
Saat Rendi keluar tadi terlihat semua pengawal sedang tertidur di lantai depan kamarnya. Sebelum dokter Jhon masuk ke kamar Rendi, dokter Jhon terlebih dahulu memberikan obat tidur yang dia masukkan ke dalam minuman dan memberikan kepada semua pengawal yang menjaga ruangan Rendi.
Dia bahkan harus menutup mulut beberapa perawat yang ditugaskan oleh ibunya Rendi. Semua kamar yang ada lantai atas khusus VVIP disteril dan ditutup untuk umum untuk sementara waktu, tidak ada yang diijinkan untuk menggunakan kamar VVIP lantai itu selain kamar Rendi. Lilian sengaja melakukannya untuk memudahkannya mengawasi Rendi. Dia tidak mau telalu banyak orang yang lalu lalang di lantai yang berakibat lengahnya pengawasan terhadap Rendi nantinya.
Hari ini Rendi bertekat untuk menerobos masuk rumah Raka jika Amel tidak keluar juga untuk menemuinya. Rendi sudah tidak punya pilihan lain. Dia takut tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bisa menemui Amel, sebelum keberangkatannya keluar negri.
Rendi melajukan mobil yang dipinjamnya dari dokter Jhon, karena kunci mobil miliknya disita oleh ibunya. Setelah tiba di depan rumah Raka, Rendi menatap jam yang ada di tangannya. Waktu menujukkan pukul 8 malam. Dia langsung keluar dari mobilnya. Dia masih menggunakan topi tetapi sudah melepaskan kaca mata hitamnya setelah dia berhasil masuk ke mobil dokter Jhon di rumah sakit tadi.
Rendi berjalan menuju pos satpam, meminta untuk memberitahukan pada Amel tentang kedatangnnya. Masih seperti sebelumnya Amel tetap menolak untuk bertemu dengan Rendi. Rendi kemudian mencoba untuk menerobos masuk saat satpam memberitahukan pesan Amel. Terjadi kegaduhan di depan ruamh Raka, Rendi terus berteriak memanggil nama Amel dan terus memberontak saat tubuhnya ditahan oleh dua orang satpam saat mencoba untuk menerobos masuk.
“Mel, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!!” ucap Rendi saat melihat Amel berjalan menghampirinya.
Amel akhirnya keluar setelah Rendi berteriak terus menerus di depan rumah Raka, dia tidak ingin memancing kerumunan tetangga sekitar karena kegaduhan yang dibuat Rendi. Sementara Raka hanya berdiri di depan pintu mengawasi Rendi dan Amel dari jauh.
“Lepaskan kak!” ucap Amel saat Rendi sudah meraih tubuh Amel dalam pelukannya. ”Bicaralah, aku tidak punya banya waktu!” ucap Amel lagi sambil mendorong tubuh Rendi supaya melepaskan pelukannya.
“Oke, aku cuma mau jelasin kesalahpahaman antara kita Mel!” Rendi melepaskan pelukannya dan meraih tangan Amel.
Amel menghempaskan tangan Rendi. “Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kakak sudah menghianatiku! Aku mohon menjauhlah dari kehidupanku, jangan pernah muncul lagi di depanku!”
“Aku sudah tidak mencintainya Mel, itu hanya masalalu. Sekarang yang aku cintai cuma kamu. Alasan aku tidak bisa melupakannya bukan karena aku masih mencintainya, tetapi karena..!”
“Cukup!” teriak Amel sambil menutup kedua telinganya. “Pergi sekarang! Aku sudah memutuskan untuk menepati janji yang aku buat pada kak Evans!” ucap Amel sambil memalingkan wajahnya dari Rendi.
Rendi langsung mematung, aliran darahnya terasa membeku saat mendengar perkataan Amel. Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Amel. Kata-kata yang selama ini membuatnya gelisah saat memikirkannya. “Apa semudah itu kamu berpaling dariku Mel? Apa selama ini kamu tidak pernah mencintaku?” ucap Rendi menatap sendu pada Amel.
Amel menatap wajah Rendi dengan mata berkaca-kaca. Dia berusaha tetap tegar di hadapan Rendi. Tangannya meremas kuat ujung bajunya. “Perasaanku tidak seperti dulu lagi! Aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku padamu! Aku harap cukup sampai di sini! Menjauhlah dari hidupku!“
“Apa hubungan kita benar-benar tidak bisa di perbaiki lagi Mel?”
“Tidak, semua sudah terlambat,” ucap Amel dengan tegas.
Rendi meraih tangan Amel. “Tolong maafkan aku. Aku mohon Mel, beri aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon sekali ini saja, Kita mulai dari awal lagi!” mohon Rendi dengan suara lirih.
“Aku tidak bisa! Saat ini yang ada di dalam hatiku hanyalah rasa kecewa, tidak ada lagi rasa sayang untukmu!” ucap Amel bohong, padahal sebenarnya dia sangat mencintai Rendi. Dia bahkan tidak bisa menyingkirkan Rendi dari pikirannya.
Rendi meremas tangan Amel. “Aku mohon Mel, aku akan melakukan apa saja asalkan kau memaafkan aku. Aku tidak bisa kehilanganmu Mel!"
__ADS_1
“Percuma kau memohon padaku! Aku tetap tidak bisa kembali denganmu! Pergilah sejauh mungkin dari hidupku!” ucap Amel dingin.
"Kau bisa menghancurkan hidupku dengan menjauhiku seperti ini!" ucap Rendi putus asa.
Amel menghempaskan tangan Rendi. "Bukankah di hidupmu sudah ada Friska dan mantan tunanganmu itu! seharusnya kamu bahagiakan?"
"Aku tidak mencintai mereka Mel! Bagaimana aku bisa hidup bahagia, sementara kau sudah menghancurkan hidupku, Aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana melanjutkan hidupku nanti tanpa kau di sisiku. Mungkin kau bisa dengan mudah mencintai orang lain, tetapi tidak denganku Mel! Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mencintai orang lain selain dirimu! Aku sangat mencintaimu, melebihi diriku sendiri Mel!"
"Terserah. Aku sudah tidak percaya lagi padamu!"
Rendi menatap sendu Amel. "Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya denganku?"
Amel memalingkan wajahnya ke samping. Dia benar-benar tidak sanggup melihat Rendi seperti ini. "Pergilah, jangan pernah cari aku lagi!"
"Aku akan pergi, kalau kamu sudah mendengar penjelasanku!"
"Aku tidak butuh lagi penjelasan darimu!" ucap Amel lantang.
"Aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir lagi! Aku tahu kamu masih marah padaku! kita akan bicara lagi nanti!" ucap Rendi mengalah.
"Tidak ada lain kali, aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"
"Tidak perlu! Aku tidak butuh itu!"
Rendi meraih tangan tangan Amel. "Baiklah, lalu apa yang kau inginkan supaya bisa memaafkan aku? Aku benar-benar tidak bisa melepasmu Mel!"
"Aku sudah mencintai orang lain! tidak ada lagi tempat di hatiku untukmu!"
Rendi berusaha tetap tenang. "Aku tahu kau bilang begitu karena kau masih marah denganku! aku mengerti. tolong maafkan aku."
"Aku berkata yang sebenarnya, orang yang selama ini aku cintai adalah kak Evans, bukan kamu!"
Rendi yang mendengar perkataan Amel tiba-tiba merasakan perih di hatinya. "Jadi ini alasanmu mengakhiri hubungan kita? karena kamu mencintai orang lain? Selama ini aku berpikir kalau kau mencintaiku, Aku sangat bahagia saat kau mengatakan selamanya kau hanya akan mencintaiku! Dengan bodohnya aku percaya dengan ucapanmu!"
Amel terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Rendi saat ini. Lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata lagi.
Perlahan Rendi melepaskan genggaman tangannya. “Apa kau tahu? Luka yang kau telorehkan saat ini sangat dalam Mel, selamanya akan membekas diingatanku!” lanjut Rendi lagi saat melihat Amel diam saja.
__ADS_1
Amel memalingkan wajahnya. “Aku hanya ingin hidup tenang tanpa diganggu olehmu!”
“Kau bahkan tidak mau repot-repot mendengar penjelasan dariku! Aku harap suatu saat kau tidak akan menyesal telah melakukan ini kepadaku. Mungkin aku sudah pergi jauh saat kau mengetahui kebenaran yang sesungguhnya nanti! yang harus kau ingat, Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu, tapi kau sendiri yang meninggalkanku. Kali ini kau yang telah membuangku dari hidupmu.”
“Pergilah! Aku akan lebih baik kalau kita jalani hidup masing-masing.”
"Apa kau tidak tahu pengorbanan apa yang sudah kulakukan demi bisa menemuimu?”
“Aku tidak peduli. Lupakan semua tentangku!”
"Bagaimana aku bisa melupakanmu, sementara seluruh hatiku sudah kuberikan untukmu! Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya melupakanmu!"
"Itu urusanmu! Sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Mulai saat ini antara kamu dan aku tidak terikat satu sama lain, hubungan kita berakhir sampai di sini! Aku harap di masa depan, kita tidak akan pernah bertemu lagi, kalaupun kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak saling mengenal. Lupakan semua masalalu tentang kita!"
Rendi menatap Amel dengan tatapan sendu. “Apa kau yakin Mel dengan keputusanmu saat ini? Tidak bisakah kita berteman Mel, setidaknya kita masih bisa berkomunikasi walau hanya sekedar untuk bertukar kabar.”
“Aku sangat yakin dengan keputusanku. Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi denganmu, termasuk berteman sekalipun!”
Rendi terdiam saat mendengar perkataan Amel. Dia menatap Amel dengan perasaan hancur. “Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan pergi dari hidupmu dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu. Meski begitu, aku akan tetap mencintaimu! Satu hal yang kau harus tau, aku tidak pernah sekalipun menghianatimu.”
Amel menatap wajah sendu Rendi, dengan tangan meremas kedua tangannua dengan kuat untuk memberikan dia kekuatan. “Pergilah! Kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi!”
Rendi mundur berapa langkah. Dia menarik napas dalam-dalam. "Maaf, kalau selama ini aku selalu membuatmu tertekan saat bersamaku. Maaf karena aku tidak bisa membuatmu bahagia. Maaf karena selama ini aku egois karena terus menahanmu di sisiku. Maaf karena selama ini aku selalu merepotkanmu. Maaf karena aku sudah memaksamu untuk mencintaiku, dan aku minta maaf kalau ada perlakuanku yang secara tidak sadar menyakiti hatimu! Ak.. Aku..Aku hanya..." Rendi sudah tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Dia menunduk sejenak saat merasakan perasaan sesak di dadanya.
Rendi diam sesaat lalu mengangkat kepala dan menatap lekat bola mata Amel. “Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?” tanya Rendi dengan suara bergetar.
Amel memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup lagi menatap wajah Rendi. Di dalam hatinya menjerit saat melihat Rendi yang tampak sangat rapuh. “Aku tidak mau!”
“Baiklah, aku mengerti." Rendi maju mendekati Amel. Dia melepaskan jaketnya dan memasangkan ke tubuh Amel. "Masuklah! Sudah malam. Udara di luar sangat dingin. Kau bisa terkena flu nanti. Aku tidak ingin kau sakit!” ucap Rendi mengelus kepala Amel setelah selesai memakaikan jaketnya ke tubuh Amel.
Tubuh Amel bergetar saat Rendi menyentuh kepalanya. Dia berusaha menahan air mata yang sedari tadi ada di pelupuk matanya. Amel tampak diam saja tidak merespon perkataan Rendi.
Rendi menarik napas dalam-dalam dan menghembsukannya dengan pelan. “Terima kasih untuk waktu yang pernah kau habiskan bersamaku selama ini, walaupun hanya sebentar, tapi aku sangat bahagia! Hiduplah dengan baik dengan begitu aku baru bisa tenang. Aku harap kau akan selalu bahagia! Jangan pernah menangis lagi. Maaf.. dan terima kasih untuk semuanya!" sambung Rendi lagi saat melihat Amel diam saja.
Rendi berjalan menuju mobilnya, diikuti tatapan sedih dari Amel. Rendi berhenti sejenak di depan pintu mobilnya, dan menoleh pada Amel dengan tatapan sendu. Rendi mencoba untuk tersenyum, ada guratan kesedihan di wajahnya. “Aku pergi..! Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit! Selamat tinggal Mel.” Rendi kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Rendi tidak langsung pergi, dia menatap Amel yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah Raka. Rendi menyandarkan kepalanya saat Amel sudah menghilang di balik pintu. Rendi memejamkan mata sejenak, terlihat dua bulir air mata keluar dari sudut matanya. Rendi kemudian membenarkan posisi duduknya dan melajukan mobil pergi meninggalkan rumah Raka dengan luka hati yang sangat dalam. Luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan dan akan selalu membekas di hatinya.
__ADS_1
Bersambung....