
Amel berusaha untuk membujuk dan meminta maaf pada Rendi yang terlihat sedang tidak ingin diganggu.
"Aku benar-benar minta maaf Kak. Aku tadi nggak serius mengatakan itu. Aku cuma terbawa emosi. Aku mohon maafin aku." Amel memeluk tubuh Rendi dengan erat. "Aku nggak bakal ngejauhin Kakak. Aku janji."
"Bukannya kamu bilang mau bahagia sama orang yang kamu cintai? Kamu bisa pergi sekarang Mel dan bilang sama Raka. Aku yakin kalau Raka pasti dengan senang nerima kamu."
Amel menggeleng kuat. "Aku nggak cinta sama Raka, Kak. Aku berbohong tadi. Aku cuma kesal karena Kakak selalu mengaitkan aku sama Raka. Padahal, aku sudah sering bilang kalau aku nggak suka sama Raka." Amel nampak belum mau melepaskan pelukannya.
"Kamu nggak perlu ngejelasin apapun lagi. Aku tahu kamu cuma kasihan sama aku." Rendi merasakan perasaan sesak di dadanya saat mengatakan itu.
Dulu dia pikir kalau menjadiin Amel sebagai pacar pura-pura, lambat laun dia bakal suka sama dengannya. Dia berusaha menahan Amel di sisinyabsupaya suatu hari nanti Amel bisa mencintainya.
"Aku selalu marah kalau kamu dekat sama orang lain karena aku mencintaimu Mel, aku cemburu melihat kamu dekat dengan laki-laki lain, selain aku. Aku takut kalau nanti kamu bisa bahagia tanpa aku di sisimu. Itu sebabnya aku selalu melarang kamu untuk dekat dengan siapapun. Tapi nyatanya kamu tetap nggak mencintai aku. kamu malah mencintai orang lain," ungkap Rendi.
"Asal kamu tahu, aku nggak pernah nganggep hubungan kita itu main-main. Aku serius menjalani hubungan pacaran kita, walaupun kamu selalu nganggep hanya kalau ini cuma pura-pura, tapi tidak dengan aku, Mel."
Rendi tersenyum miris. "Mungkin ini salah aku. Harusnya dari awal aku bilang mengenai perasaan aku sama kamu biar aku nggak perlu ngerasain perasaan sakit ini. "
"Aku nggak seperti orang lain Mel yang dengan mudah bisa membuka hati. Sulit untuk aku jatuh cinta sama seseorang Mel, lebih sulit lagi untuk ngelupain orang yang pernah aku cintai."
Rendi tidak juga tidak nggak nyangka kalau perasaan cintanya pada Amel begitu besar hingga membuatnya bersikap posesif pada Amel.
Rendi nampak memberi jeda sejenak, tampak mengumpulkan kekuatan lalu berkata lagi, "Aku nggak akan memaksakan perasaan aku lagi jadi aku akan merelakan kamu dengan Raka."
Meskipun sangat sulit baginya, bahkan mungkin akan membekas di hatinya, Rendi harus tetap melepas Amel. Percuma dia menahannya jika Amel mencintai laki-laki lain. Dia berpikir perasaan cintanya pada Amel lambat laut akan hilang juga seiring berjalannnya waktu. Dia akan berusaha menyembuhkan luka di hatinya, meskipun butuh waktu lama.
Rend masih terlihat tegar dan berusaha menutupi kekecewaannya. "Kamu tenang saja, setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku udah memutuskan untuk melanjutkan sekolahku di luar negri supaya kamu nggak perlu melihat wajah aku lagi. Aku akan meminta mama untuk mengurus kepindahanku besok. Maaf, kalau selama ini aku sudah egois dan selalu memaksamu untuk berada di sisiku sehingga membuatmu nggak nyaman saat berada di dekat aku."
Amel melepaskan pelukannya setelah mendengar pengakuan dari Rendi. Entah dia harus sedih atau senang saat mendengar pengakuan Rendi barusan.
Tanpa Rendi sadari, air mata Amel sudah mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Kak. Aku nggak tahu kalau selama ini Kakak cinta sama aku. Nggak seharusnya tadi aku menyakiti Kakak dengan kata-kataku. Aku mohon jangan pergi, Kak. Tetaplah di sini." Amel mulai terisak.
__ADS_1
"Maaf Mel, aku nggak bisa kalau harus bertemu sama kamu. Itu bakal nyakitin perasaanku kalau terus meilhat kamu dan Raka di sekolah. Aku juga nggak bisa berteman dengan sama kamu lagi setelah apa yang sudah terjadi sama kita."
"Aku tegaskan sekali lagi, aku nggak cinta sama Raka. Aku cuma nganggep dia sebagai kakak aku dan selamanya akan seperti itu. Tidak akan pernah berubah, jadi aku minta Kakak jangan pergi."
"Kamu kira aku bakal percaya sama kata-kata kamu setelah apa yang kamu ucapkan tadi sama aku?" Rendi menatap tidak percaya pada Amel.
"Apa yang harus aku lakukan agar kakak percaya sama aku?"
"Aku butuh bukti Mel agar aku bisa percaya kata-kata kamu."
"Terserah Kakak mau percaya atau tidak sama aku, tapi aku bakal bilang yang sebenarnya kali ini. Dengarin baik-baik, Kak. Aku nggak akan pernah ngulagin lagi, jadi kakak harus ingat ini."
Amel menarik napas sejenak lalu menghembuskannya kemudian menatap Rendi dengan wajah serius. "Aku nggak cinta sama Raka. Orang yang aku cintai adalah Rendi Sapta Wijaya. Dari dulu sampe sekarang, cuma dia yang aku cintai, nggak ada yang lain." Amel mengucapkan dengan tegas dan lantang.
Rendi terdiam beberapa saat setelah mendengar pengakuan Amel. Dia menatap dalam mata Amel seolah mencari kebenaran atas kata-katanya. Setelah tertegun selama 5 detik, Rendi lalu menarik tubuh Amel dalam pelukannya. Dia memeluk Amel sangat erat, seolah takut akan kehilangannya.
Meskipun terkejut Amel akhirnya membalas pelukan Rendi. "Aku sayang banget sama kamu, Mel."
"Kaka beneran cinta sama aku?"
"Lebih dari yang bisa kamu bayangin. Aku cinta banget sama kamu. Aku cuma nggak berani bilang karena aku takut kamu bakal nolak aku dan ngejauhin aku nanti. Aku nggak mau ngambil resiko itu makanya aku diam saja. Aku nggak mau kehilangan kamu Mel."
Rendi kemudian melepaskan pelukannya, dan menatap lekat mata Amel. "Makasih Mel karena uda membalas cinta aku," ujar Rendi memeluk Amel lagi.
Setelah beberapa saat, Rendi melepaskan pelukannya. Dia memegang dagu Amel, kemudian mencium bibir Amel dengan lembut. Melihat tidak ada penolakan dari Amel, Rendi melanjutkan ciumannya, dengan menggerak bibirnya dengan pelan.
Amel yang terkejut karena Rendi tiba-tiba menciumnya, hanya bisa diam. Dia tidak tahu harus bagaimana karena dia belum pernah berciuman sebelumnya.
Rendi melu-mat bibir Amel lalu menarik tengkuk Amel untuk memperdalam ciumannya. Amel kemudian membalas ciuman Rendi dengan kaku dan melingkarkan tangannya di pinggang Rendi.
Keduanya menutup mata, menikmati ciuman mereka. Rendi baru melepaskan ciumannya saat Amel hampir kehabisan napas. Rendi kemudian tersenyum sambil menatap Amel.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak ngambil napas tadi?" tanya Rendi dengan nada lembut seraya mengelus pipi Amel yang terlihat memerah.
Amel menunduk dengan wajah malu. "Amel nggak tahu caranya, Kak. Amel belum pernah ciuman sebelumnya," jawabnya pelan.
Rendi memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah Amel dengan jelas. "Kamu kira aku udah pernah?"
Amel memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Rendi. "Mungkin. Kakak sepertinya sudah lihai," jawab Amel dengan nada sedikit cemburu.
Rendi tertawa setelah mendengar perkataan Amel. "Aku belum pernah berciuman dengan siapapun, selain kamu," jelas Rendi, "kamu adalah orang pertama." Amel nampak masih diam.
Rendi tersenyum, menangkup wajah Amel dengan kedua tangannya lalu menatapnya. "kamu nggak percaya sama aku? Apa kamu lupa kalau aku pernah bilang waktu kamu nggak sengaja mencium bibir aku? Itu beneran ciuman pertama aku, Mel," jelas Rendi lagi.
Amel menunduk dengan wajah memerah. "Iyaa, Amel percaya sama Kakak," ucap Amel pelan.
"Jadi sekarang kita uda pacaran?" tanya Rendi pada Amel.
"Tapi kakak jangan pergi keluar negeri," sahut Amel sambil masih menunduk.
"Kalau kamu nggak nerima aku sebagai pacarmu, aku bakal pergi dan nggak bakal balik ke sini lagi. Aku bakal tinggal dengan oma atau grandma yang berada di luar negeri."
Oma dan opa Rendi masih hidup dan tinggal di Jepang, sementara grandma dan grandpanya tinggal di Jerman. Dari merekalah dia mendapat darah campuran.
Amel memegang baju Rendi dengan kedua tangannya. "Aku terima, Kak, jadi jangan pergi."
Rendi tersenyum senang. "Terima kasih karena kamu sudah mau nerimaku." Rendi kemudian mengecup singkat bibir Amel.
Amel mengangguk dan tersenyum dengan wajah yang memerah. Saat ini, hatinya diliputi rasa bahagia. "Iyaa, Kak."
Rendi tersenyum ketika melihat wajah Amel yang tampak malu. "Apa kamu mau menginap di sini?" tanya Rendi.
Bersambung....
__ADS_1