
Amel sedang berdiri di depan gerbang sekolah untuk menunggu Rendi menjemputnya. Amel mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mobil Rendi. Saat sudah menemukannya, Amel langsung menghampiri mobilnya.
Amel membuka pintu mobil belakang dan melihat ada pak Iyan yang duduk di kursi pengemudi. Amel menghentikan langkahnya masuk ke dalam mobil Rendi saat mendengar teriakan ketiga sahabatnya dari darah belakang. Amel membalikkan tubuhnya sesaat sebelum mereka menghampirinya.
"Mel, kok lo tega sih ninggalin kita," ucap Lisa sambil menggandeng lengan Amel.
"Iyaa, lo buru-buru banget sih pulangnya?" timpal Bela.
Amel menyatukan kedua telapak tangannya. "Sorii, gue lupa pamit tadi. Gue ada urusan soalnya, penting."
Olive menengok ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka. Dia terkejut saat melihat ada Rendi di dalamnya. Olive menarik tangan Amel menjauh dari mobil itu, diikuti oleh yang lain.
"Apaan sih Liv?" gerutu Amel ketika Olive menariknya tiba-tiba.
Olive dan yang lainnya berhenti tidak jauh dari mobil Rendi. "Itu bukannya Kak Rendi?"
Olive berbisik pada Amel, tapi masih di dengar oleh Lisa dan Bela. Lisa dan Bela seketika menoleh ke arah mobil untuk memastikan perkataan Olive, kemudian menoleh kembali ke Amel.
"Iyaa, itu emang kak Rendi," jawab Amel salah tingkah.
"Jadi maksud lo ada perlu itu, mau pergi sama kak Rendi?" tanya Olive antusias.
Amel mengganguk pelan. Ketiga sahabatnya langsung melongo dengan mata terbelalak. Olive lebih dulu tersadar dari keterkejutannya. Dia kemudian berkata, "Kok lo bisa pergi sama kak Rendi? Bukannya lo nggak deket sama dia?"
Amel memang belum menceritakan kepada teman-temannya perihal Rendi, apalagi dia baru pacaran dengan Rendi kemarin.
"Ceritanya panjang. Besok gue ceritain. Gue nggak bisa lama-lama soalnya ada janji sama kak Rendi."
"Mel, ayo pergi!" Terdengar suara Rendi yang memanggilnya dari dalam mobil. Amel dan ketiga sahabatnya menoleh bersamaan.
"Gaes, gue harus pergi. Besok gue janji kasih tahu semuanya." Amel berjalan mendekat ke mobil Rendi diikuti yang lainnya.
Amel melambaikan tangan setelah berada di dalam mobil. "Gue pergi dulu, ya?" pamit Amel pada ketiga sahabatnya lewat jendela mobil yang terbuka. Terlihat Rendi hanya diam dengan wajah acuh tak acuhnya.
"Hati-hati, Mel," ucap mereka bersamaan.
"Iyaaa." Amel mengagguk setelah itu menaikkan kaca mobilnya kembali.
Mereka hanya bisa menatap mobil Rendi yang sudah mulai menjauh. "Awas, air liur lo mau netes tuh Lis. Biasa aja kali ngeliatnya. Rendi itu punya Amel, jangan lu embat." Olive mengusap kasar wajah Lisa.
Seketika Lisa menolehm "Lo aja ngeliatnya nggak kedip tadi," balas Lisa sewot, "siapa sih yang nggak mau kalau dikasih cowok ganteng kayak kak Rendi."
"Buktinya gue," ujar Olive sombong.
Lisa menoleh cepat pada Olive. "Lo nggak mau?"
"Maulaaah" Olive tertawa lebar.
"Sundel, gue kira lo nggak mau." Lisa menoyor kepala Olive dengan wajah cemberutnya.
"Kak Rendi itu pengecualian. Dia itu paket komplit. Udah pinter, ganteng, jago olahraga, berprestasi, nggak playboy, tajir pula," ouji Olive dengan wajah berbinar, "ibarat nasi goreng, dia itu nasi goreng sultan. Nggak semua orang bisa dapetin," sambung Olive lagi.
__ADS_1
"Iyaa, benar banget. Tadi liat nggak? Kak Rendi ganteng bangeeeet kalau pakai baju biasa gitu, cool banget," ucap Lisa menggigit jari tangannya dengan wajah gemas.
"Ya, iyalah. Dia pake seragam sekolah aja ganteng, apalagi pake baju biasa. Emang dasarnya uda ganteng," sahut Olive.
"Beruntung banget Amel bisa deket sama orang yang dia suka. Gue juga pengen kayak Amel," ujar Bela.
Lisa dan Olive menoleh pada Bela yang terlihat muram. "Makanya Bel, agresif dikit napa jadi cewek. Keburu kak Fadil diambil orang," ujar Olive.
"Jangan samain gue sama lo Liv," sahut Bela sewot.
"Apa perlu gue jadi mak comblang lo Bel? Dijamin berhasil deh," timpal Lisa dengan semangat.
"Berhasil jauhin Bela sama kak Fadil maksud lo?" Olive tersenyum mengejek ke arah Lisa.
"Sialan lo Liv!" Lisa memukul lengan Olive dengan wajah kesal.
"Udaah ah, balik yuuk."
Bela membalik badannya sambil terus berjalan diikuti Lisa di sampingnya. Olive terdiam sesaat dengan wajah datar. Dia menatap lurus jalan di depannya, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menyusul kedua sahabatnya. Mobil Rendi sudah tidak nampak lagi. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan sekolah.
*******
Mobil Rendi masih melaju di tengah keramaian kota. "Teman-teman kamu tadi ngomong apa?" Rendi memandang Amel yang sedang menatap keluar jendela.
Amel menoleh. "Tadi mereka nanya Amel mau ke mana? Terus kok bisa pergi sama Kakak."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Rendi penasaran.
"Kenapa?"
"Besok baru mau cerita. Tadi belum sempet, Amel juga takut."
"Takut kenapa? Mereka nggak suka kami pacaran sama aku?" Rendi merubah posisi duduknya menghadap Amel.
"Bukan. Takutnya mereka syok. Bisa nggak Kak kalau kita rahasiain dulu hubungan kita sama orang-orang di sekolah?"
Rendi menoleh dengan wajah tidak suka. "Kenapa harus di rahasiain? Kamu malu punya pacar kayak aku?" Rendi menatap tajam mata Amel.
Amel meraih tangan Rendi yang sudah terlihat mulai marah. "Bukan gitu Kak, tapi...."
Ucapan Amel terpotong oleh Rendi. "Terus apa alasannya? Apa kamu takut kalau cowok yang suka sama kamu pada ngejauh karena tahu kamu udah punya pacar?" tuduh Rendi. Dia masih melayangkan tatapan tajam pada Amel.
Dia kira ceweknya ini banyak yang suka kali disekolah, padahal mah nggak ada sama sekali.
Amel menghela napas halusnya dengan wajah pasrah. "Mana ada sih Kak yang suka sama Amel di sekolah. Yang ada tuh Kakak yang banyak disukai sama cewek di sekolah."
"Kamu nggak tahu aja kalau banyak yang suka sama kamu di sekolah." Rendi membuang pandangannya ke luar jendela dengan acuh tak acuh.
Astagaa Kak Rendi! Aku nggak secantik itu kali bisa di sukain banyak cowok. Buktinya aku aja pernah pacaran selama ini.
Amel menghela napas kembali karena merasa frustasi dengan sikap Rendi. "Kak, dengerin dulu." Amel memegang wajah Rendi agar menatap matanya dengan gemas, "justru sebaliknya, Amel takut sama cewek-cewek yang suka sama Kakak di sekolah. Gimana kalau satu sekolah marah dan membully Amel."
__ADS_1
"Mereka nggak punya hak kayak gitu sama kamu."
Amel melepaskan tangannya dari wajah Rendi lalu berkata, "Mereka pasti nggak rela kalau Kakak pacaran sama Amel."
"Itu urusan mereka. Aku nggak peduli, yang pasti aku nggak mau ngerahasiain hubungan kita. Itu sama aja ngasih kesempatan cowok lain untuk deketin kamu."
Gue jedotin juga nih kepala gue ke mobil ini. Bisa nggak sih kak mikirnya jangan kejauhan? Kok bisa-bisanya dia mikir kayak gitu? Yang harusnya takut di sini itu gue. Yang disukain banyak orangkan dia, bukan gue. Aduh, gue harus banyak sabar punya pacar begini.
Amel mengatur napasnya lalu tersenyum paksa. "Terserah Kakak aja deh yang penting Kakak seneng," jawab Amel malas.
Rendi melirik tajam ke Amel. "Inget ya Mel, kamu itu uda jadi pacar aku. Jangan coba-coba deket sama cowok lain."
Pengen rasanya gue getok kepalanya Rendi, biar pikirannya terbuka. Serius, capek ngomong sama dia.
"Nggak ada juga yang mau deketin Amel Kak. Kakak doang ini yang mau sama Amel," balas Amel.
Rendi mencubit hidung Amel. "Kamu aja yang nggak peka. Pokoknya, mulai besok kalau ke sekolah kamu nggak boleh dandan." Rendi membuang pandangannya ke samping dengan wajah acuh tak acuh.
Amel menoleh dengan cepat. "Kenapa?"
"Nanti makin banyak yang suka sama kamu. Aku nggak mau punya banyak saingan."
"Kakak mau kalau aku kelihatan kayak kucel?"
"Kamu nggak dandan aja uda cantik, apalagi kalau dandan. Waktu kamu di dandanin di butik pas mau ke acara ultah mama waktu itu aja banyak yang ngelihat kamu sampai nggak kedip. Kenan aja berusaha deketin kamu."
"Nggak sekalian aja Kakak kasih label di jidat Amel pake tulisan spidol "Jangan deketin cewek ini, dia uda punya pacar," ucap Amel dengan wajah kesal.
Rendi manggut-manggut. "Boleh juga ide kamu. Besok Kakak tulis di kertas aja terus tempel belakang baju kamu," balas Rendi enteng.
"Kakaaaaakk..! Jangan bikin Amel malu dong," teriak Amel dengan kesal.
Rendi menutup telinganya sambil mengeryit. "Kamu nggak usah teriak sayang, lagian, kamu yang kasih usul tadi."
"Habisnya Kakak punya cewek kayak Amel aja berlebihan banget."
"Aku cuma nggak mau ada cowok lain yang deketin kamu. wajar, 'kan?" tanya Rendi tanpa dosa.
Asataga! Muka standar kayak gue aja dia begini, gimana kalau muka gue secantik Siska sama Friska, bisa-bisa gue di kerangkeng sama dia dan nggak boleh ke mana-mana.
"Amel capek ngomong sama Kakak." Amel bersedekap dengan wajah cemberut.
"Kamu pasang muka cemberut aja kelihatan imut. Gimana nggak banyak yang suka coba."
Bodo amat! Terserah Kakak aja.
"Kita udah sampai, ayook turun." Rendi menarik tangan Amel setelah mobil berhenti di depan rumah sakit.
Mereka turun dan langsung menuju ruangan dokter Jhon. Saat mereka memasuki loby rumah sakit terlihat banyak yang menyapa Rendi.
Amel yang merasa heran, kemudian menoleh pada Rendi lalu bertanya, "Kenapa waktu kita masuk rumah sakit ini banyak yang nyapa Kakak?" tanya Amel heran.
__ADS_1
Bersambung...