
Amel terdiam sesaat. "Yaa udah," jawab Amel singkat. Amel terpaksa menyetujuinya karena tidak tega untuk menolak ajak Sofi.
Sofi tersenyum lebar. "Makasih Kak, tapi kita naik taksi aja ya Kak," ujar Sofi lagi. Mereka berjalan menuju pintu keluar untuk mencari taksi saat melihat anggukan dari Amel.
Amel berusaha menghubungi Raka untuk memintanya jangan menjemputnya dulu. Sebelumnya bertemud dengan Sofi, dia sudah menghubungi Raka untuk menjemputnya di Mall, tetapi batal karena Sofi mengajaknya untuk mampir ke hotel Sofi.
Mereka tiba di hotel pukul 8 Malam. Sofi dan Amel langsung naik ke lantai paling atas di mana kamar Sofi berada.
Mereka keluar bersama, saat lift sudah berhenti di lantai 30. Sofi dan Amel berjalan pelan menuji kamar Sofi. "Kakak uda ketemu sama kak Rendi?" tanya Sofi hati-hati, setelah mereka berada di dalam kamar Sofi sambil duduk bersebelahan.
Amel tersenyum. "Sudah."
"Apa kakak sudah tahu, kondisi sebenarnya kak Rendi?" tanya Sofi lagi.
Amel mengangguk. "Iyaa, Kenan sudah cerita semuanya sama kakak."
Sofi meneliti wajah Amel. "Apa kakak juga sudah tahu kalau kak Friska sudah tunangan dengan kak Rendi?"
Wajah tampak muram. "Sudah," jawab Amel pelan.
Sofi menatap serius pada Amel. "Apa Kakak masih cinta sama kak Rendi?"
Amel menoleh pada Sofi lalu mengangguk pelan. "Kak Amel nggak bisa lupain kakak kamu sampai sekarang."
"Kalau gitu, Kakak harus berusaha untuk dapetin kak Rendi lagi. Sofi akan bantu kakak," ucap Sofi memberi semangat pada Amel.
"Kak Amel sebenarnya bingung Sofi," ucapnya.
"Bingung kenapa?"
Amel tampak menghela napas panjang. "Kak Amel memang masih sayang banget sama kakak kamu, tapi kakak juga nggak mau ngerusak hubungan kakak kamu sama Friska. Kak Amel nggak mau jadi orang ketiga di antara mereka. Kakak juga sempat berpikir, kalau melihat kak Rendi bisa bahagia, itu sudah cukup untuk kakak, walaupun berat tapi kakak akan mencoba untuk menerimanya," ucap Amel pelan sambil menunduk.
Sofi memegang tangan Amel. "Orang yang kak Rendi cintai itu kak Amel, walaupun dia sudah tunangan dengan kak Friska, tapi kak Rendi nggak cinta sama Friska Kak. Kak Rendi begitu karena dia lagi Amnesia."
Amel mendongak. "Kakak tetap nggak bisa merusak hubungan mereka Sofi, mungkin ini karma untuk kakak karena pernah menyakiti hati kakak kamu dulu," ucap Amel dengan suara bergetar.
Amel mendongak. "Kakak tetap nggak bisa merusak hubungan mereka Sofi, mungkin ini karma untuk kakak karena pernah menyakiti hati kakak kamu dulu," ucap Amel dengan suara bergetar.
Sofi berusaha menenangkan Amel dengan cara mengelus punggung Amel saat melihat mata Amel mulai berkaca-kaca.
Dia sebenarnya tidak sanggup melihat Rendi bahagia dengan orang lain, tetapi dia juga tidak boleh egois. Dia tidak boleh memaksakan perasaannya pada Rendi, kecuali Rendi sendiri yang memustuskan untuk kembali padanya.
__ADS_1
Setelah Kenan menceritakan semua tentang Rendi, dia memang berencana untuk memperjuangkan cintanya lagi, tetapi setelah dia berpikir ulang, jika dia melakukan itu, berarti itu sama saja dia merebut milik orang lain.
"Sofi nggak tau apa yang terjadi sama Kak Amel dan kak Rendi, tapi yang Sofi tahu, kak Rendi sangat mencintai Kakak. Apalagi waktu kalian putus, kak Rendi sempat putus asa dan nggak mau berobat lagi setelah sampai di Amerika. Sofi juga bisa melihat perbedaan sikap kak Rendi terhadap kak Amel dengan kak Friska saat ini. Sebenarnya Sofi lebih setuju kak Amel dengan kak Rendi."
"Kakak juga sebenarnya nggak rela kalau kak Rendi hidup bahagia sama orang lain. Selama ini kakak selalu berusaha ngelupain kakak kamu, tapi nggak bisa. Kakak sayang banget sama kakak kamu Sofi."
Air mata Amel mulai menetes di pipinya. Dia berusaha mengangkat kepalanya ke atas supaya air matanya tidak keluar lagi.
"Ting... tong... ting... tong."
Terdengar suara bel yang berasal dari pintu. Amel dan Sofi seketika saling pandang. Sofi lalu berjalan membuka pintunya. "Kamu uda makan?" tanya Rendi saat melihat adiknya berdiri di belakang pintu. Sofi tampak sedikit terkejut dengan kedatangan kakaknya.
"Belum kak," jawab Sofi cepat.
"Ya udah ayuuk ke kamar kakak, tadi kakak sudah pesan makanan di bawah."
"Iyaa, nanti Sofi ke sana Kak." Dahi Rendi mengerut saat mendengar perkataan adiknya.
"Kenapa nanti? ini sudah malam. Nanti kamu bisa sakit kalau telat makan," ucap Rendi sambil menarik tangan adiknya. Langkah Rendi terhenti saat Sofi menahan tubunya.
"Tapi...." Sofi bingung menjelaskan pada kakaknya kalau ada Amel sedang ada di dalam kamarnya.
Melihat tingkah Sofi yang aneh, Rendi kemudian berkata, "Tapi kenapa?" tanya Rendi heran saat melihat adiknya tampak ingin menolak ajakannya.
Dia sebenarnya takut kakaknya akan canggung kalau ada Amel. Bagaimanapun kakaknya sedang Amnesia. Dia tidak ingat dengan Amel. Sofi takut kalau Rendi tidak mengijinkan Amel untuk masuk ke kamarnya.
"Siapa, teman kamu?" tanya Rendi dengan tatapan menyelidik. "Bukan, tapi...."
Rendi langsung mendorong pintu agar dia bisa masuk. Dia penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Sofi. Rendi hanya heran kenapa adiknya tampak gugup. Rendi kemudian dengan cepat berjalan masuk.
Langkah Rendi terhenti saat melihat siapa yang ada di depannya saat ini. "Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Rendi terkejut saat melihat Amel sedang duduk di dalam kamar adiknya.
Sofi berlari menghampiri kakaknya. "Sofi yang ngajak kak Amel ke sini Kak," jelas Sofi sambil memegang lengan Rendi.
Sofi takut kalau Rendi akan marah saat melihat Amel berada di dalam kamarnya. Amel yang tadi ingin menjawab, memutuskan untuk diam setelah Sofi menjelaskan pada Rendi.
Rendi menoleh pada Sofi dengan wajah yang masih terkejut. "Kamu kenal sama dia?" tanya Rendi heran. Karena Kenan tidak pernah menceritakan kalau adiknya dekat dengan Amel, jadi dia terkejut saat melihat Amel dan Sofi saling mengenal.
Sofi mengangguk cepat. "Iyaa, Kak."
Rendi mendekati Amel, kemudian meraih tangan Amel. "Kamu ikut aku." Rendi menarik tangan Amel menuju pintu keluar, tapi dia berhenti berhenti sejenak lalu menatap Sofi. "Sof, kamu pesan makanan di restoran hotel aja ya? Kakak mau bicara dengan Amel dulu."
__ADS_1
Rendi berjalan menuju kamarnya sambil menarik tangan Amel menuju kamarnya, setelah Sofi menganggukkan kepalanya. Sofi hanya tersenyum saat melihat kakaknya membawa Amel pergi. Dia berharap kakaknya bisa segera ingat dengan Amel.
Setelah sampai di depan kamarnya, Rendi membuka pintu kamarnya sambil menarik tangan Amel dengan pelan. "Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini?" tanya Rendi setelah mereka berada di dalam kamar Rendi. Rendi sedang berdiri di hadapan Amel yang terlihat hanya diam saja.
"Ini juga dadakan, Kak, tadi nggak sengaja ketemu Sofi di mall," jawab Amel pelan.
Rendi melepaskan tangannya lalu berjalan menuju sofa panjang yang ada di kamarnya. "Duduk di sini," ucap Rendi sambil menepuk sofa tepat di sebelahnya.
Amel tampak ragu saat melihat Rendi memintanya untuk duduk di sampingnya. "Aku tidak akan menggigitmu," ucap Rendi saat melihat Amel tampak tidak bergerak dari tempatnya.
Amel kemudian berjalan dan duduk di sebelah Rendi. "Kamu habis menangis?" tanya Rendi setelah Amel duduk di sebelahnya. Dia ternyata sedang memperhatikan wajah Amel dari dekat.
"Nggak Kak, tadi mata aku perih kena debu." Amel mengalihkan pandangannya ke samping karena tidak berani menatap Rendi.
Rendi menjauhkan wajahnya dari Amel. Dia tahu kalau Amel sedang berbohong saat ini. "Apa kamu sudah makan?" tanya Rendi mengalihkan pembicaraannya.
Amel menoleh pada Rendi. "Sudah Kak. Kakak belum makan?" tanya Amel saat melihat Rendi tampak bersandar di sofa dengan kepala menghadap ke langit-langit dan mata yang terpejam.
"Belum," jawabnya.
"Ini udah malam, Lebih baik Kakak makanl dulu. Aku juga mau pulang sebentar lagi," ujar Amel.
Amel merogoh ponsel di saku celananya saat ada bunyi panggilan masuk. "Kak, permisi. Aku mau angkat telpon dulu," ucap Amel sambil berlalu menjauh sedikit dari Rendi. Dia berdiri di sudut ruangan di depan dinding kaca karena luasnya kamar Presiden Suite itu, membuat Rendi ke kesulitan untuk mendengar percakapan Amel.
Rendi hanya bisa memandang Amel yang terlihat beberapa kali menoleh padanya, seperti ada rasa waspada takut percakapannya didengar oleh Rendi.
Setelah selesai berbicara, Amel kembali berjalan menuju Rendi. "Siapa?" tanya Rendi saat Amel sudah berada di duduk kembali di sebelahnya. Dia sengaja memutar badannya agar bisa berhadapan langsung dengan Amel.
Amel tampak ragu untuk memberitahu Rendi. Setelah berpikir sejenak, Amel berkata, "Kak Devan."
Rendi terdiam setelah mendengar nama Devan. Setelah tadi sore dia mendapatkan informasi detail Devan dan mengetahui cerita tentang kedekatan Amel dan Devan dulu. Seketika Rendi jadi cemas.
"Kenapa dia nelpon kamu jam segini?" tanya Rendi pelan. Ada nada tidak suka saat dia bertanya.
Amel meletakkan ponselnya di atas meja. "Nggak ada apa-apa. Dia memang selalu menelpon Amel tiap malam," jelas Amel.
Rendi menatap wajah Amel yang terlihat sedang menghindari tatapannya. "Apa dia tahu kamu sedang di sini?"
Amel menggeleng lemah. "Aku tidak memberitahunya karena dia mengira aku sedang di rumah. Dia melarangku berada di luar pada jam segini," ucap Amel pelan. "Aku harus pulang kak, ini sudah malam. Kakak lebih baik makan. Aku mau ke kamar Sofi untuk mengambil barang-barangku," lanjut Amel lagi saat melihat Rendi tampak diam saja.
Rendi kemudian menghela napas halus. "Bisakah kau menginap di sini malam ini? Kau bisa tidur di sini. Aku akan menggunakan kamar sebelah," pinta Rendi pelan.
__ADS_1
Bersambung...