
Amel berhenti tepat di depan kamar Rendi. Dia merapikan rambutnya, menarik napas panjang kemudian menghembuskan dengan perlahan. Amel kemudian mengetuk pintu sekali, tetapi tidak ada jawaban. Amel memegang handle pintu dan membukanya dengan pelan.
Pintu tidak terkunci, Amel berjalan masuk ke dalam kamar Rendi dan Rendi sedang terlelap. Amel menghampiri Rendi, kemudian berjongkok sambil memandangi wajah Rendi yang terlihat seperti kelelahan.
Apa dia kurang tidur? Kenapa wajahnya seperti itu? Tapi dia tetap saja tampan.
Amel mengangkat tangannya ke arah wajah Rendi, menyingkirkan rambut yang menutupi dahinya, memegang pipi Rendi sejenak lalu mengusap lembut pipinya. Amel berdiri setengah membungkuk kemudian mencium pipi kiri Rendi.
"Maaf Kak, Amel memang salah. Amel minta maaf soal kejadian kemarin. Kakak jangan marah lagi," gumam Amel pelan.
Amel kemudian berdiri, meletakkan tasnya di atas meja lalu berjalan keluar. Amel masih merasa bersalah soal kejadian kemarin. Dia tidak mau kalau Rendi marah dengannya.
Setelah Amel keluar, Rendi membuka matanya. Dia memegang pipi yang dicium oleh Amel tadi. Seulas senyum tercetak di wajah tampannya. Sebenarnya Rendi sudah terbangun saat Amel menyentuh wajahnya tadi, tapi dia sengaja tidak membuka matanya dan berpura-pura masih tidur.
Rendi masih kesal mengingat kejadian kemarin. Dia hanya tidak mau berdebat lagi dengan Amel sehingga dia memilih menghindarinya dengan berpura-pura masih tertidur. Dia tidak menyangka kalau Amel akan mencium pipinya. Seketika dadanya berdesi dan perasaanmya menjadi hangat. Dengan mudahnya dia langsung luluh.
Amel berjalan ke arah dapur dengan rambut yang sudah di cepol dan menghampiri bi Minah. "Bi Minah lagi ngapain?" Amel berhenti di sebelahnya.
"Bibi lagi mau buat makan siang Non, sebentar non Sofi akan pulang. Den Rendi juga belum makan dari pagi."
"Jadi kak Rendi belum makan sama sekali, Bi?" Amel sangat terkejut mendengar penuturan bi Minah.
"Iyaa Non. Semenjak pulang tadi pagi, den Rendi belum keluar dari kamarnya. Bibi juga nggak berani ganggu den Rendi."
"Waktu pulang tadi pagi, kak Rendi nggak bilang apa-apa, Bi?"
"Nggak Non. Waktu bibi bukain pintu, den Rendi diem aja dan langsung masuk. Sepertinya den Rendi lagi marah Non jadi bibi nggak berani nanya apa-apa." Ni Minah masih melanjutkan pekerjaannya membuat makan siang.
"Emang kak Rendi sering begitu, Bi?"
"Nggak Non, tapi dulu...." Bi Minah menghentikan omongannya. Hampir saja keceplosan.
"Tapi dulu kenapax Bi?" tanya Amel penasaran.
bmBi Minah jadi salah tingkah. "Ehh, bukan apa-apa, Non" Bi Minah berjalan ke kulkas dan mengambil bahan-bahan makanan.
Sepertinya ada yang disembunyikan oleh bi Minah yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tapi apa ya?
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Amel. "Makanan kesukaan kak Rendi apa, Bi? Amel mau buattin untuk kak Rendi." Amel mengalihkan pembicaraannya untuk menhilangkan kecanggungan diantara mereka.
"Kalau makanan indonesia ada beberapa Non. Seperti sop ayam kampung, rendang, dan opor ayam."
__ADS_1
"Tapi Amel nggak bisa buatnya. Bibi kasih tau resep sama caranya buatnya ya? Biar Amel yang masak," pinta Amel.
"Iyaa Non. Kalau gitu bibi ambil bahannya dulu." Bi Minah berjalan ke arah kulkas lagi.
Saat Amel tengah memasak. Ada seseorang yang menghampirinya. "Kak Amel uda dari tadi di sini?" Terdengar suara Sofi yang mengagetkan Amel.
Amel mengangkat kepalanya. "Belum lama, Kamu baru pulang?"
"Iyaa, kak Rendi mana?" Sofi mengedarkan pandanganya mencari keberadaan kakaknya.
"Lagi tidur di kamarnya."
"Terus Kakak ngapain di dapur?" Sofi berdiri di depan meja dapur sambil menopang dagunya.
"Kak Amel mau buatin makanan kesukaan kakak kamu," jawan Amel sambil tersenyum manis.
"Kan ada Bi Minah, biar Bi minah aja yang kerjain."
"Iyaaa Non, biar bibi aja yang kerjain," sahut Bi Minah
Amel menggeleng. "Nggak usah, Bi." Amel kemudian beralih menatap Sofi, "kakak mau belajar buat makanan kesukaan kak Rendi. Kakak pengen kak Rendi nyobain masakan buatan kak Amel."
"Iiih, so sweet banget sih, bikin iri ajaaah. Kak Amel kayaknya uda cocok jadi istri kak Rendi."
"Kakak sekalian ganti baju juga, pake punya Sofi. Biar lebih leluasa," usul Sofi.
"Ngaak usah Sofi. Kak Amel nggak enak pinjem baju kamu terus," tolak Amel.
"Kak Amel nganggep Sofi orang lain ya?"
"Nggak lah, kok mikirnya gitu?"
"Habisnya masih ngerasa gak enak sama Sofi. Kak Amel uda kayak kakak Sofi sendiri, jadi jangan sungkan sama Sofi."
"Iyaa deh, kak Amel mau."
Sofi tersenyum lalu menggandeng Amel berjalan ke kamarnya. Setelah Amel ganti pakaian dia turun lagi ke bawah. Sofi tidak ikut karena dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
Amel tmengenakan setelan rumah dengan hot pants jeans pendek warna dark blue dan kaos V-neck warna putih yang terlihat pas di badan Amel. Dia melanjutkan membuat makanan untuk Rendi. Setelah berkutat lebih dari satu jam, akhirnya makanannya pun jadi.
Amel kemudian menyiapkan beberapa makanan, tidak lupa dia membawa air putih dan jus jeruk untuk Rendi. Setelah itu, dia berjalan menuju kamar Rendi membawa nampan yang berisi makanan.
__ADS_1
Amel membuka pintu dengan menggunakan sikunya. Saat pintu terbuka, dia melihat Rendi sedang berdiri di balkon kamarnya tanpa menoleh sedikitpun kepada Amel. Rendi hanya memicingkan matanya saat mendengar pintu dibuka.
Amel berjalan ke meja dan meletakkan makanan yang dia bawa tadi. Setelah meletakkan makananya, Amel hanya berdiri memandang Rendi tanpa berkata apa-apa. Seketika dia ragu untuk mendekatinya.
Rendi yang menyadari tidak ada pergerakan dari Amel, kemudian menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut dengan penampilan Amel yang sudah mengganti pakaiannya dengan rambut yang dicepol ke atas. Amel terlihat lebih segar dan imut dengan pakaian tersebut.
Rendi memutar badannya lalu masuk ke dalam kamar. Dia hanya melewati Amel tanpa menoleh dan tidak berkata apapun.
Amel merasa dadanya berdebar kencang ketika Rendi melewatinya. Dia ingin berbicara, tapi takut Rendi masih marah. Amel meremas ujung celananya, kemudian berkata, "Kak, Amel mau bicara." Amel memberanikan diri membuka suaranya.
Rendi tidak meggubrisnya dan etap berjalan. Melihat Rendi tidak merespon, Amel mengejar Rendi dan berhenti di depan Rendi.
"Kak tunggu dulu. Amel mau jelasin masalah kemarin." Amel merentangkan kedua tangannya agar Rendi tidak bisa lewat.
Rendi hanya menatap Amel sebentar lalu menurunkan tangan Amel dengan tangannya, kemudian melewatinya lagi.
Tanpa pikir panjang, Amel langsung berbalik dan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Rendi, menahan agar Rendi tidak bisa bergerak lagi.
Seketika Rendi berhenti, tubuhnya membeku beberapa detik. Dia terkejut ketika Amel memeluknya dari belakang.
Amel mempererat pekukannya karena takut Rendi akan menghempaskan tangannya. "Kak tunggu dulu, Amel minta maaf soal kemarin. Amel tau, Amel salah, tapi denger dulu penjelasan Amel."
Rendi belum juga merespon Amel karena dia memang masih kesal dengan kejadian kemarin, tapi semenjak Amel mencium pipinya tadi, seketika kemarahannya hilang. Dia hanya ingin memberi pelajaran sedikit kepada Amel, bagaimana rasanya kalau diacuhkan seperti dirinya kemarin.
"Lepasinx Mel." Terdengar suara serak Rendi.
"Kakak dengerin Amel dulu makanya." Terdengar jelas nada memohon dari suara ucapan Amel.
"Aku bilang lepas," ucap tegas Rendi.
"Kakak janji dulu, mau dengerin Amel bicara." Amel tetap memeluk Rendi dan tidak berniat melepaskannya.
Rendi melepas kedua tangan Amel dari tubuhnya dan menarik tangannya ke depan, sehingga mereka bisa berhadapan. Rendi menatap Amel dengan wajah serius. "Aku bisa hilang kendali kalau kamu terus memelukku seperti tadi."
Amel menunduk. "Maaf Kak, itu karena Kakak menghindar terus dan tidak mau mendengarkan Amel dan terus saja berjalan."
"Bukannya kamu yang mengacuhkanku kemarin?"
"Bukan mengacuhkan, Kak. Kakak dengar dulu penjelasan Amel."
"Kita bicara di bawah, aku takut, tidak bisa menahan diri kalau terus berduaan dengan kamu di kamar ini." Rendi berjalan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...