
"Ren, tunggu!" teriak Kenan dari kejauhan saat melihat Rendi semakin jauh. Rendi tidak menggubris pertanyaan Kenan.
Dia terus saja melangkah sambil menarik tangan Amel. “Duduklah,” ucap Rendi setelah mereka sudah berada di dalam ruangan Kenan. Rendi sudah duduk terlebih dahulu di sofa.
Amel mengangguk dan langsung duduk di depan Rendi. “Kenapa kau meninggalkan aku?” tanya Kenan kesal saat melihat Rendi dan Amel sudah berada di dalam ruangannya.
Rendi tidak menggubris ucapan Kenan. Dia hanya melirik Kenan sekilas, setelah dia duduk di sampingnya. “Lebih baik kau bekerja sana, jangan menggangguku!” usir Rendi.
“Heeyy, ini adalah ruanganku, yang mengganggu itu kau, bukan aku!” ucap Kenan kesal.
Amel hanya bisa menghela napas sambil menatap mereka secara gantian. “Aku tidak peduli,” ucap Rendi acuh tak acuh.
Kenan berdiri lalu menatap Rendi sebentar. “Aku akan keluar sebentar, kau jangan pulang dulu sebelum aku kembali,” ucap Kenan sambil berjalan ke arah pintu keluar saat melihat anggukan dari Rendi.
Rendi menayandarkan tubuhnya pada sofa. “Kenapa kau terus menatapku saat rapat? Kau sudah membuatku tidak bisa fokus saat rapat tadi,” ucap Rendi sambil menatap Amel.
“Ak-aku hanya memperhatikanmu saat kau berbicara,” ucap Amel pelan.
“Jangan pernah menatapku seperti itu lagi saat sedang rapat. Aku hampir saja melakukan kesalahan saat rapat berlangsung," ungkap Rendi "Apa kau tidak tahu? Aku berusaha keras untuk tetap fokus, tapi kau malah membuyarkan isi di kepalaku.”
Kehadiran Amel saat rapat tadi membuat Rendi tidak bisa berkonsentrasi. Dia tiba-tiba merasa sedikit gugup saat melihat Amel sedang menatap ke arahnya. Pikirannya seketika buyar.
“Maaf kak,” ucap Amel pelan. Amel berpikir kalau Rendi tidak suka kalau dia menatapnya.
Rendi menatap Amel dengan wajah serius. “Apa selama ini kau menatap Kenan seperti itu juga saat dia yang memimpin rapatnya?”
“Tidak kak, aku baru satu kali ikut rapat bersama Kenan,” jelas Amel cepat.
Rendi merapikan jasnya, lalu menatap Amel dengan wajah serius. “Jangan terlalu dekat dengan Kenan, dia adalah sepupuku. Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya. Kau bisa merusak bersaudaraan kamu nanti.”
“Kami hanya berteman Kak.”
“Aku hanya tidak mau kalau dia menyukaimu nanti.”
Amel tersenyum. “Itu tidak mungkin Kak, Mana mungkin dia menyukai orang sepertiku. Di luar sana masih banyak wanita yang lebih cantik. Dia tidak buta Kak, Kenan bisa membedakan mana yang cantik dan tidak,” jelas Amel pelan.
“Aku juga tidak buta Mel,” ucap Rendi tidak suka. Amel menahan senyumannya saat mendengar perkataan Rendi.
“Aku juga tahu Kak. Aku tidak mengatakan kalau Kakak buta.”
“Kau pernah menjadi pacarku, secara tidak langsung kau mengatakan aku buta karena pernah menyukaimu.”
“Bukan seperti itu kak maksudku, kau salah paham.”
“Keluarlah, kerjakan pekerjaanmu,” perintah Rendi sambil berjalan menuju meja kerjanya yang berada di dekat meja kerja Kenan.
Amel menghela napas. “Baik Kak” Amel berjalan keluar ruangan Kenan, saat melihat Rendi berdiri di depan dinding kaca sambil melihat pemandangan luar.
“Kau kenapa?” tanya Kenan saat melihat Rendi tampak hanya diam sambil berdiri dan memasukkan tangannya ke saku celana.
Kenan tadi sengaja keluar dari ruangannya untuk memberikan ruang untuk Rendi dan Amel berbicara. Dia menunggu di ruangan Fadil. Saat melihat Amel keluar dari ruangannya, Kenan langsung berjalan masuk ke dalam ruangannya.
“Apa kau sudah mendapatkan data Devan?” tanya Rendi tanpa menoleh pada Kenan yang sudah berdiri di sampingnya sambil meneguk minuman bersoda.
Kenan menoleh. “Aku sudah meminta seseorang mengirimkan semua datanya padamu, kau tunggu saja.”
“Bagaimana dengan masalaluku dengan Amel?” tanya Rendi lagi.
“Aku mengetahui sebagian besar tentang kalian karena kau pernah menceritakan padaku sebelum kau di operasi, tapi jika kau ingin mengetahui keseluruhannya. Kau bisa bertanya dengan Bela atau Raka. Mereka mengetahui semuanya.”
Rendi langsung menoleh pada Kenan dengan alis bertautan. “Bela? Raka? Siapa mereka?”
“Bela adalah wanita yang bersama dengan Amel di depan. Dia adalah sahabat yang paling dekat dengan Amel. Kalau Raka adalah kakak Amel, bukan kakak kandung, hanya saja Amel sudah menganggapnya seperti kakaknya sendiri, tetapi Amel tidak mengetahui kalau Raka menyukainya.”
Rendi memutar sedikit tubuhnya. “Apa kau mempunyai foto Raka?”
“Kau bisa melihat di website perusahaanya. Dia adalah CEO sekaligus pemilik perusahaan KL Group. Di sana ada foto terbarunya saat dia resmi mengambil alih perusahaan milik keluarganya.”
__ADS_1
Rendi langsung mengambil ponsel di sakunya. Dia terlihat mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Rendi terdiam setelah melihat foto Raka saat dia resmi menjabat CEO di perusahaan ayahnya. Terlihat foto Raka sendiri yang sedang berdiri sambil tersenyum ke arah kamera.
Rendi menscroll layar ponselnya ke bawah lagi, tangannya berhenti saat melihat foto Raka yang sedang berdiri dengan Amel di samping kirinya dan orang tua Raka di samping kanannya. Terlihat Raka sedang tersenyum sambil menatap Amel yang ada di sampingnya.
Rendi menatap foto itu cukup lama, kemudian dia memasukkan ponselnya lagi ke saku jasnya.
“Kenapa? Apa mendadak kepercayaan dirimu hilang setelah melihat ketampanannya?” tanya Kenan setelah melihat Rendi tampak menghela napas setelah melihat foto Raka.
Rendi menatap lurus ke depan, tatapan matanya dalam. “Apa Amel pernah menyukainya?” tanya Rendi tanpa menoleh pada Kenan. Dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kenan.
Kenan berjalan menuju mejanya dan meletakkan kaleng minuman sodanya yang telah dia habiskan. “Tidak, mereka hanya sempat digosipkan berpacaran sebelum Amel menjadi pacarmu. Selain Devan, dia juga merupakan saingan terberatmu dulu," ungkap Kenan.
"Kau bahkan pernah berkelahi dengannya sampai babak belur dan memicu perdarahan di otakmu karena dia beberapa kali memukul daerah kepalamu dengan keras,” jelas Kenan sambil duduk di meja kerjanya dan memutar tempat duduknya menghadap Rendi.
“Apa laki-laki itu masih menyukai Amel?”
Rendi merasa tidak tenang saat mendengar cerita Kenan. Rendi merasa suasana hatinya memburuk, perasaannya campur aduk saat ini. Ada perasaan takut, cemas dan cemburu di dalam hatinya. “Tentu saja. Dia bahkan tinggal dengan Raka setelah kepergianmu ke Amerika.”
Rendi langsung menoleh pada Kenan .”Apa..?? Brengsek!” umpat Rendi sambil mengepalkan tangannya.
Kenan langsung berjalan menuju Rendi. Dia memegang bahu Rendi berusaha menenangkan Rendi yang terlihat mulai emosi.
“Mereka tidak tinggal berdua. Dia tinggal di rumah Raka bersama orang tuanya. Mereka yang meminta Amel untuk pindah ke sana karena Amel sangat terpukul dan terus saja mengurung diri setelah kepergianmu. Mereka tidak ingin terjadi apa-apa kepada Amel.”
Kenan langsung menjelaskan sebelum Rendi salah paham lagi. Dia takut Rendi akan berkelahi lagi dengan Raka nantinya.
Rendi tampak menunduk sebentar lalu menatap ke depan lagi. “Sebenarnya berapa banyak pria yang menyukai Amel?”
Kenan mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, yang pasti Raka adalah saingan terberatmu setelah Devan, bahkan Amel pernah berjanji menikah dengan Devan.”
Tangan Rendi mengepal lagi. “Apa mereka sudah ada rencana untuk menikah?” tanya Rendi dengan wajah tanpa ekpresi.
“Kalau itu aku tidak tahu. Kau harus menanyakan padanya, tapi lebih baik kamu tidak usah ikut campur dengan masalah mereka Lebih baik jauhi Amel. Biarkan Amel hidup bahagia.”
Rendi menatap tajam Raka. “Aku tidak akan melepaskan dia.”
*******
Kenan dan Rendi mengangguk sambil berjalan menuju ruangan Kenan. Saat Kenan memegang handle pintu, dia terhenti sejenak. "Mel, apa kau sudah membuat perjanjian kerja sama dengan perusahaan Jaya Utama?"
"Sudah Pak," jawab Amel sambil mengangguk.
"Baiklah, bawakan ke ruanganku."
"Baik Pak." Kenan dan Rendi lalu berjalan masuk ke dalam.
"Mel, gimana hubungan lo sama kak Rendi?" tanya Bela ketika pintu ruangan Kenan sufah tertutup.
Amel duduk kembali di mejanya dan menjari berkas yang diminta oleh Kenan. "Nggak gimana-gimana, Bel. Yaa gini aja. Gue lagi cari tahu apa hubungan kami bisa diterusin atau nggak."
Masih ada Friska diantara mereka berdua. Selama terpisah 5 tahun hanya Friska yang ada di samping Rendi. Mungkin saja perasaan Rendi sudah berubah. Amel tidak memaksakan perasaannya pada Rendi kalau seandainya Rendi tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Bela memegang bahu Amel untuk menguatkan sahabatnya. "Mel, saran gue, lo jangan pernah nyerah. Perjuangin cinta lo sama Kak Rendi. Lo uda sejauh ini, nunggu dia sampai bertahun-tahun, kalau lo nyersh gitu aja, lo yang rugi. Setidaknya lo udasa dulu."
Amel termenung beberapa saat. "Gue juga bingung, Bel. Dia uda tunangan sama Friska. Gue nggak mau ngerusak hubungan mereka dan jadi orang ketiga," ucap Amel dengan wajah muram.
"Emangnya lo bisa ngelepasin Rendi untuk orang lain?"
"Gue juga nggak harus gimana Bel. Untuk saat ini, gue cuma bisa kesempatan yang ada untuk ngeliat dia dari deket."
Mereka sama-sama terdiam. "Ya udah, masuk sana. Pasti uda di tungguin pak Kenan."
Amel mengangguk kemudian berjalan menuju ruangan Kenan. Saat pintu terbuka, Amel melihat Kenan dan Rendi sedang duduk di sofa sambil mengobrol. "Permisi Pak Kenan. Ini berkas perjanjiannya." Amel maju selangkah ke arah Kenan.
Kenan mengulurkan tangannya meraih kertas yang ada di tangannya. "Makasih Mel."
"Baik Pak, Kalau begitu saya permisi dulu."
__ADS_1
Kenan mengangguk. "Tunggu." Rendi menghentikan gerakan kaki Amel yang akan melangkah pergi.
Amel kembali berbalik. "Kenapa cuma Kenan yang kau sapa? Kau pura-pura tidak melihatku?" Rendi merasa tidak suka diabaikan oleh Amel. Semenjak dia masuk ke dalam ruangan Kenan. Amel seolah tidak menghiraukan dia dan tidak menganggap ada keberadaannya.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud seperti itu," jawab Amel sopan.
"Pak??" Rendi meninggikan suara ketika mendengar panggilan Amel berubah padanya. Dia berdiri dan berjalan ke arah Amel. "Kamu sengaja buat aku marah ya?"
Kenan menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sepupunya. "Apa ada yang salah dengan panggilan saya?" Amel terlihat menatap bingung pada Rendi yang sudah berdiri di depannya.
"Jangan pernah memanggil aku seperti itu. Aku tidak suka!"
Karena tidak tahan dengan sikap sepupunya, Kenan akhirnya membuka suaranya. "Ren, kau adalah pemilik perusahaan ini. Wajar saja kalau Amel memanggilmu seperti itu. Tidak sopan baginya kalau langsung memanggil namamu."
Rendi melirik sekilas pada Kenan, kemudian beralih menatap Amel dari dekat. "Medkipun aku pemiliknya, tapi aku tidak bekerja di sini jadi kau tidak perlu memanggilku dengan kata itu. Apa kamu mengerti?"
"Lalu saya harus memanggil dengan apa?" tanya Amel hati-hati.
"Panggil aku seperti biasa kau memanggilku."
Amel menunduk menghindari tatapan Rendi. "Baik Pak. Maksud saya Kak," ralat Amel cepat.
"Mel, lebih baik kau kembali ke mejamu, sebelum dia meminta hal aneh padamu," sela Kenan.
Amel mengangguk dan segera keluar dari ruangan Kenan. "Kau itu kenapa? Jangan mengganggunya. Dia bisa merasa tidak nyaman nanti," ucap Kenan setelah Amel pergi.
Kenan berbalik dan duduk dengan santai di tempat duduknya dengan semula. "Jangan ikut campur urusanku dengannnya," ucap Rendi sambil melirik malas pada Kenan.
"Terserah kau saja. Aku mau bekerja." Kenan berjalan meja kerjanya.
"Kapan meja kerjaku datang? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan datang ke sini setiap hari untuk mengawasimu dan mengecek kondisi perusahaan ini."
Kenan yang baru saja duduk di kursinya, menatap kesal pada Rendi. "Ren, aku tahu apa yang ada di otakmu. Kau sengaja, kan datang ke sini setiap hari untuk mengawasi Amel?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," jawab Rendi malas.
Kenan menghela napas. "Hubungan kalian sudah lama berakhir. Jangan mengganggunya lagi. Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya saat ini."
Rendi menoleh pada Kenan. "Justru dia yang sudah mengganggu hidupku. Semenjak aku bertemu dengannya. Bayangannya selalu muncul di benak. Wajahnya tidak pernah bisa aku hilangkan dari pikirannku. Dialah yang sudah memggaggu ketenangan hidupku."
Wajah Rendi tampak sedikit tertekan dan putus asa. Menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya. "Sebenarnya hubungan seperti apa yang dulu aku jalani dengannya sampai membuatku tidak bisa tidur karena terus memikirkannya."
Kenan menatap Rendi dalam diam. Dia mengerutkan keninga sesaat lalu berkata, "Mungkin kau hanya penasaran dengannya hingga kau selalu memikirkannya. Lebih baik jaga jarak dengannya. Hubungan kalian sudah berarkhir 5 tahun lalu. Ingat, sebentar lagi kau akan menikah dengan Kila."
Rendi tidak menjawab, dia masih memejamkan matanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, yang pasti wajahnya terlihat sedang berpikir keras.
Saat jam makan siang, Rendi meminta Kenan untuk memanggil Amel. "Permisi Pak." Amel berjalan masuk ke dalam ruangan Kenan setelah mengetuk pintu.
"Bapak memaggil saya?" Amel berjalan menuju meja kerja Kenan.
Sebelum Kenan menjawab, Rendi lebih dulu menyela. "Aku yang memanggilmu."
Amel menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Rengi. "Kemari." Rendi menggerakkan jemari ke arahnya.
Amel menolej sejenak pada Kenan, saat melihat Kenan mengangguk, Amel baru berjalan ke arah Rendi. "Kenapa Kak?" Amel di dekat Rendi.
"Apa kau sudah makan?"
"Belum."
Rendi bangun dari duduknya lalu menarik tangan Amel. "Temani aku makan."
"Ren, bagaimana denganku? Kau tidak mengajakku juga?" teriak Kenan saat melihat Rendi sudah mencapai pintu.
Rendi mengehentikan langkahnya lalu menoleh pada Kenan. "Kau makan sendiri. Aku tidak mau diganggu olehmu."
"Tega sekali kau padaku. Awas saja kau. Aku tidak akan mau mbantumu lagi. Jangan mencariku kalau kau memiliki masalah," teriak Kenan dengan suara keras, tapi sayangnya pintu sudah tertutup.
__ADS_1
Kenan tidak hentinya mengumpat Rendi yang sudah meninggalkannya sendiri. Di lain tempat, Rendi sudah melakukan mobilnya menuju restoran dekat kantornya.
Bersambung...