Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Ijin Dari Rendi


__ADS_3

Amel sedang menatap serius suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut suaminya. Sepertinya pihak di sebarang sana yang lebih banyak berbicara sehingga suaminya lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara.


"Siapa kak?" tanya Amel ketika Rendi barusan aja mengakhiri pembiaraannya di telpon. Amel penasaran dengan siapa suami berbicara di telpon tadi.


Rendi meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu beralih menatap Amel. "Raka." Rendi kemudian berbaring menghadap Amel yang sedang duduk menghadap dirinya.


"Memangnya ada apa? Kenapa bang Raka menelpon kakak?" tanya Amel dengan wajah heran. Dia merasa sedikit aneh, karena biasa Raka akan mengubunginya jika ada sesuatu hal yang penting.


"Berbaring di sini." Rendi meminta Amel untuk tidur di sebelahnya dengan kepala Amel yang berbantalkan lengannya.


Amel mengerucutkan bibirnya. "Jawab dulu pertanyanku," ucap Amel dengan wajah cemberut.


"Cepat sayang! Jangan sampai aku yang menarikmu," pinta Rendi tidak sabar. Dia tidak menghiraukan Amel yang sedang kesal karena pertanyaan yang dia lontarkan tidak juga dijawab olehnya.


Amel mendengus. Dengan wajah yang masih cemberut, dia berbaring di sebelah suaminya. Dia akhirnya menuruti perkataan suaminya karena dia menyadari kalau dia tidak pernah menang, jika sudah berhadapan dengan suaminya.


Rendi memiringkan tubuhnya ke kiri agar bisa melihat wajah Amel. "Semakin cemberut, kau semakin cantik sayang," goda Rendi sambil tersenyum. "Bagaimana kalau kita...."


"Tidaaaak..!" Amel langsung memotong perkataan Rendi. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan suaminya.


Rendi langsung tersenyum lebar melihat Amel sedang menatap tajam ke arahnya. "Jangan menatapku seperti itu, sayang. Kau membuatku semakin cinta padamu," goda Rendi. "Bagaimana bisa ibu memiliki putri secantik dirimu," puji Rendi dengan senyum jahilnya.


Amel mencebikkan bibirnya. "Aku memang sudah cantik dari dulu. Apa kakak baru menyadari?" sungut Amel dengan wajah kesal.


Rendi terkekeh melihat kekesalan Amel. "Iyaa, aku baru menyadarinya. Ternyata istriku cantik juga," balas Rendi seraya memencet hidung Amel dengan gemas.


Amel melirik tajam pada Rendi. "Iya, aku tahu, kalau aku memang tidak secantik Friska dan Siska, jadi kakak menyesal sudah menikah denganku?" sungut Amel.


Rendi langsung mengecup hidung Amel, ketika melihat Amel tampak salah mengartikan perkataannya. Belakangan ini perubahan mood Amel terjadi begitu cepat. Awalnya Rendi sempat bingung, tapi lama-kelamaan, dia mulai terbiasa.


"Bukan itu maksudku sayang. Kenapa belakangan ini kau sensitif sekali. Apa kau sedang datang bulan?" Rendi masih berusaha untuk menggoda Amel yang sedari tadi masih kesal hanya karena pertanyaannya tidak langsung dijawab oleh Rendi.


"Memangnya aku tidak boleh marah kalau aku tidak sedang datang bulan?" ujar Amel dengan wajah ketus.


"Tidak sayang, kau boleh marah padaku sesuka hatimu," ucap Rendi dengan senyuman yang terus mengambang di wajahnya. Dia merasa gemas setiap melihat Amel cemberut dan kesal.


"Kak, katakan padaku, kenapa tadi bang Raka menelponmu?" Amel belum menyerah juga sebelum pertanyaannya dijawab oleh Rendi.


"Cium aku dulu." Rendi mendekatkan wajahnya pada istrinya.


Amel memicingkan matanya sebelum akhirnya mencium pipi Rendi. "Sudah..Cepat katakan!" ucap Amel setelah dia mencium pipi kiri Rendi.

__ADS_1


"Bukan seperti itu carannya sayang. Kau harus melakukannya dengan benar." Rendi mengangkat kepala Amel yang ada di lengannya lalu menangkupnya. "Begini caranya yang benar sayang." Rendi langsung menyerang bibir ranum istrinya secepat kilat. Dia melu*mat dengan penuh kelembutan.


Amel langsung mendorong tubuh Rendi setelah mereka berpagutan cukup lama. "Cepat katakan kak!" Amel memandang wajah suaminya yang sudah berada di atasnya. Entah semenjak kapan Rendi sudah merubah posisinya.


Rendi menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di tempat tidur. "Raka meminta ijin agar Sofi menginap di rumahnya. Dia bilang Sofi jatuh pingsan setelah dia terkena air hujan," jelasnya.


"Haaa...Kenapa bisa? Apa yang terjadi sebenarnya?" Amel langsung terkejut dengan apa yang disampaikan suaminya.


"Entahlah, mungkin mereka bertengkar," jawab Rendi sekenanya.


"Apa bang Raka yang membuat Sofi pingsan?" tanya Amel penasaran.


"Sofi salah paham pada Raka."


"Aku akan bertanya pada bang Raka besok pagi."


"Jangan sayang. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jangan ikut campur. Mereka sudah dewasa." Rendi pernah berada di posisi Raa saat ini, makanya dia tidak ingin memperkeruh masalah, jika dia ikut campur dengan masalah mereka. Semua akan menjadi rumit jika ada pihak luar yang ikut campur.


"Bagaimana kalau bang Raka menyakiti Sofi?"


"Kau seharusnya lebih tahu sifat Raka dari pada aku. Aku sedikit bisa memahami Raka. Aku akan membiarkan dia menyelesaikan masalahnya dengan Sofi."


"Baiklah, tapi apa Kakak tidak khawatir dengan Sofi?"


"Bagaiamana bisa Kakak seyakin itu pada Raka?" Amel hanya merasa heran dengan Rendi. Dulu dia sangat tidak menyukai Raka, tapi belakangan mereka berdua terlihat akrab.


"Karena Raka pernah menjagamu dengan baik saat kita terpisah. Aku yakin kalau dia tidak akan macam-macam dengan Sofi," terang Rendi.


"Sudah cukup pembahasan mengenai mereka sayang. Sekarang saatnya kita fokus pada diri kita."


Rendi tersenyum nakal pada istrinya, setelah itu dia membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. Dia tidak memberikan Amel kesempatan untuk protes. Malam itu mereka kembali mengulang malam panas mereka seperti malam-malam sebelumnya.


******


Raka terus memandang wajah Sofi tanpa berkedip. "Ma, kenapa Sofi belum bangun juga?" tanya Raka dengan wajah cemas.


"Mama juga tidak tahu." Setelah Tamara memandikan Sofi, dia menyuruh Raka untuk mengangkat tubuh Sofi lagi ke tempat tidur. "Malam ini kau harus menjaganya. Mama takut dia akan deman karena terlalu lama terkena hujan," perintah ibunya.


"Iya Ma."


"Kalau dia bangun, suapi dia dengan bubur ini," tunjuk Tamara pada mangkok bubur yang ada di atas nakas. "Ini obat kika dia panas," sambung Tamara lagi.

__ADS_1


Dalam hati Tamara, dia merasa sangat senang ketika melihat anaknya tampak mencemaskan keadaan Sofi. Dia berharap kalau anaknyadan Sofi bisa kembali bersama. Dia memang senagaj menyuruh Raka untuk menjaga Sof, agar mereka memiliki waktu berdua.


"Iyaa Ma," jawab Raka seraya menatap ibunya sejenak.


"Mama keluar dulu, jangan membuatnya stess bang, kasihan dia," nasehat ibu Raka.


Raka mengangguk, setelah itu Tamara kembali ke kamarnya.


Raka memajukan tubuhnya lalu memeriksa kening Sofi. Dia takut kalau Sofi akan demam. Suhu tubuh Sofi terasa hangat, Raka menjauhkan tangannya dari kening Sofi.


"Maafkan aku Sof. Seharusnya aku masuk ke dalam kehidupanmu," ucap Raka dengan wajah bersalah. "Bangunlah Sof," tatap Raka dengan wajah sedih.


Dia merasa bersalah karena sudah membuat Sofi pingsang. Raka merasa sangat cemas melihat Sofi terbaring tidak sadarkan diri dengan wajah pucat. Raka kemudian mendekatkan wajahnya pada Sofi lalu mengecup kening Sofi sedikit lama.


"Bangun Sof. Jangan membuatku khawatir," ucap Raka dengan lirih.


Sofi belum juga sadar. Raka kemudian menggenggam tangan Sofi, lalu membenamkan wajah di tempat tidur. Karena merasa lelah, tanpa sadar Raka tertidur di samping Sofi.


Ketika pukul 11 malam, Sofi terbangun. Dia menoleh ke kanan dan melihat Raka sedang tertidur seraya menggenggam tangannya. Perlahan Sofi melepaskan tangannya dari genggaman Raka, sebelum berhasil, Raka sudah terbangun karena merasa ada pergerakan di tangannya.


"Kau sudah bangun?" Raka menempelnya tangannya di kening Sofi. "Kau demam," sambung Raka lagi, setelah selesai memeriksa suhu tubuh Sofi menggunakan telapak tangannya.


"Apa kau pusing?" Raka bertanya lagi sebelum Sofi sempat membalas pertanyaannya sebelumnya.


Sofi mengangguk lemah. "Tunggu di sini. Aku ke dapur dulu." Tangan Raka ditahan oleh Sofi ketika Raka berniat untuk melangkah.


"Ada apa?" tanya Raka seraya menoleh pada Sofi. "Apa kau membutuhkan sesuatu?"


Sofi menggeleng lemah. Raka tidak jadi keluar. Dia memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, tanpa diduga Raka, Sofi langsung memeluk tubuhnya. Raka tampak terkejut dan terdiam sesat membiarkan Sofi memeluknya sejenak.


"Makan dulu, aku akan menyuapimu. Kau pasti belum makan sesuatu, kan?" Jantung Raka berdebar kencang dan Sofi bisa mendengarnya ketika berada dipelukan Raka. Sofi kembali menggeleng tanpa mengataka apapun.


Raka mengurai pelukann Sofi lalu menatap mata sendu Sofi. "Kau bisa pingsan lagi jika kau tidak mengisi perutmu."


"Jangan membuatku bingung Raka. Kalau kau ingin aku pergi dari hidupmu, maka jangan pedulikan aku lagi. Aku akui, kalau aku masih mencintaimu, tapi jika kau tidak ingin aku mengganggu hidupmu. Aku akan menjauhimu," ucap Sofi lirih.


"Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaanmu padaku Raka," sambung Sofi lagi. Dia terlihat beberapa kali memejamkan matanya karena merasa kepalanya pusing.


Raka terlihat masih diam. "Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya. Maka, biar aku yang memastikannya sendiri. Sofi mendekatkan wajahnya pada Raka lalu mengecup singkat bibir Raka.


Raka tidak bergeming. Sofi mendongakkan kepalanya menatap Raka dari dekat. "Aku mencintaimu Raka." Sofi kembali menempelkan bibirnya pada Raka. Dengan pelan dia mengerakkan bibirnya, melu*mat bibir Raka dengan lembut. Raka yang sedari tadi hanya diam, akhirnya membalas ciuman Sofi. Keduanya saling berpagutan dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


Sofi mulai mengalungkan tangannya di leher Raka. Mereka terus memagut, perlahan Raka membaringkan tubuh Sofi di tempat tidur dengan posisi dia berada di atas Sofi. Mereka terlihat belum ada niat untuk menyudahi pagutan mereka.


Bersambung.


__ADS_2