Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Calon Istri Raka


__ADS_3

Raka menggandeng tangan Sofi ketika mereka berjalan keluar lift khusus. Orang-orang yang berada di loby nampak penasaran dengan sosok Sofi. Pasalnya, ini pertama kalinya Raka terlihat menggandeng tangan wanita di area kantornya.


Beberapa karyawan Raka mengira kalau Raka dan Nita memiliki hubungan khusus mengingat mereka terlihat sangat dekat. Sebagian dari mereka juga mengetahui mengenai hubungan masa lalu Nita dan Raka ketika masih sekolah. Itulah sebabnya mereka mengira kalau Nita yang akan menjadi istri Raka nantinya.


"Ikut aku pulang ke rumah dulu. Mama sudah berapa hari mencarimu dan memintaku untuk membawamu ke rumah. Aku akan mengantarmu pulang setelah ke rumahku," ucap Raka sambil berjalan ke arah parkiran.


Sofi memang belum pulang sejak kedatangannya ke kantor Raka siang tadi. Raka tidak menginjinkannya pulang karena dia ingin ditemani oleh Sofi sampai dia menyelesaikan pekerjaannya. "Baiklah."


Ketika Raka dan Sofi baru aja melangkah masuk kediaman Raka, sudah terdengar suara teriakan histeris dari Tamara. "Sofiii... Kenapa kamu nggak kasih tahu mama kalau kau akan datang?"


Tamara menghampiri Sofi lalu memeluknya sebentar. Tamara terlihat terkejut sekaligus senang melihat keberadaan Sofi di rumahnya. Raka memang belum memberitahukan pada ibunya kalau dia akan membawa Sofi ke rumahnya.


"Kejutan Ma," sahut Raka sebelum Sofi sempat menjawab pertanyaan Tamara.


"Kemari sayang." Tamara menuntun Sofi menuju ruang keluarga tanpa memperdulikan anaknya sendiri. Dia seolah melupakan keberadaan Raka.


Raka mengikuti langkah Sofi dan ibunya dari belakang sambil menggeleng melihat kelakukan ibunya yang nampak sangat senang dengan kedatangan Sofi. "Sayang, kau ingin minum apa?" tanya Taman lembut setelah duduk di samping Sofi.


"Apa saja, Ma," jawab Sofi sopan.


"Bi Sarti," panggil Tamara dengan suara tinggi.


Wanita paruh baya bertumbuh gempal menghampiri Tamara dengan lagkah cepat. "Iya, Nyonya."


"Buatkan minum untuk calon istri Raka."


Raka menatap acuh pada ibunya, sementara Sofi menunduk dengan wajah malu mendengar ucapan ibu Raka. Tamara memang sering menggoda Raka dan Sofi dengan mengatakan kalau Sofi adalah calon istri Raka.


Biasanya, Raka akan langsung melayangkan protes pada ibunya, tapi kali ini, dia dim saja sehingga membuat Tamara memicingkan mata pada anaknya. "Tumben Bang nggak protes?"


Raka menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil menatap santai ibunya. "Kenapa harus protes. Sofi memang akan menjadi calon istri Raka."


"Yang benar dong, Bang? Jangan suka bercanda Ah. Mama kan jadi ngarep lagi." Tamara tampak belum percaya dengan jawaban spontan dari anaknya.


Raka menggulung lengan kemejanya sambil menatap ibunya. "Siapa yang bercanda sih Maaa... Kalau nggak percaya tanya aja Sofi. Raka bawa dia ke sini untuk bilang sama Mama kalau Raka mau menikahi Sofi dalam waktu dekat," ungkap Raka dengan wajah serius.


"Benar yang dikatakan Raka, Sofi?" tanya Tamara sambil menoleh pada Sofi.


Sofi menjawab dengan malu-malu. "Iyaa Ma, benar."


Mata Tamara langsung berbinar. "Waaah, mama senang sekali dengernya, tapi kalian nggak lagi bohong, kan?" Tamara ingin memastikan kembali kebenarannya.


"Ma, Raka nggak pernah main-main untuk urusan pernikahan."


Melihat wajah serius Raka dan ucapan tegasnya, barulah Tamara percaya dengan ucapan anaknya. "Kapan rencana kalian akan menikah?"


"Raka mau secepatnya, Ma."


"Kalau begitu, Mama akan segera hubungi papa kamu agar segera pulang." Ayah Raka masih berada di luar kota untuk meninjau cabang baru perusahaan keluarga mereka.


"Iyaa, Ma, tapi Raka ingin menemui orang tua Sofi dulu. Mereka belum tahu mengenai hubungan kami." Raka mulai menceritakan masalah mereka berdua pada ibunya.


"Mama serahkan pada kamu Bang, tapi kalau seadainya orang tua Sofi tidak setuju dengan kamu, bagaimana?"


Raka nampak diam seraya berpikir. "Raka tidak akan menyerah, Ma. Raka akan berusaha untuk mendapatkan restu orang tua Sofi bagaimana pun caranya."

__ADS_1


"Baiklah, mama mendukung kamu sepenuhnya, tapi kalau orang tua Sofi sudah setuju, buru-buru kasih tau mama," ucap Tamara antusias, "mama mau bikin acara selametan."


"Selametan untuk apa?" tanya Raka penasaran.


"Selamatan karena akhirnya kamu laku juga, Bang. Mama sempet takut kamu bakal jadi bujang lapuk. Untung aja Sofi mau sama kamu. Nggak nyangka kalau anak mama dapet calon istri yang cantik banget," ujar Tamara enteng.


Wajah Raka berubah masam. "Hina aja terus Ma. Memangnya Raka sejelek itu sampe nggak ada yang mau sama Raka," ujar Raka nada kesal, "gini-gini juga banyak nyang ngantri Ma. Mama aja yang nggak tau kalau banyak yang suka sama Raka."


Sofi yang yang tadinya, terkekeh karena mendengar ucapan Tamara, seketika berubah cemberut setelahmendengar penuturan Raka.


"Kalau banyak yang suka sama kamu, kenapa sampe sekarang nggak satu pun yang kamu bawa ke sini?"


Raka menatap malas pasa ibunya. "Kalau Raka bawa semua yang suka sama Raka ke sini, bisa penuh rumah kita, Ma."


Tamara mendengus mendengar perkataan anaknya, sementara Sofi menampilkan wajah cemberutnya. Dia akui, sampai saat ini dia masih sangat cemburu dengan semua mantan Raka, terutama Nita.


Pernah menjalin hubungan di masa lalu membuat Sofi terkadang masih belum bisa mengendalikan pikiran negatifnya. Terkadang dia merasa kalau Raka dan Nita masih memiliki perasaan masing-masing di hati mereka.


Raka lalu berdiri. "Ma, Raka mau ajak Sofi ke kamar dulu."


"Mau ngapain?"


"Mau bikin cucu untuk Mama," jawab Raka enteng.


"Rakaaa...!! Awas ya kalau kamu berani bika segel duluan. Mama bakal coret nama kami dari kartu keluarga," ucap Tamara dengan kesal.


"Raka mau tunjukkin sesuatu Ma. Nggak mungkin juga Raka ngelakuin itu. Raka juha tahu batasan,Ma."


Tamara nampak masih menatap curiga pada anaknya. "Sofi, kalau nanti Raka macam-macam. Kasih tahu mama."


"Ayoo."


Raka menarik tangan Sofi menuju kamarnya dan memintanya duduk di sofa setelah itu dia mengambil sesuati dari laci nakas kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di samping Sofi.


"Mana tangan kamu." Raka menengadahkan telapak tangannya pada Sofi.


Meskipun bingung, Sofi tetap mengulutkan tangannya pada Raka. "Raka ini?"


Sofi terlihat sangat terkejut saat melihat Raka memasukkan sebuah cincin berlian di jari manisnya. "Ini sebagai tanda kalau kau adalah calon istriku. Ini adalah identitas sementara sampai kau resmi menjadi istriku nanti. Kau tidak boleh melirik pria lain lagi mulai sekarang."


Mata Sofi nampak berkaca-kaca. "Terima kasih, Raka. Aku sanga bahagia," ucap Sofi sambil memeluk tubuh Raka.


Raka mengangguk sambil membelai rambut panjang Sofi. "Aku juga sangat bahagia. Aku harap orang tuamu mau menerima niat baikku untuk menikahimu."


Sofi mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Raka memandang wajah Sofi sejenak, mengusap bibirnya perlahan, kemudian memajukan wajahnya ke arah Sofi. Detik kemudian bibir mereka sudah saling menempel dan lidah mereka saling beradu. Tanpa ada rasa canggung lagi, Sofi berusaha mengimbangi permainan bibir Raka.


"Aku mencintaimu, Sofi," ucap Raka setelah melepaskan pagutannya. Dia mengusap lembut pipi Sofi dengan ibu jarinya.


"Aku juga mencintaimu, Raka. Selamanya."


********


"Kau kenapa sayang?" Rendi menghampiri Amel yang sedang berbaring di tempat tidur yang nampak pucat.


"Entah Kak, aku merasa pusing dan mual. Mungkin masuk angin," jawab Amel sambil membenarkan selimut untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Rendi duduk di tepi tempat tidur, menempelkan telapak tangannya di dahi Amel. "Tidak panas." Rendi menjauhkan tangannya dari dahi Amel, "gimana kalau kita ke rumah sakit sayang? Biar aku hubungi John untuk meluangkan waktu untuk memeriksamu."


Amel memegang lengan Rendi. "Aku tidak mau ke rumah sakit, Kak. Temani aku tidur di sini," pinta Amel manja.


"Baiklah, tapi kau harus makan dulu. Dari pagi, kau hanya makan sedikit, kan?"


Dari kemarin, Amel memang tidak memiliki napsu makan. Dia juga merasa tubuhnya lemas tidak bertenaga.


"Suapi aku." Rendi tersenyum melihat sikap manja Amel.


"Baiklah." Rendi mengecup singkat bibir Amel setelah itu dia berjalan keluar kamar.


Amel memejamkan matanya setelah kepergian Rendi karena dia merasa pusing. Beberapa saat kemudian Rendi datang dengan membawa piring yang berisi nasi dan lauk.


Ketika melihat Amel tertidur, Rendi meletakkan piringnya di atas nakas lalu membangunkan istrinya. "Mel, bangun. Kau harus makan dulu."


Amel membuka matanya perlaham lalu duduk bersandar. "Mau makan di sini atau di sana." Rendi menunjuk sofa yang berada di depan tempat tidurnya.


"Di sofa aja Kak." Rendi membantu Amel untuk turun dari tempat tidur menuju sofa.


Dengan telaten Rendi menyuapi Amel sampai hanya tersisa sedikit nasi di piringnya. "Sudah Kak, aku sudah kenyang."


Amel meminum air putih yang disodorkan oleh Rendi. "Kak, apa Sofi sudah pulang?" Tadi siang, Sofi meminta ijin pada Amel dan Rendi untuk pergi ke kantor Raka. Dia belum dapat kabar lagi hingga malam hari.


"Belum, aku melihat lampu kamarnya masih mati." Sofi memang terbiasa tidur dengan lampu menyala.


"Kak, coba telpon Sofi, tanyakan dia ada di mana? Ini sudah malam Kak."


Rendi menyeka sudut bibir Amel dengan tisu. "Biarkan saja sayang. Mungkin dia sedang bersama Raka."


"Kak, pinjam ponselmu." Rendi berjalan mengambil ponselnya lalu memberikan pada Amel.


Amel membuka kunci pada layar ponsel Rendi lalu mengetikan sesuatu. Ketika sudah selesai mengirim pesan pada Sofi, ada pesan masuk ke ponsel Rendi.


"Sania? Siapa Sania?" Amel memicingkan matanya ketika melihat ada panggilan masuk dari nama wanita.


"Dia anak dari Tuan Dery. Dia mewakili ayahnya untuk melakukan kerja sama dengan perusahaanku," terang Rendi.


"Lalu kenapa dia menghubungimu, bukannya Kenan? Bukankah kau tidak terjun langsung dengan urusan perusahaan sebelum kita berangkat ke Jerman?" tanya Amel dengan tatapan menyelidik.


"Mana aku tahu sayang. Lagi pula, aku tidak pernah meladeninya selain urusan pekerjaan," jawab Rendi lembut.


Sebenarnya, Amel sudah tahu kalau banyak wanita yang sering menghubungi Rendi. Rata-rata dari mereka adalah teman kuliah dan teman masa kecilnya yang Amel tidak kenal. Hanya sedikit teman SMA mereka yang mengetahui nomor ponsel Rendi karena semenjak kepindahan Rendi ke luar negeri, dia menggganti nomor ponselnya.


"Jangan macam-macam Kak! Aku tidak akan memafkanmu jika kau berani bermain wanita di belakangku," ancam Amel dengan tatapan tajam.


Rendi meraih ponselnya dari tangan Amel lalu mendudukkan Amel di pangkuannya. "Iya sayang, aku ini pria yang setia. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau kau bisa mengecek ponselku kapanpun kau mau. Kau biaa melihat apakah aku pernah merespon wanita yang mengirim pesan padaku, selain urusan pekerjaan atau pun hal penting."


Belakangan ini Amel sering sekali curiga pada Rendi. Entah kenapa hatinya tidak tenang setiap kali ada bunyi pesan masuk ke ponsel suaminya. Amel mulai takut kalau Rendi akan berpaling darinya karena dia belum juga bisa hamil.


Amel seketika berlari ke kamar mandi ketika merasa perutnya mual. "Hoooeekk..Hooeeek." Amel memuntahkan makanan yang baru saja dia makan.


Rendi menyusul Amel ke kamar mandi untuk meliha keadaan istrinya. "Sayang, lebih baik kita ke rumah sakit," usul Rendi sambil memijat tengkuk Amel yang sedang berjongkok di depan closet.


Amel menggerakkan tangannya ke kanan-kiri tanda menolak usulan suaminya. "Hoooeek..Hooeek." Amel kembali mengeluarkan isi perutnya hingga tubuhnya lemas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2