Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Amel cemburu


__ADS_3

Friska tidak takut sama sekali saat Rendi menatap tajam dirinya.


"Aku memang nggak bisa membencimu Friska, tapi bukan berarti aku nggak bisa marah padamu. Kamu harus sadar dengan posisimu sekarang. Di hatiku cuma ada Amel seorang."


Rendi tidak habis pikir dengan sikap keras kepala Friska. Amel hanya bisa menatap dalam diam, perdebatan mereka. Dia tampak berpikir, mencerna satu persatu yang dikatakan Friska.


"Kau harusnya nggak memancing kemarahanku dengan berpacaran dengannya Ren."


"Harus bagaimana lagi aku memberitahumu. supaya kamu mengerti Friska." Friska benar-benar menguji kesabarannya.


"Aku cuma ingin kamu yang dulu Rendi."


"Friska aku mohon padamu, sudahi pembicaraan ini. Aku benar-benar bakal marah padamu kalau kau masih meneruskannya."


"Baiklah, aku ke sini bukan untuk bertengkar denganmu. Aku cuma ingin menanyakan bagaimana keadaanmu."


Rendi mengerutkan dahinya sebentar, kemudian dengan cepat merubah ekspresinya menjadi tenang. "Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat."


Friska bangun dari duduknya. Dia pindah ke sofa yang berada di dekat Rendi. "Apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Friska lembut dengan memegang tangan Rendi. Amel yang melihat itu langsung terbakar api cemburu.


Beraninya dia ini pegang tangan pacarku.


Rendi melepaskan tanganya dari genggaman Friska. "Jaga sikapmu Friska. Ada pacarku di sini," ultimatum Rendi.


"Aku cuma khawatir denganmu. Aku dengar kau ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan CT Scan. Apa kamu merasakan gejala lagi seperti dulu?"


Rendi menahan napas sebentar. "Dari mana kamu tahu? Wpakah Jhon yang memberitahumu?" Rendi menatap heran kepada Friska. Dia mengira dokter Jhon telah memberitahu Friska, padahal dia sudah berjanji untuk merahasiakannya dari Friska.


"Bukan, aku tahu dari orang lain."


Rendi sedikit terkejut. "Kau memata-mataiku?" tanyq Rendi dengan nanda tinggi.


"Aku cumq ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku nggak mau terjadi apa-apa denganmu, Ren"


Amel yang dari tadi hanya menyimak, semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka. Dia tampak mengernyitkan dahinya berapa kali, sementara Sofi hanya bisa diam. Dia tidak mau ikut campur meski dia tahu apa yang mereka bahas sekarang.


"Kamu sudah terlalu ikut campur urusanku Friska."

__ADS_1


"Terserah kau mau bilang apa, yang pasti aku nggak mau kejadian dulu terulang lagi." Friska membuang pandangannya ke arah lain.


Rendi menghela napas berat dan mengacak rambutnya dengan kasar. "Friska, tolong jangan lewati batasanmu. Aku tahu kamu khawatir denganku, tapi aku punya privasi sendiri. Aku harap kamu jangan bahas masalah ini lagi."


"Aku tahu Rendi, kenapa kau nggak bahas masalah ini, di sini."


Friska tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya sambil menatap penuh arti kepada Amel. Amel yang menyadari Friska sedang menatapnya sambil tersenyum, tanpa sadar bertanya-tanya dalam hatinya.


"Aku akan menutup mulutku rapat-rapat tentang semua yang nggak boleh dia ketahui asalkan kau nggak bersikap dingin dan mengabaikan aku lagi Aku cuma mau ada di sampingmu seperti dulu," bisik Friska


Dia sengajai berbisik di telinga Rendi agar tidak didengar siapapun. Amel dibuat geram dengan tingkah Friska yang terlihat mendekatkan tubuhnya ke Rendi seperti sedang mencium pipinya.


Rendi menjauhkan wajahnya setelah mendengar perkataan Friska. "Pikirkan baik-baik ucapanku." Friska menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu memandang kembali Rendi.


"Aku akan menemuimu nanti," ujar Rendi datar.


"Baiklah sayang, aku akan menunggu."


Friska bangun dari duduknya lalu membungkuk memeluk tubuh Rendi yang sedang duduk. "Aku pergi dulu."


Friska berjalan meninggalkan ruangan itu, dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Rendi hanya menatap diam ke arah Friska.


Rendi berdiri setelah Friska benar-benar sudah pergi. "Kalau mama mencariku, bilang aku ada di kamar," ucap Rendi sambil menoleh kepadq Sofi yang tampak sibuk dengan ponselnya, padahal dari tadi dia menyimak semua yang terjadi dihadapannya.


"Iyaa, Kak," ucap Sofi sambil menatap kakaknya.


Rendi menarik tangan Amel tanpa berkata apapun. Dia kemudoan berjalan masuk ke kamarnya. "Lepas!"


Amel menghempaskan tangan Rendi setelah berada di dalam kamar Rendi. Rendi dibuay terkejut dengan gerakan tiba-tiba Amel. Dia langsung membalikkan badannya menatap Amel heran.


"Kamu kenapa?" Dia mendekati Amel.


Amel yang menyadari sedang ditatap oleh Rendi langsung mengalihkan pandanganya ke samping. "Aku mau pulang," ujar Amel tanpa menoleh ke Rendi.


"Nanti malam aku antar kamu pulang. Temani aku di sini. Aku masih mau bersamamu."


"Kenapa Kakak nggak minta ditemani Friska aja?" Amel terlihat kesal dan marah.

__ADS_1


"Aku maunya ditemani kamu, Mel. Kamu itu pacarku. Untuk apa aku meminta Friska menemaniku?"


"Bukannya Kakak lebih nyaman kalau dekat dengan dia sampai-sampai Kakak diam saja waktu Friska meluk Kakak tadi? Sepertinya Kakak menikmatinya. Malah Kakak diam aja waktu dia manggil Kakak dengan sebutan sayang," ucap Amel dengan nada tidak suka.


Rendi tertawa mendengar perkataan Amel. "Kau manis sekali kalau lagi cemburu," ucap Rendi mengusap lembut pipi Amel.


Amel melipat tangannya di dada. "Aku nggak cemburu?"


"Beneran?"


"Tentu aja, untuk apa juga aku cemburu?"


"Yaa sudah, aku bakal sering-sering memeluk Friska kalau begitu."


Amel langsung menoleh. "Terserah, aku juga bisa ngelakuin sama orang lain" ucap Amel tidak mau kalah.


Wajah Rendi seketika berubah menjadi kaku. "Kau jangan coba-coba melakukan itu Mel, jangan memancing emosiku." Rendi memegang tangan Amel dengan kuat.


Amel menatap Rendi dengan tatapan menantang. "Kalau Kakak aja boleh melakukannya, kenapa aku nggak?"


"Aku udah bilang, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu berani berdekatan dengan cowok lain. Apalagi, kalau sampai ada yang berani menyentuhmu."


"Kakak egois!"


"Terserah. Aku nggak mau kalau milikku disentuh orang lain."


"Aku bukan milik Kakak. Kita cuma sekedar pacaran!"


"Sekedar pacaran katamu? Rendi berjalan maju mendekatkan tubuhnya dengan Amel hingga menyisakan sedikit jarak. "Apa aku harus membuatmu menjadi milikku seutuhnya supaya kau tidak berani macam-macam dengan laki-laki lain?"


Wajah Rendi menggelap. Dia memegang kedua bahu Amel lalu menunduk. "Ap-apa maksud, Kakak?" tanya Amel gugup.


"Kamu tahu apa yang aku maksud Mel?" Rendi menatap tajam Amel. "Kakak jangan macam-macam denganku atau aku akan teriak," ujarnya gugup.


"Apa kamu lupa kalau kamarku kedap suara, nggak bakal ada yang dengar teriakan kamu"


"Kakak jangan seperti ini, Kak, aku salah, aku minta maaf. Aku juga nggak akan berani meluk orang lain. Aku cuma ... cuma asal bicara tadi." Amel mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2