
Sebelum Rendi pulang, Amel mengajaknya untuk berbicara berdua. Sementara Sofi, Raka, dan Tamara masih berada di ruang keluarga. Amel menarik tangan Rendi menuju salah satu ruangan yang berada di dekat meja makan. Ruangan itu adalah ruangan santai, terdapat sofa panjang dan televisi besar di sana.
Ruangan itu mempunyai pemandangan indah, karena di depannya sofa terdapat dinding kaca yang besar. Pemandangan kota Jakarta terlihat dari ruangan itu, jika tirainya dibuka. Rendi menatap heran pada Amel. “Ada apa?” tanya Rendi pada Amel saat mereka sudah duduk di sofa panjang. Rendi merasa sikap Amel aneh.
Amel tampak terdiam dia berdeham dulu sebelum membuka mulutnya untu berbicara. “Kak, bisakah kau pergi dengan Friska besok?” ucap Amel dengan pelan. Dia takut kalau Rendi akan marah.
Rendi menatap datar pada Amel. “Apa dia memintamu untuk membujukku agar aku mau pergi dengannya?”
“Aku tidak tega kak. Aku sudah merebutmu darinya. Aku akan terlihat seperti wanita jahat jika aku mengabaikan permintaan terakhirnya.”
Melihat penampilan Friska tadi membuat Amel iba. Wanita yang dulunya mempunyai kepercayaan diri tinggi, kini berubah menjadi wanita yang tidak berdaya. Amel juga merasa kalau Friska sedikit berubah. Dia tidak berbicara dengan kasar lagi dan dia tidak lagi emosi seperti waktu itu, wajah yang semula angkuh kini berubah menjadi lembut.
Rendi menatap Amel. “Aku sudah menolaknya Mel. Kalau dia memintamu untuk melepaskanku, apa kau akan menurutinya juga?”
Amel memegang tangan Rendi. Sepertinya Rendi mulai terlihat marah. “Kak, bukan begitu. Aku sudah mengatakan padanya, kalau aku tidak akan melepaskanmu, apalagi membatalkan pernikahan kita. Dia hanya ingin melepasmu dengan cara yang baik. Dia tidak mau hubungan kalian berakhir seperti musuh.”
Rendi menatap lekat mata Amel. “Dengar Mel, ini juga sulit untukku. Aku bukannya tidak ingin menjalin hubungan baik dengannya. Aku takut hubungan baik kami akan berdampak pada hubungan kita kedepannya. Bukankah kau tidak menyukai kalau aku peduli padanya? Kau juga memintaku untuk tidak menemuinya waktu itu? Aku tidak mau kerjadian waktu itu terulang lagi Mel.” Rendi berdiri.
Dia tidak ingin membicarakan tentang Friska lagi. Dia takut mereka akan bertengkar nantinya. “Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan lebih baik aku pulang! Ini sudah larut malam!” ucap Rendi dengan wajah datar.
Amel langsung menahan Rendi saat dia akan melangkah. “Kak, tunggu dulu! Aku belum selesai bicara,” ucap Amel panik. Dia tidak menyangka kalau reaksi Rendi akan sedingin ini. Amel memeluk Rendi dari belakang. “Maafkan aku kak! waktu itu memang salahku, tidak seharusnya aku cemburu buta dengan Friska sehingga melarangmu untuk bertemu dengannya. Aku mohon untuk terkahir kalinya temuilah dia kak! Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kita cintai. Pasti sangat berat untuknya, karena aku pernah merasakannya juga saat kakak pergi dulu.”
Rendi hanya diam, dia tidak membalas kata-kata Amel. Dia juga sebenarnya tidak tega mengacuhkan Friska, tapi di satu sisi, dia juga tidak ingin menyakiti Amel dengan menjalin hubungan baik dengan Friska.
Amel melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan badan Rendi yang tampak masih diam. “Kak, aku mohon untuk kali ini saja, pergilah dengannya. Setelah itu terserah padamu jika tidak ingin menemuinya lagi.”
Amel mulai cemas, karena Rendi tampak masih diam. Dia sudah berjanji pada Friska untuk membujuk Rendi supaya mau pergi dengan Friska. Amel tidak mau mematahkan harapan Friska. Amel maju dua langkah mendekati Rendi, lalu mengecup singkat bibir Rendi. “Aku mohon kak!”
Rendi tersenyum miring. “Hah.. Kau bahkan rela menciumku lebih dulu, hanya untuk membujukku agar pergi dengannya!”
Amel menunduk malu. “Aku sudah berjanji padanya kak, bagaimanapun aku tidak boleh mengingkari janjiku sendiri,” ucap Amel pelan. Wajahnya memerah karena malu dengan tindakannya tadi.
Rendi mengangkat dagu Amel supaya bisa menatap wajahnya. “Kalau kau ingin membujukku, lakukan dengan benar!” ucap Rendi yang langsung ******* bibir tipis Amel. Rendi melingkarkan tangannya pada tubuh pada Amel. Bibir mereka saling berpagutan. Rendi melepaskan ciumannya, lalu menatap lekat mata Amel. “Untuk saat ini cukup sampai di sini! Sisanya akan aku ambil saat malam pertama kita!” ucap Rendi dengan senyum menggoda.
Amel langsung mengalihkan pandangannya ke samping. Jangan ditanya bagaimana wajah Amel ketika mendengar perkataan Rendi. Amel hanya bisa menyembunyikan wajahnya saat ini. “Lebih baik kakak pulang sekarang. Ini sudah malam!” ucap Amel dengan pelan sambil melepaskan tangan Rendi yanga ada di pinggangnya.
Rendi tersenyum saat melihat Amel tampak masih salah tingkah. Dia tahu kalau Amel saat ini masih merasa malu karena mendengar perkataannya tadi. Rendi mengangkat wajah Amel yang tampak menunduk. Rendi mengecup kening Amel. “Baiklah. Aku pulang dulu!” Rendi dan Amel berjalan menuju ruang keluarga. Sebelum pulang Rendi berpamitan dengan Raka, Tamara, dan Sofi. Amel mengantar Rendi sampai depan pintu.
Amel menghampiri mereka yang berada di ruang tamu. “Ma, Ayoo Amel anter ke kamar. Lebih baik mama istrirahat. Ini sudah malam,” ucap Amel setelah di berada di ruang tamu. Tamara mengangguk. ”Sof, Mama tidur duluan ya! Kamu jangan tidur malam-malam nanti sakit,” ucap Tamara dengan lembut sambi berdiri. “Iyaa Ma,” balas Sofi sambil tersenyum.
__ADS_1
Raka menatap kesal mamanya. “Anak mama itu aku, kenapa mama lebih perhatian dengannya?” sela Raka saat melihat mamanya tampak acuh padanya.
Tamara menoleh pada anaknya. “Kamu ini, sama calon istri aja cemburu!” ledek Tamara yang dibarengi kekehan dari Amel. Raka menatap tajam pada mamanya. “Sepertinya mama sudah mengantuk, lebih baik cepat tidur!” ucap Raka dengan wajah kesalnya. Amel menoleh sejenak pada Raka. "Bang, kamar abang, sebelahan sama mama ya! Kamar paling pojok sebelah kiri," jelas Amel. Raka mengangguk.
Amel dan Tamara berjalan meninggalkan mereka dengan menahan senyum. Mereka tampak senang melihat wajah kesal Raka.
“Kenapa kau tersenyum? Apa kau sedang menertawakan aku?” tanya Raka dengan wajah datar.
Seketika senyum Sofi memudar. “Aku tidak menertawakanmu!”
Raka menatap Sofi. “Apa bajingan itu masih menganggumu?” ucap Raka datar.
Alis Sofi bertautan. “Siapa? Willy?” tanya Sofi dengan wajah penasaran.
Raka mengalihkan pandangannya sejenak. “Siapa lagi kalau bukan dia!”
“Namanya Willy, bukan bajingan!” ucap Sofi kesal. Dia tidak terima kalau Raka menyebut Willy seperti itu.
“Hanya ada dua sebutan yang pantas disematkan untuk dia, yaitu laki-laki brengsek dan bajingan!” ucap Raka datar
“Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, jadi kau tidak berhak menyebutnya seperti itu!” ucap Sofi marah.
Sofi terdiam. Semenjak pertemuannya dengan Willy waktu itu, Sofi tidak berani untuk pergi kemana-mana. Dia takut kalau dia akan bertemu dengan Willy. Sofi juga tidak pernah mengangkat telponnya. Willy masih belum menyerah padanya. Dia bahkan menginap di hotel miliknya saat ini. Awalnya Willy akan memesan kamar Presiden Suite, tipe kamar yang sama dengan kamar Sofi, tetapi Rendi pernah berpesan pada Receptionist untuk tidak memberikan kamar Presiden Suite ke pada tamu lain.
Dia tidak ingin terganggu, apalagi Amel akan sering datang ke hotelnya. Dia tidak mau Amel merasa risih kalau ada tamu lain yang menginap satu lantai dengannya. Willy terpaksa mengambil kamar tipe lain dan lantai yang berbeda dengan kamar Sofi.
Melihat Sofi masih diam, Raka berkata lagi, “Lebih baik kau jauhi dia! Si brengksek itu tidak pantas untukmu!”
Sofi membuang mukanya ke samping. “Itu bukan urusanmu! Aku bisa mengatasinya sendiri,” ucap Sofi acuh.
Raka menatap tajam Sofi. “Apa kau mau aku memberitahu kakamu tentang perbuatan bajingan itu? Aku yakin kakakmu tidak akan tinggal diam jika diam mengetahuinya,” ancam Raka. Dia merasa marah saat Sofi terus membela Willy.
Sofi langsung memandang wajah Raka. “Jangan!” seru Sofi cepat. “Aku sudah berusaha untuk menghindarinya, tetapi dia tetap tidak mau menyerah sebelum aku memaafkan dan kembali lagi padanya. Saat ini dia sudah menginap di hotelku! Sulit untukku untuk menghindarinya. Aku tidak mungkin bersembunyi terus darinya,” sambung Sofi.
Mata Raka berkilat. “Jadilah pacarku! Cuma itu cara agar dia tidak menganggumu lagi,” ucap Raka spontan.
“Tidak perlu!” ucap Sofi singkat.
“Kau sudah menolakku 3 kali, apa aku terlihat buruk sekali di matamu!” ucap Raka dengan wajah datar.
__ADS_1
“Bukan begitu. Aku tidak ingin mengorbankan orang lain hanya untuk kepentinganku! Lagi pula kau tidak mencintaiku. Kau tidak perlu melakukan semua ini untukku!”
“Aku tidak keberatan untuk membantumu! Lagi pula kakakmu sudah setuju kalau aku mengejarmu!” ucap Raka enteng.
Sofi langsung menatap wajah Raka dengan cepat. “Apa??” pekik Sofi dengan wajah terkejut.
“Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Kau membutku terkejut!” ucap Sofi kesal.
“Kau mau jadi pacarku atau tidak? Atau kau mau langsung jadi istriku?” tanya Raka dengan wajah tanpa beban. “Kalau kau mau aku bisa langsung melamarmu,” lanjut Raka lagi.
“Sudah berapa banyak wanita yang kau tawarkan seperti ini?” ejek Sofi.
Raka menatap Sofi. “Kau pikir aku laki-laki berengsek seperti pacarmu itu!” ucap Raka kesal.
“Dia bukan pacarku lagi,” bantah Sofi cepat.
“Aku belum pernah mengajak wanitapun untuk berpacaran denganku, apalagi menawarkan untuk menjadi istriku. Kau wanita pertama!”
Sofi mendengus. “Tidak mungkin, aku tidak percaya,” ucap Sofi dengan wajah ragu. “Apa selama ini kau tidak pernah pacaran?” tanya Sofi.
“Tentu saja pernah, aku memiliki beberapa mantan pacar, tetapi mereka yang mengejar dan mengajak berpacaran, bukan aku. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Amel. Aku memang urakan tetapi aku tidak pernah mempermainkan wanita,” ucap Raka serius.
Sofi masih menatap ragu pada Raka. Tiba-tiba Sofi teringat dengan kata-kata Amel, dulu Amel pernah mengatakan kalau Raka adalah laki-laki baik, tidak tidak pernah mempermainkan wanita. Dia juga selaku menghormati wanita.
“Jika kau masih diam, aku anggap kau setuju menjadi pacarku,” ucap Raka lagi saat melihat Sofi masih diam.
“Kapan aku bilang setuju?” ujar Sofi dengan cepat.
“Berarti kau menolakku? Kali ini, kalau kau menolak lagi. Aku tidak akan pernah memintamu untuk jadi pacarku lagi!” ucap Raka dengan wajah serius.
Sofi tampak bingung. “Aku..Bukankah kau menyukai kak Amel? Aku tidak mau kau jadikan sebagai pelampiasanmu saja, hanya karena kak Amel akan segera menikah dengan kakakku,” ucap Sofi pelan.
Raka berdiri. “Baiklah, aku anggap kau menolakku. Seperti yang kukatakan tadi, ini terakhir kalinya aku memintamu untuk menjadi pacarku. Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi,” Raka berjalan meninggalkan Sofi sendiri.
Sofi tampak terdiam. Dia menatap punggung Raka yang terlihat mulai menjauh. Ada perasaan aneh saat melihat Raka meninggalkannya begitu saja. Sofi menghembuskan napas panjang. Dia juga berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju kamar Amel.
Setelah Amel mengantar mama Raka, Amel sempat berjalan menuju ruang keluarga lagi, tetapi dia menghentikan langkahnya saat melihat Sofi dan Raka tampak sedang berbicara serius. Amel memilih meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya. Amel tidak mau mengganggu mereka. Dia ingin memberikan ruang untuk mereka supaya lebih leluasa dalam berbicara.
__ADS_1
Bersambung...