Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kemarahan Kenan (Sesion 2)


__ADS_3

Amel mengelus pelan wajahnya. “Kali ini gue ijinin lo nampar gue, tapi lain kali, gue bakal balas 2 kali lipat dari ini kalau sampai lo berani nampar gue lagi,” ucap Amel marah.


“Waah, dia uda berani ngancem lo Sis. Uda kasih pelajaran lagi,” ucap Yesi cepat.


Siska memberikan kode pada Dira dan Yesi. “Lepasi gue,” teriak Amel saat mereka memegang kedua tangannya.


Siska berbalik ke cermin dan mengambil botol soda lalu menyiramkan pada wajah dan baju Amel. “Itu pelajaran buat lo karena uda berani ngelawan gue. Lain kali, kalau lo masih berani sama gue, gue bakal berbuat lebih dari ini,” ancam Siska sambil memegang dagu Amel.


“Ayyo kita pergi,” ucap Siska pada teman-temannya. “Jangan pernah macam-macam sama gue. Inget itu!” ucap Siska sebelum meninggalkan toilet wanita.


Amel berjalan menuju cermin, dia memandang wajahnya sebentar lalu membasuh mukanya. Dia melihat bayangannya di cermin. Bajunya sudah basah karena air soda yang di siram oleh Siska, dan meninggalkan warna coklat pada kemeja abu-abunya. Amel menghempuskan nafas kasar.


Amel melihat jam tangannya, jam makan siang sudah habis. Dia bergegas keluar dari toilet wanita dengan baju yang masih basah. Amel berjalan cepat menuju ruangannya, untung saja sepanjang jalan menuju ruangannya sepi jadi tidak ada yang melihatnya.


Bela menoleh saat pintu ruangannya terbuka. “Ameel, Lo kenapa? Kok bisa basah gitu?” pekik Bela saat melihat Amel memasuki ruangannya dengan keadaan berantakan dan baju basah.


Amel meletakkan tangan di bibirnya, supaya Bela mengecilkan suaranya. “Gue nggak apa-apa.” Amel duduk di mejanya dan mengelap wajah dan bajunya menggunakan tisu.


“Nggak apa-apa gimana? Baju lo basah gini, terus muka lo kok bengkak sama merah?” tanya Bela heran.


“Nanti gue ceritain, jangan sekarang,” jawab Amel pelan. Dia tidak ingin menarik perhatian karyawan lain yang bisa memicu kehebohan nantinya.


“Tadi lo dicari sama kak Fadil.”


Amel menoleh pada Bela. “Kenapa?“


Bela mengangkat kedua bahunya. “Katanya lo suruh ngadep pak Kenan kalau uda balik dari toilet.”


Amel tampak bingung, bagaimana bisa dia ke ruangan Kenan dengan keadaan begini. Pasti nanti Kenan banyak tanya. Amel memutuskan untuk menelpon ke ruangan Kenan, untuk menanyakan ada keperluan apa menyuruhnya datang ke ruangannya. Setelah Amel selesai berbicara dengan Kenan, wajah Amel tampak lesu.


“Bel, gue ke ruangan Kenan dulu ya,” ucap Amel dengan wajah malas. Melihat Bela mengangguk, Amel kemudian berjalan menuju ruangan Kenan di lantai paling atas.

__ADS_1


Saat keluar dari lift, Amel bisa melihat Siska sedang duduk di meja kerjanya sambil memegang beberapa berkas. Siska menoleh pada Amel saat mendengar langkah kakinya.


Amel tidak mengubris tatapan tajam Siska. Siska seolah sedang memperingatkan untuk tidak mengadu pada Kenan masalah di toilet tadi.


Amel mengetuk pintu ruangan Kenan terlebih dahulu saat mendengar sahutan dari dalam Amel berjalan masuk.


Amel melangkah mendekati meja Kenan saat melihat Kenan dan Fadil tampak menatap serius pada kertas di meja Kenan sambil berbicara.


“Siang Pak Kenan,” ucap Amel sambil berdiri tidak jauh dari Fadil dan Kenan.


Fadil dan Kenan terkejut saat melihat penampilan Amel.


Kening Kenan mengerut. “Kenapa bajumu basah? Kamu habis mandi?” tanya Kenan asal.


Amel melihat bajunya sekilas. “Maaf Pak, tadi saya nggak sengaja terpeleset di toilet jadi baju saya basah,” bohong Amel.


Kenan meneliti penampilan Amel sebentar lalu menatap Fadil yang berada di sebelahnya. “Dil, pesankan sekarang juga baju untuk Amel di butik langganan keluargaku. Minta mereka antarkan sekarang juga ke sini,” pinta Kenan.


“Siap Pak.” Fadil kemudian menelpon seseorang dan berbicara sebentar.


Amel tampak sedang berpikir. “Ini... Ini terkena lantai saat aku terjatuh tadi,” ucap Amel gugup.


Kenan menatap tajam Amel. “Kamu jangan berbohong kepadaku, Mel,” ucap Kenan dengan tegas.


“Aku nggak apa-apa, aku akan mengompresnya nanti,” ucap Amel cepat sambil menunduk.


“Ikut aku.” Kenan menarik Amel untuk duduk di sofa. Amel sedikit meringis saat Kenan menarik tangannya dengan cepat.


Langkah Kenan berhenti, kemudian menoleh pada Amel. “Kamu kenapa?” tanya Kenan saat mendengar suara Amel yang tampak kesakitan. Kenan merasa heran kenapa Amel merintih saat dia manarik tangannya padahal yang bengkak adalah wajahnya.


Amel menggeleng kuat. “Aku nggak apa-apa.”

__ADS_1


Kenan meraih tangan Amel dan melihat tangan Amel terlihat terluka dan berdarah. Ada luka robekan di siku Amel. “Siapa yang sudah berbuat seperti ini padamu?” tanya Kenan dengan tatapan tajam dan suara penuh penekanan.


“Nggak ada, Aku hanya terjatuh,” jawab Amel cepat saat melihat Kenan tampak sudah mulai marah. Dia tidak ingin Kenan terlibat dalam masalahnya dengan Siska.


Kenan mengangguk-angguk. “Baiklah kalau kamu tidak mau membertihauku.” Kenan Kemudian menoleh pada Fadil yang berdiri tidak jauh darinya. “Fadil, kamu cari tahu sekarang juga siapa yang sudah berani berbuat kasar pada Amel. Temukan orang itu dan bawa ke hadapanku secepatnya mungkin!” ucap Kenan wajah yang sudah emosi.


“Baik, Pak.” Fadil berjalan keluar meninggalkan ruangan Kenan.


"Tunggu." Langkah Fadil terhenti. "Beritahukan kepada semua karyawan kalau Amel adalah calon istriku supaya tidak ada yang berani menyentuh Amel lagi. Pecat langsung mereka, kalau ada yang berani membantah perintahku. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Aku juga tidak mau mendengar ada yang berbicara buruk tentangnya," ucap Kenan emosi. Fadil mengangguk dan pergi dari ruangan Kenan.


Amel memegang lengan Kenan. “Kenan, aku tidak mau memperpanjang masalah ini. Kamu nggak perlu ikut campur. Aku akan mengurusnya sendiri,” cegah Amel.


Kenan menatap Amel sebentar. “Sudah terlambat, seharusnya kamu memberitahuku dari tadi sebelum aku marah.”


“Tapiiii....”


“Duduklah. Jangan membantah,” ucap Kenan dengan tegas.


Sebenarnya sifat Kenan dan Rendi bertolak belakang. Kenan terkesan lebih ramah dan santai dibandingkan dengan Rendi. Kenan jarang sekali marah. Baru kali ini, Kenan semarah itu kepada orang lain.


Amel akhirnya menuruti perkataan Kenan, dia tidak mau membuat Kenan kesal karena tidak menuruti perkataannya.


Kenan berjalan menuju mejanya dan menelpon seseorang, setelah itu dia berjalan kembali ke sofa. Tidak lama kemudian, masuklah Siska dengan membawa kotak obat.


Siska melirik Amel yang duduk berhadapan dengan Kenan, di dalam hatinya dia khawatir kalau Amel akan mengadukannya pada Kenan, tetepai melihat reaksi Kenan yang biasa saja. Siska bisa bernapas lega, Siska berpikir kalau Amel belum mengatakan pada Kenan yang sebenarnya.


“Ini kotak obatnya, Pak,” ucap Siska sambil meletakkan kotak obat itu di atas meja.


“Keluarlah,” perintah Kenan. Siska mengangguk dan berjalan keluar dari ruangannya setelah dia melirik tajam pada Amel.


“Kemari, aku akan mengobatimu,” perintah Kenan. Amel hanya menurut dan pindah duduk di samping Kenan.

__ADS_1


Kenan mulai membuka kotak obat dan meraih tangan Amel yang terluka. “Mulai besok kamu pindah ke sini. Aku mengangkatmu jadi sekertarisku.”


Bersambung....


__ADS_2