Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Tidur Lagi


__ADS_3

Rendi memasuki vilanya yang tampak masih sepi. Perlahan dia memasuki kamarnya. Dia melihat istrinya belum juga membuka matanya. Rendi menaiki tempat tidur lalu mencium kening istrinya.


“Banguun sayaang.”


Rendi berusaha membangunkan istrinya yang masih terlelap. Dia mengusap lembut pipi istrinya. Amel mulai menggeliat. Dia merasa geli saat Rendi memainkan ujung rambutnya di wajahnya.


“Ini sudah siang, bangun sayang. Kau belum sarapan dari pagi.” Rendi memberikan ciuman kecil di pipi istrinya.


“Aku masih mengantuk kak,” jawab Amel tanpa membuka matanya. Dia justru berbalik membelakangi Rendi.


“Nanti kau bisa tidur lagi setelah sarapan sayang.” Rendi meraih tubuh Amel dan mendekapnya.


Amel tidak meresponnya. Dia tampak kembali terlelap. Rendi tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang terlihat menggemaskan.


“Sayang, kalau kau tidak bangun aku akan memakanmu lagi.”


“Jangan kak. Aku bangun. Aku sudah bangun,”


Amel langsung terduduk dengan mata yang masih terpejam dan rambut yang acak-acak-an khas bangun tidur. Dia menguap panjang sekali, pertanda kalau dia memang masih mengantuk. Dia tidak mau kalau sampai Rendi mengulanginya lagi. Tubuhnya saja sudah tersa sakit dan pegal semua.


Rendi menutupi tubuh bagian atas istrinya yang tidak tertutupi selimut. “Kau mau mandi dulu atau sarapan?” Rendi ikut duduk di sebelah istrinya sambil membenahi rambut Amel.


Amel masih enggan beranjak dari tempat tidur. Dia masih merasa nyaman untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Matanya tampak masih setengah terpejam.


“Makan,” jawab Amel dengan suara rendah.


Rendi turun dari tempat tidur. Dia menuju lemari dan mengambilkan pakaian untuk istrinya. “Pakai bajumu dulu sayang.” Rendi memberikan pakaian di tangan istrinya yang tampak belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, “aku akan membawakan makanan untukmu ke kamar.”


Amel hanya mengangguk lemah. Matanya belum juga terbuka lebar. Dia hanya duduk sambil terus menguap. Tubuhnya terasa remuk redam. Rendi membuatnya sangat kelelahan sehingga dia malas untuk melakukan aktifitas apapun.

__ADS_1


Rendi berjalan menuju dapur. Dia membawakan makanan yang dia pesan tadi pagi. Dia menghangatkannya terlebih dahulu lalu membawanya ke kamar.


Rendi tersenyum tipis sambil gegelng-geleng kepala saat melihat istrinya kembali merebahkan tubuhnya dengan mata yang sudah terpejam. Bahkan Amel belum juga memakai pakaian yang Rendi berikan tadi. Rendi meletakkan makanan di atas nakas secara perlahan. Dia kemudian duduk di tempat tidur.


Rendi merapikan rambut halus Amel lalu berkata, “Maafkan aku sayang karena sudah membuatmu lelah. Seharusnya aku bisa menahan diriku tadi pagi.” Ada rasa bersalah di hati Rendi ketika melihat istrinya tampak kelelahan.


Rendi memutuskan untuk membiarkan istrinya untuk tidur kembali. Dia akan membangunkannya satu jam lagi.


Sambil menunggu istrinya terbangun, Rendi berencana untuk berenang. Tiba-tiba dia teringat oleh Friska. Dia sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Dia merasa sedikit khawatir karena keberadaan Friska belum juga diketahui. Setelah merasa cukup lama berenang, Rendi naik ke permukaan. Dia meraih bathrobe yang ada di tempat duduk di pinggir kolam renang.


Rendi berjalan masuk ke dalam kamar lalu mengambil ponselnya. Dia berjalan keluar kamar lagi setelah mendapatkan ponselnya. Dia duduk di kursi santai yang ada di pinggir kolam renang. Dia terlihat menekan ponsel seseorang kemudian menempelkan benda pipih berwarna hitam di telinganya.


Rendi terlihat menghubungi seseorang tetapi tidak diangkat. Dia kembali menghubungi orang lain. Beberapa kali Rendi mencoba akhirnya telponnya diangkat. Terlihat dia berbicara serius dengan orang tersebut. Rendi menghela napas setelah mengakhiri panggilan telponnya. Rendi membaringkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya.


Pukul 11 siang Amel membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, ketika Dia tidak melihat keberadaan suaminya di kamar. Dia hanya melihat makanan yang terletak di samping tempat tidurnya yang diletakkan di atas nakas.


Amel membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Amel melepaskan selimut di tubuhnya ketika sudah berada di dalam kamar mandi. Dia menatap tubuhnya yang penuh dengan tanda merah. Dia hanya bisa menghela napas.


Amel memakai baju dengan cepat lalu berjalan keluar dari kamarnya. Dia mencari Rendi ke ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya dia berjalan ke arah belakang. Hanya bagian kolam renang yang belum dia perikasa.


Amel tersenyum tipis ketika melihat suaminya sedang berbaring di kursi santai sambil memejamkan matanya. Amel menghampiri Rendi, dia membungkukkan badannya lalu mencium pipi suaminya. Amel berjongkok lalu menatap wajah suaminya dari dekat.


Tampan sekali suamiku.. Sepertinya aku harus mengambil ponsel dulu.


Amel berlari kecil menuju kamarnya. Dia mengambil ponsel lalu berjalan keluar lagi. Dia mengarahkan ponselnya pada wajah suaminya.


“Cekrek.”


Bunyi ponsel Amel ketika selesai mengambil foto. Amel melihat hasilnya lalu tersenyum. Dia memotret kembali wajah suaminya. Dia kembali teringat ketika dulu dia memotret Rendi diam-diam saat sedang tidur lalu menjadikannya walpaper ponselnya. Setelah puas dia memasukkan ponselnya di saku celana hot pantsnya. Dia kembali menatap wajah suaminya.

__ADS_1


Kenapa laki-laki tampan sepertimu bisa tertarik dengan gadis biasa sepertiku? Kau bahkan bisa mendapatkan gadis yang lebih segalanya dari aku. Terkadang aku merasa tidak pantas untukmu kak.


Amel mengangkat tangannya menyentuh wajah tampan suaminya. "Aku sangat mencintaimu, Lak. Jangan pernah tinggalkan aku,” gumam Amel pelan.


Rendi membuka matanya lalu menarik tengkuk Amel dan mengecup singkat bibir istrinya. "Kakak," pekik Amel sambil memukul lengan suaminya.


Rendi tersenyum ketika melihat wajah cemberut istrinya. Rendi bangun dari tidurnya lalu duduk dan menarik tangan Amel sehingga terduduk di pangkuannya.


"Kenapa kau memadangi wajahku diam-diam sayang? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?” Rendi melingkarkan tangannya ke perut Amel sembari menyandarkan dagu dibahu Amel.


Amel menoleh. “Aku tadi ingin membangunkanmu Kak, tapi tidak jadi.”


“Kenapa?”


“Kakak sepertinya sangat lelah. Aku tidak tega membangunkanmu.” Amel merubah duduknya menyamping.


“Aku hanya memejamkan mataku sebentar sayang. Aku bahkan masih kuat untuk melakukannya sampai malam.” Rendi mengerlingkan matanya sambil tersenyum jahil.


“Sudah cukup Kak. Tubuhku masih pegal semua karena kakak.” Wajah Amel tersipu malu dan memerah. Amel sangat tahu maksud dari perkataan suaminya. Dia bergidik ngeri membayangkannya.


Rendi terkekeh. “Kau imut sekali sayang. Aku jadi ingin....”


Amel membungkam mulut Rendi dengan tangannya. Dia tidak mau kalau sampai Rendi mengatakan hal membuatnya merinding.


“Kak, aku lapar.” Amel langsung memotong ucapan Rendi sebelum dia melanjutkannya ucapanya.


“Baiklah kita makan dulu. Ini sudah siang. Setelah itu kita lanjutkan lagi ya?”


Amel langsung bangun dan berjalan masuk. Dia tidak mau mendengar kata-kata Rendi yang terus menggodannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2