
Rendi tersenyum ketika melihat istrinya tampak salah tingkah.
“Aku akan memesan makan yang baru sayang.” Rendi meraih telpon lalu menghubungi pihak resort untuk memesan makanan.
“Baiklah.”
Setelah selesai memesan makanan, Rendi meletakkan kembali telponnya lalu duduk di sebelah istrinya. Mereka menunggu makan sambil menonton televisi.
“Tunggu sebentar. Sepertinya ada orang di depan.”
Amel beranjak dari duduknya ketika mendengar bel berbunyi. Rendi hanya tersenyum ketika melihat Amel berlari kecil menuju pintu depan. Dia membuka pintu dan melihat pelayan resort yang datang membawa makanan yang di pesan oleh suaminya.
Amel mempersilhakannya masuk dan memintannya untuk menata makanan di meja makan dekat dapur. Setelah pegawai itu pergi Amel menyusul suaminya yang tampak dengan malas menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia menarik tangan suaminya dengan cepat.
“Ayoo Kak. Aku sudah lapar.”
“Iyaa sayang.” Rendi bangun dari duduknya dan mengikuti langkah kaki istrinya.
Amel duduk bersebelahan dengan Rendi. “Sayang, makanlah yang banyak. Aku perhatikan tubuhmu semakin kurus. Apa kau tidak bahagia hidup denganku?”
Amel terkekeh mendengar ucapan suaminya. “Aku sangat bahagia kak. Aku bahkan masih merasa kalau semua ini mimpi.” Amel mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Makanlah dulu sayang. Jangan bicara jika sedang makan. Kau bisa tersedak nanti.” Rendi dan Amel mulai mengisi perut mereka tanpa mengeluarkan suara.
Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar. Saat ini mereka sedang duduk bersandar sambil menonton televisi.
“Mel, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Rendi memperbaiki posisi duduknya. Dia menghadap ke istrinya sambil menatapnya dengan wajah serius.
Amel merasa aura Rendi seketika berubah. “Apakah Devan sering menghubungimu setelah kita menikah?”
Pertanyaan Rendi membuat Amel terkejut. Dahinya mengerut. Amel merasa heran kenapa Rendi tiba-tiba menayakan perihal Devan. Dia sebenarnya sangat menghindari topik pembicaraan mengenai Devan.
Devan adalah topik sensitif di dalam hubungan rumah tangganya. Amel hanya takut permbicaran mengenai Devan akan berakhir dengan pertengkaran antara mereka. Kecemburuan berlebih Rendi terhadap Devan terkadang membuat percikan api kecil di dalam hubungan mereka.
__ADS_1
“Kenapa kakak tiba-tiba menanyakan hal itu?”
Amel merasa was-was ketika melihat wajah Rendi yang tanpa senyum. Amel memiliki firasat tidak enak jika sudah melihat wajah serius suaminya.
“Aku hanya ingin tahu,” jawab Rendi singkat. Sebisa mungkin Rendi menekan rasa cemburunya.
“Tidak pernah kak. Aku juga terakhir bertemu dengannya, saat pesta pernikahan kita.”
Diam-diam Rendi merasa lega. Walaupun sudah menikah Rendi juga tetap menjaga privasi Amel. Dia tidak pernah sekalipun mengecek ponsel istrinya. Dia hanya tidak ingin kalau Amel berpikir kalau dia tidak mempercayainya.
“Tadi aku bertemu dengan Raka. Dia bilang Devan menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif.” Rendi mengatakannya dengan nada tenang.
Amel meneliti wajah semuaminya dulu sebelum bersuara. Dia ingin tahu suasana hati Rendi saat ini. “Ponselku mati kak. Aku baru menghidupkannya tadi, ketika aku ingin memotret kakak. Kenapa kak Evans menghubungiku?” Amel bertanya dengan hati-hati. Dia hanya takut Rendi salah paham lagi dengannya.
“Aku tidak tahu. Dia menghubungi Raka untuk menyuruhmu segera menghubunginya.” Rendi hanya menampillkan wajah datarnya.
“Aku akan menghubunginya nanti.” Amel tidak mau menghubungi Devan di depan Rendi. Dia takut kalau Rendi akan tiba-tiba marah nanti.
“Hubungi saja sekarang. Aku ingin tahu apa yang ingin dia bicarakan padamu.” Rendi masih terlihat tenang. Belum ada emosi dalam nada bicaranya.
“Jangan lupa tanyakan apakah dia bersama dengan Friska atau tidak,” ucap Rendi sebelum Amel menghubungi Devan.
Alis Amel menyatu. Dia merasa penasaran kenapa Rendi menyuruhnya menanyakan tentang Friska. Amel memutuskan untuk bertanya ketika selesai menghubungi Devan nanti.
Amel sedang menunggu telponnya diangkat. “Halo kak,” ucap Amel ketika ponselnya sudah tersambung. Amel mulai berbicang dengan Devan di telpon. Perlahan Amel tampak berdiri. Dia sedikit menjauh dari Rendi.
Rendi tampak tidak senang ketika melihat Amel terus berjalan menjauhinya. Dia berpikir kalau Amel menyembunyikan sesuatu darinya, apalagi Amel berbicara dengan suara sangat pelan. Pikiran buruk seketika muncul di kepalanya.
Setelah selesai berbicara dengan Devan. Amel menghampiri suaminya lagi. “Kenapa dia mencarimu?” tanya Rendi dengan suara berat. Rendi berusaha keras menekan rasa cemburunya.
“Kak Evans ingin bertemu denganku,” ucap Amel pelan. Amel beripikir kalau sebentar lagi Rendi akan marah.
Rendi memicingkan matanya. “Untuk apalagi dia ingin bertemu denganmu? Apa dia belum juga bisa melepasmu.” Rendi mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
“Dia akan pergi ke Singapura. Katanya dia yang ingin berpamitan denganku.”
“Sepertinya dia masih belum bisa melepasmu sepenuhnya.” Ada ada kecemburuan dalan kata-kata Rendi.
Amel duduk di hadapan suaminya lagi. “Kak. Devan hanya ingin berpamitan saja. Tidak ada maksud lain. Dia bilang ada yang harus di urus di sana. Kemungkinan dia akan menetap sementara di sana.”
“Baguslah. Setidaknya perlahan sainganku mulai hilang satu persatu.” Rendi merasa lega karena untuk sementara waktu dia tidak perlu khawatir kalau Amel akan bertemu dengan Devan.
“Apa kau sudah menanyakan keberadaan Ellen?” Rendi mulai teringat oleh Friska.
Amel menatap tajam suaminya. “Kalau kakak sangat mengkhawatirkannya kenapa tidak bertanya saja langsung pada Friska? Kenapa harus menyuhku bertanya pada kak Evans? Apa kakak ingin membuatku cemburu?” tanya Amel dengan wajah kesal.
“Bukan seperti maksudku sayang. Kau tahu, kan kalau Devan membawa Ellen waktu itu. Sampai sekarang Ellen belum pulang ke apartemennya. Menurut info Kenansaat ini Ellen sedang bersama dengan Devan. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa dengannya.”
“Kalau kakak begitu khawatir dengannya kenapa kakak tidak susul saja dia. Dia sedang ada di apartemen baru kak Evans. Pergilah temui dia. Jangan sampai kau menyesal karena tidak bisa bertemu dengannya.”
Amel langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Rendi dia menutupi tubuhnya dengan selimut. Seketika dia merasa cemburu ketika Rendi tampak khawatir dengan keadaan Friska.
Rendi memegang bahu Amel yang tertutup selimut. “Sayang kau salah paham.” Amel tampak menahan tubuhnya ketika Rendi berusaha membalikkan tubuh Amel.
“Jangan ganggu aku. Aku ingin tidur.” Amel berpura-pura menutup matanya. Dia merasa sangat kesal saat ini.
Rendi memasukkan tubuhnya juga ke dalam selimut kemudian dia berusaha untuk memeluknya dari belakang tapi di tepis oleh Amel. Beberapa kali Amel menepis tangan Rendi, saat Rendi ingin memeluknya.
“Sayang jangan begini. Aku punya alasan kenapa aku sangat mengkhawatirkannya.” Rendi membalik paksa tubuh Amel. Dia menatap iris Amel dari jarak dekat.
Amel tampak tidak mau memandang wajah suaminya. “Setelah Ellen pulang dari pesta pernikahan kita, Ellen mencoba bunuh diri lagi. Untung saja Devan menyelamatkannya.”
Mata Amel terbelalak. “Apa? Kenapa dia ingin bunuh diri lagi?” tanya Amel dengan wajah terkejut.
Rendi tampak diam sejenak. “Dia tidak sanggup melihatku menikah dengan orang lain,” ucap Rendi pelan. Dia sebenarnya ingin menyembunyikan sementara dari Amel. Dia hanya tidak ingin Amel berpikiran macam-macam dengannya.
“Aku hanya takut dia melakukan hal itu lagi. Dia sudah melakukannya 2 kali. Dia sangat kerasa kepala. Tidak mudah untuk merubah keputusannya jika dia sudah bertekad. Aku belum tahu keadaannya lagi Mel. Bagaimana pun aku dan dia tumbuh bersama. Bohong kalau aku bilang tidak mengkhawatirkannya,” lanjut Rendi lagi.
__ADS_1
Bersambung...