai mengunyah makanan di mulutnya
"Iyaa, muka ganteng-ganteng malah di rusak," timpal Lisa.
"Kayak nggak tau bang Raka aja. Dia mah nggak bisa diem. Ada aja kelakuan anehnya," sahut Bela.
"Dia habis berantem," jawab Amel singkat. Amel memang belum cerita mengenai perkelahian Raka dan Rendi. Dia juga belum bercerita mengenai kedekatannya dengan Rendi.
Olive memajukan tubuh ke arah Amel. "Berantem sama siapa?" Terlihat kalau Olivia dan kedua temannya yang lain juga penasaran setelah mendengar ucapan Amel.
Amel menatap ketiga temannya secara bergantian, setelah itu menyesap minumanya lalu menjawab, "Tanya aja sama Raka."
Seketika wajah ketiga temannya berubah masam. "Males kalau nanya Raka. Dia mah nggak pernah serius kalau diajak ngomong serius," sahut Lisa dengan wajah malas.
"Ngomong-ngomong gue uda beberapa hari nggak liat kak Rendi di sekolah," sela Olive tiba-tiba.
Amel menelan salivanya ketika Olive menyinggung Rendi. "Jangan-jangan kak Rendi sakit?" tebak Bela.
"Iyaa, secara kak Rendi kan murid teladan, nggak mungkin nggak masuk sekolah karena bolos," timpak Bela.
Melihat Amel nampak acuh tak acuh, ketiga temannya menatap Amel dengan heran. "Mel, kita perhatiin sekarang lo kayak uda nggak antusias lagi kalau kita lagi bahas kak Rendi." Olive menatap curiga pada Amel yang masih saja bungkam.
"Iyaa, lo beneran uda nggak suka sama kak Rendi lagi?' tanya Lisa dengan wajah penasaran.
Seingat mereka, Amel memang pernah mengatakan kalau dirinya sudah menyerah dan ingin menghapus perasaan cintanya pada Rendi setelah melihat Rendi bersama dengan perempuan lain di sebuah mall. Amel juga mengatakan kalau sikap Rendi selalu dingin padanya dan terlihat tidak suka melihatnya.
"Nggak, gue masih suka kok sama kak Rendi. Suka banget malah." Amel terlihat belum mau jujur pada teman-temannya mengenai hubungan yang sedang dijalani dengan Rendi. Dia masih belum siap untuk menceritakannya.
"Terus kok lo nggak antusias gitu kalau bahas kak Rendi?" Tatap Bela dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Amel tersenyum paksa. "Sebenarnya...."
Bersambung...