Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Merahasiakan


__ADS_3

Rendi terdiam sejenak. "Beritahu aku detailnya." Rendi menatap dokter Jhon yang sedang membuka hasil CT Scannya.


Dokter Jhon pun menjelaskan secara detail kepada Rendi, terlihat ada perubahan di wajahnya. Rendi tampak berpikir sesuatu, setelah dokter Jhon menjelaskan semuanya.


"Bisakah kamu merahasiakannya dari mama?" Rendi menatap serius pada dokter Jhon.


Dokter Jhon menggeleng. "Maaf, aku tidak bisa."


"Kau itu seorang Dokter, apa kamu akan melanggar sumpah doktermu itu? Kamu nggak boleh memberitahukan penyakit pasienmu kepada orang lain," ujar Rendi kesal.


"Dia itu ibumu, bukan orang lain. Kamu harusnya tau, ibumu yang mempekerjakan aku. Dia yang menggajiku. Aku tidak bisa menyembunyikan ini dari ibumu."


"Kamu cukup bilang kepada mama kalau aku baik-baik saja," bujuk Rendi.


"Ibumu bisa menendangku keluar dari sini kapanpun dia mau kalau dia sampai tahu, aku menyembunyikan masalah ini darinya. Kamu jangan lupa, kalau ibumu pemilik rumah sakit ini."


"Tapi kamu juga nggak bisa memihak dengan ibuku terus," ujar Rendi tidak terima.


"Kamu harus jadi pemilik sah rumah sakit ini dulu, baru aku bisa memihakmu. Selama masih milik ibumu, aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Kenapa kamu sangat perhitungan denganku? Kalau sudah saatnya, aku bakal jadi pemilik rumah sakit ini. Jadi bisa nggak kamu bantuku aku sekarang aja?" tanya Rendi dengan tatapan memohon.


"Nggak bisa." Dokter Jhon menyenderkan punggungnya di kursi.


"Ini bukan masalah aku memihak siapa, tapi ini masalah nyawa Ren! kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, orang tuamu bisa mencincang habis aku."


"Ini masalah kecil, aku akan sembuh. Kau tidak perlu membesarkan masalah," sahut Rendi enteng.


"Kamu jangan anggap remeh masalah ini Ren," ujar Dokter Jhon tegas.


Rendi melirik sekilas dokter Jhon dengan malas. "Kenapa lama-lama kamu seperti mama. Makanya kamu, jangan sering-sering ngobrol dengan mama."


"Berhentilah bercanda Rendi. Aku sedang serius." Rokter Jhon menatap marah pada Rendi.


"Iyaaa... Iyaaa, terus aku harus gimana? Kamu kira aku nggak takut?Aku cuma butuh waktu untuk menyesuaikan diri."


Dokter Jhon menghela napas. "Selama sebulan ini, aku akan terus memantaumu. Kamu harus ke sini setiap minggu. Aku akan segera adakan rapat dengan dokter spesialis lainnya. kalau diperlukan, aku akan mendatangkan dokter yang pernah menanganimu, sewaktu di Jerman."


"Apa kamu sudah menghubungi Biaca?"

__ADS_1


Dokter Jhon mengangguk. "Aku juga sudah menceritakan kepada dokter Bianca soal masalah ini. Untuk sementara aku akan memberikan obat-obatan untukmu."


"Oke, aku minta kamu rahasiakan ini dari Amel dan Friska, jangan sampai mereka tahu. Apalagi Friska, kamu tahu sendiri bagaimana tabiatnya. Kalau dia sampai tau, dia bakal terus menempel kepadaku."


"Kalau masalah itu aku bisa janji, tapi untuk ibumu, aku nggam bisa. Bagaimanapun aku tetap harus memberitahukan padanya."


"Aku mengerti, kapan aku boleh pulang?" tanya Rendi sambil menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur.


"Aku akan meminta perawat untuk ke sini membawakan obat dan melepaskan infusnya. Kamu tunggulah sebentar."


"Baik, terima kasih Jhon." Rendi tersenyum jail, "maaf Dokter Jhon maksudku," ralat Rendi.


"Berhenti memanggiku seperti itu, aku pergi dulu."


Rendi mengagguk ketika dokter Jhon akan keluar dari ruangan itu.


****


Amel terus berjalan menuju lantai bawah ke arah kantin dengan terburu-buru. Dia tidak ingin Rendi menunggunya terlalu lama.


Praaaangg...


Amel terkejut saat dia tidak sengaja menabrak seseorang. Dia tidak melihat ada orang di depannya karena dia berjalan cepat sambil menunduk mencari kartu yang di berikan Rendi tadi di dalam tasnya.


Amel menunduk ke bawah, melihat piring dan gelas yang sudah pecah, serta makanan yang sudah berserakan di lantai. "Maaf saya tidak sengaja," ucap Amel sambil mengangkat kepalanya.


"Kenapa kau suka sekali menabrakku?" Terdengar suara berat dari orang itu.


Mata Amel terbelalak saat melihat pria di depannya. pria itu ternyata adalah pria yang sama yang pernah ditabraknya saat di sekolah waktu itu.


Amel membungkuk berapa kali. "Maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Saya akan menggantinya dengan yang baru. Tunggu di sini."


Amel berbalik cepat, tetapi langkah Amel terhenti saat pria itu menahannya. Amel berbalik dan melihat tangannya di pegang oleh pria itu, buru-buru Amel melepasnya.


"Tidak perlu. Aku sudah tidak selera makan lagi." Pria itu menatap tajam Amel lalu melangkah pergi. "Tunggu, saya akan mengganti uangmu." Amel berjalan ke hadapan pria itu untuk menghentikan langkahnya.


"Aku tidak mau uangmu," ucap pria itu datar.


"Lalu bagaimana aku mengganti kerugianmu? Aku tidak mau berhutang dengan seseorang," ucap Amel tidak mau menyerah.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekat ke Amel lalu menyeringai. "Baiklah kalau itu maumu, aku akan memintanya nanti. Aku akan memberitahumu kalau waktunya sudah tepat."


"Kapan kau akan memintanya?" Amel tidak membiarkan pria itu pergi sebelum ada kejelasan.


Pria itu mendekat lalu berbisik pelan di telinga Amel. "Tidak usah buru-buru, kita akan bertemu lagi nanti." Pria itu tersenyum penuh arti.


"Jauhkan tubuhmu dari pacarku?"


Belum sempat Amel bereaksi, sudah terdengar suara teriakan tidak jauh darinya. Amel terkejut saat melihat Rendi sudah berdiri dengan tatapan tajam ke arahnya.


Pria itu menoleh pada Rendi tanpa ekspresi, dia kemudian menjauhkan tubuhnya dari Amel. Dia melihat Rendi berjalan cepat ke arahnya.


Amel yang melihat Rendi yang nampak marah langsung menghampiri Rendi. Dia takut Rendi akan membuat keributan di sana.


"Kak, aku bisa jelaskan, Kakak jangan marah dulu. Aku mohon, di sini banyak yang sedang melihat kita." Amel menahan tubuh Rendi agar tidak mendekat ke pria itu.


Rendi menatap pria itu dengan tatapan tidak suka. Pria itu seolah tidak terganggu dengan tatapan Rendi. Dia berbalik dan menghadap ke Rendi. "Benarkah dia pacarmu?" Pria itu menatap penuh tanya kepada Amel.


"Benar, dia memang pacarku," jawan Amel menatap pria itu. Sementara Rendi hanya diam dan menatap matanya sengit pada pria di depannya.


"Ternyata kau sudah punya pacar." Pria itu tersenyum paksa. Ada kekecewaan dalam sorot sorot mata dan ucapannya. "Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa lagi nanti." Pria itu berbalik dan meninggalkan mereka.


Amel menoleh khawatir kepada Rendi. "Kakak kenapa bisa di sini?"


"Siapa dia??" Rendi masih memandang ke arah pintu kantin dan tidak menghiraukan pertanyaan Amel yang dilontarkan padanya.


"Aku nggak kenal, Kak," jawab Amel cepat.


Rendi menatap Amel tajam. "Kamu jangan bohong, Mel," Rendi sambil memegang kedua bahu Amel dengan tatapan menyelidik.


Amel meraih tangan Rendi berusaha untuk menenangkannya. "Aku nggak bohong Kak. Beneran, aku memang nggak kenal sama orang itu."


Rendi masih menatap curiga pada Amel. "Kalau kamu nggak kenal sama dia, kenapa dia nanya sama kamu, aku siapa? Seolah dia itu sudah kenal sama kamu. Apalagi, dia mengatakan sampai jumpa lagi nanti. Apa kamu berencana bertemu dengan sama dia tanpa sepengetahuan aku?"


"Iyaa, nanti aku jelasin semua, tapi nggak di sekarang. Aku mau beliin Kakak makan dulu, baru setelah itu aku jelasin," ucap Amel cepat.


"Nggak perlu, mendingan kita langsung pulang. Kamu harus langsung jelasim sama aku kalau sudah sampe di rumah nanti." Rendi menarik tangan Amel keluar dari kantin.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2