Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Permintaan Amel


__ADS_3

"Sayang, apa kau yakin tidak mau ke rumah sakit?" Rendi terlihat masih cemas melihat Amel yang terlihat pucat setelah memuntahkan semua isi perutnya.


Amel membenahi posisi tidurnya setelah berbaring di tempat tidur. Dia merasa lemas dan tidak memiliki tenaga sehingga dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di samping suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Tidak perlu Kak, besok pasti sembuh setelah aku beristirahat."


"Atau aku minta saja John untuk ke sini?"


Rendi masih tidak tenang melihat keadaan istrinya. Baru kali ini, dia melihat Amel sampai memuntahkan semua isi perutnya. Beberapa hari ini, Amel memang mengeluh tubuhnya lesu dan tidak bersemangat melakukan apapun tapi Rendi tidak menduga kalau Amel muntah seperti tadi.


"Tidak usah Kak. Kak John pasti sedang sibuk. Jangan mengganggunya untuk hal yang tidak penting."


Rendi mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Tentu saja penting, kau adalah istriku, bagaimana bisa istri dari pemilik rumah sakit dibiarkan begitu saja."


"Aku hanya masuk angin Kak. Tidak perlu ke rumah sakit." Amel hanya tidak mau membuat heboh di rumah sakit. Rendi pasti akan menyuruh beberapa dokter untuk memeriksanya.


"Baiklah, tapi jika besok kau masih belum membaik, kau tidak boleh lagi menolak untuk ke rumah sakit," ucap Rendi sambil membelai wajah istrinya penuh kasih sayang.


"Iyaaa Kak."


"Aku akan membuatkanmu teh hangat. Kau tunggu di sini." Rendi mengecup kepala istrinya sebelum keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian, Rendi kembali dengan membawa secangkir teh dan buah pisang. "Sayang, bangun dulu." Rendi membantu Amel bangun dari tidurnya setelah meletakkan cangkir teh dan buah pisang di atas nakas.


"Pelan-pelan." Rendi menyodorkan cankir teh ke mulut Amel.


Sebelum meminumnya, Amel meniup tehnya terlebih dahulu. "Sudah Kak," ucap Amel setelah dia meneguk beberapa kali.


Rendi meletakkan tehnya lalu memberikan pisang pada Amel. "Makanlah, perutmu tidak boleh kosong."


Amel menggeleng lemah. "Aku tidak mau pisang."


"Lalu kau mau makan apa sayaang?" tanya Rendi lembut. Amel adalah satu-satunya wanita yang mendapatkan perlakuan lembut dari Rendi. Bahkan terhadap adiknya saja dia tidak selembut seperti memperlakuan Amel.


"Aku tidak tahu."


"Kalau begitu makanlah sedikit pisang ini, setelah itu, aku akan memesankan makanan untukmu."


Amel meraih pisang lalu memakannya dengan pelan. Meskipun tidak napsu makan, dia tetap memakannya. "Jadi, kau mau makan apa?" tanya Rendi setelah Amel menghabiskan satu buah pisang.


"Aku tidak mau apa-apa, Kak. Aku cuma mau ditemani Kakak tidur di sini," pinta Amel.


"Baiklah." Rendi naik ke tempat tidur lalu membawa Amel ke dalam dekapannya. "Tidurlah."


Baru saja Amel memejamkan matanya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seketika, Amel membuka kembali matanya. "Tidurlah sayang, itu mungkin Sofi." Rendi turun dari tempat tidur lalu membuka pintu.


"Ada apa?" Rendi memasang wajah datar saat melihat adiknya tersenyum lebar.


"Kak Amel mana?" Sofi melongok ke dalam melalui celah pintu yang terbuka.


"Jangan ganggu kakak iparmu. Dia sedang sakit."


"Sakit apa??"

__ADS_1


Saat dia berpamitan dengan Amel, Sofi melihat Amel baik-baik saja meskipun dia terlihat lesu.


"Tidak enak badan. Cepat katakan, kau mau apa ke sini?" Rendi merasa terganggu dengan kedatangan adiknya.


"Raka ingin berbicara dengan Kakak, ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya," jelas Sofi dengan cepat.


Rendi berpikir sejenak. "Besok saja, Amel sedang sakit. Kakak tidak bisa meninggalkan Amel sendirian di kamar."


"Baiklah kalau begitu." Sofi berbalik, berjalan gontai dengan wajah kecewa menuju ruang tamu.


"Ada apa, Kak?" tanya Amel ketika melihat Rendi memasuki kamar.


"Sofi," jawab Rendi sekenanya. Rendi tidak berniat untuk membahas adiknya.


"Sofi kenapa?" tanya Amel setelah Rendi naik ke tempat tidur.


"Dia bilang Raka ingin berbicara denganku." Rendi kembali membawa Amel dalam pelukannya.


"Bang Raka ada di sini?" Amel mendongakkan kepalanya menatap penasaran pada Rendi.


"Iyaa, dia ada di depan."


Amel langsung melepaskan pelukan suaminya. "Kak, aku mau ketemu bang Raka. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya."


Raka memang sudah seminggu tidak menghubungi Amel. Beberapa kali, Amel menyuruhnya untuk datang ke apartemennya, tapi Raka seolah menghindarinya. Amel menduga kalau Raka pasti sedang bertengkar dengan Sofi


"Tadi kau bilang ingin tidur. Besok Raka akan ke sini lagi. Sekarang lebih baik kau tidur." Rendi merasa heran saat melihat Amel yang tampak bersemangat lagi, padahal sebelumnya, bergerak saja dia sudah tidak memiliki tenaga.


Rendi terpaksa mengijinkan Amel untuk bertemu dengan Raka karena sedari tadi, dia tetap kekeh ingin bertemu dengan Raka.


"Amel cuma masuk angin Bang." Amel duduk di hadapan Raka bersama dengan Rendi.


"Kau sudah makan?" Raka melihat wajah pucat Amel seketika dia menjadi khawatir.


Rendi memasang wajah masam mendengar Raka mengkhawatirkan istrinya. "Belum, Amel lagi nggak napsu makan Bang."


"Pantesan, mukamu pucet banget. Kau mau makan apa? Biar abang belikan."


"Raka, lebih baik kau urusi saja adikku. Jangan mengkhawatirkan istriku, ada aku yang akan mengurusnya."


Raka melirik sekilas pada Sofi yang terlihat hanya diam sambil menunduk. "Ren, Amel adalah adikku. Wajar saja kalau aku mengkhawatirnya, apalagi dia sedang sakit."


Sebenarnya, Raka ingin menertawakan sikap cemburu Rendi yang berlebihan. Dia mengira kalau Rendi tidak bakal cemburu lagi padanya, ternyata dia salah. Sikap cemburu Rendi sudah mendarah daging. Padahal, Raka sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Amel.


"Kak, tapi Amel mau makan dibeliin makanan sama bang Raka."


Raka tersenyum penuh kemenangan. Rendi langsung menoleh pada Amel dengan perasaan kesal. "Sayang, biar aku yang membelikannya."


"Kakak di sini saja, temani aku. Biarkan Bang Raka yang membeli makanan." Entah kenapa dia seketika ingin makan makanan yang dulu sering dia makan bersama Raka.


"Kau mau makan apa? Aku akan membelikannya," sela Raka cepat. Dia tidak mau berdebat terlalu lama dengan Rendi.


Sambil menunggu Raka dan Sofi membeli makanan kesukaan Amel, Rendi mengajak Amel ke ruang keluarga untuk menonton televisi.

__ADS_1


"Mel, makanlah." Raka membawakan bakso kesukaan Amel yang biasa mereka beli yang berada di dekat rumah Raka. Untung saja, rumah Raka dan apartemen Rendi letaknya tidak jauh.


"Kau lapar sayang?" Rendi terkejut saat melihat mangkok Amelnsudah kosong. Dengan lahap, Amel menghabiskan semua baksonya.


Amel tersenyum lebar pada Rendi. "Enak Kak."


Selesai makan, Amel menyandarkan kepalanya di bahu Rendi. Sementara Raka dan Sofi duduk di hadapan mereka berdua.


Rendi menatap datar pada Raka sebelum berbicara. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"


"Aku ingin menikahi Sofi dalam waktu dekat," ungkap Raka tanpa basa-basi.


"Bang Raka serius?" Amel seketika duduk dengak tegak sambil menatap Raka dengan wajah terkejut.


"Iyaa, abang sudah bilang sama mama dan mama sudah setuju."


"Amel ikut seneng dengernya."


Tentu saja Amel sangat bahagia mendengar Raka ingin menikahi Sofi. Sudah lama Amel tidak melihat Raka menjalin hubungan dengan wanita setelah putus dari Nita hingga dia akhirnya Raka berpacaran dengan Sofi tapi tidak bertahan lama.


"Raka, bagaimana aku bisa mempercayakan adikku padamu setelah kau menyia-nyiakannya?"


"Kak, aku yang menolak ajakan Raka untuk segera menikah waktu itu hingga akhirnya kami putus. Itu bukan salahnya," bela Sofi.


"Sofi, diamlah!"


Sofi mencebikkan bibirnya sambil menatap kesal pada kakaknya.


"Kak, jangan galak-galak," ucap Amel sambil menyandarkan tubuhnya kembali di bahu Rendi.


Rendi tersenyum pada Amel lalu beralih pada Raka. "Raka, bagaimana kalau kali ini aku tidak setuju kau menikahi adikku?"


Sofi berdiri lalu berteriak pada kakaknya dengan wajah marah. "Kaaaak!"


Raka menarik tangan Sofi agar kembali duduk. "Sofi jangan ikut campur!" ujar Raka dengan wajah serius.


Nyali Sofi menciut melihat tatapan dari Raka. "Berikan aku alasan kenapa kau tidak setuju aku menikahi Sofi?"


"Aku tidak yakin kalau kau bisa mencintai adikku dengan tulus, aku rasa kau masih menyukai cinta pertamamu."


Amel menyikut perut suaminya. "Kak, jangan membahas wanita lain di depan Sofi," bisik Amel.


"Ren, jangan mengungkit hal yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Orang yang aku cintai saat ini adalah Sofi, bukan yang lain."


Sofi tersipu malu mendengar penuturan Raka. "Kak, pertimbangkan lagi. Bang Raka itu..."


"Aku tahu sayang. Aku hanya ingin mengujinya." Rendi mengelus kepala Amel dengan lembuy. "Kembalilah ke kamar. Aku akan berbicara dengan Raka dulu."


Amel mengangguk. Setelah berpamitan dengan Raka, Amel kembali ke kamarnya.


"Kak, kenapa kau menatap Raka seperti itu? Dia itu kakak iparmu. Seharusnya kau bersikap baik padanya." Sofi tidak suka dengan tatapan kakaknya pada Raka.


Rendi mencibir. "Sofi, jika dia menikah denganmu, itu artinya aku adalah kakak iparnya yang sah, jadi dia harus menghormatiku lebih dulu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2