Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kebenaran Sesungguhnya


__ADS_3

Rendi memarkirkan asal mobilnya saat dia sudah tiba di depan rumah sakitnya. Rendi menggendong Amel dan berjalan cepat menuju IGD.


“Panggil Jhon cepat!” perintah Rendi pada petugas yang sedang bertugas di IGD, setelah dia membaringkan tubuh Amel pada salah satu ranjang pasien. Terlihat beberapa orang tampak menatap aneh padanya, ada juga yang mencemooh tingkah Rendi.


Petugas yang mengenali Rendi langsung menghubungi Dokter Jhon. Sementara Kenan baru saja sampe langsung menyusul Rendi ke IGD. Dia memutuskan untuk berdiri tidak jauh darinya karena tidak berani mendekat ke Rendi saat melihat emosinya belum turun.


“Ada apa?” tanya Dokter Jhon pada petugas yang tadi menelponnya, saat dia baru saja memasuki ruang IGD.


Rendi berjalan mendekati Jhon. “Jhon, tolong dia. Dia tiba-tiba tidak sadarkan diri.”


Dokter Jhon menoleh dan terkejut saat melihat Amel yang ditunjuk oleh Rendi. Meskipun begitu, Dokter Jhon tetap berjalan mendekati ranjang Amel. “Apa kau mengenal wanita ini?” tanya Dokter Jhon sambil memeriksa keadaan Amel.


“Jangan banyak bicara Jhon. Kau bisa salah diagnosa nanti,” ucap Rendi kesal sambil terus menatap wajah Amel yang tampak pucat.


Dokter Jhon melepaskan Stetoskop dari telinganya kemudian menggantungkan di lehernya lalu menatap pada Rendi. “Dia hanya pingsan. Dia tidak sakit apa-apa. Kenapa kau panik sekali?”


Rendi mendekati Amel lalu berkata, “Tapi kenapa dia belum sadar juga?” Rendi tidak menggubris pertanyaan Jhon dan justriu mengajukan pertanyaan lain.


“Aku akan meminta perawat untuk memasangkan infus padanya. Kau tenang saja tidak akan terjadi apa-apa padanya,” ucap Dokter Jhon sambil memegang bahu Rendi.


“Pindahkan dia sekarang ke ruangan VVIP Jhon, di sini terlalu banyak orang.”


Dokter Jhon menghela napas. Dalam hatinya dia ingin mengutuk Rendi karena dia sudah memanggilnya buru-buru hanya untuk memeriksa Amel yang pingsan, padahal di ruang IGD ada dokter yang berjaga di sana. Dia juga sebenarnya heran dengan sikap Rendi yang terlihat khawatir dengan keadaan Amel, padahal dia sedang mengalami Amnesia.


Dokter Jhon berjalan menuju meja petugas IGD. “Urus ke pindahan wanita itu ke ruang VVIP sekarang,” perintah Dokter Jhon menunjuk Amel.


“Baik, Dok,” jawab Perawat itu.


Dokter Jhon mendekati Rendi lagi lalu berkata, “Kau ikut aku dulu.” Rendi menoleh saat mendengar perkataan Dokter Jhon. “Dia akan segera dipindahkan. Kau bisa menemuinya nanti di ruang perawatan,” ucap Dokter Jhon saat melihat Rendi tampak terus menatap wajah Amel.


Rendi mengikuti langkah Dokter Jhon dan menatap tajam Kenan saat akan keluar ruang IGD. Kenan hanya menghela napas dan mengikuti Rendi dan Dokter Jhon dari belakang.


Mereka bertiga memasuki ruangan Dokter Jhon bersamaan. “Apa kau tahu siapa wanita itu?” tanya Dokter Jhon saat dia sudah duduk di kursinya setelah melihat Rendi dan Kenan juga sudah duduk di depannya.


“Di-Diaa.. Aku tidak mengenalnya. Yang aku tahu dia adalah sekertaris Kenan,” jawab Rendi akhirnya setelah dia mencoba berpikir lagi.


Dokter Jhon menatap aneh pada Rendi lalu bertanya dengan tatapan menyelidik. “Lalu kenapa kau begitu panik jika tidak mengenalnya?”


Rendi berpikir sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke samping. “Aku hanya kaget saat melihatnya tidak sadarkan diri. Tanpa sadar aku langsung membawanya kesini dengan terburu-buru,” ungkap Rendi.


“Tidak mungkin. Kau bahkan mengancam membunuhku di kantor tadi jika terjadi sesuatu dengannya,” ucap Kenan lantang.


Kenan baru berani membuka suaranya saat melihat Rendi terlihat sudah tenang. Dahi Dokter Jhon mengerut saat mendengar perkataan Kenan.

__ADS_1


Mendengar itu, Rendi seketika menatap tajam Kenan. “Semua ini gara-gara kau,” ucap Rendi kesal.


“Kau itu harusnya berterima kasih padaku karena aku sudah membantumu,” ucap Kenan tidak kalah kesal.


Rendi melirik malas pada Kenan lalu berkata, "Membantu apanya? Kau itu hanya merepotkanku.”


“Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar?” Dokter Jhon mencoba menghentikan perdebatan mereka.


Rendi berdiri. "Dia membuatku kesal."


“Kau mau kemana?” tanya Dokter Jhon saat melihat Rendi berjalan menuju pintu.


Rendi menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Dokter Jhon. “Aku akan menemuinya.” Rendi meraih handle pintu lalu berjalan keluar.


“Heeey tunggu aku!” teriak Kenan sambil mengikuti Rendi keluar dari ruangan Dokter Jhon. Dokter Jhon hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rendi dan Kenan.


Rendi dan Kenan berjalan keluar lift saat sudah berada di lantai khusus VVIP. Rendi dan Kenan berjalan menuju ruangan Amel setelah tadi berhenti sejenak di meja perawat untuk untuk menanyakan kamar yang di gunakan oleh Amel.


“Kamu sudah bangun?” tanya Rendi saat melihat Amel sedang duduk bersandar pada bantal di punggungnya.


Amel hanya menatap Rendi terus tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rendi. “Apa wajahku sangat tampan sampai kau terpesona seperti itu?” tanya Rendi dengan alis yang naik sebelah. Nada bicara Rendi sudah tidak acuk tak acuh lagi dan sedingin sebelumnya.


Amel tersenyum pada Rendi. Dia melihat Rendi dan Kenan sudah berdiri tidak jauh darinya. “Iyaa kau sangat tampan.”


“Heey Mel, aku juga tampan, kenapa kamu tidak pernah memandangku seperti itu,” protes Kenan saat melihat reaksi Rendi setelah dipuji oleh Amel.


Amel mengalihkan pandangannya pada Kenan lalu dia tersenyum juga. “Iyaa kau juga tampan.”


Amel sangat bersyukur karena Kenan sudah memberitahu semua tentang Rendi yang selama ini dia tidak ketahui, jadi dia akan bersikap lebih baik lagi pada Kenan. Amel juga berniat untuk meluluhkan hati Rendi mulai saat ini.


Dia akan memperjuangakan Rendi. Sekarang tidak masalah lagi untuknya kalau Rendi tidak mengingatknya. Dia akan membuat ingatakan baru tentangnya pada Rendi. Dia berencana membuat Rendi jatuh cinta lagi padanya.


“Pergi sana. Kenapa kau mengganggunya,” usir Rendi sambil menatap tidak suka pada Kenan.


“Dia itu sekertarisku. Tentu saja aku ingin melihatnya juga,” ucap Kenan tidak mau pergi.


“Itu adalah perusahanku jadi aku lebih berhak padanya,” ucap Rendi tidak mau kalah.


Amel tersenyum saat melihat perdebatan Kenan dan Rendi. Dia tidak menyangka kalau sikap Rendi mulai berubah kepadanya.


“Kaau....” tunjuk Kenan pada Rendi. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi karena dia memang tidak pernah bisa menang melawan Rendi.


Rendi tampak acuh pada Kenan. Dia berjalan menuju sofa ruangan tersebut, kemudian duduk bersandar. “Habiskan cairan infusmu, setelah itu kembali lagi ke perusahaan. Kita akan melakukan rapat,” ucap Rendi santai sambil menatap Amel.

__ADS_1


Kenan yang masih berdiri di dekat Amel langsung menoleh. “Aku sudah membatalkan rapatnya. Aku sudah meminta Fadil untuk melakukan rapatnya besok.”


“Baiklah.”


Mereka bertiga kembali ke perusaahaan setelah cairan infus Amel habis. Rendi meminta Amel untuk ikut dengan mobilnya, sementara Kenan sendiri. Mereka tiba di kantor tepat pukul 12 siang. Mereka bertiga berjalan bersama memasuki lift menuju lantai paling atas. Amel kembali duduk di mejanya. Sementara Kenan dan Rendi masuk ke ruang Kenan.


“Mulai besok persiapkan meja kerja untukku di ruanganmu,” ucap Rendi santai, saat dia sudah duduk di sofa dengan Kenan.


Kenan langsung menoleh pada Rendi yang duduk di sampingnya. “Untuk apa?” tanya Kenan dengan wajah heran.


“Aku akan mulai bekerja di sini.”


“Sampai kapan? Bukankah kau berencana untuk pulang ke jerman lagi setelah urusanmu selesai?” tanya Kenan penasaran.


“Aku berubah pikiran. aku akan mengawasimu di sini,” ucap Rendi acuh tak acuh.


Kenan mendengus. “Mengawasiku atau mengawasi Amel?”


Rendi tampak dia sesaat. “Jadi namanya Amel.” Rendi memang tidak tahu nama Amel, dia hanya pernah mendengar Kenan memanggilnya nama ujungnya saja yaitu Mel.


“Bukan, namanya Imel,” jawab Kenan dengan ketus.


Rendi mengetuk-ngetukkan jarinya di sofa. mengabaikan kekesalan Kenan padanya. “Amel... Amel... Kenapa namanya seperti tidak asing. Siapa nama panjangnya?”


“Aku tidak akan memberitahumu,” ucap Kenan acuh tak acuh


“Aku akan langsung bertanya padanya.”


Kenan menatap Rendi tidak suka. “Kau ini kenapa perhatian sekali dengan sekertarisku? Apa kau tertarik dengannya?”


Rendi tertawa kecil saat mendengar pertanyaan Kenan. ”Kau jangan bercanda. Apa aku terlihat tertarik dengannya?”


Kenan menatap Rendi dengan wajah kesal. Dia merasa kalau Rendi tidak menyadari perasaannya yang masih tersimpan jauh dilubuk hatinya untuk Amel. 


“Iyaa, di wajahmu tergambar jelas kalau kau itu tertarik dengannya. Puas!” ucap Kenan dengan suara lantang.


Rendi menatap Kenan dengan santai lalu berkata, “Apa kau cemburu? Atau merasa tersaingi olehku? Kenapa ekspresimu seperti tidak suka begitu?”


“Aku ini lebih tampan darimu, untuk apa aku merasa tersaingi.”


Rendiri berdiri dan merapikan jasnya. “Aku mau pulang. Ingat, besok persiapkan meja untukku dan jangan lupa bersiaplah untuk rapat besok. Aku tidak mau ada kesalahan darimu.”


Rendi berjalan keluar ruangan dari Kenan tanpa mendengar jawabanya Kenan terlebih dahulu, sementara Kenan hanya bisa mengumpat Rendi dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2