Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Perasaan Rendi


__ADS_3

Rendi memandang wajah Amel dari dekat sambil memegang kedua bahunya lalu menoleh pada Raka dengan setengah sadar. “Apa kau tahu? Aku sangat mencintai wanita ini, tapi dia tidak pernah mencintaiku,” ucap Rendi dengan wajah kecewa sambil tertawa miris.


“Dia mencintai orang lain dan akan segera menikah. Dia memintaku untuk menjauh darinya, padahal dia tahu kalau aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup bahagia tanpanya, tapi dia justru sangat membenciku. Dia tidak pernah peduli denganku,” ucap Rendi dengan nada putus asa. Matanya beberapa kali terpejam dan tubuhnya terus bergerak tidak seimbang.


“Aku benar-benar mencintainya, tapi dia....“


Air mata Amel sudah keluar dari pelupuk matanya ketika mendengar perkataan Rendi.


“Kak, kamu sudah mabuk. Ayoo kita pulang,” ucap Amel sambil memegang tubuh Rendi.


Rendi menjauhkan tubuhnya dari Amel. “Tidak... Tidaak. Aku tidak ingin pulang. Aku masih ingin minum,” ucap Rendi sambil berjalan menuju meja yang sudah di pesannya.


Di meja itu, terlihat ada banyak botol minuman keras yang sudah kosong dan banyak puntung rokok yang berserakan di meja dan di lantai.


Amel segera menyusul Rendi saat melihatnya sudah meraih botol minuman lagi dan meneguknya. Amel meraih botol minumannya dengan cepat.


“Kak, apa kau mau mati, haaaah?? Apa kau tidak lihat sudah berapa banyak botol minum yang kau habiskan?” teriak Amel saat melihat banyaknya botol minuman yang sudah kosong.


Rendi menoleh sebentar pada Amel saat mendengar teriakan Amel, setelah itu Rendi mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Pergilah. Aku tidak mau diganggu,” ucap Rendi dingin. Dia meraih bungkus rokok, membukanya lalu menyalakan rokok tersebut.


Amel benar-benar dibuat terkejut dengan tingkah Rendi saat ini. Selama ini, Rendi selalu hidup dengan sehat, tidak pernah menyentuh rokok dan minuman keras, tapi yang dilihat Amel saat ini benar-benar membuat hatinya sakit. Rendi merusak hidupnya sendiri.


Rendi tampak tidak memperdulikan tatapan sedih Amel. Rendi terus saja menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Raka dan Kenan tidak mau ikut campur dengan masalah mereka sehingga mereka hanya menatap Amel dan Rendi dengan diam.


"Kau tidak perlu lagi merasa kasihan padaku. pergilah."


Rendi meraih botol minum dari tangan Amel setelah membuang puntung rokoknya dengan keadaan setengah sadar. Rendi langsung meneguk habis minuman beralkhol tinggi yang ada di tangannya.


Amel menoleh pada Raka dan Kenan. "Bang, Kenan, tolong bawa Rendi sekarang. Dia tidak akan berhenti kalau kita nggak bawa dia dengan paksa,” pinta Amel setelah melihat kesadaran Rendi mulai menipis.


Kenan dan Raka langsung menghampiri Rendi kemudian memapahnya. Rendi tampak tidak menolak lagi, karena kesadarannya sudah mulai hilang. Dia hanya terus meracau, mengucapkan kata-kata tidak jelas. Amel mengikuti mereka dari belakang.


Raka dan Kenan terus berjalan keluar menuju pintu keluar club itu. Rendi sudah tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum. Raka berhenti sejenak di depan pintu keluar club itu, kemudian menoleh pada Kenan.


“Bawa ke mobilku saja,” saran Raka. Kenan mengangguk.

__ADS_1


Mereka kembali memapah Rendi ke mobil Raka. Amel terlebih dahulu masuk ke kursi penumpang belakang. Raka dan Kenan terlihat kesulitan untuk memasukkan Rendi ke dalam mobil, Amel yang sudah duduk di dalam mobil kemudian meraih tubuh Rendi. Setelah berhasil mendudukan Rendi di samping Amel. Raka menutup pintu mobilnya.


“Bawa dia ke hotelnya, kau bisa mengikuti mobilku,” ucap Kenan pada Raka.


Kenan berlari kecil menuju mobilnya setelah melihat anggukan Raka. Raka terus mengikuti mobil Kenan dari belakang. Amel terlihat menyandarkan kepala Rendi di bahunya. Dia terus memandang wajah Rendi yang terlihat menyedihkan. Hatinya bagai teriris benda tajam saat melihat keadaan Rendi yang seperti itu.


Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke hotel Rendi. Mereka sudah berjalan masuk ke dalam loby hotel. “Mel, tolong carikan kartu kamar Rendi,” pinta Kenan setelah mereka tiba di depan lift. Kartu ini digunakan untuk naik ke lantai atas agar bisa memencet tombol lift menuju lantai 30.


Amel mengangguk dan mulai mencari di saku celana Rendi. Setelah menemukan kartu aksesnya, Amel menekan pintu lift lalu masuk ke dalam lift diikuti oleh Raka dan Kenan. Amel melangkah keluar dari lift setelah sampai di lantai 30 diikuti oleh yang lainnya. Amel langsung berjalan cepat menuju kamar Rendi untuk membuka pintu kamarnya.


Amel membuka lebar pintu kamar Rendi dan menahannya. “Hati-hati,” ucap Amel saat mereka berjalan masuk ke dalam kamar Rendi. Amel mengikut dari belakang. Dia terkejut saat melihat kamar Rendi.


Dia melihat ada beberapa botol minuman yang sudah kosong dan puntung rokok yang berserakan di atas meja sofa yang ada di kamar Rendi. Raka dan Kenan berjalan menuju tempat tidur lalu meletakkan tubuh Rendi dengan hati-hati, setelah itu Kenan dan Raka berjalan mendekati Amel.


“Duduklah” ucap Kenan pada Amel dan Raka dengan napas yang tidak beraturan. Dia merasa lelah setelah memapah Rendi dari club tadi. Kenan duduk di sofa single sementara Raka dan Amel duduk di sofa panjang.


“Apa ini? Kenapa banyak botol minuman dan puntung rokok di sini?” tanya Amel pada Kenan ketika dia baru saja duduk di sofa.


Kenan melirik pada meja yang ditunjuk Amel. “Aku juga tidak tahu. Kemarin saat aku tidak bisa menghubunginya, aku langsung ke sini. Saat aku baru masuk, Rendi sudah dalam keadaan mabuk. Dia tidak menceritakan apa-apa padaku. Dia hanya berdiri di depan dinding kaca merokok sambil meminum minuman beralkohol,” papar Kenan.


“Setelah dari pesta tadi, aku mengantarnya pulang karena dia mengeluh pusing. Aku pikir mungkin karena dia masih mabuk akibat banyak minum kemarin, jadi aku memutuskan untuk membiarkannya beristirahat di kamarnya karena wajahnya terlihat pucat. Dia juga sempat menghubungi Jhon setelah keluar dari pesta itu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku langsung pulang setelah mengantarnya sampai kamar dan memastikan dia baik-baik saja," jelas Kenan


"Tiba-tiba pada pukul 12 malam, aku mendapat telpon dari temanku, pemilik dari club tersebut. Dia mengatakan, dia mendapat laporan dari pegawainya, kalau Rendi sedang ada di clubnya. Dia mengatakan kalau Rendi sedang mabuk berat, dia mulai bisa lepas kendali dan dia membuat keributan di clubnya. Setelah mendapatkan kabar tersebut, aku langsung menuju ke club temanku,” Kenan menjeda ucapannya.


“Saat aku sampai di sana Rendi sedang berkelahi dengan seseorang. Menurut pegawai di sana. Rendi terus saja berteriak memanggil namamu, kemudian dia menghentikan salah satu wanita yang sedang berjalan. Dia mengira wanita itu adalah kau. Waat Rendi sadar kalau itu bukan kau. Dia berbalik ingin meninggalkan wanita itu, tetapi terlambat, pacarnya sudah berjalan menuju Rendi dan menghajarnya," ungkap Kenan.


"Dia mengira kalau Rendi menggoda pacarnya, padahal Rendi tidak melakukan apa-apa, Rendi hanya menghentikan wanita itu saja. Wanita itu juga sudah menjelaskan pada pacarnya bahwa Rendi salah mengenali orang. Mungkin karena pacar wanita itu juga sudah mabuk sehingga dia hilang akal dan langung menghajar Rendi saat itu juga,” jelas Kenan sambil menghela napas pelan.


Amel menatap Rendi yang sudah berada di tempat tidur. “Aku rasa dia mabuk karena kecewa denganmu setelah mendengar ucapan Devan yang mengatakan kalau kau adalah tunangannya dan kalian akan segera menikah. Setelah dari pesta itu terlihat ekspresinya Rendi berubah menjadi dingin. Dia hanya mengatakan kalau dia sudah tidak punya kesempatan lagi. Aku yakin pasti terjadi sesuatu dengan kalian sebelum pesta itu,” ucap Kenan tenang sambil menatap Amel.


“Aku hanya memintanya untuk menjaga jarak. Aku tidak mau kalau Friska salah paham denganku. Bagaimanapun sekarang Friska adalah tunangan kak Rendi. Aku tidak mau terlalu dekat dengannya,” jelas Amel dengan pelan sambil menunduk.


Kenan menghela napas. “Aku tahu ini juga berat untukmu. Wku juga tidak bisa menyalahkanmu karena aku tahu kalau kau juga tidak ingin menjauh darinya. Keadaan yang memaksamu berbuat seperti itu, tapi setelah aku melihatnya seperti ini, aku yakin dia sangat terpukul dengan keputusanmu itu, apalagi setelah mendengar kau akan menikah dengan Devan. Kau bisa menghancurkan hidupnya Mel, jika kau benar-benar meninggalkan dia kali ini. Dia sangat mencintaimu,” ucap Kenan dengan wajah serius.


Amel meremas kedua tangannya saat mendengar perkataan Kenan, sementara Raka hanya duduk diam, mendengarkan percakapan Kenan dan Amel, sesekali dia melirik ke Rendi yang terlihat masih belum sadar dari mabuknya.

__ADS_1


“Aku hanya memikirkan bagaimana perasaan Friska nanti. Aku tidak mau melukai wanita lain hanya untuk keegoisanku,” ucap Amel pelan.


Kenan memajukan tubuhnya ke depan dan menatap lekat Amel. “Rendi tidak mencintai Friska, Mel. Kau pikir kenapa dia bisa sampai begini kalau bukan karena dia sangat mencintaimu? Dia bahkan sudah membantalkan pertunangannya dengan Friska. Dia juga memutuskan untuk tidak kembali ke Jerman hanya karenamu. Kali ini, kalau kau melepaskannya. Dia tidak akan pernah kembali lagi padamu. Aku berani jamin, kau akan menyesal, jika sampai kau menyia-nyiakan dia lagi kali ini. Kau tidak akan pernah menemukan laki-laki seperti dia lagi, Mel,” ucap Kenan dengan wajah yang serius.


“Ting... tong“ Bunyi bel kamar Rendi. Mereka semua menoleh ke arah pintu.


Kenan berdiri. “Biar aku yang buka, sepertinya itu Sofi. Tadi aku memberitahunya juga,” ucap Kenan lalu berjalan membuka pintu.


“Bagaimana keadaan Kakak?” tanya Sofi panik saat pintu sudah terbuka.


“Masuklah, kau bisa melihatnya sendiri.” ucap Kenan sambil berjalan masuk ke dalam kamar Rendi diikuti oleh Sofi di belakangnya.


“Kak Amel di sini juga?” tanya Sofi dengan wajah kaget setelah melihat Amel sudah ada di kamar kakaknya.


Amel tersenyum lalu mengangguk. “Kau di sini juga?” Sofi kembali terkejut saat melihat ada Raka yang sedang duduk membelakanginnya.


Raka melirik Sofi. “Gue lagi nggak mau ribut sama lo.”


“Dia yang uda nolongin Kakak kamu Sofi." Kenan kembali di sofa dengan malas.


Sofi langsung menoleh pada Kenan saat mendengar penuturannya. “Maksud Kak Kenan?”


“Aku yang menghubungi mereka untuk datang ke club. Kakak nggak bisa bawa pulang kakak kamu tanpa bantuan mereka,” jelas Kenan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


Sofi terdiam sesaat lalu melangkah ke tempat tidur Rendi dan dia menatap khawatir pada kakaknya. Setelah itu Sofi menoleh pada Kenan. “Kenapa kak Rendi pucat banget, Kak?”


Kenan menoleh pada Sofi. “Dia terlalu banyak minum,” jelas Kenan dengan wajah tenang.


Sofi membungkuk. “Kak, banguun. Kenapa Kakak jadi begini?” tanya Sofi dengan mata yang sudah berair. Dia mencoba mengguncang tubuh Rendi dengan pelan


“Meel ... Meel ... Ameel ....“ racau Rendi dengan kembali dengan mata tertutup. Seketika semuanya menoleh pada Rendi.


“Aku bukan kak Amel, Kak,” ucap Sofi sambil menjauhkan tangannya yang ditarik oleh Rendi. Sofi menoleh pada Amel memberikan isyarat agar mendekat pada Rendi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2