Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Ucapan Selamat


__ADS_3

Rendi merebahkan tubuhnya di kasur setelah mereka berada di dalam kamar. Mereka meminta waktu selama 20 menit untuk beristirahat. “Kak bisakah kau mengahadap ke tembok?” ucap Amel saat dirinya akan melepas gaun yang dia gunakan. Dia berencana untuk mengenakan baju kaos dan celana jeans pendek dulu untuk beristirahat.


Rendi menoleh pada Amel. “Memangnya kenapa?”


“Aku ingin mengganti pakaianku dulu,” ucap Amel pelan. Dia sangat malu saat mengatakan pada Rendi.


Rendi menyeringai, dia berjalan mendekati Amel. “Aku adalah suami Mel. Kau tidak perlu malu padaku! Nanti aku juga akan melihat semuanya!” ucap Rendi enteng.


Lagi-lagi Rendi menggoda Amel. Dia benar-benar membuat Amel tidak berkutik malam ini. Dia selalu sukses membuat wajah Amel terus memerah. “Aku hanya berlum terbiasa kak!” ucap Amel pelan.


Rendi membalikkan tubuh Amel. “Biar aku bantu untuk melepasnya. Kau tidak akan bisa melepasnya sendiri!”


Amel langsung menjauh dari Rendi. “Tidak perlu kak! Aku akan meminta periasnya untuk membantuku! Lebih baik kakak beristirahat di tempat tidur, kakak pasti lelah!” tolak Amel. Dia berusaha mencari alasan tepat untuk menggagalkan niat Rendi untuk membantu melepas gaunnya.


Rendi mendekati Amel lagi. “Aku tidak lelah!” Rendi menarik tangan Amel. “Diamlah! Aku hanya akan membantumu saja! Aku tidak akan melakukan apa-apa! Aku masih bisa menahannya sampai nanti malam!” ucap Rendi sambil berjalan ke belakang Amel dan mulai menurunkan resleting gaun yang Amel kenakan.


“Kakak jangan membahas hal seperti itu terus!” pekik Amel dengan wajah kesal. Badan Amel menegang saat Rendi mulai membuka gaunnya dari belakang. Tangan Rendi terhenti saat melihat punggung mulus milik istrinya. Dia berusaha fokus dan mengatur napasnya. Dia menenangkan diri sejenak. Lalu melanjutkan membuka baju Amel. Awalnya Rendi hanya berniat untuk mengerjai Amel, tetapi justru dirinya malah yang terpancing saat melihat pungung dan leher putih Amel.


Rendi menjauhkan tubuhnya dari Amel. “Cepat ganti bajumu!” ucap Rendi sambil berjalan ke kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya.


Amel buru-buru mengambil pakaiannya dan langsung menggantinya. Dia takut kalau Rendi akan segera keluar. Setelah selesai, Amel duduk di tempat tidur. “Lebih baik kita istirahat sebentar Mel. Aku lihat kau sepertinya kelelahan!” ucap Rendi setelah dia keluar dari kamar mandi.


Rendi  merebahkan tubuhnya di tempat tidur lalu menarik tangan Amel lalu memejamkan matanya. “Diamlah Mel, aku hanya ingin memelukmu saja! Aku ingin beristirahat sebentar,” ucap Rendi saat Amel mulai terlihat berusaha untuk lepas dari pelukan Rendi.


Amel diam sambil mendongakkan kepalanya menatap Rendi sudah menutup matanya. “Apa kakak mengantuk?” tanya Amel. “Tidak aku hanya lelah!” ucap Rendi tanpa membuka matanya.


Amel memilih diam dalam pelukan Rendi. Walaupun merasa canggung dia harus meulai membiasakan karena saat ini Rendi sudah resmi menjadi suaminya.

__ADS_1


Setelah beristirahat selama 10 menit, tidak lama kemudian perias datang ke kamar mereka untuk mengganti pakaian merek. Mereka berjalan menuju ballroom untuk menyambut tamu lain setekah berganti pakaian. walaupun mulai lelah, Amel terus berusaha menampilkan senyuman di wajahnya.


Amel langsung tersenyum lebar ketika Devan datang mengucapkan selamat kepada mereka. Devan menjabat tangan Rendi dan Amel. “Selamat atas pernikahan kalian, semoga pernikahan ini bisa menjadi titik awal bahagia bagi kalian dan dapat melengkapi kelebihan dan kekurangangan masing-masing,” ucap Devan tulus.


Rendi mengangguk. “Terima kasih atas doanya kak!” ucap Amel senang. Devan menatap Rendi. “Aku harap kau tidak pernah membuatnya menangis. Kalau sampai kau menyakitinya, aku akan membawanya pergi!” Devan mencoba memperingatkan Rendi.


Rendi mengangguk. “Kau tenang saja. Aku tidak akan memberikan kesempatan itu padamu karena aku akan membuatnya selalu hidup bahagia denganku,” ucap Rendi dengan penuh keyakinan.


Devan mengangguk. “Kalau begitu aku pergi dulu!” ucap Devan sebelum dia melangkahkan kakinya.


“Kak tunggu!” panggil Amel. Dia menoleh pada Rendi. “Kak boleh kah aku berbicara berdua dengan kak Evans sebentar?” tanya Amel.


Rendi mengangguk. Amel dan Devan tampak berjalan ke sudut ruangan, mereka terlihat membicarakan sesuatu. Devan beberapa kali menggelengkan kepala dan Amel terlihat sedang meyakinkan Devan. Setelah berbicara dengan Devan mereka kembali ke menghampiri Rendi. Devan memilih untuk berbaur dengan tamu lain setelah mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu.


Tidak lama setelah Devan datang, Raka juga datang bersama dengan seorang wanita cantik. Raka terlihat mengahampiri Rendi dan Amel. “Selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian selalu bahagia dan selalu dipenuhi dengan cinta,” ucap Raka pada Amel dan Rendi. “Terima kasih!” ucap Rendi dan Amel serempak.


“Ren, aku peringatkan padamu jangan pernah menyakitinya apalagi membuatnya menderita. Kau tahukan apa yang akan aku lakukan kalau sampai itu terjadi” ujar Raka sambil menatap pada Rendi. “Kau tidak perlu khawatir. Aku janji akan selalu membahagiakannya,” ucap Rendi mantap.


Sofi tadi berencana untuk menghampiri Amel dan Rendi tetapi tidak jadi ketika dia melihat Raka sedang berjalan dengan seorang wanita menuju Amel dan Rendi.


Rendi menoleh pada Amel. “Kau lihat kakak-kakakmu. Kita bahkan baru saja menikah tapi mereka semua sudah memperingatkan aku!”


“Maafkan mereka kak!”


Sofi berjalan mendekati Amel dan kakaknya.“Wanita itu siapa kak?” tanya Sofi pada Amel setelah dia sudah berada berdiri di sampingnya. Rendi hanya melirik pada adiknya sebentar, sementara Amel tampak tersenyum mendengar pertanyaan Sofi. “Wanita itu adalah mantan bang Raka. Dulu dia sangat mencintai bang Raka, sepertinya dia masih mencintai bang Raka sampai saat ini, mengingat dia rela bekerja di perusahaan bang Raka, padahal dia berasal dari keluarga kaya raya," jelas Amel setelah melihat wajah penasan Sofi.


Sofi tampak diam. “Kenapa Sof?” tanya Amel saat melihat Sofi tampk terdiam. “Tidak apa-apa kak!” ucap Sofi cepat. “Oiaa kak, kata mama kalau kalian sudah capek kalian bisa ke kamar duluan. Biar papa dan mama yang menyambut tamu lainnya,” lanjut Sofi lagi.

__ADS_1


Lilian sengaja meminta Amel untuk tidak menunggu sampai pesta usai karena banyaknya tamu undangan yang datang. Dia tidak mau kalau Amel kelelahan.


“Iyaa, setelah ini kakak akan masuk.”


Sofi berjalan meninggalkan Amel dan Rendi. Dia berjalan menghampiri Bagas. Sementara ibu Amel sedang menemani Lilian sedang menyambut tamu lainnya.


Setelah kepergian Raka. Terlihat Friska datang sendirian. Dia terlihat berdandan sederhana. Tidak ada kesan glamor sama sekali. Biasa Friska selalu tampak modis dan fasionable dalam berpakaian. “Kau sakit?” tanya Rendi saat melihat Friska tampak pucat.


Friska menggelengkan kepalanya. “Aku hanya kurang tidur,” jawab Friska lemah. “Selamat atas pernikahan kalian!” ucap Friska singkat. Dia menatap Amel. “Aku minta maaf karena pernah menyikiti perasaanmu.”


Amel tampak terkejut saat mendengar permintaan maaf Friska. “Aku sudah memaafkanmu! Aku juga minta maaf kalau aku pernah menyakitimu!” ucap Amel tulus.


Friska mengangguk. Dia beralih menatap Rendi. “Ren, kalau aku pergi apa kau akan merindukanku?” tanya Friska dengan mata berkaca-kaca.


“Memangnya kau mau ke mana? Apa kau akan segera kembali ke Jerman?” tanya Rendi heran.


Friska mengangguk pelan. “Iyaa, aku merindukan Kila. Kalau begitu aku pamit.” Friska berjalan meninggalkan Rendi dan Amel dengan tangis yang sudah pecah. Rendi terus menatap punggung Frsika. Dia merasa kalau sikap Friska sedikit aneh.


Sangat mudah bagi Rendi unutk mengetahui perubahan pada Friska, mengingat mereka sudah saling mengenal dari kecil. Setidaknya Rendi bisa sedikit mengetahui apa yang ada dipikiran Friska.


Setelah Friska menghilang Rendi mengajak Amel ke kamar. “Lebih baik kita masuk ini sudah malam. Wajahmu juga sudah kelihatan lelah,” ajak Rendi sambil menggandeng Amel.


Amel mengikuti langkah Rendi. Dia memang merasa sangat lelah karena menyambut begitu banyak tamu. Sebelum masuk mereka berpamitan pada ibu Amel beserta orang tua Rendi. Acara juga sudah selesai, hanya saja tamu masih ada banyak yang masih berada di dalam ballroom.


Rendi membawa Amel ke kamarnya. “Kak kenapa kita ke kamarmu?” tanya Amel saat mereka berhenti tepat di depan kamar Rendi. “Kamar kita sayang!” ucap Rendi sambil membuka pintu. “Tapi barang-barang dan bajuku ada di kamarku kak!”


Amel belum juga beranjak dari depan pintu kamar Rendi. Kamar yang dimasud Amel adalaj kamar yang tempatinya ketika dirias tadi. Sementara kamar Rendi dijadikan kamar pengantin. Dari siang petugas hotel sudah sibuk menghias kamar Rendi. Mereka menyulap kamar Rendi menjadi kamar pengantin yang romantis.

__ADS_1


Rendi menoleh pada Amel. “Aku sudah meminta Sofi untuk memindahkan barang-barang dan bajumu ke kamar ini sayang!” Rendi langsung menarik tangan Amel masuk. 


Bersambung...


__ADS_2