
Rendi memencet bel sebelum memasuki kamar orang tuanya. Sebenarnya, Rendi memiliki kartu aksesnya, hanya saja dia tidak pernah memakainya jika ada orang tuanya di dalam kamar. Di belakang Rendi dan Amel, sedang berdiri Sofi dan Raka yang harap-harap cemas ketika memikirkan akan bertemu dengan orang Rendi.
Mereka disambut dengan wajah sumringah Lilian ketika pintu terbuka. "Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini sayang?" Lilian menarik lembut tangan Amel masuk ke dalam kamarnya, melupakan kedua anaknya yang berada di belakang Amel.
"Iyaa Ma, mendadak, tadi habis dari rumah sakit sekalian mampir ke sini." Amel dan yang lainnya mengikuti langkah Lilian menuju ruang tamu.
Sebagai pemilik hotel, tentu saja mereka menempati tipe kamar paling tinggi, yaitu Presidential Suite yang memiliki kamar lebih dari satu, ruang tamu, ruang makan, area kerja yang besar, dapur mini, ruang santai dan ruang olahraga pribadi.
"Iyaa, kata Jhon kamu sakit ya sayang?"
Belum sempat Amel menjawab, Sofi sudah lebih dulu berbicara. "Mama suka gitu deh, lupa sama anak sendiri." Sofi menampilkan wajah cemberutnya ketika merasa tidak dipedulikan oleh ibunya.
Rendi duduk santai bersebelahan dengan Raka, Sofi duduk di sofa single, sementara Lilian duduk bersebelahan dengan Amel. "Sama kakak ipar sendiri aja kamu cemburu." Lilian menanggapi dengan santai saat anaknya protes.
Sofi sebenarnya hanya menggoda ibunya, dia tidak benar-benar marah. "Papa ke mana, Ma?" tanya Rendi ketika tidak melihat keberadaan ayahnya di kamar tersebut.
"Sedang tidur di kamar." Lilian menatap heran pada anak laki-lakinya, "ada apa?"
"Ada yang mau Rendi bicarakan sama Mama dan papa."
"Sebentar, mama lihat dulu, mungkin papa sudah bangun." Lilian bangkit memasuki kamar, tidak lama berselang, ibu dan ayah Rendi keluar bersamaan.
"Ada apa ini? Ramai sekali?" Ayah Rendi duduk bersebelahan dengan istrinya, sementara Rendi berada di tengah antara Amel dan Raka. "Mel, kata Rendi kamu sakit?"
Amel tersenyum. "Amel sudah ke rumah sakit, Pa. Sudah di beri obat oleh dokter."
Ayah Rendi managgut-manggut setelah itu duduk.
"Ada yang mau Rendi sama Raka sampaiin, Pa," ujar Rendi.
Ayah Rendi mengerutkan kening sesaat sebelum berbicara. "Apa?" Ayah Rendi menatap Rendi dengan wajah penasaran.
"Pa, Rendi mau minta Papa buat batalin acara resepsi di Jerman. Rendi dan Amel tidak bisa ke sana."
"Kenapa?" tanya orang tua Rendi serempak.
"Amel sedang hamil, Ma, Pa," jawab Rendi sambil memegang perut Amel yang masih rata.
"Hamil?" Lilian bereaksi dengan wajah terkejut sekaligus senang. "Jadi, maksud kamu kami akan punya cucu?" tanya Lilian antusias.
"Iyaa, Ma, ada anak Rendi di dalam perut Amel. Kami sudah USG." Rendi menyerahkan hasik USG pada ibunya.
Mendengar hal itu, ayah Rendi langsung tersenyum dan seketika melirik pada foto USG Amel. Ayah Rendi juga turut senang mendengar berita mengenai kehamilan Amel.
__ADS_1
"Mama senang sekali, akhirnya mama akan punya cucu." Lilian melihat dengan seksama foto USG yang ada di tangannya sambil menunjukkan pada suaminya. "Calon cucu kita, Pa." Lilian mengusap foto tersebut dengan kasih sayang.
Ayah Rendi mengangguk sambil ikut mengamati foto itu sebentar lalu beralih menatap Rendi. "Kalau begitu kita batalkan keberangkatan kita ke Jerman. Nanti papa akan minta orang untuk mengurus pembatalan resepsi kalian di sana."
Rendi mengangguk setuju. "Mel, kamu harus jaga kandungan kamu baik-baik ya sayang, jangan sampai kelelahan dan kurang makan," nasehat Lilian.
"Iyaaa, Ma, mulai sekarang Amel bakal lebih berhati-hati dan lebih memperhatikan asupan yang masuk."
Ayah Rendi beralih menatap Rendi. "Kalau begitu, kalian harus pindah dari apartemen kalian. Lebih nyaman jika tinggal di rumah dari pada apartemen."
"Benar Ren, lebih baik kalian membeli rumah. Lagi pula, kau bilang tidak mau kembali ke Jerman dan mau menetap di sini. Mama tidak mau cucu-cucu mama tinggal di apartemen, terlalu beresiko dan juga terlalu ramai. Ada bagusnya kalian membeli rumah yang nyaman yang memiliki pekarangan dan taman yang luas. Seperti rumah kita yang dulu."
Rumah yang dulu di tempati oleh Rendi dan keluarganya merupakan rumah paling besar yang ada di perumahan elite di kota Jakarta. Suasanya perumahan di sana juga lebih tenang dan damai.
Rendi terlihat berpikir sebentar lalu beralih menatap istrinya. "Bagaimana sayang, apa kau setuju kalau kita pindah lagi?"
"Iyaa, tidak apa-apa, Kak. Aku setuju."
"Menurut Papa, rumah yang letaknya strategis dan yang nyaman di mana?"
"Apa kau mau pindah ke rumah lama kita yang dulu?" tawar Ayah Rendi.
"Bukankah rumah itu sudah berpenghuni, Pa?" Setahu Rendi, rumah yang mereka jual itu sudah di tempati oleh orang lain setelah resmi terjual.
"Iyaaa, rumah itu dibeli oleh teman papa, tapi sudah kosong 3 bulan lalu karena dia harus pindah ke Singapore sehingga rumah itu kembali dijual. Kalau kau mau, papa akan menghubungi teman papa?" tawar Ayah Rendi.
"Aku mau, Kak," jawab Amel dengan wajah senang.
Bagaimana dia tidak senang, rumah itu meninggalkan banyak kenangan untuknya dan Rendi. Rumah itu juga menjadi saksi bisu hubungan mereka saat berpacaran dulu dan meninggalkan banyak kenangan indah.
"Mama juga setuju dengan usulan Papa. Bagaimana pun kita sudah lama tinggal di sana dan juga Amel tidak asing dengan rumah tersebut," timpal Lilian.
"Baiklah, Rendi mau rumah itu."
"Kalau begitu nanti papa hubungi teman papa."
"Terima kasih, Pa."
Ayah Rendi mengangguk. "Sekarang kita bicarain masalah Sofi, Ma, Pa," lanjut Rendi lagi.
Sofi merasakan debaran jantungnya berdetak lebih cepat mendengar namanya di sebut oleh kakaknya. "Seperti yang sudah Rendi bicarakan kemarin, kalau Sofi sudah putus hubungan dengan Willy sejak beberapa bulan yang lalu dan saat ini sudah memiliki kekasih yaitu Raka." Rendi menoleh pada Raka sebentar, kemudian beralih pada orang tuanya lagi.
"Mama dan papa juga pasti sudah kenal dengan Raka. Dia ke sini untuk berbicara langsung dengan Mama dan Papa," ungkap Rendi.
__ADS_1
Orang tua Rendi memang sudah mengenal Raka serta orang tua Raka. Mereka saling mengenal ketika acara lamaran Amel waktu itu, dari sanalah mereka saling kenal dan nampak berhubungan baik setelah itu.
Ayah Rendi beralih pada Raka. "Jadi, apa yang ingin kau sampaikan pada kami, Raka?" tanya Ayah Rendi dengan wajah serius.
"Seperti yang sudah Rendi ceritakan pada Om Roy dan Tante Lilian, bahwa saya sedang menjalani hubungan dengan Sofi. Mungkin hubungan kami belum lama terjalin, tapi saya sudah memantapkan hati saya untuk melangkah kejenjang yang lebih serius dengan menikahinya, jadi maksud dan tujuan saya datang ke sini untuk meminta restu pada Om Roy dan Tante Lilian untuk menjadikan Sofi sebagai pendamping hidup saya."
Raka menjeda ucapannya sejenak. "Saya berjanji akan membahagiakan dan menjaga Sofi dengan baik. Saya harap Om dan Tante mau menerima niat baik saya ini." Meskipun terlihat tenang, tapi dalam pikiran dan hatinya, Raka, dia merasa sangat cemas sekaligus takut.
Sama halnya dengan Sofi, wajahnya menegang, ia meremas kuat tangannya yang mulai berkeringat, takut kalau orang tuanya menolak Raka dan memintanya untuk tetap meneruskan perjodohan dengan Willy.
Begitu pun Amel, tidak jauh berbeda dengan Raka dan Sofi, dia pun merasa cemas dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh mertuanya untuk pria yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu. Hanya Rendi yang terlihat sangat tenang dengan wajah datarnya.
Suasana seketika hening, tidak ada pembicaraan apa-apa lagi. Ayah Sofi berdeham sebelum mengeluarkan suaranya. "Raka, kau seharusnya tahu, bukan? Kalau Sofi sudah kami jodohkan dengan Willy. Kami sudah sepakat dengan orang tua Willy untuk melakukan pertunangan bulan depan."
"Paaa, tapi Sofi tidak mencintai Willy, Sofi menc....." Raka beralih menatap Sofi sambil menggelengkan kepala tanda dia tidak boleh ikut campur.
Dengan wajah tenang, dia memegang tangan Sofi. "Percaya padaku," ucap Raka dengan suara kecil, kemudian Raka kembali menatap ayah Sofi, "saya tahu hal itu Om, karena itu juga saya ingin menikahi Sofi secepatnya dan tentu saja jika Om dan tante mengijinkan. Saya memang tidak memiliki latar belakang hebat seperti keluarga Willy, tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan Sofi kelak jika hidup bersama dengan saya."
Ayah Sofi terdiam, nampak seperti sedang berpikir. "Bagaimana menurut Mama?" Ayah Sofi menoleh pada istrinya.
Lilian menatap Raka dan Sofi secara bergantian, kemudian beralih menatap suaminya. "Mama serahkan semuanya pada Sofi, mama tidak mau memaksakan keinginan kita padanya. Lagi pula, dia yang menjalaninya."
Lilian kemudian menoleh pada Raka, "Menurut mama, Raka pria yang baik dan bertanggung jawab. Terbukti selama ini, dia bisa menjaga Amel dengan baik, padahal mereka tidak terikat hubungan darah, dan juga menurut mama orang tua Raka adalah sosok penyayang, bijaksana dan penuh kelembutan. Mereka pasti bisa memperlakukab Sofi dengan baik. Kita bisa melihat bagaimana mereka memperlakukan Amel dan bisa menerima Amel dengan baik bahkan menyanyanginya seperti anak mereka sendiri. Tidak semua orang tua bisa bersikap seperti itu pada anak orang lain."
Mata Sofi berkaca-kaca, tidak menyangka kalau ibunya akan berpikiran terbuka dan tidak memaksakan kehendaknya.
Sofi bangkit dan duduk di sebelah ibunya. "Ma, terima kasih karena sudah mendukung Sofi dan mau menerima pilihan Sofi," ucap Sofi sambil memeluk ibunya dari samping.
Lilian tersenyum lembut sambil membelai rambut anak bungsunya. "Iyaa sayang, mama hanya ingin melihat putri mama yang cantik ini bahagia."
Sofi kemudian menoleh pada ayahnya yang terlihat sedari tadi hanya diam. "Pa, tolong restui kami, Sofi tidak mau menikah dengan Willy."
"Pa, aku setuju dengan perkataan Mama. Menurutku, Raka lebih cocok menikah dengan Sofi, setidaknya, Rendi tahu bagaimana kepribadian Raka dan Willy. Diantara mereka berdua, Raka lebih bisa menjaga Sofi, dilihat dari segi apapun, Raka lebih bertanggung jawab dibandingankan Willy," timpal Rendi dengan wajah serius.
Sofi merasa senang karena kakaknya berpihak pada Raka. Setelah terdiam beberapa saat, Ayah Sofi kemudian berkata, "Baiklah, papa akan merestui hubungan kalian dan menerima niat baik Raka."
Semua orang di ruangan itu terlihat senang, bahkan Sofi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengar ucapan ayahnya. "Terima kasih, Pa," ucap Sofi dengan wajah bahagia.
"Terima kasih Om, Tante karena sudah mau menerima niat baik saya." Raka terlihat baru bisa bernapas lega ketika orang tua Sofi sudah memberikan lampu hijau untuknya.
Ayah Sofi mengangguk penuh wibawa. "Kapan rencananya kau ingin menikahi Sofi?"
"Secepatnya saya akan membawa kedua orang tua saya untuk melamar Sofi secara langsung sekaligus membicarakan mengenai pernikahan kami."
__ADS_1
"Baiklah, kami tunggu kedatangan keluargamu secepatnya."
Bersambung....