
Rendi yang melihat Amel berjalan tak tentu arah melangkah menyusul Amel. Amel nampak menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Rendi yang melihat ada mobil sedan putih yang melaju kencang ke arah Amel, segera berlari dan menarik tangan Amel..
Ccciiiiiiiiiiitttttt...
Mobil itu mengerem mendadak. Beberapa menit kemudian kaca mobil di turunkan dan terdengar seseorang berteriak, "Kalau nyebrang pake mata!"
Rendi menoleh lalu meminta maaf kepada pemilik mobil. Beruntung pemilik mobil langsung melajukan mobilnya lahi dan tidak berniat untuk memperpanjang masalah.
Amel terdiam dan terlihat masih syok. Pikirannya melayang entah ke mana. Rendi menarik Amel cepat dan membawanya ke tepi jalan.
"Lo uda gila yaa..?? Lo mau mati konyol, hahhh..!!" bentak Rendi lepas kendali, "kalau lo mau mati jangan di sini, nyusahin orang!" Rendi terlihat sangat marah.
Amel masih diam tetapi air matanya sudah mengalir di pipinya. Dia menangis tanpa suara. Amel tidak menyangka kalau Rendi akan marah dan membentaknya.
Rendi yang melihat Amel menangis dengan suara tertahan seketika merasa bersalah. Rendi kemudian menarik Amel dalam pelukannya. "Maafin gue Mel... Maaf, gue enggak bermaksud bentak lo. Maafin gue."
Rendi mempererat pelukannya sambil membelai rambut Amel dengan wajah bersalah. Tadi Rendi sangat terkejut saat Amel hampir ditabrak sehingga tanpa sadar dia membentak Amel. Dia sangat takut terjadi apa-apa dengan Amel.
Amel masih diam sambil menangis. Melihat Amel tak meresponnya Rendi berkata lagi, "Gue kelepasan tadi, gue minta maaf. Gue cuma takut lo kenapa-napa. Jangan nangis lagi. Maafin gue." Rendi belum juga melepas pelukannya.
Amel yang sudah mulai tenang kemudian melepaskan pelukan Rendi. "Harusnya Amel yang minta maaf. Amel yang salah," ucap Amel sambil menunduk.
"Ya udah, kita cari tempat lain. Jangan di sini."
Rendi menarik lembut tangan Amel, berjalan sebentar lalu menyetop taksi. Rendi membuka pintu setelah ada taksi yang berhenti. Dia menuntun Amel dengan hati-hati masuk ke dalam taksi setelah itu taksi melaju.
Selama di dalam taksi mereka hanya diam dan tidak ada yang mengeluarkan suara.
Rendi terus menatap Amel saat melihat Amel terus memandang keluar jendela. Masih ada raut kesedihan di wajahnya.
Dia merasa bersalah dengan sikapnya tadi. Kenapa juga dia bersikap seperti itu dengan Amel dan menyakiti dengan kata-katanya. Sebenarnya Rendi tidak bermaksud seperti itu. Perasaannya kesal saat melihat Amel dan Raka yang terlihat sangat dekat seperti orang pacaran.
Setelah dirasa cukup jauh dari lingkungan sekolah, Rendi menghentikan taksinya di depan sebuah cafe lalu mengajak Amel turun. Dia sengaja mengajak Amel menjauh dari lingkungan sekolah agar tidak ada teman sekolah mereka yang melihat. Rendi takut ada yang salah paham apalagi Amel sedang linglung dan menangis.
Rendi menarik tangan Amel untuk masuk ke dalam cafe dan mencari duduk di sudut ruangan. Rendi memesan minuman teh hangat untuk Amel dan beberapa makanan setelah mereka duduk.
"Minum dulu tehnya." Rendi menyodorkan gelas kepada Amel.
Amel mengangguk, mengambil dan meminum tehnya. Selesai minum, Amel mengangkat wajahnya dan ternyata Rendi sedang menatapnya.
Amel kemudian menunduk. "Uda enakan belum?" tanya Rendi dengan lembut.
Amel hanya mengangguk. Dia bingung harus bicara apa.
"Gue minta maaf banget soal tadi, Mel. Gue refleks. Gue enggak bermaksud bentak lo tadi," jelas Rendi.
__ADS_1
"Iyaa Kak." Amel menjawab dengan wajah menunduk ke bawah.
"Tadi katanya ada yang mau diomongin, mai ngomong apa?" tanya Rendi.
Amel berpikir sejenak, dia bingung harus mulai dari mana. "Nggak penting Kak, lagian Kakak juga lagi sibuk, lain kali aja."
"Gue minta maaf soal sikap gue tadi, Mel," sesal Rendi dengan wajah bersalah.
"Kak Rendi nggak salah," jawab Amel dengan suara pelan.
"Ya udah, tadi mau ngomong apa? Gue mau denger," desak Rendi.
"Amel cuma mau ngucapin terima kasih aja karena kakak udah nolongin Amel waktu pingsan," ucap Amel pada akhirnya.
"Bukannya lo pingsan gara-gara gue?" tanya Rendi lagi.
"Maksud Kakak?" Amel memandang Rendi dengan wajah penuh tanya. Dia tidak mengerti maskud dari perkataan Rendi.
"Lo pingsan karena belom sarapan dan gue denger lo nggak sarapan hari ini karena ngehindarin gue," jelas Rendi.
Amel sedikit terkejut mendengar perkataan Rendi.
Dari mana Rendi tau soal itu?
"Kakak tau dari mana?" tanya Amel.
"Nggak gitu Kak. Kakak salah paham," jelas Amel.
"Gue denger langsung waktu temen lo lagi ngomong sama Raka di UKS kemaren," ungkap Rendi.
Amel menghela napas halus. "Sebenarnya Amel cuma bingung harus gimana kalau ketemu Kakak," ucap Amel, "Amel ngerasa kalau Kakak benci sama Amel. Setiap ketemu Kakak kayak enggak suka liat Amel."
"Bukannya lo yang nggak suka sama gue, makanya lo berusaha ngehindarin karena takut Raka marah dan salah paham sama gue."
"Apa hubungannya sama Raka? Ngapain juga dia harus marah?" tanya Amel heran.
"Jelas ada hubungannya. Dia kan pacar lo," jelas Rendi.
Amel menggelengkan kepalanya. "Bukan Kak, kata siapa Raka pacar Amel?" Amel menatap heran pada Rendi.
"Banyak yang bilang," jawab Rendi.
"Itu mah cuma gosip aja Kak. Raka itu udah Amel anggep kayak kakak Amel sendiri. Amel nggak suka sama sekali sama Raka," jelas Amel sambil tersenyum.
Ekspresi Rendi langsung berubah cerah setelah mendengar perkataan Amel. Ada rasa senang di hatinya ketika tahu fakta yang sebenarnya. Ternyata dia sudah salah paham. Selama ini dia sengaja menjaga jarak dengan Amel karena mengira mereka berpacaran.
__ADS_1
"Tapi gue sering liat lo berduan sama Raka. Ke mana-mana selalu berdua. Raka juga sering ngerangkul pundak lo. Pegang tangan lo atau manggil pake kata-kata sayang," ungkap Rendi.
"Raka emang gitu Kak sama Amel. Mungkin karena dia nggak punya adek cewek jadi begitu. Lagian Raka juga uda punya pacar," jelas Amel.
"Tapi gue nggak yakin kalau Raka nggak pnya perasaan sama lo."
"Nggaklah Kak, dia cuma nganggep Amel sebagai adeknya."
"Di dunia ini nggak ada hubungan kakak-adek yang murni tanpa hubungan darah. Salah satunya pasti mempunyai perasaan, Mel," ujar Rendi dengan yakin
"Tapi kayaknya nggak mungkin, Kak," ucap Amel lagi.
"Itu cuma Raka yang tau," balas Rendi.
"Tapi beneran lo nggak pacaran sama Raka?" tanya Rendi memastikan.
"Beneran Kak. Amel enggak punya hubungan apa-apa sama Raka. Amel cuma nganggep dia sebagai kakak."
"Baguslah kalau begitu, gue kira lo pacaran sama dia."
Amel mengernyit sebentar mendengar ucapan Rendi. "Amel sama Raka emang deket jadi banyak yang salah paham, termasuk Kakak."
Amel merasa lega mendengar penjelasan Amel. Dugaannya ternyata selama ini salah. "Jadi lo enggak benci sama gue, kan?"
"Nggaklah Kak," jawab Amel sambil tersenyum.
Sebaliknya Kak, gue suka banget sama lo Kak.
"Lo nggak bakal ngehindarin gue lagi kan di sekolah?"
"Harusnya Amel yang bilang begitu. Selama ini Kakak yang kayaknya benci sama Amel."
"Gue enggak benci sama lo Mel."
Amel nampak malu di tatap lekat oleh Rendi. "Kalau gitu nggak Amel mau pulang dulu Kak, udah sore," ucap Amel sambil berdiri.
"Bareng aja, biar gue anter sekalian," ujar Rendi.
Setelah membayar, mereka keluar dari cafe. Rendi menghentikan langkah kakinya ketika ponselnya berbunyi. Dia kemudian mengangkat telponnya.
"Mel, temenin bentar ke toko kue itu ya?" tunjuk Rendi ke toko kue yang ada di sebrang cafe setelah panggilan telponnya terputus.
Amel mengangguk. "Iyaa, Kak."
Mereka berdiri menunggu kendaraan sepi, setelah itu Rendi menggengam tangan Amel dan menariknya dengan pelan menyebrangi jalan.
__ADS_1
Amel terus menatap tangan yang dipegang Rendi. Perasaannya sangat bahagia. Hatinya berbunga-bunga. Dia tidak menyangka Rendi bakal bersikap semanis itu.
Bersambung...