Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Membersihkan tubuhnya.


__ADS_3

Amel kemudian mengalihkan lagi pandangannya pada pintu kamar Rendi. "Kalau Kakak nggak mau buka pintunya sekarang, Amel akan pulang dan nggak akan pernah nemuin Kakak lagi." Amel berteriak dengan suara yang keras supaya Rendi mendengarnya.


Tidak lama kemudian pintu terbuka, mereka terkejut dan saling pandang. Mereka tersenyum senang karena akhirnya Rendi mau membuka pintunya.


Rendi kembali masuk dan berjalan menuju kursi di dekat dinding kaca dan duduk diam tanpa sepatah katapun sambil memandang keluar.


Amel masuk duluan, diikuti oleh Lilian dan Sofi.


Saat berada di dalam kamar Rendi, alangkah terkejutnya mereka saat melihat keadaan kamar Rendi yang berantakan. Seperti kamar pecah, semua barang berserakan di mana-mana.


Apa yang terjadi? Apakah habis terjadi perang dunia ketiga di sini??


Mereka tidak tidak mengeluarkan suara, tetapi berjalan menuju tempat duduk Rendi. Ibu Rendi sangat terkejut saat melihat keadaan Rendi. Banyak luka di wajahnya, ada darah di bibirnya, sebagian sudah mulai mengering. Baju berantakan, tangannya terluka dan wajahnya juga memar. Mamanya tidak menyangka keadaan anaknya sampai babak belur seperti itu.


"Astagaaa, Rendi kenapa kamu bisa sampai begini?" Ibu Rendi mengangkat dagu anaknya dan menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Rendi nggak apa-apa, Ma." Rendi mengalihkan pandangannya ke samping menghindari tatapan syok dari ibunya.


Lilian menarik tangannya dari dagu Rendi lalu beralih menatap anak perempuannya. "Sofi, cepat kamu telpon dokter Jhon untuk datang ke sini sekarang!"


"Iyaa, Ma." Sofi mengangguk tanda mengerti.


Rendi menoleh pada ibunya. "Rendi nggak mau diobatin sama dokter Ma, nanti juga sembuh sendiri."


Mendengar itu, Lilian mulai marah dan menatap tajam anaknya. "Nanti kalau infeksi bagaimana?"


Amel mendekat ke arah Rendi lalu duduk di depannya. "Kakak harus diobatin dulu, Kak. Jangan keras kepala." Amel menatap Rendi dengan cemas.


"Aku uda bilang, aku nggak akan mau diobatin kalau kamu tetap milih pergi." Rendi menghindari tatapan Amel dengan wajah acuh tak acuh.


"Amel nggak ada niat buat pergi, Kak. Nggak mungkin Amel ninggalin Kakak dengan keadaan seperti ini."


Rendi baru mau menoleh pada Amel setelah mendengar perkataannya. Dipandanginya wajah Amel dengan sendu dan terlihat sedang mencemaskannya.


"Yaa sudaah, mama tinggal dulu. Selesaikanlah masalah kalian berdua." Mama Rendi berjalan meninggalkan mereka diikuti oleh Sofi. Ibu Rendi tidak mau ikut campur masalah anaknya karena merasa Rendi sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


Setelah pintu tertutup, Rendi hanya diam sambim memandangi wajah Amel. Dia tidak bicara apapun, tetapi dalam hatinya dia merasa senang kalau Amel ternyata memilih untuk bersama dia dari pada pergi bersama Raka.

__ADS_1


"Diobatin dulu ya Kak lukanya." Amel mengangkat tangannya lalu menyentuh bibir Rendi yang berdarah.


Rendi tak menjawab, dia malah menarik tubuh Amel dalam pelukannya dan memeluk Amel sangat erat.


Amel yang terkejut karena Rendi tiba-tiba memeluknya, tetapi detik kemudian dia membalas pelukan Rendi untuk menenangkan hatinya. Dia juga merada sedih melihat keadaan Rendi yang terluka.


Rendi merasa bahagia saat Amel membalas pelukannya. Ini pertama kalinya Amel membalas pelukannya. "Aku kira kamu nggak akan balik lagi ke sini." Rendi menyandarkan dagu di pundak Amel dan masih memeluk erat Amel seakan takut ditinggalkan lagi.


"Aku khawatir sama Kakak. Aku nggak akan pergi begitu aja, Kak."


Rendi melepaskan pelukannya, menatap Amel sendu. "Katanya, kamu mau pergi temuin Raka?"


Amel tersenyum sambil menatap Rendi. "Amel cuma minta Raka untuk pulang, bukan mau pergi sama Raka."


"Terus bagaimana kamu bisa naik ke sini? Kamukan nggak punya kartu akses?" tanya Rendi heran.


"Aku tadi minta bagian reseptionis buat hubungin Sofi dan bilang kalau aku ada di bawah." Amel memegang tangan Rendi dan berkata, "Kakak istirahat dulu di tempat tidur, tunggu sampe dokter datang." Amel menarik tangan Rendi untuk berdiri dan berjalan ke tempat tidur.


Rendi hanya mengikuti kemana Amel membawanya. "Aku nggak apa-apa, kamu ada di sini saja, itu sudah cukup buat aku." Rendi duduk di tepi tempat tidur dan menatap Amel yang sedang berdiri di depannya.


Rendi hanya menatap Amel sambil tersenyum senang melihat perhatian Amel.


"Kakak bersihin badan dulu, terus ganti pakaian ya," ujar Amel pada Rendi.


Rendi meringis menahan sakit saat mencoba menggerakkan tubuhnya. "Nanti aja. Badan kakak sakit semua. Susah untuk digerakin."


"Kakak tunggu di sini, jangan kemana-mana." Amel berlari meninggalkan Rendi ke kamar mandi diiringi tatapan heran dari Rendi saat melihat Amel tingkah Amel.


Beberapa saat kemudian, Amel kembali berjalan mendekati Rend dengan membawa wadah yang berisikan air hangat dan handuk kecil putih lalu meletakkan di atas nakas, di samping tempat tidur.


"Buka baju Kakak," pinta Amel sambil berdiri di depan Rendi.


"Untuk apa?" Rendi menatap heran pada Amel.


"Aku bantu bersihkan badan Kakak," jelas Amel saat melihat Rendi yang terlihat kebingungan.


Dengan kamu perhatian seperti ini, rasa cintaku semakin besar, Mel. Kalau boleh egois, aku ingin kamu selalu ada di sisi aku.

__ADS_1


"Tolong kamu aja yang buka, tangan aku masih sakit," pinta Rendi memohon kepada Amel.


Amel mengangguk lalu membungkuk di hadapan Rendi. Amel merasa canggung setelah tangannya membuka baju Rendi, wajahnya memerah. Dia berusaha menahan malu saat melepaskan baju Rendi dan tubuh putih dan otot perut Rendi pun terekspos dengan sempurna.


Astagaa, roti sobeknya sangat menggoda. Tahan Mel, ini ujian, jangan sampe kamu terlihat seperti cewek mesum.


Amel berusaha untuk fokus dengan pemandangan di depannya. Melihat tubuh atas Rendi nembuat pikirannya berlarian entah ke mana. Setelah berhasil menguasai diri, Amel membasahi handuk kecilnya dengan air hangat dan mulai membersihkan tubuh Rendi. Terlihat ada beberapa luka lebam yang mulai memerah dan mulai berubah warna kebiruan di tubuhnya.


Rendi menatap terus-meneru pada Amel saat Amel membesihkan tubuhnya. Karena takut Rendi merasa sakitx Amel sangat berhati-hati ketika membersihkan lukanya. Bulir keringat mulai terlihat membasahi dahi dan wajah Amel.


"Kamu keringetan Mel, apa AC-nya kurang dingin?" tanya Rendi sambil menyeka keringat Amel dengan tangannya.


Kamu pikir, siapa yang nggak bakal keringet dingin kalau ngelihat roti sobek seperti ini, Kak? Apalagi aku harus menyentuhnya. Masih bagus aku nggak pingsan.


Amel menghela napas lalu menatap Rendi sambil tersenyum. "Nggak kak, mungkin karena Amel tadi habis berlari waktu ke sini, jadi sedikit berkeringat," bohong Amel.


Rendi hanya diam dan kembali memperhatikan Amel. Beberapa kali Rendi meringis kesakitan saat Amel menyentuh luka di tubuhnya.


"Sakit yaa, Kak?" Amel berhenti sejenak, mengangkat kepalanya dan menatap Rendi denvmgan tatapan bersalah. Dia takut kalau dia tidak sengaja menyentuh luka Rendi.


"Nggak sakit," jawab Rendi berusaha tersenyum. Sebenarnya, dia merasa perih saat terkena handuk basah itu.


"Amel akan lebih pelan lagi." Amel melanjutkan membersihkan luka Rendi.


Setelah selesai di bagian tubuhnya, Amel beralih ke tangan, dilihatnya punggung tangannya terluka dan berdarah. Dengan hati-hati Amel membersihkannya lalu berlanjut ke tangan yang satunya.


Tiba saat membersihkan wajah Rendi. Amel beralih menatap wajah Rendi, terlihat beberapa luka di wajah, hidung, pipi, dahi dan bibirnya.


Terluka seperti ini saja, masih tetap tampan. Bahkan lebih tampan dari sebelumnya.


Setelah terdiam selama dua detik, Amel mulau membersihkan luka di dahi Rendi. Amel mendekat ke wajah Rendi sehingga membuat jarak antara wajahnya dengan wajah Rendi sangat dekat. Amel tidak menyadari karena terlalu fokus.


Sementara Rendi hanya menatap lekat wajah Amel, jantungnya berdetak kencang, seolah akan melompat keluar ketika merasakan hembusan napas Amel.


Tatapan Rendi beralih menatap bibir merah Amel yang sangat menggoda, sedikit saja dia bergerak maju, maka bibir mereka akan langsung bersentuhan. Memikirkannya saja membuat Rendi frustasi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2