Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Menggodanya


__ADS_3

Raka menyentuh kepala Sofi lalu mengacak rambutnya. "Jangan terlalu banyak berpikir. Itu hanya asumsimu saja."


Sofi langsung mengangkat kepalanya. "Apa itu berarti dugaanku salah? Jadi, sebenarnya kau mencintaiku?" tanya Sofi antusias.


"Minumlah obatmu setelah makan. Aku akan mengatarmu nanti sore. Aku sudah meminta ijin pada kakakmu semalam." Raka kemudian bangkit dari duduknya, "aku akan mengambil baju ganti untukmu. Kau harus mengganti pakaianmu karena semalam kau berkeringat."


"Jawab dulu pertanyaanku." Sofi menahan tangan Raka yang akan melangkah. "Aku tidak akan minum obatku jika kau tidak menjawabnya sekarang."


Raka menoleh pada Sofi. Dia merasa sifat Sofi kekanak-kanakan saat ini. "Jangan keras kepala."


"Biarkan saja, aku bertambah sakit." Sofi menampilkan wajah acuh tak acuhnya. "Kakakku dan kak Amel pasti akan memarahimu jika aku bilang kau yang membuatku sakit," ancam Sofi.


Raka menghembuskan napas halus. Tidak menyangka kalau Sofi akan menggunakan sakitnya untuk mengancamnya. Raka berbalik mendekati Sofi lalu mencium pucuk kepalanya, setelah itu berjalan keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apa-apa.


Sofi membelalakkan matanya dengan dengan mulut yang terbuka. Apa ini? Apa itu berarti dia sebenarnya mencintaiku?


Sofi kemudian berteriak, "Raka, kenapa mencium kepalaku! Seharusnya kau mencium keningku?"


Atau mungkin bibirku, batin Sofi seraya terkekeh.


Kesedihan yang yang tadi menghiasi wajah pucatnya, kini sudah tergantikan dengan wajah wajah bahagia.


Raka terlihat berjalan dengan acuh tak acuh seraya menutup pintu kamarnya. Sofi terus tersenyum setelah kepergian Raka. Meskipun Raka tidak menjelaskannya, tapi setidaknya dia beranggapan kalau Raka sebenarnya masih mencintainya.


Beberapa saat kemudian, Raka masuk kembali ke kamarnya. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat Sofi tersenyum sendiri seraya memakan kembali bubur yang sempat dia letakkan di atas nakas.


Sofi nampak mengangkat kepalanya menatap Raka yang sedang berjalan ke arahnya. "Cepat habiskan makananmu. Kau tidak akan kenyang jika terus menatapaku."


Raka meletakkan baju yang sudah disiapkan oleh ibunya di kamar Amel. Saat dia turun tadi pagi, ibunya sedang duduk santai di ruang keluarga. Dia langsung menghentikan langkah Raka ketika ingin berjalan ke dapur.


Tamara memberondong berbagai pertanyaan pada anaknya. Dia bahkan tanpa malu menanyakan pada anaknya apakah terjadi sesuatu pada anaknya dan Sofi. Tentu saja Raka hanya menanggapi ibunya dengan jawaban singkat dengan wajah acuh tak acuhnya. Dia baru menyadari kalau ibunya sengaja menyuruh Sofi untuk tidur di kamarnya agar mereka lebih dekat.

__ADS_1


 


"Raka." Sofi meletakkan sendoknya di mangkok lalu beralih menatapnya. "Apa aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari semalam?"


Sofi sudah berusaha untuk mengingat kejadian semalam, tapi dia belum juga bisa mengingatnya. Mungkinkah dia baru sadar dari pingsannya pagi ini? Atau ada yang terlewatkan olehnya karena dia demam tinggi sehingga dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukannya. Sebenarnya dia hanya takut kalau dia berbuat hal yang memalukan di depan Raka. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk terhadap mantan kekasihnya itu.


Raka mengerutkan keningnya dengan tatapan bingung. Dia akhirnya bertanya pada Sofi saat melihat reaksinya. "Apa kau sungguh tidak ingat kejadian semalam?"


Sofi menghentikan tangannya di udara saat akan memasukkan suapan ke dalam mulutnya. "Memangnya apa yang terjadi semalam? Apa aku mengatakan hal omong kosong? Atau aku berbuat hal yang tidak pantas padamu?" Membayangkan kalau dirinya mempermalukan diri dengan menggoda Raka, membuatnya merasa sangat malu.


Raka menghela napas seraya menggelengkan kepalanya. "Lain kali, jangan pernah bermain-main saat hujan deras, apalagi sampai pingsan, terlebih lagi, bersama dengan laki-laki lain." Raka sudah tidak menampilkan sikap dingin dan cueknya pada Sofi.


"Aku bukan anak kecil yang suka bermain hujan. Itu juga semua karenamu," protes Sofi. "Cepatkan katakan padaku, apa yang terjadi semalam?" Sofi tampak belum menyerah juga. Dia merasa penasaran sebenarnya apa yang terjadi semalam.


"Tidak ada yang terjadi semalam," jawab Raka seraya mengalihkan pandangannya.


"Benarkah? Apa kau tidak bohong?" Sofi mendekatkan wajahnya pada Raka.


Raka menoleh pada Sofi dan seketika mereka bertatapan. "Menurutmu apa yang terjadi semalam pada kita? disaat kita berada dalam satu kamar dan dalam kondisi kedinginan setelah terkena hujan?"


Sofi seketika menjauhkan tubuhnya dari Raka dengan dahi mengerut seraya menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut dengan apa yang barusan dia dengar. "Kau jangan menakutiku Raka," ucap Sofi dengan wajah takut.


"Apa perlu aku ulangi lagi, apa yang kita lakukan semalam?" Raka menatap serius wajah Sofi dan Sofi langsung menciut ditantang oleh Raka seperti itu.


Seketika Sofi menyilangkan kedua tangan di dadanya. Dia mengerti maksud dari perkataan Raka barusan. "Kau jangan macam-macam Raka. Aku memang mencintaimu, tapi bukan berarti aku mau tidur denganmu."


Raka menyungging sudut bibirnya kirinya. "Sudah terlambat. Kau sudah menjadi milikku."


Mendengar itu, Sofi langsung tertawa. Dia tahu kalau saat ini, Raka sedang berbohong padanya. Pasalnya dia tidak merasakan apapun pada tubuhnya ketika bangun tadi pagi, selain merasa pusing dan lemas.


Sofi memajukan wajahnya, menatap Raka dari jarak yang sangat dekat. Hanya beberapa centi lagi maka hidung mereka akan bersentuhan. "Benarkah aku sudah menjad milikmu?" tanya Sofi dengan senyum menggoda.

__ADS_1


Raka langsung mendorong dahi Sofi menjauh dari wajahnya dengan jari telunjuknya. Dia tidak mengerti lagi dengan tingkah mantan kekasihnya itu. "Semenjak kapan kau jadi gadis centil seperti ini?"


Sofi mengerucutkan bibirnya dengan wajah sebal ketika mendengar perkataan Raka. "Enak saja. Aku ini gadis pendiam."


Raka mendesis lalu menatap tidak percaya dengan Sofi. "Kau bahkan lebih agresif dari pada aku. Pendiam dari mananya?"


"Aku begitu hanya denganmu," elak Sofi dengan wajah tidak terima.


"Sudahlah. Cepat minum obatmu. Setelah itu beristirahatlah." Raka berdirialu melangkah pergi.


"Kau mau ke mana?" 


"Mandi," jawab Raka acuh tak acuh. "Kenapa? Apa kau mau ikut?"


"Memangnya boleh?" goda Sofi dengan wajah polos.


Raka yang sudah mau melangkah masuk ke dalam kamar mandi seketika menghentikan langkahnya. "Tentu saja boleh. Aku bahkan sudah memandikanmu semalam. Aku tidak keberatan jika harus memandikanmu lagi," jawab Raka enteng.


Dia bisa melihat wajah tidak percaya dari Sofi. "Apa kau tidak melihat pakaian yang kau kenakan sudah diganti? Menurutmu kalau bukan aku yang memandikanmu, siapa yang yang akan melakukannya?"


"Jangan membodohiku," pekik Sofi, "kau tidak mungkin berani melakukan hal itu," cibir Sofi.


"Apa kau sekarang ingin mencobanya? Aku bisa menggendongmu ke kamar mandi saat ini juga kalau kau ingin tahu, apakah aku berani atau tidak."


Seketika Sofi menelan salivanya. "Jangan macam-macam! Aku akan mengadukanmu pada mama nanti."


Raka tersenyum mengejek. "Asal kau tahu, mama yang menyuruhku untuk membawamu ke kamarku. Itu artinya mama memang menginginkan terjadi sesuatu pada kita. Mama sangat ingin memiliki cucu dalam waktu dekat jadi percuma saja kau mengadu padanya."


"Rakaaa," pekik Sofi dengan wajah memerah, "lebih baik kau mandi."


"Kau yakin tidak ingin ikut aku mandi?"

__ADS_1


Raka terkekeh melihat wajah Sofi yang memerah seperti kepiting rebus. Dia tersenyum menggoda sebelum dia menghilang dari balik pintu.


Bersambung...


__ADS_2