
"Jangan menguji kesabaranku Sofi," ucap Raka penuh penekanan. "Ikut aku!" Raka menggenggam kuat tangan Sofi, agar dia tidak bisa pergi lagi.
Sofi lalu menatap Raka. "Raka, mulai saat ini. Aku tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun denganmu. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Derasnya hujan membuat air mata Sofi tidak terlihat.
Raka terdiam sesaat seraya menatap wajah pucat Sofi. "Kau bisa marah padaku sesukamu nanti, tapi untuk saat ini, kau harus ikut denganku."
Raka menarik tangan Sofi dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih setia memegang payung. "Lepaskan aku!" Sofi berusaha unutk melepaskan tangan Raka yang mencengkaram kuat tangannya.
"Apa kau tuli? Lepaskan aku. Aku tidak mau ikut denganmu!" teriak Sofi dengan suara keras seraya memukul-mukul tangan Raka.
Raka kemudian menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh pada Sofi. "Sofi, kesabaranku ada batasnya, jadi jangan memancing kemarahanku dengan sikap keras kepalamu," ucap Raka dengan wajah yang terlihat mulai emosi.
"Aku akan pulang sendiri. Aku tidak mau ikut denganmu." Sofi masih bersikukuh tidak ingin ikut Raka. Hatinya sudah sangat terluka karena sikap dingin Raka padanya.
"Apa kau mau pingsan di jalanan? Kau bisa sakit, jika kau berjalan ditengah hujan deras begini?" ucap Raka dengan nada tinggi dan sorot mata tajam.
"Aku akan meminta Mike untuk menjemputku, jadi kau bisa pergi sekarang." Ucapan Sofi langsung membangkitkan amarah dalam diri Raka yang berusaha dia redam sejak tadi.
Raka membuang payung yang ada ditangannya. "Kau bilang apa?" tanya Raka seraya berjalan mendekati Sofi. Saat ini, tidak ada lagi yang melindungi mereka dari hujan deras.
"Kau pasti mendengarnya dengan jelas," ucap Sofi dengan acuh. Dia sengaja mengalihkan pandangannya ke samping agar tidak bertatapan dengan Raka.
"Jangan pernah berani memintanya untuk datang menjemputmu kemari, kalau kau tidak ingin membuatnya terluka," ancam Raka dengan rahang mengeras dan wajah menggelap.
"Apa sebenarnya maumu?" tanya Sofi dengan sorot mata sendu dan wajah frustasi.
"Ikut pulang bersamaku," ucap Raka dengan suara berat.
Seluruh tubuh Sofi nampak gemetar, apalagi wajah dan bibirnya sudah pucat. Sofi lalu memejamkan matanya dengan sudut bibir terangkat satu. "Melihat sikapmu saat ini membuatku bisa salah paham. Aku bisa saja mengartikan kalau kau..."
Raka langsung meraih kepala Sofi, lalu menempelkan bibir mereka berdua. Mata Sofi langsung membesar. Dia sedikit tercengang dengan dengan tindakan Raka yang tiba-tiba.
Raka melu*mat bibir Sofi seraya memejamkan matanya menikmati kelembutan bibir Sofi. Di bawah guyuran hujan, mereka saling memagut dalam waktu yang lama. Raka melepaskan pagutannya ketika merasa bibir Sofi tampak gemetar.
Raka kemudian menatap lekat mata Sofi. "Jangan membantahku lagi. Ikut aku pulang." Raka langsung menarik tangan Sofi menuju mobilnya, Sofi hanya diam mengikuti langkah kaki Raka.
__ADS_1
Sofi mengikuti Raka dengan langkah pelan, pandangannya mulai kabur, tubuhnya lemah dan seketika dia tidak bisa menahan lagi bobot tubuhnya. Sofi langsung ambruk sebelum mencapai mobil Raka.
Raka langsung menoleh saat pegangan tangan Sofi terlepas darinya. Dia langsung menghampiri Sofi yang sudah tergeletak di jalan.
Raka kemudian meraih tubuh Sofi dan meletakkan di pangkuannya. "Sofi, bangun..." Raka menepuk-nepuk wajah Sofi dengan wajah panik.
"Sofi..Bangun Sof.." Raka masih berusaha untuk menyadarkan Sofi. "Bangun Sof.." Melihat tidak ada gerakan apapun dari Sofi. Raka langsung mengangkat tubuh Sofi dan membopongnya menuju mobinya.
Dengan susah payah Raka membaringkan tubuh Sofi kursi belakang. Raka kemudian masuk ke kursi belakang dan memangku kepala Sofi. Dia lalu mengambil jaket yang tergantung di dalam mobilnya.
"Maafkan aku Sof. Aku tidak bermaksud bersikap kurang ajar padamu. Maafkan aku."
Dengan mata terpejam Raka mulai membuka baju Sofi. Dia bisa merasakan Sofi menggigil kedinginan saat dia menciumnya tadi. Dia kemudian membuka baju Sofi karena berniat untuk memakaian jaketnya pada tubuh Sofi.
Setelah baju Sofi terlepas dari tubuhnya. Raka berusaha memakaikan jaket pada Sofi dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jaket sudah terpasang di tubuh Sofi. Raka lalu mennarik resleting jaketnya dengan cepat.
Raka menghela napas panjang setelah itu dia keluar, menuju kursi kemudi. Raka melajukan mobilnya dengan cepat. Sesekali dia menoleh ke belakang, untuk melihat keadaan Sofi.
Sesampainya di rumahnya. Raka langsung mengangkat tubuh Sofi, lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.
"Pingsan Ma.," jawab Raka tanpa menghentikan langkahnya. Dia mulai menaiki tangga.
"Kok bisa? Terus kenapa kalian berdua bisa basah kuyup?" Tamara mengikuti langkah Raka menaiki tangga. "Kalian maen hujan-hujanan?" gurau Tamara di sela-sela kepanikannya.
"Ceritanya panjang Ma." Tamara terlihat menyunggingkan senyum lebarnya ketika melihat wajah panik anaknya.
"Bang, bawa ke kamar kamu aja," saran Tamara.
"Kok kamar aku? Kan kamar Amel kosong Ma," protes Raka dengan dahi mengerut.
"Kamar mandi, di kamar Amel rusak. Lebih baik di kamar kamu aja." bohong Tamara. Dia sengaja berbohong pada anaknya, agar Raka mau membawa Sofi ke kamarnya.
Akhirnya Raka mengalah. Dia berjalan memnuju kamarnya, ketika sudah berada di lantai dua. Dengan gerakan cepat, Tamara membuka pintu kamar anaknya.
Raka melangkah masuk, lalu meletakkan tubuh Sofi dengan hati-hati. "Kamu jaga Sofi dulu. Mama ambil baju ganti untuk Sofi." Tamara langsung keluar dari kamar anaknya ketika melihat Raka mengangguk.
__ADS_1
Raka berjalan ke kamar mandi untuk mengambil handuk bersih untuk wajah, setelah itu berjalan kembali ke tempat tidur. Dia lalu menarik kursi di dekat tempat tidur. Raka mulai menyeka wajah Sofi dengan handuk kecil.
"Bang, isi dulu bathupnya pake air anget," perintah Tamara, ketika dia baru saja masuk kamar anaknya dengan membawa pakaian ganti untuk Sofi.
"Iya Ma." Raka langsung menuju kamar mandi.
"Bang, isi air hangat bang, jangan air dingin," ucap Tamara, ketika melihat anaknya keluar dari kamar mandi.
"Iyaa Ma, udaah."
"Kalau gitu, sekarang kamu angkat Sofi ke kamar mandi." Raka mengangguk.
Raka langsung membawa tubuh Sofi menuju kamar mandi. "Pelan-pelan bang," ujar Tamara, ketika Raka memasukkan tubuh Sofi ke dalam bathup. "Ini juga udah hati-hati Ma," jawab Raka.
"Sekarang kamu mandiin Sofi," perintah ibunya.
Raka langsung menoleh pada ibunya. "Yang benar aja dong Ma. Sofi bukan istri Raka! Mana boleh Raka yang mandiin dia," protes Raka dengan wajah kesal.
"Loh, bukannya Sofi calon istri kamu?" goda Tamara. "Kirain mama kau nggak bakal nolak."
"Maa, jangan mulai lagi. Raka nggak punya hubungan apa-apa sama Sofi. Lebih baik mama lupain niat mama untuk jodohin Raka sama Sofi karena kami nggak mungkin bisa bersama," ucap Raka tegas.
"Kenapa? Apa Sofi nggak suka sama kamu karena kamu jelek?"
"Hina aja terus Raka, Ma," ucap Raka dengan wajah kesal.
Tamara langsung terkekeh. "Mama bercanda bang," tutur Tamara dengan senyum jahilnya. Tamar kembali terkekeh ketika melihat wajah kesal anaknya.
"Nggak lucu Ma," ketus Raka.
"Maaf deh..Lebih baik kamu ke bawah, minta bi Sarti untuk buatkan teh jahe hangat dan bubur untuk calon istri kamu."
"Maa..."
"Iyaa..Iyaa.. Sudah sana," usir Tamara.
__ADS_1
Bersambung....