Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Menahan diri


__ADS_3

Tatapan Rendi beralih menatap bibir merah Amel yang sangat menggoda, sedikit saja dia bergerak maju, maka bibir mereka akan langsung bersentuhan. Memikirkannya saja membuat Rendi frustasi.


Setelah selesai membersihkan luka di wajah Rendi, Amel mengalihkan pandangannya dan seketika matanya bertemu dengan mata Rendi. Mereka saling tatap, hanya ada sedikit jarak di antara wajah mereka. Pikirannya Amel seketika kosong.


Melihat Amel yang tidak bergerak menjauhi wajahnya, Rendi bertanya, "Apa kamu berniat menciumku lagi?" Rendi mengangkat sebelah alisnya sambik tersenyum.


Amel baru tersadar ketika mendengar suara Rendi dan angsung menjauhkan tubuhnya dari Rendi.


"Maaf Kak " Amel memandang ke bawah dan mulai bergerak untuk berdiri, tapi tangannya ditahan oleh Rendi. Dia menarik tangan Amel agar dia duduk lagi, kemudian mengunci tubuh Amel, seperti sedang memeluknya.


"Kamu mau kemana? Kamu belum jawab pertanyaan aku?" Rendi sedikit menunduk memandang wajah Amel yang terlihat salah tingkah.


Amel tidak berani menatap mata Rendi saat ini jarak antara mereka sangat dekat, jika dia banyak bergerak, badan mereka akan bersentuhan, apalagi Rendi saat ini belum memakai baju.


"Amel mau mengambil baju untuk Kakak di lemari." Wajah memerah karena malu.


Rendi mengangkat wajah Amel yang sedang menunduk dengan memegang dagu dan mereka pun bertatapan.


"Kalau bicara denganku, kamu harus menatap mataku Mel." Rendi menjauhkan tanganbya dari dagu Amwl.


"Amel nggak biasa menatap orang lain sedekat ini, Kak". Amel terlihat gugup tanpa dia sadari dia menggigit bibir bawahnya dan malah terlihat lebih seksi.


Rendi yang melihat Amel menggigit bibir bawahnya, sedikit terpancing "Kamu lagi menggoda aku?" Rendi mencoba menetralisir pikirannya.


"Maksud Kakak?" tanya Amel bingung.


Rendi mengalihkan pandangannya ke samping. "Jangan pernah kamu gigit bibir bawah kamu seperti itu lagi di depanku, apalagi depan laki-laki lain " Rendi berusaha sebisa mungkin meredam api yang ada di dalam tubuhnya yang mulai berkobar.


Amel masih menatap heran kepada Rendi karena tidak mengerti maksud dari kata-katanya. "Kenapa?"


"Itu sama aja kamu meminta aku untuk mencium kamu." Rendi kembali menatap Amel, "Atau memang kamu ingin aku cium?" Rendi mendekatkan wajahnya dengan Amel. Hidung mereka sedikit lagi bersentuhan, terasa hembusan napas menerpa wajah mereka dan Rendi menatap mata Amel lekat-lekat.


Jantung Amel berdegup kencang, wajahnya semakin merah. Dia tidak berkutik dibuat Rendi. Amel hanya diam tanpa membalas ucapan Rendi ataupun bergerak.

__ADS_1


Tahan Ren..jangan sampai kau menciumnya, atau dia akan marah denganmu. Kamu jangan terpancing, kendalikan dirimu.


Melihat Amel diam saja, Rendi langsung menjauhkan wajahnya. Dia kemudian mencium kening Amel dan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Amel. Setelah itu, dia berjalan menuju lemari pakaian meninggalkan Amel yang masih terdiam.


Amel yang mendapat perlakuan seperti itu dari Rendi, membuatnya diam membisu seperti sedang mencerna apa yang baru saja terjadi kepadanya.


Apa ini..? kenapa dia mencium keningku? aku kira dia akan mencium bibirku tadi.


Amel menunduk sambil memukul-mukul kepalanya dengan tangan dan merutuki pikiran bodohnya.


Apa kau sudah tidak waras? Apa yang kamu pikirkan Mel? Kenapa kamu malah mengharapkan Rendi menciummu? Tidak tahu malu, memangnya kau siapa?


Setelah memakai bajunya, Rendi berjalan menuju tempat tidur lagi dan melihat Amel sedang memukul-mukul kepalanya. Rendi pun berjalan lebih cepat dan berdiri di depannya, kemudian menangkap tangan Amel "Jangan seperti itu, kau bisa pusing nanti." Rendi menunduk menatap Amel.


Aku seperti ini karna kamu, Kak.


Amel menatap Rendi sambil menampilkan senyum bodohnya. "Amel nggak sengaja, Kak."


Amel tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih. Dia sudah bingung mencari alasan apalagi untuk menjelaskan pada Rendi. Hanya itu yang terlintas di pikirannya saat ini.


Rendi melepaskan tangan Amel dengan pelan. "Cuci tanganmu, kau habis menyentuh lukaku tadi," perintah Rendi.


Amel berjalan cepat ke kamar mandi sambil membawa baskom yang berisikan air hangat dan handuk kecil putih di dalamnya, kemudian Amel menutup kamar mandi.


Aku benar-benar bisa gila kalau terus berdekatan dengannya. Memikirikan yang tadi saja sudah membuatku stress.


Setelah mencuci tangannya, Amel keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju sofa untuk duduk. Dia tidak mau berdekatan dengan Rendi dulu karena takut kehilangan akal seperti tadi.


Rendi duduk di tepi tempat tidur sambil menerima telpon dari seseorang. Setelah menutup telpon, Rendi berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Amel.


"Kenapa Kakak duduk di sini?" tanya Amel dengan wajah heran.


Rendi menyenderkan tubuhnya di sofa lalu menoleh ke Amel. "Emang kenapa?" Rendi menatap Amel dengan heran.

__ADS_1


Amel membalikkan badannya menghadap Rendi. "Kakak harusnya istirahat di tempat tidur. Di sini nggak nyaman." Amel berdiri lalu menarik pelan tangan Rendi supaya dia berdiri.


Rendi pun menurut dan dia mengikuti kemana Amel membawanya.


Amel berhenti di dekat tempat tidur kemudian meminta Rendi naek ke tempat tidur. Sejujurnya Rendi merasa sekujur tubuhnya sakit, tapi dia menahannya. Dia mulai merasa seperti badannya panas


Setelah Rendi naik ke tempat tidur, Amel berbalik, tapi tangannya dipegang oleh Rendi.


"Temani aku di sini." Rendi menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya.


Astaga cobaan apalagi ini..? Kenapa meminta seperti itu? Apa dia tidak takut? Aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri, aku takut aku yang khilaf nantinya.


Sebenarnya dia senang berada di dekat Rendi terus, tapi jika dia bersebelahan dengannya di tempat tidur, dia akan merasa canggung.


Melihat Amel yang memikirkan sesuatu, Rendi kembali membuka suaranya, "Temani aku ngobrol, aku bosan."


Amel mengangguk tanda menyetujui. Dia berjalan ke sisi lain, naek ke tempat tidur, duduk memangku bantal lalu bersandar. Sama seperti yang dilakukan oleh Rendi. Duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Kakak rebahan aja. Kakak harus istirahat. Jangan terlalu banyak bergerak."


"Iyaaa." Rendi menurut lalu merebahkan tubuhnya.


Amel sedikit mendekat kepada Rendi kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Melihat perlakuan Amel, Rendi tersneyum tipis karena merasa sangat bahagia dengan perhatian Amel padanya.


Ada untungnya juga Raka memukulku. Amel lebih perhatian kepadaku dan aku bisa lebih dekat dengannya.


Suasana hening, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing.


Lama terdiam, Rendi mengubah posisi tidurnya jadi menyamping menghadap Amel. "Mel, kalau ada yang suka sama kamu dan menyatakan perasaannya ke kamu, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Rendi spontan.


Amel memutar kepalanya menatap Rendi. "Kenapa Kakak nanya gitu?"

__ADS_1


Apa dia juga menyukaiku? Dasar bodoh! Aku berpikiran apa sih? Sadar Amel..sadar, kau itu cuma kentang, jangan bermimpi terlalu tinggi.


Bersambung...


__ADS_2