
Amel mengejar langkah Rendi yang terlihat sudah memasuki apartemen baru mereka yang terletak di Senayan.
Apartemen itu memiliki luas hampir sama dengan rumahnya yang dulu. Apartemen milik Rendi berada di lantai 30. Lantai 30 khusus apartemen Rendi sendiri. Dia sengaja membeli 1 lantai untuk dijadikan satu apartemen pribadi miliknya. Apartemen yang seharga 180 Miliar itu, yang rencananya akan menjadi tempat tinggal Rendi dan Amel setelah menikah.
Setelah mengantar Devan dan Friska ke bandara. Rendi langsung membawa Amel ke apartemen barunya. Amel sebenarnya ingin bertanya pada Rendi, kenapa mereka tidak pulang ke hotel milik Rendi. Sebenarnya Rendi pernah mengatakan kalau mereka akan pindah ke apartemen di Senayan, hanya saja Rendi belum membicarakan kapan mereka akan pindahnya.
Melihat Rendi yang sedari tadi hanya diam, membuat Amel mengurungkan niatnya untuk bertanya. Amel mulai menerka-nerka, sekiranya apa yang membuat Rendi sedari tadi hanya diam dengan wajah dinginnya.
"Kak, tunggu!" panggil Amel ketika mereka sudah berada di dalam apartemen. Amel berusaha untuk menyusul suaminya yang sudah berjalan jauh di depannya.
Langkah Rendi terhenti di depan sebuah pintu. "Kak?" panggil Amel lagi karena belum ada jawaban juga dari Rendi.
"Masuklah.. Aku lelah," ucap Rendi setelah membuka pintu yang ada di depannya.
Amel mengikuti langkah Rendi memasuki ruangan tersebut. Saat tiba di dalam. Amel baru tahu, kalau ruangan tersebut adalah sebuah kamar tidur yang sangat luas. Amel menduga kalau itu akan menjadi kamar tidur mereka nantinya. Kamar tersebut lebih luas dari kamar Rendi yang dulu pernah Amel masuki.
Amel kemudian mendekati Rendi. "Kak, kenapa diam saja?" Amel berdiri di samping Rendi. Dia memperhatikan Rendi yang sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil fokus pada ponselnya.
"Berbaringlah di sini. Kau pasti lelah." Rendi menepuk tempat kosong di sebelahnya tanpa menoleh pada Amel.
Amel menghela napas pelan, kemudian naik ke tempat tidur, lalu berbaring di paha suaminya. Rendi tampak terkejut dengan tindakan Amel yang tiba-tiba. Rendi mengalihkan pandangannya kepada Amel. "Jangan tidur di situ. Kepalami bisa sakit nanti."
Amel menatap ke atas. "Kenapa kakak dari tadi mendiamkan aku?" tanya Amel sambil memandang wajah suaminya.
Rendi kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. "Aku hanya lelah." Sebenarnya Rendi diam karena dia merasa cemburu pada Devan. Amel terlihat lebih memperhatikan Devan dari pada dirinya, apalagi ketika melihat Devan memeluk Amel di bandara tadi. Seketika Rendi dibakar api cemburu.
"Katakan padaku Kak kalau aku memiliki salah, agar aku bisa memperbaikinya." Tentu saja Amel tidak langsung percaya dengan ucapanya Rendi tadi. Dia merasa kalau Rendi tidak berkata jujur padanya.
"Bangun dulu, aku mau ganti baju," pinta Rendi.
Sebelum Rendi kembali ke Jakarta, dia sudah meminta Kenan untuk mencarikan orang untuk memindahkan barang-barangnya ke apartemen barunya termasuk bajunya dan Amel.
Amel langsung bangun dan duduk tegak. Rendi kemudian berjalan menuju walk in closet untuk mengambil baju. Setelah mendapatkan baju yang ingin dia pakai, Rendi langsung melepaskan bajunya.
"Kak, maafkan aku kalau aku ada salah," ucap Amel sambil memeluk Renhi dari belakang.
__ADS_1
Belum sempat Rendi memakai baju, Amel sudah memeluknya. Rendi kemudian menoleh ke belakang, namun dia tidak bisa melihat sosok Amel dari tertutup oleh tubuhnya.
"Mel, lepaskan dulu. Aku ingin memakai baju," pinta Rendi dengan suara pelan.
Amel menggeleng. "Kakak harus janji dulu, jangan mendiamkan aku lagi," ucap Amel dengan manja.
"Iyaaa," jawab Rendi singkat.
"Iyaa apa? Aku tidak mengerti maksud dari kata iya."
"Bukankah kau tahu kalau aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Devan." Akhirnya Rendi mengatakan juga apa yang sedari tadi mengganjal di hatinya.
Amel langsung melepaskan pelukannya, setelah itu dia berdiri di depan Rendi. Amel mengangkat kepalanya untuk menatap Rendi. "Jadi, Kakak marah karena kak Evans?"
"Iyaa. Kau seharusnya menjaga jarak dengannya. Kau sepertinya menikmati sekali saat Devan memelukmu tadi." Terlihat sekali kalau Rendi masih cemburu dengan Devan.
Amel langsung tersenyum lebar. Dia meraih wajah Rendi lalu mencium singkat bibir suaminya. "Maafkan aku, Kak. Itu adalah pelukan perpisahan antara kakak dan adiknya. Kedepannya tidak akan ada lagi hal seperti itu. Aku janji," ucap Amel sambil melingkarkan tangannya di tubuh Rendi.
Rendi tampak masih diam sambil menunduk menatap ke arah istrinya. "Maafkan aku, oke?"
Mereka tampak saling memagut dengan napas yang mulai memburu. Perlahan tangan Rendi bergerak membuka pakaian istrinya menyisakan kain penutup terakhir yang menutupi bagian terpenting istrinya.
Rendi kemudian melepaskan pagutannya. "Aku akan menghukummu karena sudah berani membuat aku cemburu." Rendi langsung membopong tubuh Amel ke tempat tidur. Dengan hati-hati dia meletakkan tubuh istrinya. "Ini terakhir kalinya aku membiarkan dia memelukmu Mel. Aku tidak akan tinggal diam jika dia berani memelukmu lagi."
"Maaf, Kak," ucap Amel lirih.
Tidak menunggu lama Rendi langsung melepaskan kain yang masih melekat pada tubuh bagian bawahnya, setelah itu dia melakukan hal yang sama pada Amel. "Jangan biarkan orang lain menyentuhmu lagi," ucap Rendi dengan suara berat.
Rendi kembali melu*mat bibir istrinya dengan sedikit liar. Api cemburu yang membakar dirinya belum juga padam. Amel hanya bisa pasrah saat suaminya terus memberikan sentuhan pada tubuhnya.
Amel mencengkaram kuat punggung Rendi ketika berhasil melakukan penyatuan. Rendi tampak terdiam sesaat. Dia ingin membuat Amel terbiasa dulu dengan miliknya. Setelah dirasa Amel mulai nyaman, Rendi mulai bergerak.
Rendi baru berhenti ketika dia sudah melakukan pelepasan berkali-kali. Sementara Amel tampak sudah tidak berdaya. Rendi kemudian menarik tubuh Amel dalam pelukannya.
"Maafkan aku Mel karena belum bisa sepenuhnya mengendalikan rasa cemburuku terhadap Devan," ucap Rendi dengan wajah bersalah.
__ADS_1
"Iyaa Kak. Maafkan aku juga karena tidak peka terhadap perasaanmu," ucap Amel lirih.
"Aku akan berusaha untuk menekan rasa cemburuku, tapi mungkin butuh waktu yang lama. Tolong mengerti Mel. Aku begini karena sangat mencintaimu,"ucap Rendi lembut.
"Iyaaa."
Amel berusaha sabar menghadapi sifat cemburu Rendi. Kedekatan yang pernah terjalin antara Devan dan Amel membuat Rendi selalu tidak bisa mengontrol rasa cemburunya pada Devan. Apalagi ketika mengingat kalau Devan hampir saja menikahi Amel jika saja dia terlambat menemukan Amel saat itu.
"Karena bulan madu kita belum sempat terlaksana dengan baik. Selama seminggu ini, kau tidak boleh ke mana-mana. Kita harus menghabiskan waktu berdua di sini. Anggap saja kita melanjutkan bulan madu kita yang sempat terhenti."
Amel langsung mendongakkan kepalanya dengan wajah tercengang. "Bukankah kita akan melakukan bulan madu lagi setelah kita melakukan resepsi di Jerman nanti?"
Rendi pernah mengatakan kalau mereka akan melakukan bulan madu dengan berkeliling Eropa, setelah melakukan resepsi pernikahan mereka di Jerman.
"Itu beda lagi sayang. Kita adalah pengantin baru, sementara kita baru 3 hari berbulan madu di Bali. Itu belum cukup untukku. Aku ingin bulan madu yang lama sebelum kita ke Jerman."
"Tapi Kak...."
"Lagi pula, kita harus sering melakukannya agar kau terbiasa dengan milikku, sayang." Amel memang masih tampak merasa kesakitan setiap kali Rendi mendesak masuk ke intinya.
"Apa kau tidak ingin segera memberikan cucu untuk mama dan papa?"
"Mau, tapi aku...."
"Tidak ada tapi-tapi," sela Rendi cepat. "Tidurlah sayang, jika tidak. Aku akan membuatmu terjaga sampai pagi," ucap Rendi cepat.
"Iyaa, aku akan tidur." Seketika Amel langsung menunduk dan memejamkan matanya rapat-rapat. Dia merasa tidak sanggup kalau Rendi melakukannya lagi.
Rendi langsung tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya. Sebenarnya Rendi hanya menggoda Amel saja. Walaupun dia masih ingin, tetapi dia tidak ingin membuat Amel jatuh sakit karena kelelahan.
Rendi kemudian memeluk Amel dengan erat. "Aku mencintaimu Mel, sangat mencintaimu," ucap Rendi dengan suara pelan sebelum dia ikut memejamkan matanya.
"Kau pasti tidak tahu kalau aku lebih mencintaimu, Kak," gumam Amel dalam hati dengan mata terpejam.
Bersambung..
__ADS_1