
Amel memutar kepalanya menatap Rendi. "Kenapa Kakak nanya gitu?"
Apa dia juga menyukaiku? Dasar bodoh! Aku berpikiran apa sih? Sadar Amel..sadar, kau itu cuma kentang, jangan bermimpi terlalu tinggi.
Amel berpikir sejenak lalu menjawab, "Kalau Amel juga suka, Amel terima, tapi kalau tidak, Amel akan menolaknya," jelas Amel.
Rendi menatap dalam Amel. Pikirannya terganggu saat Raka mengatakan kalau dia menyukai Amel. Dia takut nanti Raka akan menyatakan perasaannya, bagaimana kalau Amel menerima Raka, mengingat mereka sangat dekat, apalagi Amel terlihat nyaman jika di dekat Raka.
"Seandainya kamu tidak menyukainya, tapi dia berjuang terus untuk membuatmu jatuh cinta padanya, bagaimana?" Rendi menatap penasaran.
"Mungkin Amel bisa berubah pikiran, tapi tergantung orangnya, sifat, tingkah lakunya." Amel tampak melamun.
Sebenarnya dia kenapa sih? pertanyaan sangat aneh.
Rendi belum puas dengan jawaban Amel, kemudian bertanya lagi, "Kalau misal orang itu Raka atau aku, bagaimana?"
Rendi pasti sudah gila, kenapa dia bertanya seperti itu?
"Raka tidak suka sama Amel, lagian, Raka sudah Amel anggap kakak Amel sendiri, jadi itu nggak mungkin, lebih nggak mungkin lagi kalau Kakak."
Rendi sedikit terkejut mendengar jawaban Amel. "Kenapa dengan aku? Apanya yang nggak mungkin?" Dahi Rendi berkerut dan terlihat alisnya menyatu.
Amel tertawa mendengar perkataan Rendi. "Yaa nggak mungkin aja kalau kak Rendi suka sama aku, sementara di luar sana banyak yang suka sama Kakak. Lebih cantik, bahkan lebih dari segalanya dari Amel.
Rendi tidak habis pikir dengan Amel, kenapa dia bisa berpikiran seperti itu, padahal dia lah yang mati-matian memendam perasaannya kepada Amel. Dia bahkan tidak percaya diri untuk mendekati Amel dan tidak berani menyatakan perasaannya karena takut Amel akan menolaknya.
"Kalau aku beneran suka sama kamu, bagaimana?" Rendi memberanikan diri bertanya kepada Amel.
"Kalau Kakak bertaya seperti itu, aku bisa salah paham," ucap Amel sambil menatap Rendi.
Kenapa semenjak insiden perkelahian itu, dia jadi aneh ya? Apa ada yang salah dengan kepalanya?
Amel yang heran dengan perkataan Rendi, kemudian mendekatkan wajahnya pada Rendi memberikan sedikit jarak lalu memiringkan kepalanya menatap Rendi dengan penuh tanya. "Apa Raka memukul kepala Kakak terlalu keras sehingga membuat otak kakak bermasalah?" tanya Amel dengan polos.
Rendi menghela napas karena merasa sangat frustasi saat ini.
Apa sih yang ada di otak anak ini. Kenapa dia tidak peka sama sekali.
Rendi tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan kepada Amel. Pada akhirnya, dia hanya menggelenggkan kepalanya.
__ADS_1
Saar Rendi melihat Amel masih berada di dekat wajahnya tanpa ada sedikit pun rasa waspada, membuat Rendi menarik tengkuk Amel ke arah wajahnya. Dengan posisi Amel yang memiringkan kepalanya, mempermudah Rendi mencium bibir Amel. Rendi menempelkan bibirnya, mengecup lembut bibir Amel beberapa saat melu*matnya, kemudian melepaskan ciumannya.
Mata Amel terbelalak setelah Rendi mencium bibirnya. Badannya panas dingin, jantungnya berdebar kencang dan pikirannya kosong, seolah-olah bumi ini berhenti berputar.
"Jangan salahkan aku karena tidak bisa menahan diri dan menciummu tiba-tiba. Kau terus memancingku dan menguji kesabaranku." Rendi berdiri lalu menoleh ke Amel, "jangan lakukan itu lagi atau aku tidak akan melepaskanmu seperti saat ini."
Rendi berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menengkan pikirannya. Amel benar-benar menguji kesabarannya.
Amel masih terdiam di tempatnya sambil memegang bibirnya.
Rendi benar-benar menciumku barusan, aku benar-benar akan gila kalau seperti ini.
Beberapa saat kemudian terdengar siara bel kamar Rendi dan membuyarkan lamunan Amel.
Amel bergegas membuka pintu, ternyata petugas room service yang datang. Mungkin Rendi yang meminta mereka datang ke kamarnya. Amel pun mempersilahkan mereka masuk.
Mereka meletakkan berbagai makanan di atas meja dengan peralatan makan yang khusus yang tertutup untuk menjaga makanan tetap hangat. Setelah selesai menata makanan mereka keluar.
Rendi baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat sudah ada makanan yang tertata rapi di meja.
Rendi kemudian berjalan mendekati Amel dan duduk di sebelahnya tanpa ada rasa canggung sedikit pun seperti tidak habis terjadi apa-apa antara mereka.
Rendi menoleh ke Amel. "Kamu kenapa?" tanya Rendi tanpa beban.
Kakak pura-pura bodoh atau memang tidak tahu? Kenapa malah bertanya? Ini sudah jelas karena kakak tiba-tiba menciumku.
"Amel nggak apa-apa," jawabnya pelan sambil menunduk.
Rendi menarik tangan Amel, tapi ditahan oleh Amel. "Mau kemana, Kak?" Amel mengangkat kepalanya menatap hera Rendi.
Rendi menoleh. "Makan." Kemudian dia menarik lagi tangan Amel supaya mengikutinya. Kali ini, Amel tidak menolak lagi dan berjalan mengikuti Rendi, kemudian duduk di sebelah Rendi.
Rendi mulai memasukkan beberapa lauk ke piringnya dan terlihat agak kesulitan menjangkau lauk yang berada jauh di depannya.
Amel berdiri . "Biar Amel yang ambilkan. Kakak mau yang mana?" Amel menoleh pada Rendi.
Rendi terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaaan Amel. "Terserah kamu, aku makan semuanya, kecuali Seafood."
"Kenapa nggak makan seafood?" Amel menoleh sejenak ke Rendi.
__ADS_1
"Aku alergi," jawab Rendi singkat. Amel hanya mengangguk.
Amel berdiri membuka pintu setelah mendengar bel kembali bebunyi, sementara Rendi sudah mulai makan. Tidak lama kemudian Amel kembali dengan Lilian dan Sofi.
Rendi menoleh sejenak pada ibunya ketika ibi menyapanya. "Mama sama Sofi uda makan?
Sofi dan Lilian duduk di sofa, sementara Amel berjalan ke tempat duduknya.
"Sudah, kamu makan saja dulu sama Amel. sebentar lagi dokter Jhon akan datang" ucap Lilian menoleh pada anaknya.
"Iyaa Ma, papa kemana?" tanya Rendi lagi.
"Papa ada di kamar, tadi dia nanyain keadaan kamu," ujar Lilian sambil menonton TV bersama Sofi.
Rendi mengangguk, melanjutkan makan, baru beberapa suap dia sudah berhenti.
"Kenapa Kakak berhenti makan?" Amel menoleh pada Rendi dengan wajah heran.
"Sudah kenyang," jawab Rendi menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Kakak baru makan sedikit tadi." Amel berdiri menambahkan nasi dan lauk ke piring Rendi. "Ini harus dihabiskan." Amek menunjuk ke piring yang ada di hadapan Rendi.
"Tapi aku lagi males makan."
"Kalau Kakak nggak habiskan, Amel juga nggak mau makan lagi."
"Baiklah, aku akan habiskan makanan ini." Rendi kembali menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya, begitu pun sebaliknya.
Lilian yang melihat interaksi keduanya, sangat senang dan berniat menggoda mereka. "Kayaknya Amel uda cocok jadi istri kamu Ren, mama lihat dia perhatian banget sama kamu. Bagaimana kalau habis kamu lulus, kamu langsung nikah aja sama Amel?" tanya Lilian sambil tersenyum menggoda.
Uhuuk... Uhuuk... uhhuk.... Amel tersedak mendengar perkataan ibu Rendi.
Nikaah..? Pacaran aja cuma pura-pura, gimana mau nikah.
Rendi mencoba menepuk-nepuk punggung Amel dengan pelan. tangan satunya mengambilkan air minum untuk Amel
Sofi dan Lilian sontak menoleh ke mereka. "Pelan-pelan Mel makannya," ucap Lilian kepada Amel.
"Ini kan juga karena ulah Mama, makanya Amel tersedak." Rendi melirik tajam pada ibunya.
__ADS_1
Bersambung...