
Keesokan harinya Rendi mendapatkan info tentang keberadaan Devan. Dia langsung mengajak Kenan untuk pergi bersamanya. “Suruh beberapa pengawal untuk mengikuti kita,” ucap Rendi setelah berada di dalam mobil bersama Kenan. Mereka pergi dengan seorang pengawal yang sudah disewa oleh Rendi beberapa hari yang lalu.
Kenan menoleh pada Rendi yang terlihat gusar. Dia tidak sabar untuk segera sampai di tempat persembunyian Devan. “Aku peringatkan padamu, Ren. Kau tidak boleh membunuhnya. Amel akan membencimu seumur hidup kalau sampai kau melenyapkan Devan. Devan adalah orang yang paling dia sayang selain dirimu.”
“Aku tidak bisa berjanji untuk itu.”
“Aku akan memberitahukan semuanya pada orang tuamu kalau sampai kau berbuat nekat Ren,” ancam Kenan saat melihat Rendi mengacuhkannya.
“Kau mengancamku? Apa kau sekarang berpihak pada bajingan itu?” tanya Rendi dengan emosi.
“Aku melakukan ini untukmu. Kau tidak akan mendapatlan apa jika kau melakukan itu.”
Rendi tampak diam saja. Setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya tiba di sebuah Villa besar yang berada di pinggiran kota Bandung. Villa itu tampak tertutup dari luar. Gerbangnya menjulang tinggi sehingga sulit untuk melihat keadaan di dalam.
Rendi meminta beberapa pengawal untuk merusak gerbang tersebut supaya terbuka. Tanpa diduga, gerbang itu terbuka sendiri. Rendi langsung masuk ke dalam mobil dan mendekati pintu depan villa tersebut. Rendi dan Kenan langsung turun dan berjalan menuju pintu.
Terlihat dua orang sedang berjaga di depan pintu Villa itu. Langkah Rendi dan Kenan terhenti saat mereka dihadang di depan pintu. “Minggir! Kalau mau masih ingin hidup, biarkan aku lewat,” ucap Rendi dengan suara berat. Dia berusaha untuk menahan kemarahannya.
Dua orang itu tidak bergeming, mereka tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman Rendi. Terlihat pintu terbuka dari dalam. “Biarkan dia masuk,” ucap seseorang yang berbadan kekar dan kepala plontos yang baru saja keluar dari dalam Villa itu.
Saat Kenan dan beberapa pengawalnya melangkah, orang terebut menghentikan mereka. “Hanya yang bernama Rendi yang diijinkan masuk,” ucap orang tersebut sambil menatap mereka satu-satu.
Kenan menahan Rendi saat dia akan melangkah masuk. “Kau harus ingat kata-kataku Ren. Kami akan menunggumu di sini.”
Rendi mengangguk. “Sampaikan pada bosmu, jika Rendi tidak keluar dalam waktu 20 menit, kami akan menerobos masuk. Kalian tidak akan bisa menahan kami lagi. Pengawalku sedang menuju ke sini dalam jumlah besar,” ancam Kenan saat melihat Rendi sudah mulai melewati pintu masuk villa diikuti oleh pria botak yang berbadan kekar tersebut.
Laki-laki yang berjaga di pintu terlihat sedikit terkejut saat mendengar ancam dari Kenan, tetapi mereka tampak hanya diam. Tidak menanggapi Kenan sama sekali.
Rendi berjalan masuk dan berhenti di ruang tamu. Dia melihat Devan sedang duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat. “Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu dari tadi,” ucap Devan sambil menyesap teh dengan wajah tenang.
Devan memang tahu kalau Rendi sudah menemukan villanya saat melihat dari CCTV. Dia sengaja memasang CCTV di setiap sudut villa miliknya. Dia juga yang membuka pintu gerbang saat Rendi tiba di depan villanya. Gerbang itu bisa dibuka dengan menggunakan remot dari jarak jauh.
“Dasar bajingan!” umpat Rendi saat melihat Devan tampak menampilkan senyuman liciknya. Rendi berjalan cepat ingin menghajar Devan tetapi ditahan oleh lelaki botak tadi.
“Lepasakn aku!” teriak Rendi sambil menghajar pria itu.
Pria itu terdorong beberapa langkah saat terkena pukulan Rendi. Rendi maju dan langsung menghajar Devan. Devan terjatuh dan secepat kilat, dia meraih kerah baju Devan.
“Di mana kau sembuyikan Amel?” tanya Rendi dengan emosi yang sudah memuncak.
__ADS_1
“Kenapa kau menanyakan istriku? Dia sedang mandi di kamarku setelah menyiapkan makanan untukku di dapur tadi,” ucap Devan dengan senyum jahatnya.
Tanpa pikir panjang Rendi menghajar Devan secara membabi buta. Devan tidak tinggal diam. Dia membalas menghajar Rendi. Mereka terlibat perkelahian sengit. “Kak, Berhenti!” teriak Amel saat melihat Rendi akan memukul Devan. Amel menghampiri mereka berdua.
"Mel." Rendi langsung menoleh pada Amel saat mendengar suaranya. “Lepaskan dia, Kak! Kau bisa membunuhnya,” ucap Amel saat melihat Rendi belum juga melepaskan Devan.
Wajah Devan sudah babar belur. Pengawal Devan tampak tidak mau memisahkan mereka dan hanya melihat mereka saling pukul karena Devan memang melarangnya untuk ikut campur.
“Aku memang berencana membunuhnya!” ucap Rendi dengan tatapan menyala.
Amel mendorong badan Rendi agar menjauh dari Devan. Dia berdiri di depan Devan untuk mengahalau Rendi supaya tidak memukul Devan lagi.
Rendi menarik tangan Amel. “Ikut aku pulang!” ucap Rendi dengan nada marah.
Amel menghempaskan tangan Rendi. “Aku tidak mau pergi denganmu. Kau sudah melukai Kak Evans. Lebih baik kau yang pergi dari sini. Bukankah Friska sedang membutuhkanmu. Jangan sampai dia bunuh diri lagi,” ucap Amel dengan dingin.
Rendi menatap marah pada Amel. “Aku akan benar-benar akan membunuhnya Mel kalau kau tidak ikut denganku. Aku sudah meminta banyak pengawal untuk datang ke sini. Mungkin saat ini mereka sudah mengepung tempat ini. Dia tidak akan bisa keluar dari sini tanpa ijinku,” ancam Rendi dengan tatapan berkilat.
Amel menatatap nanar pada Rendi. “Kalau begitu kau bisa membunuhku juga. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap di sini bersamanya,” ucap Amel dengan tatapan marah.
“Kau membelanya Mel? Dia sudah merusakmu dan kau masih membelanya??” tanya Rendi saat melihat Amel memegang lengan Devan untuk membantunya berdiri tegak. Amel membawa Devan untuk duduk di sofa single dan tidak menghiraukan Rendi sama sekali.
Rendi diam mematung dan masih belum percaya kalau Amel mengacuhkannya dan lebih mengkhwatirkan Devan dari pada dirinya, padahal dirinya juga terluka seperti Devan.
Mereka sontak menoleh ke arah pintu saat Kenan dan beberapa pengawal terlihat sudah menorobos masuk ke dalam. Rendi menoleh pada pengawal yang berada di belakang Kenan. “Bawa wanita itu keluar!” perintah Rendi. Dia menyuruh mereka untuk membawa Amel pergi.
Amel tampak panik saat mereka berjalan ke arahnya. “Aku tidak mau, Kak. Aku tidak akan meninggalkan Kak Evans di sini,” ucap Amel sambil memeluk Devan.
Rendi menatap marah pada Amel saat melihatnya tidak mau dipisahkan dengan Devan. “Menjauh darinya, Mel. Jangan menguji kesabaranku,” ucap Rendi dengan suara berat. Emosinya kembali naik saat melihat Amel terlihat memeluk erat Devan.
“Pergilah. Aku bisa mengatasi mereka,” ucap Devan sambil menghapus air mata Amel. “Aku akan menemuimu besok,” lanjut Devan lagi saat melihat Amel menggelengkan kepalanya.
Devan melepaskan pelukannya. “Aku akan baik-baik saja, percaya padaku.” Devan berusaha untuk meyakinkan Amel. “Kau ingatkan yang aku katakan padamu? Tunggu aku,” ucap Devan lagi sambil memeluk Amel untuk terakhir kalinya. “Aku sangat mencintaimu, Mel."
Rendi kembali menghajar Devan saat melihat Devan mengecup kening Amel setelah melepaskan pelukannya. “Berani sekali kau mencium keningnya di depanku!”
“Kak, tolong berhenti. Jangan memukulnya lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku akan membencimu seumur hidupku,” ancam Amel saat melihat Rendi tidak juga melepaskan Devan.
“Apa sudah cukup kau memukulku?” tanya Devan dengan senyum mengejek.
__ADS_1
“Kau masih bisa tersenyum?” tanya Rendi dengan heran.
Devan mendorong Rendi. Eekarang gilirannya yang memukul Rendi tanpa ampun. “Ini adalah balasan karena kau berani menyakiti Amel,” ucap Devan setelah melihat Rendi tersungkur di lantai.
“Kak jangan memukul dia lagi, Kak,” ucap Amel pada Devan. "Kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyakitinya,” ucap Amel dengan tangis yang sudah pecah melihat orang yang sangat dicintainya sudah tidak berdaya.
Rendi berdiri dengan tubuh yang tidak seimbang. “Jangan ada yang ikut campur. Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri,” ucap Rendi saat melihat semua pengawalnya akan maju untuk membantunya termasuk Kenan.
Rendi melangkah cepat dan berencana untuk menghajar Devan lagi, tapi dihentikan oleh Amel. Dia memeluk Rendi dengan cepat. “Kak cukup, jangan memukulnya lagi. Kau salah paham dengannya. Dia selama....” tiba-tiba suara Amel melemah.
Rendi menahan tubuh Amel saat tubuhnya akan jatuh. “Mel... Mel... bangun,” ucap Rendi dengan panik saat melihat Amel sudah tidak sadarkan diri, dia kemudian merebahkan tubuh Amel di pangkuannya.
Devan langsung menghampiri Amel. “Minggir!” Devan mengambil alih Amel dan membawanya ke kamar. Rendi tertegun melihat Devan menggendong Amel dengan cepat.
Ketika Devan sudah tidak ada, Kenan maju menghampiri Rendi yang terlihat diam mematung. Kenan memegang bahu Rendi. “Ren, saat ini bukan waktunya kau membalas perbuatan Devan. Kau harus berdamai dulu dengannya. Kau tidak melihat Amel sangat terguncang saat melihat kalian saling pukul?”
Rendi tidak merespon perkataan Kenan. Dia berdiri lalu menyusul Amel yang sudah dibawa oleh Devan sedari tadi. Rendi melihat Amel sudah berbaring di tempat tidur dengan Devan yang ada di sampingnya sambil memegang tangan Amel dan tangan satu lagi mengusap kepala Amel dengan lembut. Rendi berusaha untuk menekan amarahnya saat melihat pemandangan itu.
Dia mendekat dan menatap Amel dengan tatapan bersalah. Devan berdiri saat menyadari kalau Rendi sudah berdiri di dekatnya. Devan kemudian menoleh pada Rendi. “Apa kau masih mau menikahi Amel, meskipun aku sudah menyentuhnya?”
Rendi mengerutkan kening karena tidak mengerti maksud dari pertanyaan Devan. Dengan tatapan heran, Rendi berkata, “Aku tidak peduli karena mencintanya. Aku akan menerima apapun keadaannya.”
Devan tersenyum miris. “Aku beri satu kesempatan untukmu menikahinya. Besok adalah hari pernikahanku dengannya. Kau bisa menggantikan aku untuk menikahinya kalau kau bisa meyakinkan Friska dan orang tuamu untuk menerima Amel sebagai calon istrimu. Aku akan melepaskan Amel, jika kau bisa meyakinkan sampai besok sore, tetapi jika tidak, aku akan membawanya pergi, di mana kau tidak bisa menemukannya lagi, ” ucap Devan dengan wajah serius dan sorot mata tajam.
Rendi sangat terkejut mendengar perkataan Devan. “Apa kau serius dengan perkataanmu?” tanya Rendi dengan wajah tidak percaya.
“Dengan syarat, Friska dan orang tuamu tidak akan mempersulit Amel ke depannya. Kau harus tegas dengan Friska. Kalau kau tidak bisa mengatasi Friska. Aku tidak mau melepas Amel. Ibunya sudah setuju untuk menikahkan anaknya denganku. Aku akan bicara dengan ibunya jika kau berhasil mendapatkan restu dari orang tuamu dan Friska.”
“Aku akan menikahinya besok. Orang tuaku akan sampai hari ini di Indonesia. Aku akan mendapatkan restu mereka apapun caranya. Kalau masalah Friska aku akan mengatakannya setelah aku menikah dengan Amel. Aku janji Friska tidak akan mempersulit Amel ke depannya dan akan melindunginya.”
“Jika Amel setuju dengan idemu, aku tidak akan keberatan, tetapi jika dia menolak. Maka, aku juga tidak akan mau merelakan Amel untukmu. Sedari tadi aku sudah berusaha untuk menahan diri karena Amel memintaku untuk tidak menyentuhmu sama sekali.”
“Aku akan memaafkanmu karena kau sudah menyentuhnya, asalkan kau mengijinkan aku untuk menikahinya besok. Aku tidak akan menyakitinya. Perasaanku tidak berubah sama sekali padanya, setelah apa yang terjadi padanya.”
“Apa kau yakin bisa menerimanya? Bagaimana dengan anakku? Apa kau bisa menyayanginya juga seperti anakmu? Kau lihat sendiri Amel pingsan, mungkin saja dia sedang mengandung anakku saat ini.”
“Aku akan menggantikanmu merawat anakmu. Aku tidak melarangmu untuk menemuinya nanti. Kau bisa pegang janjiku. Aku tidak akan berlaku buruk pada anakmu nanti. Aku akan menyayanginya. Kau bisa mengambil mereka jika aku menyakitinya sekali lagi.”
Devan mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Kau bisa membawanya saat dia sudah sadar nanti.” Sebelum Devan melangkah ke pintu, dia menoleh pada Rendi lagi. “Kau harus ingat, aku memberimu waktu sampai besok sore. Aku akan menjemput ibu dan adiknya sekarang. Aku akan mebawa mereka semua pergi jika kau tidak bisa memenuhi syarat yang aku ajukan tadi,” ucap Devan dengan wajah datar.
__ADS_1
“Aku pasti bisa mendapatkan restu dari orang tuaku dan menikahinya besok,” ucap Rendi sebelum Devan menghilang dari balik pintu. Devan melangkah keluar tanpa membalas ucapan Rendi.
Bersambung...