
Rendi tahu, kalau dokter Jhon tidak akan mudah mengakui perasaan sukanya pada orang lain, terlebih lagi pada dokter Bianca. Dia akan menutup rapat-rapat perasaan sukanya itu. Dari dulu, dia selalu bersikap tertutup dengan kehidupan pribadinya.
Bahkan terkesan tidak peduli terhadap dokter Bianca saat sedang bersamanya, padahal dia mati-matian berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan sukanya.
Saat mereka menempuh pendidikan kedokteran di luar negri, dia bersikap cuek dan dingin pada Bianca, tetapi tanpa sepengetahuan dokter Bianca, dokter Jhon selalu memantau segala aktifitas dokter Bianca. Tidak ada satu pun yang luput dari pengawasannya.
Dia tidak segan menghajar pacar dokter Bianca, saat mengetahui pacarnya menyakiti hati Bianca. Bahkan, dia pernah menghajar habis-habisan pria yang berniat melecehkan dokter Bianca hingga orang itu masuk ICU. Saat itu, dokter Bianca dalam keadaan mabuk setelah menghadiri pesta ulang tahun temannya.
Dari dulu dia tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya karena dia sadar diri, antara dia dan dokter Bianca terdapat jurang pemisah yang dalam. Kesenjangan antara dia dan dokter Bianca membuatnya mengurungkan niat untuk mengutarakan perasaanya dan memutuskan untuk memendamnya sendiri.
Rendi memajukan tubuhnya supaya lebih dekat dengan dokter Jhon yang saat ini, sedang duduk berhadapan dengannya. “Apa kau tidak tahu, anak pertama dari perusahaan Ocean Group sudah menyampaikan niatnya untuk melamar kak Bianca pada orang tuanya? Apa kau tidak takut kalau kak Bianca menerima lamarannya? Apalagi, melihat ketampanannya dan sikap baiknya. Aku rasa kak Bianca akan mempertimbangkannya,” pancing Rendi melirik dokter Jhon sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Dokter Jhon tampak terdiam, tangannya meremas map yang ada di tangannya setelah mendengar perkataan Rendi. Pandangannya berubah dingin. “Dia memang pantas mendapatkan laki-laki yang baik untuk mendampinginya. Aku harap dia bisa bahagia dengan laki-laki pilihannya itu.”
Rendi menggelengkan kepalanya. “Apa kau bodoh? Dia itu menunggumu untuk melamarnya. Dia tidak ingin orang lain. Apa kau tidak mengerti juga kenapa sampai saat ini, tidak ada satupun laki-laki yang bertahan lama di sisinya? Itu karena dia berpacaran hanya untuk membuatmu cemburu. Dia tidak serius menjalaninya dengan orang lain. Sebelum terlambat dan kau menyesal nantinya, lebih baik kau utarakan perasaanmu padanya,” saran Rendi pada saat melihat dokter Jhon tampak berpikir keras.
“Aku tidak bisa memberikan kehidupan layak untuknya. Akan lebih baik jika dia bersama dengan anak dari Ocean Group itu. Kehidupannya akan lebih terjamin.”
“Kau itu jangan terlalu merendahkan dirimu. Kau itu lebih hebat darinya. Kau bahkan berdiri di kakimu sendiri, tidak seperti laki-laki itu, yang mendapatkan segalanya tanpa harus berusaha keras sepertimu." Rendi berusaha untuk membangkitkan kepercayaan diri dokter Jhon.
"Diusia yang masih muda kau sudah menjadi Dokter Spesialis Bedah Syaraf terbaik di sini. Itu adalah prestasi yang membanggakan," puji Rendi.
"Lagi pula, kak Bianca tidak mencari pendamping hidup yang kaya raya. Dia hanya ingin hidup dengan laki-laki yang dia cintai. Kau jangan lupa. Kau juga bagian dari keluarga kami. Kau adalah kakakku, walaupun Ocean Group termasuk perusahaan besar. Tetapi mereka masih di bawah keluarga kita, jadi kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang bisa meremehkanmu,” ucap Rendi memberi semangat pada dokter Jhon.
“Bahkan, seandainya terjadi apa-apa denganku nanti, kau yang akan membantu Sofi untuk menjalankan semua perusahaan papa. Sofi adalah wanita, tidak mungkin papa mempercayakan sepenuhnya pada Sofi. Dia tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu.”
“Kau jangan bicara sembarangan Ren! Hentikan omong kosongmu itu! Buang jauh-jauh pikiran bodohmu,” seru dokter Jhon dengan suara keras saat mendengar perkataan Rendi yang terakhir.
“Baiklah, aku hanya memikirkan kemungkinan terburuknya saja. Aku tidak ingin terlalu berharap kali ini,” ucap Rendi pelan saat melihat dokter Jhon sedang menatap tajam padanya.
“Bukankah kau bilang, kalau aku dokter terbaik di sini, jadi kau tidak perlu khawatir. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu.”
__ADS_1
“Sebelum aku ikut kalian ke Amerika, bisakah kau melakukan sesuatu untukku?” tanya Rendi sambil menatap dokter Jhon.
“Apa?”
Rendi mendekatkan tubuhnya ke dokter Jhon, Rendi terlihat membisikkan sesuatu pada dokter Jhon. “Apa kau gila..??” tanya dokter Jhon sambil menoleh pada Rendi dengan tatapan tajam. “Aku tidak mau!!” sambung dokter Jhon lagi sambil menjauhkan tubuhnya dari Rendi.
“Cuma ini yang bisa aku lakukan untuknya. Tolong bantu aku Jhon. Aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja,” mohon Rendi sambil melihat dokter Jhon dengan tatapan penuh harap.
“Orang tuamu bisa menendangku keluar dari sini dan menjadikan aku gembel, jika mereka tahu aku membantumu.”
“Tidak mungkin Jhon. Kau adalah anaknya juga. t
Tidak mungkin mereka melakukan itu padamu. Tolong bantu aku sekali ini saja,” pinta Rendi sambil menarik jas dokter Jhon, ketika melihat dokter Jhon tampak memalingkan wajahnya ke samping.
“Aku mohon bantu aku kak..! Kali ini saja kak,” pinta Rendi lagi, saat melihat dokter Jhon tidak menggubris ucapannya.
“Jangan panggil aku dengan kata itu! Kau membuatku merinding,” ujar dokter Jhon tanpa menoleh pada Rendi.
“Itukan dulu, sudah lama kau tidak memanggilku begitu, jadi aku sudah tidak terbiasa mendengarnya sekarang.”
“Bukankah kau juga tahu alasanya. Di luar negri semua orang terbiasa langsung memanggil namanya tanpa embel-embel di depannya. Tidak seperti di Indonesia. Sebab itu, aku terbiasa memanggilmu nama semenjak tinggal di luar negeri.”
“Sudah lah, aku tidak akan menang berdebat denganmu.”
“Jadi, kau akan membantukukan?” tanya Rendi penuh harap.
“Aku bisa melakukan semua permintaanmu yang tadi, kecuali permintaanmu yang terakhir.”
“Tolong kak, hanya kau yang bisa membantuku.”
“Jika keluargamu tahu, bukan hanya diusir dari sini, mereka juga bisa menuntutku.”
__ADS_1
“Jika kau tidak mau. Aku yang akan mengusirmu nanti,” ancam Rendi.
“Aku tidak peduli. Aku tetap tidak bisa membantumu.”
“Selama ini, aku tidak pernah meminta apapun darimu. Anggap saja ini permintaan terakhirku kak.”
Dokter Jhon menoleh dan menatap tajam pada Rendi yang terlihat menampakkan wajah mengiba. “Kau ini, sudah kubilang jangan bicara omong kosong.”
“Baiklah, tapi tolong bantu aku. Apa kau tidak kasihan denganku? Aku tidak akan tenang, jika kau tidak membantuku."
Dokter Jhon menghela napas kasar. “Baiklah, aku akan membantumu. Tapi kau harus berjanji, kalau kau akan bersungguh-sungguh melakukan pengobatan saat di Amerika nanti.”
“Terima kasih kak,” ucap Rendi senyum lebar sambil memegang lengan dokter Jhon.
“Menjauh dariku! Kau membuatku takut,” ucap dokter Jhon saat melihat Rendi akan memeluk tubuhnya.
Rendi mendekatkan tubuhnya pada Jhon. “Sebagai imbalannnya, aku akan membantumu untuk bilang pada mama dan papa untuk segera melamar kak Bianca, bagaimana?”
Dokter Jhon melirik malas pada Rendi. “Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”
Rendi tertawa di dalam hati karena sudah berhasil membuat dokter Jhon untuk melangkah maju memperjuangakan dokter Bianca. Rendi tahu, kalau dokter Jhon akan diam saja, jika tidak merasa terdesak.
“Berhenti tersenyum seperti itu. Kau membuatku merinding," seru dokter Jhon. "Apa kau benar-benar sudah gila?” tanya Dokter Jhon saat melihat Rendi tampak tersenyum terus.
“Lebih baik cepat lepaskan ini. Kau tidak lihat cairan infusnya sudah mau habis? Aku harus segera pergi menemui Amel,” tunjuk Rendi pada tangannya yang masih tersambung selang infus.
Dokter Jhon berdiri dan sedikit membungkuk kemudian meraih tangan Rendi. “Ingat..! Kau harus segera kembali,” ucap dokter Jhon sambil menatap tajam pada Rendi setelah berhasil melepas infus pada tangannya.
“Kau tenang saja.” Rendi berjalan menuju lemari dan meraih pakaian, setelah itu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Dia berjalan cepat keluar dari rumah sakit menuju parkiran VVIP yang berada tepat di depan rumah sakitnya.
Bersambung...
__ADS_1