
“Kamu yakin nggak mau masuk sekolah hari ini?” tanya Raka saat dia sudah berdiri di depan tempat tidur Amel. Raka mendatangi kamar Amel saat dia akan pergi ke sekolah.
Amel bangun dari tidurnya dan menyandarkan tuduhnya pada sandaran tempat tidur. “Iya bang, Amel nggak enak badan!” jawab Amel lemah.
Sebenarnya alasan utama Amel tidak ingin sekolah adalah karena tidak ingin bertemu dengan Rendi. Dia belum sanggup menatap wajah Rendi. Amel tidak menyangka kalau hubungannya bersama Rendi akan berakhir seperti ini. Janji manis yang pernah dia ucapkan pada Rendi untuk tidak pernah meninggalkan Rendi, kini hanyalah sebuah kata yang tidak memiliki arti.
Raka mengamati wajah Amel yang tampak kosong. “Ya sudah, abang berangkat sekolah dulu!” ucap Raka seraya mengelue pelan rambut Amel. Raka berjalan keluar kamar setelah melihat anggukan dari Amel.
*****
Sebelum jam pulang sekolah, Rendi sudah berada di depan sekolahnya. Rendi tidak masuk sekolah karena keadaanya masih belum pulih. Dia masih harus beristirahat di rumah sakit atas perintah ibunya.
Kepergiannya diam-diam kemarin belum di ketahui oleh ibunya, sehingga hari ini dia masih bisa keluar diam-diam saat ibunya sedang sibuk mengurus perusahaan yang ada di sini karena papanya belum juga pulang dari luar negri. Sementara Sofi sudah mulai masuk sekolah lagi, Dia juga sedang menunggu proses kepindahan sekolahnya selesai di urus oleh dokter Jhon.
Semua siswa terlihat sudah keluar, tetapi Rendi belum juga melihat Amel keluar dari sekolah. Bahkan dia melihat Raka pulang dengan terburu-buru setelah bel pulang sekolah berbunyi. Rendi turun dari mobilnya dan mengecek ke dalam sekolah, dia ingin memastikan apakah Amel masih ada di kelasnya atau dia sudah pulang.
Setelah memastikan kalau Amel tidak ada di dalam sekolah. Rendi melajukan mobilnya ke kos Amel. Sampai sekarang Amel belum juga membalas satu pesanpun dari Rendi. Begitu juga telpon, tidak ada satupun yang diangkat oleh Amel. Setelah berada di depan kos Amel, dia langsung berjalan ke sudut ruang tempat penjaga kos berada. Dia memutuskan untuk meminta bantuan untuk memanggilkan Amel supaya dia mau keluar.
Rendi melajukan mobil ke rumah yang kemarin Amel datangi bersama Raka, saat penjaga kos mengatakan kalau Amel tidak ada di kosnya. Tiba di depan rumah kemarin, Rendi berdiri di depan gerbang rumah Raka. Tanpa basa-basi Rendi langsung menanyakan kepada satpam tentang keberadaan Amel.
Securitu yang mengenal baik Amelpun mengatakan kalau Amel memang berada di dalam. Tangan Rendi terkepal saat mengetahui kalau rumah itu adalah milik Raka dan Amel menginap di situ kemarin. Dia mencoba mengontrol emosinya. Saat Rendi minta ijin untuk masuk, satpam tersebut meminta ijin terlebih dahulu dengan majikanya.
__ADS_1
Kemarahan Rendi bertambah saat satpam itu mengatakan kalau dia tidak di perbolehkan masuk oleh Raka. Dia juga menyampaikan pesan dari Amel, kalau Amel tidak ingin menemui Rendi dan memintanya untuk pulang. Rendi memutuskan untuk menunggu di luar gerbang hingga Amel keluar.
***
“Mendingan kamu temui dia! Dengar dulu penjelasannya!” saran Raka saat melihat Amel sedang berdiri di jendela dan menatap keluar tempat Rendi berdiri saat ini. Raka yang sudah mendengar cerita dari Amel hanya bisa memberikan saran untuk Amel. Dia sebenarnya marah dengan Rendi, tetapi dia juga belum mengetahui jelas permasalahan yang ada.
Raka merasa kalau Amel hanya salah paham terhadap Rendi, mengingat bagaimana usaha Rendi untuk memberikan penjelasan pada Amel. Sebenarnya Raka juga mengetahui kemarin kalau Rendi mengikuti mobilnya dari belakang dan menunggu di depan rumahnya sampai malam. Raka juga mengetahui saat di sekolah tadi Rendi sedang berada di dalam mobilnya menunggu Amel keluar.
Amel menoleh pada Raka yang sudah berdiri di belakangnya dan menatap keluar juga. “Amel butuh waktu bang! Amel belum sanggup berbicara langsung sama dia,” ujar Amel yang sudah meneteskan air mata kembali.
Raka mengusap-usap punggung Amel, mencoba untuk menenangkannya. “Abang ngerti, abang cuma nggak mau, kalau kamu akan menyesal nanti dengan keputusan untuk mengakhiri hubungan kamu dengan Rendi!” ucap Raka tenang. Di dalam pikiran Raka, seharusnya dia senang kalau Amel putus dengan Rendi, itu berarti saingan terberatnya sudah tidak ada lagi, tetapi entah mengapa melihat kesedihan Amel membuat hatinya merasakan sakit juga.
“Iya bang!” jawab Amel singkat, dia masih melihat Rendi yang masih ada di depan gerbang rumah Raka.
Rendi menunggu Amel hingga larut malam di depan rumah Raka. Sementara Amel juga masih terus memandang keluar jendela, untuk melihat keadaan Rendi, di hatinya muncul kekhwatiran tentang kesehatan Rendi.
Amel takut kalau Rendi tiba-tiba pingsan nanti, sehingga dia terus mengawasi dari jendela kamarnya. Saat dia melihat langkah gontai dari Rendi memasuki mobil dan pergi meninggalkan rumah Raka. Dia kembali meneteskan air matanya.
*****
Setiap hari Rendi selalu melakukan hal yang sama mendatangi ke sekolah dan akan berdiri di rumah Raka hingga malam. Sudah beberapa hari Rendi mendatangi rumah Raka, tetapi Amel belum juga mau menemui Rendi. Sampai tepat hari keempat Rendi tiba-tiba pingsan saat berada di parkiran rumah sakit, setelah dia mengunjungi rumah Raka.
__ADS_1
Kemarahan ibunya muncul saat mengetahui anaknya keluar tanpa sepengetahuannya dan pingsan karena kelelahan, apalagi saat pingsan kepala Rendi terbentur keras mengenai car stopper beton yang ada di parkiran rumah sakitnya. Kejadian itu memperparah cidera otaknya. Setelah dilalukan pemeriksaan CT Scan lagi, terlihat terjadi pembengkakan dan pendarahan otak lagi dan di bagian otak lainnya.
Ibunya juga sudah mengetahui apa yang dilakukan Rendi selama beberapa hari ini. Termasuk tentang pertengkaran Amel, Friska dan Rendi di rumah sakit, yang mengakibatkan Rendi hilang kendali.
Lilian memutuskan untuk memperketat penjagaan di kamar perawatan Rendi. Kunci mobil sudah di sita oleh mamanya, supaya Rendi tidak bisa keluar lagi. Pintu depan kamarnya di jaga puluhan pria berseragam hitam. Tidak ada yang diperbolehkan untuk menjenguk Rendi, termasuk Friska. Hanya perawat dan dokter yang sudah dipilih yang di perbolehkan untuk masuk ke kamar Rendi.
Saat pertama kali Rendi sadar dari pingsan, dia berniat untuk mengunjungi Amel lagi, tetapi saat ingin membuka pintu kamarnya, ternyata di kunci dari luar. Rendi kemudian menghubungi dokter Jhon menyuruhnya untuk membuka pintu. Dokter Jhon memberitahukan kepada Rendi tentang yang terjadi setelah dia pingsan termasuk semua perintah ibunya untuk mengurungnya di kamar.
Saat mengetahui hal tersebut Rendi langsung berjalan ke pintu dan mencoba mendobraknya. Rendi mencoba membanting kursi ke arah pintu, tetapi tidak bisa terbuka juga. Rendi bahkan melemparkan semua barang-barang ke arah pintu saat dia tidak bisa keluar dari sana. Namun usahanya sia-sia, dokter Jhon juga tidak bisa membantunya karena sudah di peringatkan langsung oleh ibu Rendi.
Rendi yang frustasi karena tidak bisa keluar, hanya bisa berteriak histeris dan mengamuk di dalam kamarnya. Rendi akan membanting semua barang lagi setelah dibereskan untuk meluapkan emosinya. Semua barang yang berbentuk kaca disingkirkan dari kamar perawatan Rendi.
Hari kedua setelah Rendi dikurung, ibunya mengunjungi Rendi, bahkan Rendi sampai berlutut di kaki ibunya agar dibiarkan keluar untuk menemui Amel. Lilian tidak bergeming, dia tetap tidak mengijinkan Rendi untuk keluar. Lilian malah memperketat penjagaan.
Makin hari kondisi Rendi makin buruk. Rendi juga tidak mau meminum obat dan melakukan perawatan apapun dari dokter dan perawat. Dia akan langsung mengusir siapapun yang masuk ke dalam kamar perawatannya. Dia bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali, yang dia lakukan hanyalah diam. Dia melakukan itu supaya ibunya kasian dan memberikan dia ijin untuk keluar sebentar menemui Amel.
Rendi bahkan sudah pernah meminta bantuan pada Sofi, dokter Jhon, dokter Bianca untuk membujuk ibunya. Hingga tiba hari di mana Rendi bisa keluar dari rumah sakit dengan bantuan dokter Jhon.
“Ingat Ren, kamu harus kembali dalam 3 jam! Aku mempertaruhakan semuanya hanya untuk membantumu keluar dari sini sekarang!” ucap dokter Jhon memperingatkan Rendi setelah melepas infus di tangannya.
Rendi mendekati dokter Jhon dan memeluk tubuhnya sebentar. “Terima kasih kak! aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu hari ini, suatu saat aku akan membalasnya jika aku masih bisa hidup!” ucap Rendi dengan wajah senang karena bisa keluar untuk menemui Amel.
__ADS_1
Setelah dia selesai berganti pakaian. Rendi berjalan keluar dari kamarnya menggunakan topi hitam, kacamata hitam dan jaket hitam, berharap tidak ada yang mengenalinya.
Bersambung...