Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Calon istriku


__ADS_3

Sudah 2 jam Rendi tertidur dan Amel hanya bisa memandangi wajah Rendi dalam diam. Dia tidak bisa ke mana-mana karena dalam tidurpun, Rendi tidak mau melepaskan tangan Amel.


Jari-jari ramping Amel terangkat menelusuri lekuk wajah Rendi. Mulai dari rambut, ke alis lurus yang rapi dan sedikit tebal, turun ke mata hitam yang sipit kemudian ke hidung yang mancung, berlanjut ke pipi yang sedikit tirus, lalu turun ke dagu yang runcing, dan terakhir tangan Amel berhenti pada bibir tipis dengan warna merah alami. Wanita manapun yang melihatnya akan iri dengan warna bibirnya itu.


Amel terkejut saat tiba-tiba tangannya di tangkap oleh Rendi yang masih memejamkan matanya. "Apa kamu udah puas memegang wajah aku? Apa aku sangat tampan sampai kamu menatap aku tidak berkedip?" Rendi membuka matanya tiba-tiba dan menatap dalam mata Amel.


Amel berusaha menjauhkan tangannya, tetapi tidak bisa karena digenggam erat oleh Rendi. "Aku cuma...." Ucapan Amel terpotong oleh ucapan Rendi.


"Cuma apa? Kau mau cium aku?" Rendi menaikkan alisnya sebelah, bermaksud menggoda Amel yang terlihat salah tingkah.


"Nggak, Kakak salah paham." Amel membuang pandangannya ke samping untuk menyembunyikan wajah merahnya.


Sudut bibir Rendi terangkat, membentuk sebuah senyum tipis. "Terus kenapa kamu memegang bibirku dari tadi?" Rendi masih terus menatap mata Amel.


Amel menggerakkan matanya ke kanan dan kiri seperti sedang berpikir. Beberapa detik kemudian dia berkata, "Aku haus, mau minum."


Amel berusaha turun menjauh dari tempat tidur, tetapi pergelangan tangannya malah ditarik oleh Rendi sehingga wajah Amel terjatuh di dada bidang Rendi dan dengan refleks Amel mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu dan sedang Rendi menatap penuh arti pada Amel.


"Aku belum selesai bicara, kenapa kamu udah mau kabur? kamu aja belum menjawab pertanyaanku," ucap Rendi dengan nada menggoda saat melihat wajah Amel yang merona.


"Kakak jangan goda aku terus. Aku cuma mau periksa luka di bibir Kakak tadi?" sanggah Amel. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan kegugupannya dari Rendi.


"Yaa udaah, aku ijinin kamu buat periksa pake bibir kamu" Rendi menarik tengkuk Amel dengan tiba-tiba dan menciumnya dengan cepat kemudian melepaskannya.


Rendi tersenyum senang saat melihat ekspresi terkejut Amel yang baru bereaksi saat Rendi mengusap bibir bawah Amel dengan jarinya. "Kenapa kamu masih aja terkejut? Bukannya aku udah berapa kali mencium kamu."


Amel menjauhkan tubuhnya dari Rendi dan merubah posisinya menjadi duduk di sebelah Rendi yang masih berbaring di tempat tidur menghadap ke Amel. "Gimana aku nggak terkejut kalau Kakak nyium aku tiba-tiba." Amel memicingkan matanya, menatap Rendi yang terlihat sedang tersenyum manis padanya.


"Kalau gitu, kamu harus terbiasa mulai sekarang. Lagian kamu yang bilang mau periksa luka di bibirku tadi," ucap Rendi enteng.


Amel menampilkan wajah cemberutnya. "Iyaa, tapi aku nggak bilang harus pake cara itu. Aku bisa pegang pake tangan aku."

__ADS_1


"Itu cara paling efektif untuk mengetahuinya, sayang. Kalau aku nggak bisa gerakim bibir aku tadi, berarti masih sakit." Rendi tak henti-hentinya menjahili Amel, "kamu jangan buat wajah cemberut seperti itu. Kamu jadi kelihatqn lebih menggemaskan dan buat aku mau cium kamu lagi," sambung Rendi.


Amel langsung menjaga jarak dengan Rendi. "Kakak jangan macem-macem atau aku bakql mninggalin Kakak," ancam Amel spontan.


Raut wajah Rendi tiba-tiba berubah mengeras. "Aku udah pernah bilang, jangan pernah ucapin kata-kata itu lagi!" ucap Rendi marah sambik melemparkan tatapan dingin pada Amel.


"Kenapa Kakak marah? aku cuma bercanda, Kak. Aku kayak gitu karena dari tadi Kakak jahilin aku," jelas Amel.


"Aku nggak suka kamu bercanda kayak gitu." Rendi melunak setelah melihat Amel yang terlihat tiba-tiba diam.


Rendi bangun dari tidurnya kemudian bersandar di tempat tidur. "Sini." Rendi menarik pelan tangan Amel agar duduk di dekatnya. "Aku minta maaf, aku nggak marah, Mel. Aku cuma takut kamu ninggalin aku." Rendi kemudian memeluk tubuh Amel.


Kenapa belajangan ini dia sensitif sekali, emosinya sedang tidak stabil sepertinya.


Amel tersenyum sambil mengelus pelan punggung Rendi. "Maaf Kak, aku nggak bakal bercanda kayak gitu lagi," ucap Amel pelan.


"Kalian lagi apa? Ingat, ini rumah sakit." Terdengar suara dari arah pintu.


Rendi melepaskan pelukannya dengan wajah malas. "Kenapa nggak ngetuk dulu? Kamu nggak punya sopan santun ya."


Dokter Jhon melangkah mendekati Rendi dengan raut wajah cuek. "Ini bukan rumahmu, kau harus menjaga sikap di sini."


Rendi mendengus. "Kamu ganggu aja. Makanya, kamu cepat cari pacar biar hidupmu itu nggak monoton," ujar Rendi dengan santai.


"Aku ke sini bukan untuk bahas kehidupan pribadiku. Aku bawa hasil CT Scanmu."


Dokter Jhon melirik Amel sebentar kemudian beralih pada Rendi seolah memberi kode kepada Rendi.


Rendi yang mengerti kode dokter Jhon beralih menatap Amel yang ada di sebelahnya. "Mel, tolong beliin aku makanan di kantin bawah. Aku laper banget. Nanti kita makan bareng di sini."


Rendi menyerahkan kartu debitnya. "pakai ini, pinnya tanggal ulang tahunmu."

__ADS_1


Dia tidak menyangka kalau Rendi menggunakan tanggal ulang tahunnya sebagai pin kartunya. "nggak usah, Amel punya uang cash kak" tolak Amel mengembalikan kartu Rendi.


Rendi menyerahkan kartu kartunya di tangan Amel. "Pakai kartu ini, kalau nggak, aku akan marah!"


Dokter Jhon hanya dia menatap perdebatan mereka. "Ya sudah, ku pergi dulu."


Rendi mengangguk. "Jangan buru-buru, santai saja," ucap Rendi saat Amel sudah memegang pintu. Amel berbalik dan mengangguk lalu menghilang di balik pintu.


"Dia uda pergi ada, berhenti menatap ke pintu." Dokter Jhon mengambil kursi dan duduk di samping Rendi.


Rendi melirik sekilas ke dokter Jhon dengan wajah acuh tak acuh. "Aku tahu kamu pasti iri denganku. Salahmu sendiri kenapa menolak saat mama menjodohkanmu dengan anak temannya?"


Dokter Jhon mendengus. "Aku nggak iri sama sekali. Lagi pula, aku masih bisa cari pacar sendiri. Kamu pikir aku nggak laku?" Dokter Jhon terlihat sedikit kesal.


"Terus selama ini kamu hidup sebagai jomblo, kalau nggak laku lalu apa namanya?" tanya Rendi sambil melayantkan tatapan mengejek ke arah dokter Jhon.


Dokter Jhon menatap Rendi malas. "Jangan mentang-mentang kamu sudah punya pacar jadi bisa mengejekku."


"Tentu aja, itu karena aku udah laku, nggak kayak kamu," ujar Rendi acuh tak acuh.


"Sepertinya kamu sangat menyayanginya? bahkan pin kartumu saja menggunakan tanggal ulang tahunnya."


"Tentu aja, dia itu calon istri aku. Aku sangat menyayanginya," ujar Rendi bangga.


"Apa kamu nggak takut kalau nanti dia akan menguras uang yang ada di kartumu?" tanya Dokter Jhon.


"Hilangkan pikiran bodohmu itu, Amel nggak kayak yang kamu pikirkan. Bahkan kalau dia minta rumah sakit ini, akan aku berikan untuknya" ucap Rendi enteng.


Dokter Jhon menggelengkan kepala. "Kau memang sudah gila. Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu dengan mudahnya, seolah rumah sakit ini nggak berharga sama sekali."


"Gimana hasil pemeriksaanku?" Rendi mengalihkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Aku udah baca hasilnya. Sepertinya ada sedikit masalah di kepalamu." Dokter Jhon menatap Rendi dengan wajah serius, tidak seperti tadi.


Bersambung....


__ADS_2