Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Emosi


__ADS_3

"Gue nggak mau tahu, mulai sekarang jauhin Amel. Jangan pernah lo deketin dia lagi," perintah Raka.


Rendi menyunggingkan sebelah bibirnya setelah mendengar perkataan Raka. "Gue pacarnya Amel, jadi harusnya lo yang jauhin dia."


Raka tertawa keras. "Jangan mimpi lo Ren. Amel nggak mungkin mau sama lo," ejek Raka.


"Kalau lo nggak percaya, silahkan tanya sama Amel."


Meskipun Raka tidak percaya dengan ucapan Rendi, tetapi ada kekhawatiran dalam hatinya. "Gue nggak mau tau, lo harus jauhin Amel," ujar Raka tegas.


"Kalau gue nggak ma, lo mau apa?" tantang Rendi.


Raka menyeringai. "Gue bakal buat perhitungan sama lo dan buat Amel ngejauhin lo."


Mendengar Raka yang sangat peduli pada Amel, membuat Rendi mulai terpancing amarahnya. "Lo itu bukan siapa-siapanya Amel, nggak berhak ikut campur," ujar Rendi dingin.


"Gue abangnya dia."


"Yang jadi pacarnya Amel bukan lo, tapi gue" ujar Rendi tidak mau kalah.


"Lo itu baru kenal sama Amel, sementara gue uda kenal lama sama Amel. Dengan kata lain, gue orang yang paling deket sama dia."


"Tapi orang yang disayang Amel itu gue."


Meskipun Rendi berkata dengan percaya diri, tetapi tidak bisa dia pungkiri kalau posisi Raka lebih kuat dari pada dia. Mereka sudah lama saling mengenal dan lebih dekat dari pada dia.


"Amel pasti lebih nurut sama gue. Karena orang yang selama ini di samping dia adalah gue." Tidak ada satu pun yang mau mengalah.


Rendi mendesis. "Gue heran, kenapa lo semarah ini? Sebenarnya, apa yang membuat lo peduli banget sama Amel?"


"Karena Amel uda gue anggep kayak adek gue sendiri. Gue nggak mau ada nyakitin dia. Gue nggak bakal tinggal diem kalau sampe ada yang nyakitin dia," jelas Raka.


Rendi mencibir. "Lo mungkin bisa nipu Amel, tapi lo nggak bisa nipu gue. Gue tau apa yang ada di kepala lo, Raka."


Raka seketika mengerutkan keningnya. "Apa maksud lo?" tanya Raka penasaran.


Rendi tersenyum sini sebelum menjawab pertanyaan Raka. "Lo kira gue nggak tau kalau lo suka sama Amel?"


Meskipun terkejut, Raka masih berusaha untuk tetap tenang. "Terus kenapa kalau gue suka sama Amel? Apa masalahnya sama lo?"


"Tentu aja ada. Amel pacar gue dan gue nggak suka dia terlaku deket sama lo. Gue cuma penasaran bagaimana reaksinya dia kalau sampe tahu kalau selama ini lo suka sama dia."


"Awas aja kalau lo berani bilang sama Amel.


Dia terlihat tidak takut sedikitpun terhadap ancaman Raka. "Gue yakin Amel bakal jauhin lo kalau dia sampe tahu."


"Bangsat, lo tunggu gue di sana, gue bakal buat perhitungan sama lo." Raka mematikan telponnya.

__ADS_1


Setelah telpon mati, Rendi terdiam. Dia masih berdiri di balkon, memikirkan sesuatu, seraya melihat pemandangan kota. Tatapannya berubah menjadi dingin ada kilatan kemaraha di sana dan seketika tangannya mengepal.


Setelah cukup lama berdiri di balkon, dia kemudian masuk ke kamar, meletakkan hp Amel di nakas, setelah itu berjalan dan duduk di dekat kaca dan memandang keluar. Rendi tampak diam saja, tidak melakukan apa-apa.


Tidak lama setelah Rendi duduk, Amel membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju pada Rendi yang sedang duduk di dekat dinding kaca di kamarnya. Dia heran kenapa Rendi tampak diam saja.


"Kakak uda lama di sini?" Amel bangun dan duduk di tepi tempat tidur.


Rendi menoleh setelah mendengar pertanyaan Amel. "Belom lama."


Amel menatap Rendi heran. "Kenapa nggak bangunin Amel?"


"Kamu tidurnya pules banget, nggak tega banguninnya," jawab Rendi tanpa menatap Amel.


"Iyaa, Amel kurang tidur. Kakak udah mandi?"


"Kamu duluan aja yang mandi. Nanti aku minta Sofi bawain baju ganti buat kamu." Rendi terdiam lagi menatap pemandangan di luar.


Amel mengerutkan keningnnya. Ada sesuatu yang aneh pada Rendi pagi ini, seperti ada masalah. Rendi terlihat acuh tak acuh padanya.


"Kakak mau ke kamar Sofi?" Amel bertanya lagi karena melihat Rendi diam saja.


"Nggak, nanti aku telpon Sofi. Kamu mandi duluan aja, setelah itu baru baru aku yang mandi."


Amel termenung sesaat lalu melangkah masuk kamar mandi. Sementara Raka menelpon adiknya untuk membawa baju ganti untuk Amel. Tidak lama Sofi datang membawa pakaian untuk Amel. Dia duduk di sofa seraya menonton TV. Sementara Rendi hanya diam sambil melihat ke arah luar.


Amel berjalan ke arah Sofi yang masih menggunakan baju yang sebelumnya. "Makasih Sofi, kakak ganti dulu." Amel kembali berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Sofi tersenyum. "Iyaa, Kak," jawab Sofi lalu melanjutkan menonton TV.


Amel keluar dari kamar mandi setelah berganti baju dan berjalan menuju sofa untuk duduk bersama Sofi. Dia memakai dress selutut dengan warna putih tanpa kerah model V-neck, memperlihatkan tulang selangkanya dan belt di pinggangnya, kemudian rambutnya dicepol ke atas. Penampilan Amel terlihat cantik dan imut hari ini.


Sofi yang melihat langsung berkomentar, "Waah kak Amel cantik banget pake baju itu, apalagi rambutnya model gitu."


Rendi langsung menoleh ke Amel. Benar saja apa yang dikatakan adiknya. Dia terlihat lebih cantik dan modis. Ada daya tarik tersendiri yang dimiliki Amel sehingga membuat orang tidak bosan memandangnya.


Amel yang mendengar penuturan Sofi seketika tersenyum malu. Dia menunduk dan duduk di dekat Sofi. "Itu karena bajunya bagus, Sofi."


"Nggak Kak. Aura Kakak tuh beda, jadi apapun yang Kakak pakai, terlihat lebih bagus di badan Kakak" puji Sofi lagi.


"Nggak laah." Amel tersenyum malu. Dibandingkan dirinya, sebenarnya Sofi lebih cantik dan terlihat sangat modis.


Rendi sedari tadi hanya diam sambil terus menatap ke arah Amel. Dia merasa kalau pakaian yang dipakai hari ini sangat cocok dengannya.


Amel yang menyadari ditatap Rendi, kemudian bertanya, "Kakak nggak mandi? sambil menatap balik Rendi.


"Ini mau mandi." Rendi bangun dari duduknya lalu berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kak Rendi kenapa, Kak? Dari tadi diem aja," tanya Sofi penasaran.


Amel menggeleng sambil mengedikkan bahunya. "Nggak tau. Kakak juga ngerasa aneh. Kayak lagi ada yang dipikirin."


"Apa Kakak habis ribut sama kak Rendi?" Sofi menatap penuh tanya pada Amel.


"Nggak, semalem masih baik-baik aja. Tadi pagi waktu kak Amel bangun, kak Rendi uda di sini. Dia diem aja, nggak bagunin Kakak juga."


"Mungkin capek kali yaa atau kurang tidur?"


"Iyaa mungkin, kamu nggak nyoba nanya?" Amel menatap Sofi.


"Nggak berani aku Kak. Sofi takut kalau kak Rendi lagi diem gitu." Sofi bergidik ngeri membayangkan jika harus bertaya dengan kakaknya disaat seperti ini.


"Kenapa?" Amel mengerutkan kedua alisnya.


"Takut dimarahin. Kakak aja yang nanya. Kak Rendi nggak akan marah kalau sama Kakak." Sofi memberi saran pada Amel.


"Kakak juga takut, nggak berani nanya." Amel dan Sofi tertawa kecil sambil menutup mulut mereka, takut kalau Rendi akan mendengarnya.


"Diemin aja kalau gitu Kak. Nanti juga ngomong sendiri." Amel mengangguk.


Rendi keluar dari kamar mandi dan berjalan ke sofa kemudian duduk di sebelah Amel.


"Kita sarapan di kamar aja ya? Kakak males ke bawah." Rendi membuka suara sambil menatap TV dengan tatapan kosong.


Amel dan Sofi mengangguk. Sofi memesan sarapan lewat telpon agar sarapan diantar ke kamar.


"Kita mau pulang jam berapa?" tanya Rendi kepada Sofi.


Sofi mengangkat kedua bahunya. "Nggak tau, nanti Sofi tanya ke mama."


Rendi kembali acuh tak acuh. "Tadi Raka telpon, aku yang angkat." Rendi memberitahu Amel tanpa menoleh.


Amel kaget dan langsung menoleh pada Rendi. "Kenapa Kakak nggak bangunin Amel?"


"Takut ganggu tidur kamu. Raka nelpon terus jadi aku angkat."


Amel merasa panik, takut Rendi akan salam padanya. "Terus Raka ngomong apa?" Amel menunggu jawaban Rendi dengan wajah cemas.


"Dia nanyain kamu dimana terus aku bilang kamu lagi di sini."


Amel seketika merasa lemas. "Kenapa Kakak bilang sama Raka. Pasti dia mikir macem-macem."


Rendi terdiam, dia sedang tidak mempunyai mood bagus hari ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2