Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Permintaan


__ADS_3

Senyum di wajah Amel langsung memudar. “Kau jangan bercanda, Kak. Ini tidak lucu." Amel sambil menatap Devan dengan ekpresi kesal.


Devan maju selangkah, mendekati Amel dengan sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Amel. “Apa aku terlihat sedang bercanda?” Devan menatap lekat mata Amel.


Amel mendorong pelan tubuh Devan saat menyadari wajah mereka terlalu dekat. Terlihat tubuh Devan mundur berapa langkah saat Amel mendorongnya. “Berhentilah menggodaku, Kak. Aku saja lupa kapan aku mengatakannya.” Amel terlihat gugup dan jantungnya berdegup kencang saat Devan menatapnya dari jarak dekat.


Devan kemudian berdiri tegak, tangamnya dia masukkan ke saku celananya lalu berkata, “Apa kamu berencana untuk mengingkari janji yang kau buat sendiri?”


“Bu-bukan seperti itu, Kak. Kita ini sudah dekat dari kecil. Qku sudah menganggapmu sebagai Kakakku. Kau juga sudah tau kalau aku sudah punya pacar.”


“Tapi dari dulu aku nggak pernah menganggapmu sebagai adikku. Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.” Devan menatap Amel wajah serius.


“Kau jangan memandangku seperti itu, Kak. Kau membuatku merinding tahu,” ucap Amel dengan suara keras sambil memicingkan mata pada Devan.


Devan tersenyum melihat wajah cemberut Amel. “Apa kamu juga lupa, kamu pernah bilang suatu saat kau akan membalas semua kebaikanku?”


“Tentu saja aku ingat. Itu adalah janji yang masih aku pegang sampai saat ini. Aku akan melakukan apa saja yang aku bisa untuk membalas semua kebaikan Kakak dan keluarga Kakak dulu.”


“Benarkah kau akan melakukan apa saja?”


Amel mengagguk dengan mantap. “Tentu saja, jadi katakan saja kalau Kakak mempunyai permintaan. Kalau aku bisa, aku akan berusaha memenuhinya,” ucap Amel sambil menatap wajah Devan.


“Apa kau yakin dengan kata-katamu?”


“Tentu saja aku sangat yakin. Aku berhutang nyawa padamu, Kak,” jawab Amel tegas.


“Baiklah. Aku punya sebuah permintaan, tapi aku tidak yakin apa kau bisa memenuhinya karena aku akan meminta sesuatu yang sangat berharga darimu.”


“Katakan saja. Kalau aku bisa, aku akan berusaha mengabulkan permintaan, Kakak.”


“Tidak bisakah kamu memberikan hatimu untukku Mel? Itulah yang aku mau,” ucap Devan sambil menatap lekat mata Amel.


Amel tertawa lebar kemudian memukul lengan Devan. “Kau ini lucu sekali, hampir saja aku tertipu dengan wajahmu itu. Kamu jangan coba-coba bercanda lagi denganku atau akan akan marah. Kalau ada yang mendengarnya, mereka bisa saja salah paham. Berhentilah bicara omong kosong,” ucap Amel menatap kesal pada Devan.


“Apa permintaanku terlalu besar?”


“Tidak sama sekali. Hanya saja permintaanmu itu tidak masuk akal. Dari dulu kau selalu saja menggodaku dengan kata-kata anehmu itu. Aku ini sudah besar sekarang, Kak. Berhentilah mengatakan hal seperti.”

__ADS_1


Devan mengacak-acak rambut Amel. “Kau ini masih saja belum mengerti." Devan menghela napas, "tapi, kulihat ada sedikit perubahan dalam dirimu," lanjut Devan.


“Tentu saja aku sudah berubah. Kakak tidak lihat aku semakin cantik?” Amel menatap Devan dengan wajah berseri-seri, mata yang berbinar tidak lupa dengan senyum manisnya.


Devan mendorong pelan wajah Amel dengan tangannya. “Jangan menampilkan wajah seperi itu. Aku tidak suka melihatnya.” Jantung Devan tiba-tiba berdegup kencang saat melihat wajah Amel tadi, apalagi saat Amel tersenyum manis padanya. Dia merasa telinga dan wajahnya memanas.


“Kenapa? Apa aku terlihat jelek?” Amel menampilkan wajah cemberutnya.


Devan mengangguk. “Iyaa terlihat jelek sekali, jadi jangan pernah menampilkan wajah seperti itu lagi, apalagi kepada orang lain.”


“Memang tidak bisa, Kakak memujiku sekali saja? Dari dulu selalu saja mengatakan aku jelek.”


“Jangan cemberut, wajahmu bertambah jelek.”


“Apa begini sikapmu setelah lama tidak bertemu denganku? Membuatku kesal saja,” ujar Amel dengan nada ketus.


Devan mengacak lembut kepala Amel. “Jangan marah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku akan mentraktirmu es krim? Kau masih suka es krim, kan?”


“Masih, tapi aku tidak bisa hari ini. Qku masih ada urusan. Bagaimana kalau lain kali?”


“Kamu ada urusan apa?”


“Kamu sakit?” tanya Devan cepat.


“Nggak, bukan aku yang sakit, tapi pacarku.”


Devan terdiam sesaat. “Apa kamu sudah lama berpacaran dengannya?” tanya Devan dengan wajah kaku.


“Belum, tapi aku sudah lama menyukainya.”


Devan tersenyum miring, sudut mulutnya berkedut. “Sepertinya aku datang terlambat,” ucap Devan menatap ke bawah sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali. “Tapi tidak masalah. Aku hanya perlu mengembalikan semuanya ke tempat semula,” ucapnya sambil menatap Amel penuh arti.


“Maksud Kakak?”


Devan menggeleng kuat. “Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu.”


“Apa Kakak yakin akan mengantarku?”

__ADS_1


“Iyaa, tapi kau harus datang ke rumahku nanti, kak Nora juga pasti merindukanmu.”


“Apa kak Nora ada di sini juga? Bukankah dulu dia tinggal di luar negeri?”


“Dia sudah menetap di sini. Setelah menyelesaikan kuliahnya, dia kembali lagi ke indonesia, dia bahkan sudah menikah.”


“Benarkah? Aku juga kangen dengan kak Nora. Kalau begitu aku akan mengabari Kakak kapan aku bisa ke rumah Kakak," ucap Amel dengan wajah senang.


”Hhhmm,” gumam Devan sambil mengangguk.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang saja, Kak,” ajak Amel sambil berjalan keluar dari sekolah diikuti Devan di sampingnya.


*****


Sesampainya di rumah sakit Amel langsung menuju kamar Rendi. Dia berjalan beriringan dengan Devan. Setibanya di depan ruangan Rendi, Amel membuka pintu secara perlahan. Terlihat Rendi sedang bersandar di ranjang pasien dengan menggunakan bantal. Dia tidak menyadari kedatangannya karena sedang fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.


“Kak,” panggil Amel sambil berjalan masuk ke dalam.


Rendi mengangkat kepalanya saat mendengar suara Amel. “Kenapa kau bisa datang bersamanya?” tanya Rendi dengan wajah terkejut saat melihat Devan berjalan di belakang Amel.


“Aku sengaja mengantarnya ke sini untuk memastikan dia selamat sampai tujuannya,” jawab Devan sebelum Amel membuka suaranya.


Rendi tampak menatap tajam Devan. Dia merasa kalau Devan sengaja memancing kemarahannya. “Kau tidak perlu repot-repot mengantar pacarku. Aku bisa meminta supirku untuk menjemputnya,” jawab Rendi dengan nada sinis.


“Kalau begitu aku pulang dulu. Aku merasa kedatanganku tidak di sambut baik di sini,” ucap Devan sambil mengelus lembut kepala Amel.


Sepertinya agak sulit bagiku untuk merebutmu kembali Mel, batin Devan


“Dia hanya salah paham, Kak. Nanti biar aku jelaskan." Amel tersenyum kaku pada Devan karena merasa tidak enak dengan Devan.


“Tidak masalah, aku pulang dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi.”


Amel mengangguk. “Iya, Kak. Kakak hati-hati di jalan.”


“Iyaa,” jawab Devan sebelum dia meninggalkan ruangan Rendi.


Amel tampak menatap kepergian Devan, tanpa menyadari tatapan berapi-api dari Rendi saat melihat interaksi antara Amel dengan Devan.

__ADS_1


“Kenapa nggak kamu susul saja dia kalau kamu sangat mengkhawatirkannya?" Rendi berucap dengan ketus saat Amel masih terus menatap kepergian Devan.


Bersambung


__ADS_2