Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Memilih


__ADS_3

Amel menoleh saat mendengar perkataan Rendi. Dia melihat wajah Rendi sudah menggelap, rahangnya mengeras, matanya berkilat. Amel tahu kalau saat ini Rendi sedang marah karena kedatangan Devan tiba-tiba. Amel langsung berjalan mendekati Rendi dan duduk di tepi ranjang berhadapan dengannya.


“Aku bisa jelaskan, ini semua hanya salah paham.”


“Kakak..?? Semenjak kapan kamu sedekat itu dengannya? Kamu bahkan berani membawanya ke sini. Apa kamu sudah berubah pikiran dan mulai jatuh cinta padanya Mel?” Rendi menatap tajam wajah ke arah Amel. Terlihat ada kilatan kemarahan, kekecewaan dan ketakutan di sorot matanya.


Amel dengan cepat meraih tangan Rendi dan menggenggamnya. “Kakak dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kakak pikirkan. Aku akan menjelaskan semuanya, tapi Kakak harus tenang.”


“Aku bahkan belum keluar negeri, tapi kamu sudah berani pergi dengan laki-laki itu. Aku jadi ragu terhadapmu. Jangan-jangan kau ini hanya mempermainkan aku?”


Amel menarik napasnnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dia harus sabar menghadapi kecemburuan yang berlebih dari Rendi. Amel menatap Rendi lalu tersenyum manis.


“Aku itu sangat menyayangi Kakak. Bahkan aku sudah mengatakannya langsung kepada Kak Irga tadi tentang perasaanku pada Kakak.”


Kening Rendi mengerut. “Maksudmu?”


“Dia adalah kak Irga, nama lain dari kak Evans.”


Rendi terdiam saat mendengar perkataan Amel. “Jadi dia benar Evans?”


Amel mengangguk mantap. “Iyaa, aku sudah memastikannya tadi.”


Alis Rendi sedikit terangkat. “Jadi, sekarang kau senang bisa bertemu dengannya?”


“Tentu saja, Kak. Ternyata dia tidak berniat meninggalkan aku waktu itu,” jelas Amel dengan wajah ceria.


Amel lalu menceritakan semuanya pada Rendi, tanpa ada yang di tutupi. Amel tidak mau Rendi salahpaham jika dia menyembunyikan sesuatu darinya.


Rendi menutup mata sebentar lalu membukanya, tangannya mengepal setelah mendengar semua cerita Amel. “Apa benar kamu pernah berjanji untuk menikah dengannya?” tanya Rendi dengan wajah yang mengeras.


“Aku tidak ingat sama sekali, Kak,” jawab Amel dengan pelan saat melihat tatapan tajam dari Rendi.


“Dia tidak mungkin berbohong, Mel. Dia bahkan memintamu untuk langsung menanyakan pada keluargamu,” ucap Rendi dengan suara berat. Dia berusaha untuk menekan emosinya.


“Aku benar-benar tidak ingat, Kak,” ucap Amel sambil meremas ujung rok sekolahnya.


“Apa kamu begitu mudahnya membuat janji pada orang lain, setelah itu melupakan begitu saja? Lalu bagaimana denganku? apa kamu juga akan berkata seperti itu nanti saat aku menagih janjimu untuk menikah denganku?”


“Bukan seperti itu, Lak. Keadaannya berbeda. Dulu aku mengucapkan itu waktu aku masih kecil, aku belum mengerti dengan perkataanku. Berbeda dengan sekarang, aku secara sadar dan sangat mengerti dengan apa yang aku ucapkan saat aku berjanji untuk menikah dengan Kakak,” ucap Amel berusaha meyakinkan Rendi.

__ADS_1


“Lalu bagaimana caramu untuk menolaknya? Bahkan keluargamu dan keluarganya sudah menyetujuinya.”


“Kakak tenang aja. Aku akan menjelaskan pada mereka. Lagi pula, mereka tidak mungkin menganggap serius perkataanku saat itu.”


Rendi menghela napas berat. “Sepertinya kau belum mengerti juga alasan Devan menemuimu dan mengungkit soal perjanjian itu sekarang. Kamu ini bodoh atau apa?” tanya Rendi gemas. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Amel.


“Kenapa Kakak memencet hidung dengan keras? Sakit Kak!” Amel menatap Rendi dengan wajah cemberut sambil memegang hidungnya.


“Kalau Evans berencana untuk merebutmu dariku, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mempertahankanmu. Sekarang semua tergantung padamu Mel. Aku juga tidak bisa terus menahanmu, jika kau ingin pergi,” ucap Rendi menatap sendu Amel.


“Sudah aku bilang, nggak akan ada yang berubah dengan hubungan kita. Kak Evans juga pasti mengerti, Kak. Dia tidak akan memaksaku.”


“Dia mungkin tidak akan memaksamu, tetapi bagaimana jika dia perlahan membuatmu jatuh cinta padanya. Tumbuh bersama dan dekat dari kecil membuat kalian mempunyai perasaan yang kuat satu sama lain. Mungkin saja perlahan perasaanmu akan berubah nantinya,” ucap Rendi, ada nada ke khawatiran dalam suaranya. Rendi merasa cemas dengan kedatang Evans lagi dalam hidup Amel.


Dia khawatir jika Amel nantinya akan lebih memilih bersama dengan Evans dari pada dirinya. Ditambah lagi dengan kepergiannya ke luar negri memberikan peluang besar untuk Evans lebih dekat dengan Amel.


Dengan identitas Evans yang sekarang saja sudah membuatnya memiliki posisi yang kuat di dalam hati Amel dibandingkan dirinya. Dia baru saja berpcaran dengan Amel, sementara Evans sudah lama dekat dengan Amel, bahkan kelaurga mereka sudah akrab.


“Sudah aku bilang, perasaanku tidak akan berubah. Aku akan tetap mencintai Kakak. Kenapa Kakak selalu ragu dengan perasaanku,” ucap Amel kesal. Dia sudah sering memberikan pengertian kepada Rendi, tetapi selalu saja dia curiga dengannya.


“Apakah salah jika aku takut kehilanganmu?” tanya Rendi dengan wajah datar.


“Aku mengerti, aku tidak bisa membatasimu untuk bertemu dengannnya. Aku hanya minta kau tahu batasanmu. Aku tidak ingin dia salah mengartikan sikapmu padanya. Kau juga harus mengerti kalau aku hanya manusia biasa. Aku bisa saja cemburu melihatmu dekat dengannya. Maka dari itu, kau harus bisa menempatkan posisimu dengan benar saat bersama dengannya.”


Amel mengangguk. “Iyaa, Kakak nggak perlu khawatir. Aku sudah memiliki laki-laki tampan seperti Kakak. Aku nggak akan tergoda dengan yang lain. Aku ini termasuk gadis yang beruntung, dengan wajah seperti ini memilki pacar yang sangat tampan. Aku nggak mungkin berpaling dari Kakak,” goda Amel saat melihat Rendi tampak diam saja.


Rendi merasa kalau Amel mengatakan itu hanya untuk menyenangkannya saja. “Bukankah Devan dan Raka juga tampan?”


Amel tampak menatap ke atas sebentar, dia mengangguk-angguk sambil berkata, “Mereka memang tampan, tapi di antara kalian, kakak yang paling tampan.” Selesai mengatakan itu, Amel tersenyum lebar kepada Rendi.


“Kenapa kau jadi pintar menggombal? Siapa yang mengajarimu?” tanya Rendi penuh selidik.


“Tidak ada. Memangnya nggak boleh aku memuji pacarku sendiri? Apa Kakak nggak tahu kalau di sekolah aku menjadi selebritis dadakan karena menjadi pacar Kakak?”


“Maksud kamu?”


“Setelah kejadian kakak mengakui aku sebagai pacar kakak kepada Siska. Nggak lama setelah itu dengan cepat menyebar ke seluruh sekolah tentang hubungan kita. Banyak yang penasaran denganku. Bahkan ada yang terang-terangan membicarakan aku saat aku lewat. Banyak juga yang mencibirku karena bisa menjadi pacar kakak. Kemanapun aku pergi semua siswa pasti menatapku. Awalnya aku merasa tidak nyaman, tetapi sekarang aku mulai terbiasa,” jelas Amel panjang lebar.


Dia awalnya merasa heran karena tiba-tib saja semua orang terus menatapnya saat dia berjalan memasuki sekolah. Amel mengetahui penyebabnya dari ketiga temannya. Bahkan banyak dari mereka yang mendatangi kelasnya hanya untuk mengetahui sosok Amel, karena dia tidak sepoluler Siska ataupun Nita. Sehingga banyak yang tidak mengenal dirinya.

__ADS_1


Rendi mengelus pipi Amel. “Maafkan aku, karena membuatmu tidak nyaman karena menjadi pacarku,” ujar Rendi merasa bersalah. “Apa di antara mereka ada yang mempersulitmu?” sambung Rendi lagi.


“Raka selalu menjagaku di saat ada kakak kelas yang ingin menindasku. Beberapa dari mereka tidak terima kalau orang sepertiku menjadi pacarmu. Apa kakak tahu kakak kelas bernama Monic?”


“Iyaa, dia teman sekelasku, kenapa?”


“Dia bahkan mengurungku di dalam ruang kosong bersama teman-temannya. Untung saja ada Raka yang menolongku saat Raka mengetahui aku tindas. Dia bahkan menghancurkan kursi yang ada di situ untuk memperingatkan mereka untuk tidak menggangguku lagi."


“Benarkah? Apa mereka menyakitimu?” tanya Rendi khawatir.


“Nggak, sebelum Raka datang, dia hanya sempat mendorongku saja dan menyiramku dengan air. Dia juga memperingatkanku untuk menjauhimu.”


“Aku akan bicara dengannya nanti. Dia ternyata lebih gila dari Siska.”


“Nggam perlu, Kak. Aku takut dia akan lebih marah denganku nanti. Aku nggak mau cari masalah dengannya.”


“Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku harusnya memikirkan dampaknya terhadapmu. Aku malah membuatmu jadi sasaran kemarahan mereka. Padahal dari dulu aku tidak pernah merespon mereka sama sekali,” ucap Rendi pelan.


“Ini bukan salah Kakak. Wajar saja mereka kesal padaku. Mereka tidak terima karena Kakak mempunyai pacar yang tidak lebih cantik dari mereka. Mungkin mereka merasa terhina karena Kakak menolak mereka dan memilih berpacaran denganku.”


“Aku nggak peduli bagaimana pandangan mereka terhadapmu karena aku yang menjalaninya, bukan mereka. Kau nggak perlu menghiraukan mereka. Beritahu aku kalau ada yang berani macam-macam denganmu,” ujar Rendi sambil mengelus kepala Amel.


“Kalian sedang apa?” Terdengar suara berat yang mengangetkan mereka. Amel dan Rendi langsung menoleh ke sumber suara.


“Kau itu selalu saja menggangguku,” ucap Rendi saat melihat dokter Jhon memasuki ruangannya diikuti oleh perawat di belakangnya. Amel lalu berdiri di samping Rendi saat melihat dokter Jhon berjalan ke arahnya.


“Aku hanya ingin memberitahu, hasil pemeriksaanmu tadi pagi baru saja keluar,” ucap dokter Jhon saat sudah berada di dekat Rendi. Rendi menjalani berbagai macam pemeriksaan tadi pagi sebelum Amel datang.


“Apa kau sudah membaca hasilnya?” tanya Rendi saat melihat dokter Jhon sedang memegang berkas di tangan kanannya. Amel tampak penasaran dengan pembicaraan mereka.


Dokter Jhon mengangguk. “Aku akan bicara denganmu nan ....”


“Rendiiiiiii ... aku kangen sekali denganmu.” Ucapan dokter Jhon terpotong saat mendengar seseorang memanggil nama Rendi.


Mereka spontan menoleh bersama. Terlihat seorang wanita cantik dengan kacamata hitam sedang berjalan dengan anggun menuju tempat tidur Rendi diikuti oleh pria tampan di belakangnya. Amel mengenal pria itu sebagai Kenan.


“Lepaskan aku. Kenapa kau seenaknya saja memelukku? Menjauh dariku!” Rendi mengusir wanita cantik itu saat dia memeluk erat Rendi tanpa malu dilihat oleh orang yang berada di ruangan itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2