Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Devan


__ADS_3

Amel terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Lisa. "Kayak Siska, tapi lebih cantik dia" ucap Amel malas, dia masih kesal dengan insiden Friska memeluk Rendi kemarin.


"Pantes aja sombong, baru mau gue kasih cermin buat ngaca, gue kira biasa aja mukanya" ujar Lisa manyun.


"Biasa itu mah Mel kalau uda pacaran, pasti ada aja pelakor. Maklumin aja, apalagi lo tau kan kalau yang suka sama Rendi banyak, nggak cuma satu. uda gitu cantik semua lagi. Lo harus punya kesabaran ekstra buat ngadepin cewek yang suka sama kak Rendi." ucap Bela memberi semangat.


"Tapi yang gue salut. Leluarganya Rendi nerima lo dengan tangan terbuka, biasanyakan kalau dari kalangan atas gitu, seleksi dari orang tuanya ketat. Walaupun sekedar pacaran, apalagi Rendi anak pertama dan cowok satu-satunya. Pasti mereka nggak ngijinin anaknya bergaul sama sembarangan orang," sambung Olive yang masih sibuk dengan makanan di mulutnya.


"Iyaa, gue juga tadinya takut kalau orang tuanya, bakal nggak suka sama gue, nyatanya keluarga Rendi semuanya baik."


Lisa mendekatkan wajahnya ke Amel. "Mel, adalagi nggak yang kayak Rendi? Gue juga mau dong punya pacar kayak dia atau dia punya sodara atau sepupu gitu, kenalin dong."


Olive melempar kulit kacang ke wajah Lisa. "Kalaupun Rendi punya sodara atau sepupu, nggak mungkin juga mau sama lo. Sadar diri ngapa Lis," ujar Olive sewot.


Lisa menampilkan wajah cemberutnya. "Siapa tau aja Liv, namanya juga usaha."


"Kalau ngayal jangan ketinggian deh, kalau jatoh sakit," balas Olive lagi ketus.


"Tapi Mel, yang gue heran itu, kenapa Raka bisa sampai mukulin Rendi sampai begitu?" tanya Bela yang tampak berhenti dari aktifitas makannya.


"Kan uda pernah gue bilang. Kayaknya Raka suka sama Ame," seru Olive.


Amel menghela napas. " Dia kan abang gue. Dia emang begitu, kan?"


"Tapi kalau dipikir-pikir, sikap Raka ke lo itu beda sama sikapnya ke kita Mel." Bela baru menyadari perkataan Olive, setelah dia membandingkan, sikap Raka terhadap Amel.


"Jangan pada ngaco deh," ujar Amel malas sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


Obrolan mereka terhenti, saat bel masuk berbunyi. Tidak lama kemudian masuklah bu Ratna, diikuti 3 orang lainya yang berpakaian rapi. Setelah Amel melihat salah satu dari mereka, alangkah terkejutnya, saat mengetahui siapa yang ada di depannya. Amel membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Selamat pagi anak-anak. Perkenalkan di sebelah saya berdiri 3 guru magang yang akan mengajar kalian selama semester ini."


Bu Ratna mengarahkan tangannya kepada 3 irang yang sedang berbaris di sebelahnya. "Saya akan perkenalkan satu-satu," ujar Bu Ratna. "Yang pertama namanya Stefani, akan mengajar bahasa indoneisia. Di sebelahnya adalah Kelvin, akan mengajar matematika dan yang terakhir Devan akan mengajar bahasa inggris.


Ketika nama Devan disebutka, sontak seisi kelas jadi ramai dan heboh. termasuk dengan ketiga sahabatnya. Semua murid terutama siswi perempuan, terlihat antusias semenjak Devan selesai diperkenalkan.


Amel justru memiliki firasat buruk dengan ke datang Devan sebagai guru magang di sekolahnya. Dia tidak menyangka, ucapan Devan kemarin, yang mengatakan kalau mereka akan bertemu lagi, akan benar-benar menjadi kenyataan.


Amel tampak hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke samping saat dia tidak sengaja melihat Devan sedang menatap lurus ke arahnya.


"Selama mereka mengajar, kalian harus bersikap baik, mengerti?" ujar Bu Ratna.


"Mengerti bu," jawab mereka serempak.


"Baiklah sekian dulu perkenalannya, kalian akan berkenalan lebih lanjut saat mereka mengajar di hari pertama mereka. Karena saat ini, jam pelajaran bahasa inggris, jadi bapak Devan yang akan mengajar pertama kali," ujar Bu Ratna.


"Selamat pagi semua. Seperti yang sudah kalian dengar dari bu Ratna. Saya akan mengajar bahasa inggris. Nama saya Devan Eza Mahendra Dirgantara. Kalian bisa memanggil saya bapak Devan atau Mr. Devan kalau di sekolah. Apakah ada pertanyaan sebelum saya mengajar?"


Devan menatap seisi ruangan dan terhenti pada Amel yang tampak menatap buku di depannya. Berbagai macam pertanyaan dilontrakan oleh siswi di kelas Amel. Mulai dari umur, alamat, status, nomor telpon dan banyak lagi.


"Saya akan menjawab sebagian pertanyaan saja," ucap Devan sambil berdiri di samping meja guru.


"Umur saya 21 tahun. Saya masih lajang dan saya tinggal di salah satu perumahan di daerah selatan Jakarta. Sekian perkenalan dari saya." Devan berjalan menuju tempat duduk, tapi langkahnya terhenti saat teringat sesuatu.


"Oya, selama saya mengajar, saya membutuhkan 1 orang murid untuk membantu saya. Seperti mengumpulkan tugas semua temannya, membagikan materi belajar yang saya buat dan lain-lain yang semuanya berhubungan dengan proses belajar mengajar di kelas ini," ucap Devan disambut antusias oleh murid lainnya.


"Langsung saja, saya memilih Amelia Putri sebagai murid yang akan membantu saya ke depannya." Devan mengarahkan pandangannya langsung ke Amel.


Semua murid tampak terkejut saat Devan menyebutkan nama Amel, tidak terkecuali ketiga sahabatnya. Semua mata tertuju kepada Amel. Bagaimana tidak, bahkan Devan belum berkenalan dengan siswa kelas itu, bagaimana bisa dia sudah tahu nama Amel bahkan nama lengkapnya.

__ADS_1


Amel terkejut dan langsung mengangkat kepalanya saat Devan menyebut namanya. Dia melihat seisi kelas sedang menatap heran kepadanya. Amel tampak linglung sesaat,


"Ke-kenapa harus saya, Pak?" tunjuk Amel pada diri sendiri. "Biasanya itu tugas ketua kelas dan saya bukan ketua kelasnya. Maaf Pak saya tidak bisa. Bapak bisa meminta yang lain." Amel menolak permintaan Devan.


Devan berjalan ke tengah. Tepat di depan papan tulis. "Apa saya harus meminta bantuan bu Ratna agar kamu bersedia?" Devan menatap datar Amel.


"Tapi saya murid yang tidak rajin. Saya juga bukan murid terpandai di kelas ini. Saya nggam bisa banyak membatu Bapak." Amel masih berusaha menolak permintaan Devan.


"Saya tidak butuh dengan hal yang kamu sebutkan tadi. Yang saya butuhkan hanya kamu." Devan menatap penuh arti kepada Amel. "Maksudnya, saya butuh bantuan kamu," ralat Devan saat menyadari dia salah bicara. "Kalau kamu nggam setuju, saya bisa bilang ke bu Ratna kalau kamu keberatan membantu saya."


"Nggak perlu Pak. Saya akan membantu bapak," ucap Amel pasrah. Dia pasti akan dimarahi bu Ratna kalau sampai Devan benar-benar mengadu ke bu Ratna.


"Bagus, sekarang kita mulai belajarnya." Devan berjalan ke meja guru dan memulai proses belajarnya.


Selama kelas berlangsung, Amel tidak bisa fokus sama sekali, pikirannya berkelana entah kemana. Pikirannya langsung tertuju kepada Rendi. Sepertinya, ke depannya dia akan sering bertengkar dengan Rendi karena kemunculan Devan.


*****


"Amelia tunggu." Langkah Amel terhenti saat terdengar suara di belakangnya. Dia menoleh dan terlihat Devan menghampirinya. Amel dan ketiga temannya berhenti di depan ruang osis saat mereka akan ke kantin.


"Saya mau bicara dengan kamu." Devan berdiri tepat di depan Amel. Ketiga temannya langsung menatap heran kepada Amel dan Devan secara bergantian.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Visual Devan


__ADS_1


__ADS_2