Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Devan dan Friska (Bonus Chapter )


__ADS_3

Hari ini Devan berencana untuk menemui orang tua Friska untuk meminta ayahnya membatalkan perjodohan Friska dengan Jery. Sepanjang perjalanan menuju hotel, wajah Friska sangat tegang. Dia terus meremas kedua tangannya karena cemas.


Dia takut kalau ayahnya akan tetap pada pendiriannya yaitu menjodohkannya dengan Jery. Dia berencana kabur seandainya ayahnya tetap menjodohkannya dengan Jery.


"Jangan takut, ada aku. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Jery." Devan menggengam tangan Friska saat berada di dalam lift.


Friska berusaha tersenyum. "Bagaimana kalau ayahku tetap memaksaku?" tanya Friska dengan wajah cemas.


"Aku akan melakukan segala cara agar ayahmu mau membatalkan perjodohanmu."


Saat pintu lift terbuka, jantung Friska semakin berdegup kencang. Dengan perasaan takut dia melangkah ke kamar orang tuanya bersama dengan Devan.


Sebelum datang, Friska sudah lebih dulu mengirimkan pesan pada ayahnya kalau ada yang ingin dia bicarakan dengan kedua orang tuanya. "Devan?" Ibu Friska terlejut ketika melihat kedatangan Devan juga saat dia membuka pintu.


Orang tua Friska memang sudah mengenal Devan. Sudah 2 kali mereka bertemu ketika menemui Friska di Singapura. "Selama siang Tante Joy," sapa Devan sopan.


"Siang, masuklah. Aku tidak tahu kalau kau akan datang." Ibu Friska terlihat senang ketika melihat Devan datang.


"Terima kasih." Friska dan Devan berjalan masuk ke dalam bersama dengan ibu Friska.


"Devan, kenapa kau ada di sini?" Ayah Friska juga terkejut melihat kedatangan Devan.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Om Ferd."


Ayah Friska manggut-manggut. "Duduklah."


Devan mengangguk sopan lalu duduk di samping Friska. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tentu saja ayah Friska sangat penasaran dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba.


"Maksud kedatanganku ke sini adalah untuk meminta Anda membatalkan perjodohan Friska dengan pria pilihan Om Ferd."


Ayah Friska melirik sekilas pada putrinya yang sedari tadi hanya diam dan menunduk. "Jadi Ellen sudah menceritakan padamu mengenai perjodohannya?"


"Iyaaa. Friska tidak mau dijodohkan dengan Jery."


"Devan, kau tidak bisa ikut campur dengan urusan keluargaku, meskipun kau sudah menyelamatkan nyawa putriku dan menjaganya selama ini." Wajah Ayah Friska nampak tenang, hanya terlihat lebih serius.


Devan mengangguk. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa diam saja melihat dia menikah dengan pria lain. Aku mencintai Friska. Aku berniat untuk menikahinya."


Wajah orang tua Friska seketia berubah. Mata mereka terlijat membesar karena sangat terkejut dengan perkataan Devan.


"Mungkin anda tidak percaya denganku, tapi selama tinggal bersamanya, tanpa aku sadari kalau benih-benih cinta mulai tumbuh di hatiku. Perlahan aku mulai mencintai Friska. Aku mohon berikan restu pada kami untuk menikah."


Meksipun dalam hati Devan juga tidak tahu mengenai perasaan sesungguh terhadap Friska bagaimana, tapi merasa tidak rela saat mengetahui kalau Friska akan menikah dengan orang lain.


"Dad, aku juga mencintai Devan. Dia sudah membuka lebar mataku sehingga aku menyadari kalau selama ini aku hanya terobsesi dengan Rendi. Aku tidak mencintainya. Orang aku cintai Devan, Dad. Tolong batalkan perjodohanku dengan Jery. Aku tidak mau menikah dengannya."


Ayah Friska menoleh pada anaknnya ketika dia berbicara lalu kembali menatap ke arah Devan.


"Devan, sejujurnya aku belun percaya kalau kau mencintai putriku. Bisa saja ini hanya akal-akalan kalian agar membatalkan perjodohan Ellen dengan Jery."


"Om Ferd. Aku tidak pernah main-main dengan pernikahan. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku terhadap Friska."


Pada awalnya, dia memamg hanya berniat membantu Friska, tetapi ketika dia memutuskan untuk menikahi Friska agar terbebas dari perjodohan dengan Jery, Devan tidak pernah berniat mau bercerai dengan Friska nantinya.


Dia ingin pernikahan mereka terus berlanjut selamanya sambil berusaha menumbuhkan perasaan cinta dalam hatinya. Dia hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan Friska juga sudah menyetujui itu.


Setelah berpikir sesaat, ayah Friska berkata, "Kalau begitu bawa ayahmu untuk menemuiku di Jerman. Aku ingin kalian melamar anakku dengan resmi."

__ADS_1


Seketika Devan dan Friska tersenyum bahagia. "Baiklah, aku akan ke Jerman setelah mengurus beberapa hal di Singapura."


"Friska harus ikut aku ke Jerman. Kalau kau memang serius dengannya, aku berikan waktu padamu sebulan untuk datang meminang anakku."


Devan langsung menyanggupinya. "Baik, saya akan datang secepatnya."


"Dad, tapi aku tidak mau kembali ke Jerman. Aku akan kembali ke sana bersama dengan Devan." Friska hanya takut kalau ayahnya akan menikahkannya dengan Jery diam-diam tanpa sepengetahuan Devan.


"Kau harus tetap ikut Daddy."


Friska beralih menatap Devan dan memegang lengannya dengan wajah cemas. "Aku tidak kembali ke Jerman," ucap Friska sambil menggeleng.


Devan mengusap lembut tangan Friska untuk menenangkannya. "Aku akan ke sana secepatnya. Tunggu aku."


"Tapiiiii ...." Friska masih enggan pergi tanpa di dampingi Devan.


"Percaya padaku." Devan kemudian beralih menatap ayah Friska. "Aku mohon Om Ferd berjanji untuk tidak menikahkan Friska dengan Jery sampai batas waktu sebulan. Aku pasti akan ke sana untuk melamar Friska."


"Tentu saja. Aku tidak akan menikahkannya dengan Jery sampai batas waktu yang aku tentukan tadi."


"Baiklah."


********


3 minggu kemudian di Jerman, di salah satu restoran yang ada di kota Berlin.


Saat Friska akan keluar dari restoran, seseorang menghampirinya dan berdiri tepat di sampingnya tanpa Friska pedulikan. "Nona kau sedang menunggu siapa? Bagaimana kalau kau ikut denganku? Di luar sangat dingin." Cuaca di Berlin memang sangat dingin karena sedang musim dingin.


Friska yang sedang menunggu kedatangan taksi seketika menoleh ke samping dengan wajah kesal. Dia berniat untuk memaki pria itu karena sudah berani menggodanya, tapi ketika dia melihat wajah pria yang berdiri di sampingnya, dia seketika langsung tersenyum girang.


"Aku sengaja ingin memberikanmu kejutan padamu," jawab Devan sambil tersenyum.


Friska melepaskan pelukannya kemudian menatap Devan. "Lalu di mana keluargamu?"


"Nanti kita bicara lagi. Sekarang ikut aku. Di sini dingin kau bisa sakit nanti." Wajah Friska memang sudah memerah karena cuaca yang sangat dingin. Itu karena salju tidak hentinya turun.


"Kita mau ke mana?" Friska mengikuti langkah Devan saat sudah dia menarik tangannya.


"Ke hotel tempat aku menginap." Devan membawa Friska ke sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu restoran.


Setibanya di hotel, Devan langsung membawa Friska ke kamarnya. "Masuklah."


Friska mengangguk lalu masuk ke dalam diikuti oleh Devan. "Wajahmu merah sekali. Kenapa kau keluar sendiri dan tidak diantar oleh supir?"


Friska mengabaikan pertanyaan Devan dan justru memeluknya. "Aku sangat merindukanmu, Devan."


Devan tersenyum lalu membalas pelukan Friska, setelah itu mengurai pelukan mereka berdua. "Aku juga merindukanmu." Devan meraih dagu Friska lalu menempelkan bibir mereka berdua.


Devan melu*mat bibir Friska sedikit terburu-buru. Rasa rindu yang selama ini dia tahan, kini dia salurkan lewat penyatuan bibir mereka berdua. Begitu juga dengan Friska, membalas ciuman Devan dengan perasaan menggebu-gebu.


Mereka saling memagut dengan semangat sambil melepaskan jaket musim dingin yang ada di tubuh mereka karena suhu di kamar itu sudah mulai hangat setelah Devan tadi menghidupkan pemanas ruangan.


Entah sudah berapa lama mereka memagut penuh gairah, saling bertukar saliva dan membelit lidah satu sama lain, yang pasti mereka ingin menuntaskan kerinduan yang selama ini mereka tahan.


Devan terus menekan bibir Friska sedikit dalam dan memberikan gigitan lembut pada bibir bawah Friska. Sementara Friska melingkarkan tangannya dipinggang Devan sembari mengimbangi permainan bibir Devan.


"Sudah cukup Friska, aku takut kita hilang kendali nanti." Devan akhirnya melepaskan pagutan mereka dengan wajah memerah karena gairah yang membuncah.

__ADS_1


Friska menatap Devan juga dengan wajah memerah. "Aku tidak keberatan memberikannya sekarang padamu. Aku sangat mecintaimu, Devan."


Baru kali ini Friska seyakin itu untuk memberikan kehormatannya pada seorang pria. Bahkan dengan Rendi dulu, dia tidak pernah berpikir untuk memberikannya sebelum mereka resmi menikah.


Devan membelai wajah Friska dengan lembut. "Tidak. Aku akan menunggu sampai kita menikah. Setelah kita menikah, kau tidak akan bisa lepas dariku, jadi persiapkan saja dirimu."


Friska kemudian memeluk Devan dengan erat. "Aku hanya takut kau berubah pikiran dan meninggalkan aku nanti."


"Itu tidak akan terjadi. Kita akan menikah setelah aku melamarmu. Aku dan ayahmu sudah mengurus dokumen untuk kita menikah dan pernikahan kita sudah aku daftarkan di sini."


Friska mengurai pelukannya. "Benarkah? Kenapa daddy tidak pernah memberitahu aku?" tanya Friska dengan wajah heran.


"Aku sengaja meminta ayahmu merahasiakannya untuk memberikan kejutan padamu."


Friska kembali memelukannya Devan. "Terima kasih, Devan. Aku sangat bahagia mendengarnya."


Setelah berpisah 3 minggu yang lalu, Devan dan Friska lebih sering berkomunikasi. Bahkan hubungan mereka semakin hari semakin dekat. Hampir setiap hari mereka melakukan panggilan vidio. Semenjak terpisah mereka mulai merasa kehilangan satu sama lain dan saling merindukan.


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubunhan sebagai kekasih. Mereka tidak menyangka kalau setelah terpisah, benih-benih cinta tumbuh begitu cepat. Awalnya Devan berencana untuk melamar Friska setelah seminggu setelah kepergiannya, tetapi ternyatanya ayahnya kurang sehat jadi dia harus menunda keberangkatannya.


*******


"Ayo aku antar pulang." Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu Berlin. Devan berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah Friska.


Friska menggeleng cepat. "Aku tidak mau pulang."


"Friska, aku akan ke rumahmu besok untuk melamarmu. Dan seminggu kemudian kita akan menikah."


"Tapi aku masih merindukanmu."


Devan berjongkok di depan Friska yang sedang duduk di sofa. "Sejujurnya aku juga masih merindukanmu, tapi kau tidak bisa menginap di sini, Sayang."


"Kenapa? Bukankah kita sudah pernah tidur di kamar yang sama dulu?" tanya Friska.


"Dulu dan sekarang berbeda. Aku sungguh tidak bisa menahan diriku kalau harus tidur di kamar yang sama denganmu saat ini, jadi tolong mengerti Friska. Aku ingin menjagamu sampai kau resmi menjadi istriku. Setelah menikah kita tidak akan terpisah lagi. Kita akan menghabiskan waktu di kamar selama seminggu."


Wajah Friska memerah setelah mendengar kalimat terakhir Devan. "Baiklah."


Esok harinya, Devan beserta keluarganya datang melamar Friska seperti janjinya pada Friska malam kemarin. Acara lamaran berjalan dengan lancar. Acara lamaran sengaja diadakan di rumah karena hanya mengundang keluarga inti. Baru saat pernikahan nanti akan digelar secara besar-besaran dan mewah.


Amel dan Rendi berencana untuk datang karena kehamilan Amel sudah memasuki trimester kedua sehingga sudah aman melakukan perjalanan udara, meskipun begitu mereka tetap berhati-hati.


Rendi bahkan sampai membawa dokter kandungan sendiri ke Jerman untuk berjaga-jaga jikaterjadi apa-apa dalam perjalanan menuju Jerman. Semua keluarga Rendi berencana datang termasuk Sofi dan Raka.


Sofi belum menunjukkan gejala hamil, jadi aman untuk dirinya melakukan perjalanan udara. Selain menghadiri pernikahan Friska dan Devan, mereka juga sekalian pulang untuk mengecek peurusahaan mereka yang ada di Jerman dan Amel bilang ingin mengunjungi malam Friskila.


"Akhirnya satu tahap sudah kita lewati. Tinggal selangkah lagi, kau akan resmi menjadi istriku," ucap Devan.


Setelah acara lamaran selesai diadakan, dia dan Friska memisahkan diri dari kerumunan keluarga. Mereka duduk di taman belakang rumah Friska yang suasananya lebih tenang.


Friska menyandarkan kepalanya di bahu Devan sambil memegang lengannya. "Aku sangat bahagia sekarang. Aku pikir aku tidak akan pernah hidup bahagia setelah Rendi menikah dengan Amel."


"Lupakan yang lalu. Aku akan membuat hidupmu bahagia mulai sekarang dan seterusnya."


"Terima kasih Devan karena sudah mencintaiku."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2