Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Peringatan Kenan


__ADS_3

Semua orang di ruangan itu langsung menoleh pada CEO dan Amel secara bergantian. Mereka sangat terkejut mendengar perkataan CEO mereka, termasuk Amel sendiri. Dia masih menatap tidak percaya pada pada pria sedang menatap dirinya. Wajah Amel tampak masih terkejut dengan kedatangannya.


“Kenan, Berhenti bercanda,” ucap Amel yang baru saja tersadar dari keterkejutannya.


Siska bangun dari duduknya. “Heeh Amel, Pak Kenan ini CEO di sini, berani-beraninya kamu langsung menyebut namanya dan berkata tidak sopan padanya!” teriak Siska dengan wajah marah.


Semua orang di ruangan itu masih bingung dengan apa yang terjadi antara Amel dan Kenan. Bisa terlihat dari wajah mereka, kalau mereka sangat penasaran tentang hubungan Amel dan Kenan.


Kenan menoleh pada Siska sambil menutup telinganya sebelah. “Pelankan suaramu, kau membuat telingaku sakit. Bicaralah yang lembut padanya.”


Siska yang ditegur oleh Kenan seketika langsung diam. Wajahnya memerah karena malu. “Maaf Pak,” ucap Siska sambil duduk kembali di tempat duduknya.


Kenan mengedarkan padangannya kepada semua orang yang ada di ruangan meeting itu. “Untuk semua yang ada di sini. Dengarkan baik-baik ucapanku. Jangan pernah ada yang berani membentaknya lagi, apalagi mempersulit wanitaku. Jangan macam-macam dengannya. Kalau aku tahu ada yang berani mencari masalah dengannya. Aku sendiri yang akan turun tangan. Apa kalian mengerti?” ujar Kenan dengan wajah serius.


“Mengerti, Pak,” jawab mereka serempak.


Kenan berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Baiklah kalau begitu, mungkin di antara kalian masih ada yang belum pernah bertemu denganku. Aku hanya akan melakukan perkenalan singkat." Kenan berdeham sebelum memperkenalkan dirinya.


"Namaku Kenan Arkana Sanjaya. Aku adalah CEO dari Ryland Group. Cukup sekian perkenalan dariku,” ucap Kenan yang kembali duduk lagi di kursinya.


Mereka semua bertepuk tangan setelah Kenan memperkenalkan dirinya. “Baiklah, kita mulai saja meeting kita hari ini,” ucap Fadil yang sudah berada di belakang Kenan.


Selama meeeting berjalan, Amel benar-benar dibuat tidak fokus. Tatapan Kenan tidak pernah lepas darinya. Amel merasa risih saat Kenan terus saja memandangnya sambil terus tersenyum miring. Semua orang yang berada di ruang meeting itu diam-diam memperhatikan Kenan dan Amel.


Amel merasa meeting kali ini terasa sangat lama. Jam menunjukkan sudah pukul 12 siang, tapi meeting belum juga selesai. Mereka diberi waktu untuk istrirahat selama 1 jam. Makan siang sudah dipersiapkan di depan mereka.


Ada yang memilih makan di ruang meeting, ada juga yang memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Sementara Kenan dan Fadil makan di ruangan Kenan. Mereka makan terpisah dengan karyawan lainnya.


“Mel, kok lo nggak cerita sama gue kalau lo kenal sama pak Kenan?” tanya Bela saat mereka sedang makan siang di ruang meeting.


Amel menoleh dengan wajah malas saat mendengar nama Kenan. “Gue juga baru tau kalau dia CEO kita.”


Terlihat beberapa karyawan menatap ke arah Amel tanpa berkata apa-apa. Beberapa dari karyawan wanita menatap sinis, ada yang kagum, benci, dan juga tatap merendahkan. Amel terlihat tidak memperdulikan tatapan mereka.


Bela mendekatkan tubuhnya pada Amel. “Lo kenal pak Kenan dari mana?” tatap Bela dari dekat.


Amel mendekatkan mulutnya ke telinga Bela. “Dia sepupu dari kak Rendi,” bisik Amel dengan suara pelan.


“Whaaattt?” teriak Bela dengan mata terbelalak.

__ADS_1


“Heeh, lo kira ini hutan apa? teriak-teriak nggak jelas!” semprot Siska saat mendengar teriakan Bela.


Bela menutup mulutnya dengan cepat, saat menyadari kalau semua orang sedang menatap padanya karena suaranya yang keras. “Maaf,” ucap Bela.


Siska hanya melempar tatapan tidak suka pada Bela. Siska memang mengenal Bela dan Amel karena mereka berasal dari sekolah yang sama. Siska adalah kakak kelas mereka. Orang yang pernah menyukai Rendi sewaktu SMA. Itulah sebabnya Siska sangat membenci Amel, karena Amel berhasil berpacaran dengan Rendi.


Bela mendekatkan lagi wajahnya pada Amel. “Kenapa lo nggak coba tanya sama pak Kenan di mana kak Rendi?”


Bela sudah mengetahui semua cerita tentang Amel dan Rendi. Bahkan Bela sangat paham dengan kondisi Amel saat kepergian Rendi sampai saat itu.


Amel tampak berpikir sejenak, dia kemudian meremas kedua tangannya. “Nggak deh, Bel.”


Bela memegang tangan Amel saat melihat wajahnya berubah menjadi muram, saat mendengar nama Rendi. “Gue tahu, lo takut kalau kabar yang lo denger nanti adalah kabar burukkan? Tapi Ini kesempatan lo buat tahu gimana kabar kak Rendi. Kalau seandainya dia udah nggak ada, lo harus ikhlasin dia, tapi kalau dia masih hidup, itu terserah lo mau gimana ke depannya.”


Amel tiba-tiba terdiam, dia sebenarnya sangat penasaran dengan kabar Rendi, tetapi dia juga belum siap untuk mendengarkan kemungkinan buruk yang terjadi pada Rendi.


*****


Saat meeting selesai, Kenan langsung meninggalkan ruangan meeting. Setelah itu, terlihat semua karyawan mulai meninggalkan ruangan meeting juga. Meeting selesai pada pukul 3 sore.


“Mel, tunggu,” panggil Fadil sambil berjalan ke arah Amel yang sudah berada di depan pintu ruangan meeting bersama dengan Bela.


“Kamu ikut saya, lamu ditunggu pak Kenan di ruangannya.”


Dahi Amel mengerut, dia tampak menoleh sebentar pada Bela. “Iyaa Kak,” jawab Amel saat melihat anggukan dari Bela.


Amel berjalan mengikuti Fadil ke ke lift khusus CEO. Tidak ada pembicaraan selama di dalam lift. Pikiran Amel melayang entah kemana, dia sama sekali tidak menyadari, saat pintu lift sudah terbuka.


"Mel, kamu kenapa diam aja?" tanya Fadil saat melihat Amel belum keluar juga dari dalam lift.


Amel mengangkat kepalanya dan tersenyum kikuk pada Fadil. "Maaf, Kak." Amel langsung mengikuti langkah Fadil berjalan menuju ruang Kenan.


Setelah keluar dari lift, Amel bisa langsung melihat di sebelah kanan ada meja Siska yang tidak jauh dari ruangan Kenan. Saat Amel melewati meja Siska, dia tampak menatap sinis pada Amel.


Fadil mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Kenan. Fadil mendorong pintu saat mendengar suara Kenan dari dalam.


"Maaf pak, saya sudah membawa Amel ke sini," ucap Fadil setelah berada di dalam ruangan Kenan. Kenan tampak sedang sibuk menandatangani sebuah berkas yang ada di atas mejanya.


Kenan mengangkat kepalanya saat mendengar perkataan Fadil. "Kamu sudah dateng Mel, duduklah," tunjuk Kenan pada sofa kosong yang tidak jauh dari meja kerjanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," ucap Amel sambil berjalan ke sofa lalu duduk dengan canggung.


Alis Kenan tampak naik sebelah saat mendengar perkataan Amel. "Tunggu sebentar, aku menyelesaikan pekerjaanku dulu," ujar Kenan saat melihat Amel sudah duduk di sofa.


"Iyaa, Pak," ucap Amel dengan senyum paksa.


Amel tampak mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan. Fadil tampak berdiri tidak jauh dari meja Kenan.


"Apa kau menyukai ruanganku?" tanya Kenan saat melihat Amel tampak meneliti satu persatu ruangan Kenan.


Amel langsung menoleh pada Kenan yang tampak sedang berjalan ke arahnya diikuti Fadil di belakangnya. "Maafkan atas kelancangan saya, Pak," ucap Amel saat melihat Kenan yang sudah duduk di depannya.


Kenan menoleh pada Fadil "Dil, kamu tunggu di luar."


Fadil mengangguk. "Baik, Pak," ucap Fadil, lalu berjalan keluar dari ruangan Kenan.


"Kenapa kamu terus meminta maaf? Kamu tidak salah," ucap Kenan sambil tersenyum.


"Aku juga tidak suka dengan panggilanmu barusan, kenapa kamu jadi memanggil aku dengan kata pak, saat hanya ada kita berdua di sini? Bukankah tadi di ruang meeting kau memanggil langsung namaku di depan semua orang?" Kenan menatap santai Amel sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Maaf Pak, saya tidak tahu kalau bapak adalah CEO di sini," ucap Amel jujur.


"Mel, saat kita hanya berdua. Kamu tidak perlu memanggilku dengan formal. Cukup panggil namaku saja," pinta Kenan.


Amel menatap Kenan. "Tapi, pak....."


"Tidak ada tapi-tapi," ucap Kenan tegas. Dia tidak mau dibantah.


"Baiklah kalau begitu," ucap Amel tersenyum paksa.


"Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat lebih cantik dari pertemuan terakhir kita. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Kenan tanpa basa-basi.


Amel memandang Kenan dengan tatapan aneh. "Aku baik, bagaimana kabarmu?" tanya Amel balik. Dia sengaja tidak menjawab pertanyaan Kenan soal pacar.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku mengenai pacarmu? Apa jangan-jangan kamu belum melupakannya?" Kenan memajukan badannya sedikit untuk melihat ekspresi Amel dari dekat.


Walaupun Kenan tidak langsung menyebut namanya, tapi Amel mengerti kalau orang yang dimaksud Kenan adalah Rendi. "Ak-aku.. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya," ucap Amel terbata-bata.


"Apa kamu tidak penasaran dengan kabarnya setelah dia melakukan operasi?" tanya Kenan dengan alis yang naik sebelah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2