
"Untuk apa kita ke sini?" tanya Friska ketika mobil Devan berhenti tepat di depan Universitas Dirgantara.
"Aku akan melakukan rapat." Devan langsung turun dari mobil disusul dengan Friska.
"Kampus ini milikmu?" Friska mengikuti langkah Devan memasuki gedung tinggi berwarna biru tersebut.
"Heemm," gumam Devan.
"Devan!" Terdengar seseorang memanggil nama Devan. Mereka berdua menoleh bersamaan ke asal suara.
"Kau baru datang?" tanya Devan pada wanita cantik yang sudah berdiri di depannya. Wanita itu adalah Stefani. Teman satu kampusnya sekaligus rekan kerjanya
"Iyaaa. Ini siapa?" tunjuk Stefani pada Friska. Dia menatap Friska cukup lama.
Kenapa dia menatap sinis padaku? Apa dia sedang cemburu padaku? Dia pikir siapa dia?
"Dia temannya Amel." Friska langsung menoleh pada Devan.
Heeii...Semenjak kapan aku berteman dengan Amel? Dia seenaknya saja berbicara.
"Ohh.. Kalau begitu ayo kita pergi. Rapat akan segera di mulai." Stefani memang mengenal Amel karena dia dan Devan pernah menjadi guru magang di sekolah Amel.
"Kau duluan saja Stef. Aku akan mengantar Friska dulu ke ruanganku."
Stefani tampak terdiam sejenak. "Baiklah. Aku akan menunggumu di ruang rapat."
Devan mengangguk. Devan kembali melangkah menuju ruangannya. "Sepertinya dia menyukaimu!" ucap Friska sambil terus mengikuti langkah Devan.
"Jangan bicara omong kosong." Devan meraih pintu ruangannya. "Masuklah." Devan membuka lebar pintu ruangannya.
"Kau tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Aku akan rapat dulu." Devan sebenarnya merasa sangsi meninggalkan Friska sendirian di ruangannya. Dia berpikir kalau Friska bisa saja pergi ketika dia sedang rapat.
"Iyaa." Friska duduk di sofa single yang ada di ruangan Devan.
"Kau bisa menonton televisi atau berisirahat selama aku rapat."
"Baiklah."
Devan meninggalkan Friska sendirian di ruangannya.
Devan melakukan rapat selama lebih dari 3 jam lebih. Setelah selesai dia langsung berjalan menuju ruangannya.
Devan sangat terkejut ketika tidak mendapati Friska di dalam ruangannya. Dia sudah menduga kalau Friska akan kabur darinya.
Devan berjalan menuju ruang keamanan. "Devan.. kau mau ke mana?" Stefani menghentikan langkah Devan.
__ADS_1
"Aku ingin mencari Friska, dia menghilang. Aku harus pergi dulu Stef." Devan langsung berjalan cepat.
Devan masuk ke ruangan kontrol. Di sana terdapat beberapa petugas yang berjaga. "Periksa semua CCTV area kampus. Cari wanita ini." Devan menunjukkan wajah Friska di layar ponselnya.
Foto itu diambil ketika Kenan memintanya untuk mengirim foto terbaru Friska.
"Baik, Tuan." Selama 10 menit mereka terus memeriksa CCTV satu persatu.
"Itu Tuan. Dia berada di halaman gedung Fakultas Hukum," tunjuk petugas yang sedang memeriksa CCTV.
Devan langsung berjalan berjalan menuju lokasi Friska dengan langkah cepat. "Sedang apa kau di sini? Apa kau berencana kabur dariku?" ucap Devan dengan nada tinggi.
"Aku hanya ingin jalan-jalan. Aku bosan menunggu di ruanganmu." Devan mengira kalau Friska ingin mengelabuinya.
"Kau seharusnya menunggu sampai aku selesai rapat. Aku bisa mengantarmu jalan-jalan kalau kau bosan." Devan masih merasa kesal terhadap Friska.
Friska mengernyit. "Kenapa kau jadi marah denganku?"
"Kau membuatku kesal." Devan langsung manarik tangan Friska. "Lebih baik kita pulang sekarang." Mereka berjalan menuju mobil Devan. Friska hanya bisa mengikuti langkah Devan dari belakang.
"Kau seharusnya menunggu sampai aku selesai rapat. Aku bisa mengantarmu jalan-jalan kalau kau bosan." Devan masih merasa kesal terhadap Friska.
Friska mengernyit. "Kenapa kau jadi marah denganku?"
"Kau membuatku kesal." Devan langsung manarik tangan Friska. "Lebih baik kita pulang sekarang." Mereka berjalan menuju mobil Devan. Friska hanya bisa mengikuti langkah Devan dari belakang.
Mobil berhenti di salah satu pusat perbelanjaan. “Untuk apa kita ke sini?” tanya Friska heran.
Devan menoleh pada Friska. “Turunlah.” Devan tampak enggan menjelaskan pada Friska tujuannya ke pusat perbelanjaan tersebut.
Friska menatap sebal pada Devan. Dia memilih untuk diam. Dia hanya mengikuti Devan dari belakang ketika mereka mulai memasuki mal tersebut. Devan melangkahkan kaki dengan cepat.
“Devan, tunggu!” Friska tidak bisa mengimbangi langkah kaki Devan.
Devan tampak menoleh ke belakang sebentar. “Apa kau siput? Kenapa jalanmu lambat sekali?” tanya Devan sambil terus berjalan. Dia tidak ada niat untuk menunggu Friska yang tampak berlari kecil mengejarnya.
“Awass kau yaa! Lihat saja nant. Aku akan membalasmu,” gerutu Friska dengan wajah cemberut.
Devan tampak memasuki salah satu dengan merk terkenal. “Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pegawai store tersebut dengan senyum lebar dan wajah sumringah.
Devan menoleh ke belakang. Dia menarik ujung lengan baju Friska hingga tubuhnya bergeser mendekati tubuhnya. “Carikan baju yang pas untuk wanita ini,” ucap Devan tenang.
Friska menatap tajam pada Devan. Dia melihat Devan tampak tidak merasa bersalah sama sekali karena sudah menarik bajunya sehingga dia nyaris menabrak tubuh Devan.
Pegawai wanita untuk membungkuk. “Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar.” Pegawai itu pergi meninggalkan Devan Friska.
__ADS_1
“Kau tidak perlu membelikan aku baju."
"Di apartemenku sudah tidak ada baju wanita lagi. Apa kau mau memakai bajuku?"
"Tidak mau. Aku bisa beli sendiri. Kau pikir aku tidak memiliki uang,” ucap Friska ketus.
Devan melangkah menuju sofa lalu duduk dengan malas. “Kalau begitu silahkan kau bayar sendiri,” ucap Devan acuh tak acuh kemudian duduk bersandar sambil menatap ke layar ponselnya.
Friska berjalan mendekati Devan lalu duduk di sebelahnya. “Kenapa kau tidak bertanya dulu padaku kalau mau membeli baju?”
Devan mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya ke arah Friska. “Apa kau akan menanggapiku kalau aku bertanya dulu padamu? Kau bahkan tidak bisa makan dengan benar. Apa kau pikir bisa mengurus dirimu sendiri di saat kau sibuk mengacaukan hidupmu?”
“Aku bukannya mengacaukan hidupku. Aku hanya butuh waktu untuk menyendiri.”
Devan tertawa sinis. “Apa menurutmu tindakan mengakhiri hidup, bukan termasuk mengacaukan hidup?”
Devan menatap Friska dengan wajah datar. Dia sedang menunggu jawaban apalagi yang akan terlontar dari mulut wanita yang berada di sampingnya.
“Kau tidak akan mengerti kenapa aku melakukannya.” Friska tertunduk menatap ke bawah dengan wajah sedih. Dia kembali teringat dengan Rendi yang kini sudah menjadi miliki orang lain.
“Aku adalah orang paling tahu bagiamana perasaanmu saat ini. Aku dan Amel sudah dekat dari kecil. Bahkan dia pernah berjanji untuk menikah dengaku ketika kami kecil. Orang tua kami setuju untuk menikahkan kami jika sudah dewasa. Terpisah cukup lama karena suatu alasan lalu kemudian bertemu lagi dengan keadaan yang sudah berbeda. Dia mencintai laki-laki lain dan akhirnya menikah dengan orang yang dicintainya. Kisahmu denganku hampir sama. Perbedaannya adalah aku bisa berpikiran jernih, walaupun hatiku sangat hancur dan kau tidak. Aku masih berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depannya.” Devan menghentikan ucapannya.
“Apa kau pikir aku pindah ke Eingapore hanya karena alasan untuk mengurus perusahaan papaku? Bukan Friska. Aku pindah ke sana untuk menata hidupku kembali. Kalau boleh egois, aku akan membawa Amel pergi bersamaku. Orang tuanya sudah memberikan restu padaku saat itu. Aku bahkan sudah mendaftarkan pernikahanku dengannya, tapi melihat Amel tidak bahagia. Hatiku merasa sakit. Lebih baik aku yang merasakannya dari pada melihatnya tidak bahagia hidup bersamaku.”
Wajah Devan tampak berubah menjadi mendung dan suram seketika. Ingatanya kembali saat dia hampir saja menikah dengan Amel. Mungkin kalau waktu itu dia tetap pada keputusannya, Amel tidak akan sebagia seperti sekarang saat bersama dengan Rendi.
Friska menoleh pada Devan yang sedang menatap lurus ke bawah. Ada rasa bersalah di hati Friska karena sudah mengungkit luka yang mungkin saja belum mengering tetapi dengan mudahnya dia mengorek kembali luka tersebut.
“Maaf, aku tidak tahu.” Wajar saja Friska tidak tahu, karena mereka memang tidak saling mengenal sebelumnya. Mereka hanya beberapa kali bertatap muka.
Devan merubah mimik wajahnya. “Seharusnya kau bisa lebih menghargai hidupmu. Kau memiliki segalanya. Sebenarnya, kau hanya perlu bersabar. Mungkin saja nanti kau akan bertemu dengan laki-laki yang pantas untukmu, yang bisa mencintaimu dengan tulus. Lebih baik relakan Rendi. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Sakit memang, tapi terkadang kita harus meraskan sakit terlebih dulu sebelum mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya.”
“Permisi, Tuan,” sela pegawai wanita store tersebut.
Devan dan Friska seketika menoleh. “Ini bajunya, silahkan dilihat, Tuan” Pegawai tersebut membawakan banyak baju dengan beragam model yang sedang populer saat ini.
Devan berdiri. “Bungkus saja semua.”
Pegawai tersebut mengangguk. “Baik, Tuan. Silahkan melakukan pembayaran ke kasir kami yang berada di sebelah sana,” tunjuk pegawai wanita itu dengan sopan.
Devan mengikuti langkah pegawai wanita itu. Sementara Friska tampak masih termenung. Dia belum menyadari kalau Devan sudah tidak ada di sampingnya.
Devan menghentikan langkahnya, saat melihat Friska belum juga bangun dari duduknya. “Apa kau ingin duduk di situ sampai toko ini tutup?”
Friska mengangkat kepalanya. “Kau pikir aku tidak punya kerjaan?” ucap Friska dengan wajah kesal. Dia kemudian mengikuti langkaj Devan dari belakang.
__ADS_1
Bersambung...