
"Ternyata kau di sini, aku mencarimu ke mana-mana. Sedang apa kau di sini?" Devan menghampiri Friska yang sedang duduk di restoran yang ada di salah satu mall terbesar yang ada di Singapore.
Friska menoleh dengan wajah terkejut. "Ak-aku sedang..." Mata Friska menyapu sekelilingya seperti sedang mencari seseorang.
"Kau mencari siapa?" tanya Devan sambil mengikuti arah pandangan Friska.
Pandangan Friska terhenti di satu titik ketika melihat seseorang dari kejauhan sedang berjalan ke arahnya. "Itu dia," tunjuk Friska, "aku ke sini bersama dengan Kenan."
"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan pergi dengannya?" Meskipun Devan dan Kenan saling mengenal, tapi tetap saja Devan masih khawatir.
"Aku rasa itu tidak penting, lagi pula, kau sedang sibuk bekerja, aku tidak mau mengganggumu."
"Aku menelpon berkali-kali, tetapi tidak kau angkat. Aku juga menelpon kak Nora, dia bilang kau pergi." Devan memang menghubungi kakaknya saat Friska tidak juga menjawab telpon darinya.
Friska mengecek ponselnya yang ada di dalam tasnya, dan benar saja, banyak panggilan tidak terjawab dari Devan. "Maaf ponselku silent, jadi aku tidak tahu kalau kau menelponku."
"Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" tanya Friska dengan wajah heran. Saat dia akan pergi, dia tidak bilang pada kakak Devan kemana dia akan pergi. Dia hanya pamit untuk pergi keluar sebentar.
"Aku melacak ponselmu," jawab Devan cepat.
Friska nampak terkejut ketika mendengar pengakuan Devan. "Mulai sekarang, bunyikan ponselmu, jangan pernah di silent," lanjut Devan lagi dengan sorot mata tajam.
Kenan menghampiri Devan dan Friska dengan dahi berkerut dan tatapan heran. "Ada apa?"
Devan dan Friska menoleh bersamaan. "Tidak ada apa-apa," jawab Friska cepat.
"Kenan, kalau kau ingin membawa pergi Friska, seharusnya kau ijin denganku terlebih dahulu," ucap Devan dengan wajah tidak suka.
Kenan dengan santainya duduk di sebelah Friska. "Memangnya kau siapanya Friska sehingga aku harus ijin denganmu?"
Devan menatap datar ke arah Kenan. "Ayahnya menitipkan dia padaku, jadi sekarang dia menjadi tanggung jawabku. Apapun yang berhubungan dengannya, kau harus bertanya dulu padaku."
Kenan tersenyum sinis mendengar pernyataan Devan. "Bukankah kau yang mengajukan diri untuk menjaga Friska? Lagi pula, hubungan kami sangat dekat, apa kau lupa? Kami saling mengenal dari kecil dan keluarga kami pun dekat. Aku tidak butuh ijin dari siapa pun untuk menemuinya. Aku bisa dengan mudah membawa Friska untuk tinggal denganku, jika aku mau. Aku hanya tinggal bilang pada Om Edson saja. Dia pasti setuju jika aku memintanya."
Friska nampak bingung melihat perdebatan Devan dan Kenan. Dia tidak mengerti, kenapa masalah sepele saja diperdebatkan oleh mereka. "Sudahlah, kenapa kalian malah berdebat." Friska langsung menengahi ketika melihat Devan kembali akan membuka mulutnya.
"Aku tidak peduli kalian sedekat apa dulu dan aku juga tidak peduli kau mau melakukan apa, yang terpenting saat ini, Friska dalam pengawasanku. Kau tidak bisa membawanya pergi tanpa seijin dariku."
Kenan memang sering mengunjungi Friska di Singapore. Biasanya, jika Kenan ingin bertemu dengan Friska, dia akan ke rumah Devan. Ini pertama kalinya, Kenan mengajak Friska untuk keluar dan tanpa sepengetahuan Devan.
__ADS_1
"Ikut aku pulang." Devan meraih tangan Friska dan hendak menariknya.
"Tapi, aku masih ingin berbicara dengan Kenan," ucap Friska sambil menahan tangan Devan agar tidak menariknya pergi.
"Devan, apa kau tidak dengar apa kata Ellen? Dia tidak ingin pulang bersamamu," timpal Kenan.
Devan menatap Friska beberapa detik dengan tatapan tak terbaca. "Jadi, kau tidak mau ikut denganku?"
"Ak-aku..." Friska nampak bingung harus menjawab apa.
Melihat Frisk nampak bingung, Devan kemudian berkata, "Baiklah, lakukan apapun yang kau mau." Devan melepaskan tangan Friska lalu pergi.
Friska menatap kepergian Devan dengan tatapan bingung.
Kenapa dia jadi marah?
"Ellen, apa kau menjalin hubungan dengannya?" tanya Kenan dengan tatapan menyelidik saat melihat Friska terus menatap kepergian Devan.
Friska menarik padangannya dari Devan lalu beralih menatap Kenan. "Tidak, memangnya kenapa?" tanya Friska dengan wajah bingung.
Kenan menggeleng. "Tidak apa-apa."
Ahhh.. Sial, aku benci bersaing dengannya. Kenapa harus dia? Wajahnya yang tampan membuatku kesal. Dari segi fisik, aku sudah kalah telak darinya.
Rendi yang setampan itu saja, masih merasa terancam, apalagi aku? Aku benar-benar tidak suka melihat wajahnya. Kini, aku tahu bagaimana perasaan Rendi selama ini. Pantas saja dia sangat cemburu pada Devan.
*******
Setelah selesai berbicara dengan Kenan, Friska langsung pulang diantar oleh Kenan. Friska langsung mencari keberadaan Devan ketika dia baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kak Nora, Devan ke mana?" Friska menghampiri kakak Devan yang sedang duduk bersama dengan anaknya di ruang keluarga.
"Sepertinya di ruangan kerjanya, aku tidak melihatnya keluar sedari tadi," jawab Nora, kemudian dia beralih menatap Friska, "apa kalian bertengkar?"
Melihat wajah adiknya tadi yang nampak di tekuk membuat Nora heran. Dia tidak berani bertanya ketika melihat Devan nampak diam saja sambil berlalu di depannya.
"Tidak Kak, hanya salah paham saja," jawab Friska sedetik kemudian dia terdiam.
Dia sedang berpikir apakah dia harus menghampiri Devan atau membiarkannya tenang dulu. Beberapa menit berpikir, Friska menemukan ide, kemudian dia menunduk menatap anak Nora.
__ADS_1
"Vania, ikut aunty ya, kita temui uncle Devan." Friska lalu mengambil Vania dari pangkuan ibunya dan menggendongnya menuju ruang kerja.
Sebelum masuk, Friska mengetuk pintu terlebih dahulu. "Kak, apa kau sedang sibuk?" Devan menatap sejenak ke arah Friska saat melihatnya membuka pintu.
"Ada apa?" Devan kembali fokus pada kertas yang ada di depannya.
Friska memberanikan diri untuk mendekati meja kerja Devan. "Apa kau sedang sibuk?"
"Yaa," jawab Devan singkat.
Friska berjalan ke sisi kanan Devan lalu meletakkan Vania di atas meja dan seketika Devan mengangkat wajahnya menatap Friska. "Vania, ingin bermain denganmu."
Buru-buru Friska meletakkan Vania di pangkuan Devan saat dia bersandar di kurso kerjanya. "Benar, kan Vania ingin bermain dengan uncle Devan?" ujar Friska buru-buru saat melihat Devan terus menatapnya.
Nyatanya Vania belum bisa bicara. Alasan Friska tentu saja terlihat dibuat-dibuat. Meskipun begitu, Devan tetap menerima Vania. Devan kemudian menggendong Vania menuju sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Apa kau marah denganku karena masalah tadi siang?"
"Tidak," jawab Devan sekenanya. Dia terlihat fokus bermain denga Vania dan mengabaikan Friska.
"Kenapa kau pergi begitu saja? Padahal aku belum selesai bicara," ujar Friska lagi.
Deva membisu, tidak menanggapi perkataan Friska, dia menunduk sambil bermain dengan Vania.
Melihat Devan nampak malas membahas masalah tadi siang. Friska memutuskan untuk mengganti topik lain. "Apa kau akan datang ke pesat pernikahan Sofi?"
Pesta pernikahan Sofi akan di gelar 2 hari lagi, Kenan sengaja mengajak Friska bertemu karena ingin bertanya apakah Friska akan datang ke pernikahan Sofi dan Raka. Dia berniat mengajaknya pergi bersama jika dia mau datang. Sebab itu, dia sengaja datang ke Singapore khusus untuk mejemputnya.
"Iyaa, aku akan datang, Amel sudah menelponku dan menyuruhku untuk datang." Devan beralih menatap Friska. "Kau siapkan saja barangmu, besok kita akan ke Indonesia. Ayahmu juga sedang dalam perjalanan menuju Indonesia tadi pagi."
Sebagai anaknya, Friska justru tidak tahu kalau ayahnya akan datang ke pesta pernikahan Sofi dan Raka, ayahnya bahkan tidak mengabarinya sama sekali ketika sudah berangkat menuju Indonesia.
"Kau tahu dari mana ayahku sudah dalam perjalanan ke Indonesia?"
"Ayahmu menelponku kemarin malam, dia menyuruhku untuk ikut ke Indonesia. Ada hal penting yang ingin ayahmu bicarakan, maka dari itu, kau di suruh datang ke Indonesia," ungkap Devan.
"Baiklah, tapi Kenan ke sini untuk menjemputku juga," jelas Friska.
"Bilang saja padanya, kalau kau akan pergi denganku."
__ADS_1
Bersambung.....