Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Bulan Madu Part 1


__ADS_3

Teruntuk Dedek Gemes apalagi Bocil diharap minggir..!! Ini hanya untuk yang sudah dewasa.. Banyak adegan 21+. Diharapkan bijak dalam mencari bacaan. Bagi yang tidak suka boleh di skip.


“Sayaang, bangun dulu. Kau bisa tidur lagi setelah makan.” Rendi masih berusaha untuk membangunkan Amel. Rendi menyesap leher samping Amel. “Kalau kau tidak bangun, aku akan memakanmu saat ini juga.”


Amel pun membuka matanya. “Aku masih ngantuk kak! Aku lelah.”


Sebenarnya dia sudah bangun saat Rendi mencium tengkuknya tadi, tapi dia sengaja mengabaikan Rendi karena rasa kantuk yang menderanya.


“Kau pura-pura tidur, ya?” Rendi membalikkan tubuh Amel sehingga berhadapan dengannya.


“Tidak kak, tadinya aku memang sedang tidur. Tapi aku terbangun karena kakak mencium leherku.” Amel kemudian membenamkan wajahnya di dada Rendi.


“Aku sudah memesan makanan. Mungkin sebentar lagi akan datang. Lebih baik kita makan dulu, sebelum kita membuatkan cucu untuk mama.”


Amel memukul dada Rendi dengan kesal. “Kakak!! dasar mesum!” Amel masih saja merasa malu membahas hal seperti itu.


Rendi tertawa kecil. “Kenapa kau masih saja malu sayang. Kita bahkan sudah melakukannya beberapa kali. Kau terlihat menggemaskan dengan wajah malu-malu, kau semakin membuatku ingin langsung melahapmu saat ini juga.” Rendi berusaha melepaskan pelukannya. Dia ingin melihat wajah merah Amel ketika dia menggodanya.


“Kak, jangan menggodaku terus!” Amel masih menyembunyikan wajahnya di dada Rendi.


“Sayang, tujuan utama kita ke Bali adalah bulan madu jadi kita harus berusaha keras agar bisa segera memberikan cucu untuk mama. Bukankah itu janji kita pada mama karena dulu sempat mengecewakan harapannya untuk segera menimang cucu.”


Rendi mengingat kembali kejadian saat mamanya marah karena Rendi sudah membohongi mamanya dengan mengatakan kalau Amel sedang hamil anaknya.


“Itukan Kakak yang berjanji kepada mama, bukan aku.” Amel merasa kalau Rendi hanya mencari alasan.


“Bukankah kau juga berjanji pada Sofi waktu itu?”


Amel mengangkat kepalanya lalu bertanya pada suaminya. “Dari mana kakak tahu?” Seingat Amel saat itu hanya ada mereka berdua ketika Amel berbicara dengan Sofi.


“Tentu saja dari Sofi.”


Amel langsung mengerucutkan bibirnya. “Cup.” Rendi langsung mengecup bibir Amel.

__ADS_1


“Kak, kenapa kau tidak memakai baju?” Amel baru menyadari kalau Rendi bertelanjang dada. “Aku tidak tahu di mana letak bajuku.”


Amel menepuk jidatnya. “Astaga, maaf Kak aku lupa mengeluarkan pakaian Kakak. Kopernya belum aku bongkar.”


Amel ingin segera bangun tapi ditahan oleh Rendi. “Nanti saja Sayang.” Rendi menarik tubuh Amel lagi agar kembali berbaring di tempat tidur.


“Tapi, nanti kakak bisa masuk angin.”


“Bukankah ada kau yang bisa menghangatkan tubuhku.” Rendi kemudian mempererat pelukannya.


“Kak, jangan bercanda. Aku akan mengambil baju Kakak sebentar.”


Amel hanya takut Rendi akan jatuh sakit kalau terlalu lama tidak mengenakan pakaian, apalagi suhu dalam ruangan saat ini sangat dingin.


“Aku bilang nanti saja, Sayang.”


“Baiklah.”


Amel akhirnya pasrah. Rendi tidak berniat sedikitpun melepaskan pelukannya. Amel kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Rendi.


Amel mendongakkan kepala. Dia terkejut saat Rendi langsung ******* bibirnya. Rendi menerobos masuk ke dalam mulut Amel dan membelit lidahnya. Dia terus mengeksplor seluruh rongga mulut istrinya.


Saat Rendi ******* bibirnya, tubuh Amel langsung merespon. Semejak Rendi menyentuhnya pertama kali, tubuhnya menjadi lebih sensitif. Walaupun hanya mendapatkan sentuhan kecil dari Rendi. Tubuhnya langsung bergejolak. Amel mulai membalas ******* suaminya. Rendi tersenyum di sela-sela ciumannya. Dia mulai menelusuri leher Amel dan meninggalkan tanda merah di beberapa bagian di lehernya.


“Sayang, apakah boleh?” tanya Rendi dengan suara parau sambil menatap Amel dengan penuh hasrat.


“Lakukanlah, Kak.”


Rendi mengecup kening Amel ketika mendapatkan persetujuan dari istrinya. “Terima kasih, Sayang.”


Amel memegang ke dua lengan Rendi ketika Rendi berhasil membenamkan seluruh miliknya. “Apakah masih sakit, Sayang?” Rendi menghentikan gerakannya saat merasakan cengkaraman kuat pada lengannya.


“Sedikit.” Wajah Amel tampak bersemu merah.

__ADS_1


“Maafkan aku, Sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan.” Rendi mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan.


Amel tampak memandang wajah Rendi yang sudah dibasahi oleh keringat. Amel meraih wajah suaminya dan mengelusnya dengan lembut. Rendi menghentikan gerakannya dan menatap lekat mata istrinya sejenak lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


Cukup lama Rendi memacu tubuh istrinya hingga terdengar lenguhan dari Rendi ketika dia berhasil mengeluarkan jutaan benihnya ke dalam tubuh istrinya. Setelah itu, dia menjatuhkan tubuhnya di samping Amel kemudian menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


“Sayang apa kau masih mengantuk?”


Amel menggeleng. “Tidak Kak.” Kemudian Amel memeluk erat Rendi.


“Sayang, apa kau masih mau lagi? Aku tidak keberatakan untuk melakukannya kembali,” ucap Rendi dengan senyuman jahilnya. Rendi hanya heran ketika Amel tiba-tiba memeluk erat dirinya.


“Tidak Kak. Aku hanya merasa nyaman berada dipelukanmu.” Amel mencium aroma tubuh suaminya sambil memejamkan matanya.


“Kau harus bertanggung jawab. Kau membuatnya bangun lagi.” Rendi kembali berada di atas Amel, bersiap untuk melesak masuk ke tubuh istrinya.


“Kak, apa kau tidak lelah?” Amel merasa heran dengan Rendi. Dia bisa melakukannya sampai beberapa kali jika tidak dihentikan olehnya.


“Tidak, Sayang.”


Mereka kembali mengulangnya lagi. Rendi kembali menumpahkan semua benihnya ke dalam rahim istrinya untuk kedua kalinya. “Cepat tumbuh ya sayang.” Rendi mengelus perut rata istrinya lalu menciumnya dengan penuh kelembutan.


Cepatlah hadir sayang.. agar mama tidak punya alasan lagi untuk meninggalkan papa, batin Rendi.


Rendi tersenyum lalu beralih mengecup bibir Amel. Setelah itu dia menjauhkan tubuhnya dari istrinya. Dia memungut selimut yang dia lempar tadi, lalu menyelimuti istrinya yang tampak kelelahan.


“Istirahatlah sebentar sayang. Aku akan menyiapkan air hangat untuk kita mandi.”


Rendi meraih handuk dan melilitkan ke bagian pinggangnya setelah itu berjalan menuju kamar mandi dan kembali keluar setelah mengisi bathup dengan air hangat. Dia lalu menghubungi pihak resort untuk mengantarkan pesananya. Dia tahu kalau tadi staf resort sudah mengantarkan makanan ke vila mereka, ketika Rendi mendengar suara samar-samar suara bel berbunyi dari ruang tamu.


Lima belas menit kemudian datanglah orang yang mengantarkan makanan. Rendi mempersilahkan masuk dan memintanya menata di atas meja di ruang keluarga. Setelah selesai Rendi memberikan 20 lembar uang berwarna merah sebagai tips karena sudah membuat orang tersebut harus kembali 2 kali untuk mengantarkan makanan ke vilanya.


Dia merasa bersalah karena sudah merepotkannya. Setelah kepergian staf resort tersebut, Rendi berjalan menuju tempat tidur lalu mengangkat tubuh istrinya yang tampak sudah terlelap. Rendi membersihkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Dai takut membangunkan istrinya. Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan istrinya, Rendi mengangkat kembali tubuh Amel yang sudah dia keringkan dengan handuk ke tempat tidur lalu menyelimutinya.

__ADS_1


Setelah itu Rendi berjalan keluar dari kamar hanya memakai bathrobe. Dia ingin mengisi perutnya terlebih dahulu. Setelah selesai makan, dia kembali lagi masuk ke dalam kamar. Dia berbaring di samping tubuh istrinya. Dia tidak tega untuk membangunkan Amel untuk menyuruhnya makan malam. Rendi memutuskan untuk mengambil ponselnya. Dia ingin menunggu sampai Amel terbangun dari tidurnya. Rendi memeriksa email masuk yang berkaitan dengan urusan perusahaannya.


Bersambung..


__ADS_2