Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Lamaran


__ADS_3

Amel menarik Rendi untuk menjauh dari Friska. “Kak, aku akan tunggu di balkon. Kalian berbicaralah berdua,” ucap Amel setelah mereka semua berada di dalam kamar Sofi. Dia ingin memberikan kesempatan pada Rendi dan Friska untuk menyelesaikan permasalahan mereka berdua.


Friska tampak sedang menatap ke arah mereka berdua.


“Nggak. Kamu harus tetap di sini,” ucap Rendi tegas.


“Kak, aku mohon. Friska nggak akan bebas berbicara kalau ada aku di sini,” pinta Amel dengan wajah memohon.


Rendi membuang wajahnya ke samping. “Aku bilang nggak ya nggak,” tolak Rendi.


“Kak, aku mohon. Kakak bilang sangat mencintaiku, tetapi kenapa Kakak nggam bisa mengabulkan permintaanku. Kakak harus menyelesaikan masalah kalian berdua tanpa ada aku.”


Rendi mengehela napas. “Baiklah.”


Amel tersenyum dan berjalan menuju balkon, sementara Rendi tampak mengampiri Friska. Dari luar balkon Amel bisa melihat setiap gerak-gerik Rendi dan Friska. Friska tampak menangis sambil memegang tangan Rendi. Amel berusaha untuk menekan rasa cemburunya.


Amel memutuskan untuk duduk di balkon sampai mereka selesai bicara. Ternyata tidak mudah melihat Rendi berduaan dengan Friska.


Rendi kemudian menghampiri Amel setelah dia selesai berbicara dengan Friska. Rendi dan Friska berbicara selama satu jam. “Ayok masuk. Aku sudah selesai berbicara dengan Friska,” ajak Rendi sambil menarik tangan Amel untuk masuk ke dalam.


Rendi dan Amel duduk bersebelahan. Friska tampak menatap Amel dengan waktu yang lama tanpa berbicara apapun. Friska kemudian mengalihkan pandangannya pada Rendi. “Ren, bisakah kau tinggalkan aku berdua dengan Amel. Aku ingin berbicara dengan dia sebentar,” pinta Friska.


Amel memegang tangan Rendi saat melihat keraguan dalam wajahnya. “Kak, tolong tinggalkan kami sebentar. Ada yang ingin kukatakan juga padanya,” ucap Amel pelan.


Rendi tampak enggan meninggalkan Amel berdua dengan Friska. Dia takut kalau Friska akan memprovokasi Amel lagi. “Aku cuma ingin berbicara dengannya sebentar,” lanjut Friska lagi saat melihat Rendi tidak juga memberikan jawaban.


“Baiklah. Aku tunggu menunggu di luar.” Rendi kemudian berjalan menuju balkon.


Friska menatap wajah Amel sejenak sebelum berbicara. “Bagaimana rasanya akan menikah dengan laki-laki yang kamu cintai? Pasti perasaanmu sangat bahagia saat ini.” Tidak ada senyum sama sekali di wajah Friska.


Rendi tampak menatap mereka berdua dari balkon. Pandanganya tidak pernah lepas dari mereka karena merasa khawatir pada Amel. Wajahnya pun terlihat tegang sakali.


Amel menghembuskan napas halus. “Kali ini, aku nggak akan mundur. Maaf Friska, aku tidak bisa mengalah kepadamu. Aku sangat mencintai kak Rendi. Aku mohon padamu tolong lepaskan dia. Aku yakin kamu akan mendapatkan laki-laki baik nantinya.”

__ADS_1


Friska tersenyum miris. “Bukankah kamu tahu kalau aku sangat mencintai dia? Aku bahkan rela membahayakan nyawaku hanya untuk menahannya. Nggak akan ada laki-laki yang bisa menggantikan dia, Mel. Tidak bisakah kau lepaskan dia untukku? Aku tidak bisa hidup bahagia tanpa dia, Mel. Dia segalanya bagiku,” ucap Friska dengan wajah frustasi.


“Maaf Friska. Aku nggak bisa lepasin dia. Aku tahu ini pasti berat untuk kamu, tetapi aku harap kamu bisa menerima kenyataan kalau kami akan segera menikah. Aku mengerti kalau perasaan cintamu tidak bakal hilang begitu saja, walaupun aku sudah menikah dengannya nanti, tetapi kau harus belajar untuk mengikhlaskannya. Orang yang bisa menyembuhkan lukamu adalah dirimu sendiri.”


Mata Friska berkaca-kaca. “Kenapa bukan aku yang dicintai olehnya? Apa kekuranganku?”


Amel mengehela napas lagi. “Asal kamu tahu, kak Rendi juga menyayangimu, tetapi hanya sebagai adik. Dia nggak bisa menyayangi lebih dari itu. Kami adalah orang yang berarti untuknya. Kamu mempunyai tempat sendiri di hatinya, yang nggak bisa di gantikan oleh siapapun karena kau satu-satunya orang yang selalu ada untuknya saat dia terpuruk dulu. Ini juga berat untuknya, tetapi jika kau terus memaksa kehendakmu. Dia justru akan semakin menjauhimu. Aku harap kamu bisa mengerti Friska. Kalau kamu bisa melepaskan Rendi dan bersikap seperti dulu, mungkin dia nggak akan menjauhi kamu.”


Air mata Friska lolos begitu saja. “Aku mempunyai permintaan terakhir padamu sebelum kalian menikah. Bisakah kau menginjinkan aku untuk pergi dengan Rendi besok?” tanya Friska penuh harap. “Aku nggak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin mengajaknya ke suatu tempat. Mungkin kamu merasa aku adalah wanita yang tidak tahu malu, tetapi aku nggak peduli kamu menganggapku seperti apa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan dia.”


Amel terdiam sesaat. “Baiklah. Aku injinkan, tetapi kalau kamu berusaha untuk merusak pernikahan kami. Aku nggak akan pernah membiarkanmu hidup dengan tenang.”


Friska tampak memandang Rendi sejenak. “Bisakah kau meminta Rendi untuk ikut denganku besok? Aku sudah mencoba mengajaknya tadi, tapi dia langsung menolakku. Aku rasa dia tidak ingin kau salah paham padaku.”


Amel mengangguk. “ Baiklah. Aku akan berbicara dengannya.“


Friska tersenyum senang. “Terima kasih Mel.”


*******


Pukul lima sore Amel beserta keluarga Rendi pergi ke apartemennya. Devan sudah mengabarkan kalau mereka sebentar lagi akan sampai di apartemen Rendi. Sesuai yang di rencakan beberapa hari lalu. Hari ini keluarga Rendi akan langsung melamar Amel, sekaligus membicarakan tentang pernikahan Amel dan Rendi.


Di salah satu ruangan yang berada di apartemen Rendi sudah berkumpul, Rendi, Amel, Sofi, dokter Jhon, beserta kedua orang tua Rendi. Mereka sedang menunggu kedatang keluarga Amel. Raka dan ibunya juga berencana ke apartemen Rendi saat malam hari.


Rendi dan Amel berjalan menuju loby untuk menjemput Ibu, Devan beserta adiknya. Amel langsung berlari memeluk ibunya ketika ibunya baru saja memasuki loby apartemen. Amel dan ibunya menangis haru. Amel juga langsung memperkenalkan Rendi pada Ibu dan adiknya.


Devan sudah membicarakan perihal pernikahan Rendi dan Amel. Awalnya ibunya terlihat ragu pada Rendi, karena dia sama sekali belum mengetahui apapaun tentang Rendi. Setelah diyakinkan oleh Devan, akhirnya dia menyetujuinya.


Ibu Amel sebenarnya berharap Devanlah yang akan menjadi menantunya, karena dia sudah mengenal Devan dari kecil. Ibunya juga sudah mengenal baik keluarga Devan. Namun saat mendengar cerita Devan kalau anaknya mencintai Laki-laki lain, ibunya tampak kecewa.


Mereka berlima berjalan menuju lantai atas. Saat mereka baru saja masuk, terlihat semua keluarga Rendi sedang menatap kedatang keluarga Amel. Orang tua Rendi langsung mempersilahkan keluarga Amel untuk duduk. Sebelum keluarga Amel tiba, keluarga Rendi sudah menata banyak sekali makanan di meja.


Sebenarnya Lilian ingin membuat acara lamaran yang mewah tetapi wsktunya sangat mendesak, oleh karena itu dia memutuskan untuk melakukan lamaran sederhana saja. Sebagai gantinya, dia akan membuat pesta pernikahan yang mewah dan megah untuk Amel dan Rendi nanti.

__ADS_1


Keluarga Rendi juga sudah membawa seserahan yang dibawa oleh orang suruh Rendu tadi. Banyak sekali kotak seserahan yang diberikan oleh keluarga Rendi untuk Amel yang diletakkan di ruang keluarga.


Semua seserahan itu dokter Bianca yang memilihnya. Ada satu kotak seserahan yang terlihat mencolok, yaitu sebuah kalung berlian berwarna biru laut yang ditaksir senilai 1,5 Miliar.


Mereka sudah berkumpul semua, setelah perkenalan antar dua keluarga selesai, tanpa menunggu lama, pihak Rendi langsung menyampikan maksud kedatangan mereka. Ibu Amel tidak banyak bicara dia hanya menjawab ketika ditanya.


Devan mewakili dari pihak keluarga Amel untuk berbicara. Setelah kesepakatan tercapai. Amel dan Rendi kemudian saling menyematkan cincin tunangan mereka. Wajah Amel dan Rendi tampak berseri-seri.


Mereka melanjutkan perbincangan antar dua keluarga. Keluarga Rendi sudah meminta maaf karena mengadakan pernikahan yang mendadak. Ibu Amel lebih banyak diam. Dia memang sedikit pemalu, apalagi saat mengetahui kalau calon menantunya bukan dari kalangan biasa, melainkan dari kalangan atas. Dia menjadi tidak percaya diri. Dia merasa minder.


Ibu Rendi berusaha mengakrabkan diri pada ibu Amel. Dia tahu kalau ibu masih merasa canggung dan malu. Setelah berbicang selama kurang lebih 3 jam. Keluarga Rendi pamit pulang. Sofi dan Rendi tidak ikut pulang mereka masih berada di apatemen Rendi.


Amel meminta Ibu dan adiknya untuk beristirahat di kamar yang sudah di rapikan Amel tadi pagi. Kamar adik dan ibunya tidak jauh dari kamar yang Amel tempati. Di ruang keluarga tinggal Devan, Amel, Sofi berserta Amel. Mereka sedang menunggu kedatangan Raka dan ibunya.


Amel dan Sofi turun ke bawah untuk menjemput Raka dan ibunya. Sementara Devan dan Rendi terlihat berjalan ke balkon saat Amel akan turun ke loby. “Masuk Ma,” ucap Amel sambil membuka pintu dengan lebar.


“Ibu kamu di mana?” tanya Tamara saat tidak melihat siapa-siapa ketika dia baru saja masuk.


“Lagi istrirahat di kamar. Amel akan panggilkan dulu,” ucap Amel sambil berdiri. Mereka semua sudah berada di ruang keluarga dan duduk di sofa.


“Tidak usah. Pasti ibu kamu capek. Nanti saja,” cegah Tamara cepat.


Amel kembali duduk. “Rendi dan Devan mana?” Kali ini Raka yang membuka suaranya.


“Lagi di balkon. Sepertinya mereka sedang berbicara serius,” jawab Amel sambil menoleh pada Raka.


Raka mengangguk. Seperti sebelumnya, Tamara masih berusaha untuk menjodohkan anaknya dengan Sofi. Raka terlihat acuh saat mamanya terus mengonrol dengan Sofi, dia lebih banyak memegang ponselnya. Tidak lama kemudian Devan dan Rendi masuk ke dalam.


Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, karena malam semakin larut. Amel meminta Raka dan Tamara untuk menginap di sana. Awalnya Raka menolak, tetapi dipaksa oleh Amel. Akhirnya Raka dan mamanya memutuskan untuk menginap di sana.


Amel juga meminta Sofi untuk menemaninya malam ini. Sehingga hanya Devan dan Rendi yang akan pulang. Sebenarnya Amel sudah meminta Devan untuk menginap, tetapi Devan beralasan dia harus pulang karena kakaknya mencarinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2