
Sofi melajukan mobilnya menuju apartemen kakaknya, karena lokasi yang berdekatan dengan hotelnya membuat Sofi tiba lebih cepat dari pada Raka. Sofi keluar menggunakan Hoodie berwarna peach dengan bawahan celana Jeans pendek, menggunakan topi berwarna hitam dan kacamata hitam. Dia sengaja menggunakan itu untuk menghindari Willy.
Sofi berjalan masuk ke loby dan duduk di pojok tempat ruang tunggu apartemen tersebut. Dia sedang menunggu Raka datang. Sofi terlihat gusar. dia terus menoleh ke arah pintu masuk. Saat melihat Raka masuk dengan penampilan berantakan, hati Sofi menjadi sakit. Raka masih memakai baju yang semalam dia pakai. Penampilan Raka terlihat urakan. Baju kusut, wajah lesu, rambut acak-acakan. Dia berjalan gontai sambil mengedarkan pandangannya, mencari seseorang.
Sofi kemudian menghampiri Raka. "Raka, ikut aku!" ucap Sofi sambil menarik tangan Raka.
Raka yang terkejut dengan kedatangan Sofi langsung menghempaskan tangananya. "Kenapa kau ada di sini? Amel mana?" Raka masih berusaha untuk mencari Amel.
"Ada di atas, dia memintaku untuk menjemputmu di loby."
Raka langsung berjalan menuju loby tanpa menghiraukan penjelasan Sofi. "Cepat aku tidak punya banyak waktu!" ucap Raka saat melihat Sofi tampak diam.
Sofi langsung tersadar. Dia berjalan masuk ke lift. Tidak ada pembicaraan sampai mereka tiba di depan pintu kamar apartemen Rendi. "Masuklah. Kak Amel ada di kamarnya." Tidak menunggu lama Raka langsung berjalan menuju kamar Amel.
Sofi mengunci pintu apartemennya kemudian menyusul Raka. Sofi melangkah cepat masuk ke dalam kamar Amel. Raka menoleh pada Sofi saat dia mengunci pintunya dan memasukkan kuncinya di saku celananya.
"Kenapa kau kunci? Amel mana?" tanya Raka dengan wajah heran. Saat dia memasuki kamar Amel, dia tidak melihat siapapun di kamar itu hibgga Sofi masuk.
Sofi sengaja mengunci pintunya karena takut Raka akan kabur lagi seperti tadi lagi sebelum mendengar penjelasannya. "Kak Amel tidak ada. Aku memintanya untuk menyuruhmu ke sini."
Raka berbalik. "Jadi kau berksekongkol dengan Amel untuk membohongiku?" tanya Raka dengan wajah mulai emosi.
"Tidak, kak Amel tidak salah. Aku yang memaksanya untuk berbohong. Aku terpaksa melakukannya karena kau mengabaikan telpon dan pesan dariku."
Raka lalu berjalan mendekati Sofi. "Apa kau tuli? Bukankah sudah aku bilang, aku tidak mau melihatmu lagi?" ucap Raka dengan nada dingin.
"Maafkan aku Raka. Kau dengar dulu penjelasanku. Kau salah paham," ucap Sofi.
"Aku tidak peduli." Raka menatap Sofi dengan tatapan tajam. "Cepat buka pintunya!" perintah Raka.
"Aku tidak akan membuka sebelum kau mendengar semua penjelasanku."
Raka mensejajarlan wajahnya dengan Sofi. "Apa kau tidak takut padaku? Aku bisa saja menyentuhmu saat ini juga kalau aku mau," ucap Raka dingin.
__ADS_1
Sofi mulai gugup, tangannya terlihat gemetar. "Kau... kau tidak mungkin berani melakukan itu padaku," ucap Sofi gugup ketika melihat Raka tampak berjalan mendekatinya. Sofi berjalan mundur sampai akhirnya membentur pintu.
"Kata siapa aku tidak berani? Kau yang memancingku duluan," ujar Raka dengan suara berat.
"Lakukanlah kalau kau memang berani," tantang Sofi. Dia berpikir kalau Raka tidak akan mungkin melakukannya, karena semalam saja dia menolak untuk tidur di tempat tidur yang sama dengannya.
Raka meraih tangan Sofi. "Jangan kau pikir karena semalam aku menolongmu, aku tidak bisa melakukannya padamu."
"Lakukanlah. Asalkan kau mau mendengar penjelasanku dan tidak marah lagi denganku," ucap Sofi dengan suara bergetar.
Dia berusaha menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya.
"Buka pintunya, kalau tidak, aku akan benar-benar menyentuhmu," ancam Raka dengan wajah marah.
"Aku tidak akan membukanya." Sofi bergeming
"Baiklah kalau itu maumu. Jangan salahkan aku lagi karena aku sudah memperingatkanmu lebih dulu."
Raka langsung menarik tangan Sofi lalu membawanya ke tempat tidur. Raka langsung menindih Sofi. Dia mencium bibir Sofi dengan kasar. Raka terlihat sedang diliputi oleh amarah yang besar.
Raka terus melu-mat bibir Sofi dengan napas memburu. Dia beralih ke leher Sofi. Kali ini dia meninggalkan bekas merah pada leher Sofi. Raka seperti mulai hilang kendali. Sofi terlihat mulai terisak. Dia berusaha keras menahan agar suara tangisnya tidak terdengar.
Raka kembali memberikan tanda di leher Sofi. Saat mendengar suara tangis Sofi, Raka seketika menghentikan kegiatannya. Dia kemudian beralih menatap Sofi yang tampak sudah di banjiri air mata. Raka langsung bangun kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Sofi perlahan membuka matanya saat tidak lagi merasakan sentuhan dari Raka. "Bangunlah. Buka pintunya. Aku harus pergi," ucap Raka dingin. Dia tidak menoleh sedikitpun pada Sofi.
Sofi bangun dari tidurnya lalu menatap Raka. "Kenapa kau berhenti? Aku tetap tidak akan membuka pintunya sebelum kau mendengar penjelasanku."
"Berhenti main-main denganku Sofi," ujar Raka dengan suara berat.
"Kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukannya. Asalkan kau mau mendengar penjelasanku dan memaafkanku, aku tidak keberatan melakulannya. Lagi pula, kalau kau tidak menolongku semalam mungkin akun sudah menjadi milik Willy." Sofi langsung menciumnya. Raka tampak sangat terkejut dan tidak menyangka kalau Sofi akan melakukannya.
Raka tampak diam. Dia ingin melihat keberanian Sofi sampai mana. Sofi melakukan seperti yang Raka lakukan tadi dengan melu-mat dan menye-sap bibir Raka dengan bibir gemetar. Dia mulai membuka kancing baju Raka dan seketika itu juga mata Raka terbelalak.
__ADS_1
Raka langsung mendorong tubuh Sofi untuk menghentikannya. "Berhenti Sofi!" ucap Raka dengan emosi, "Apa kau sudah gila.? Haaah?"
"Bukankah itu yang kau mau?" tanya Sofi dengan air mata yang mengalir lagi di pipinya.
Raka menatap Sofi dengan tatapan tidam terbaca. "Buka pintunya. Kita sudah tidak mempunyai urusan lagi. Aku sudah membebaskan kekasihmu. Kau bisa menemuinya sesuka hatimu."
Sofi mengusap air matanya melihat sikap Raka yang begitu dingin padannya. "Raka, aku minta maaf kalau aku menyinggungmu tadi pagi. Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Kau tidak perlu minta maaf. Itu adalah hakmu. Kau memang benar, aku tidak berhak ikut campur dengan urusanmu karena aku bukan siapa-siapamu."
"Aku tahu, aku salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu terhadapmu. Maafkan aku Raka."
"Bukalah pintunya. Percuma kau menahanku di sini."
"Raka, aku ingin menemui Willy karena aku ingin menyelesaikan masalahku dengannya agar dia tidak berharap lagi padaku. Aku bukannya ingin kembali padanya."
"Itu bukan urusanku!" ucap Raka acuh tak acuh.
"Aku melarangmu untuk berkelahi dengannya karena aku tidak ingin kalian berdua terluka, bukan karena aku masih mencintai Willy. Aku memang mengkhawatirkannya, tetapi aku lebih khawatir denganmu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu seperti semalam," jelas Sofi dengan suara rendah, "aku juga memintamu untuk melepaskan dia bukan karena aku masih mencintainya. Aku hanya ingin membalas kebaikannya selama dia menjadi pacarku."
"Kau tidak perlu memberitahukan itu semua padaku. Aku tidak mau tahu apapun tentang kalian."
"Apa kau tidak ingin tahu kenapa aku bersikeras ingin menemuinya tadi pagi?"
"Aku tidak peduli."
"Aku ingin bertemu dengan Willy karena aku ingin mengatakan padanya kalau perasaanku sudah berubah padanya. Aku sudah tidak mencintainya, aku ingin memberitahunya kalau aku sudah mencintai orang lain."
"Berhenti! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Kau bisa langsung mengatakan padanya. Kau tidak perlu memberitahuku."
Sofi menghela napasnya. "Tentu saja aku harus memberitahumu karena lelaki yang aku cintai adalah kau Raka," ucap Sofi tenang.
"Aku tid..." ucapan Raka terpotong. Dia kembali mencerna ucapan Sofi setelah itu dia menoleh pada Sofi. "Apa kau bilang tadi?"
__ADS_1
"Aku mencintaimu Raka."
Bersambung..