
Amel tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya saat berada di dalam lift, setelah keluar dari ruang perawatan Rendi. Dengan pandangan kosong tubuhnya terduduk di lantai. Seluruh tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi tubuhnya.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia mencoba untuk berdiri, namun usahanya sia-sia. Dia terjatuh lagi, tubuhnya lemas seolah tidak mempunyai tenaga lagi. Untung saja keadaan lift sedang kosong, tidak ada seorang pun selain Amel di dalam lift.
Dia berusaha untuk tetap tegar saat ini. Tidak pernah terbayangkan di benaknya, kalau Rendi akan menyembunyikan kenyaataan pahit yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Amel mencoba sekuat tenaga melangkah keluar dari dalam lift. Dia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit dengan tangis yang sudah pecah. Sesekali dia terlihat menabrak seorang yang sedang berjalan ke arahnya, yang dia pikirkan saat ini adalah pergi sejauh mungkin dari rumah sakit.
Dia tidak ingin bertemu lagi dengan Rendi. Amel kemudian menyetop taksi, saat sudah berada di luar rumah sakit. Sepanjang perjalananan dia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Dia mencoba menutup mulutnya dengan kedua tangannya, agar isak tangisnya tidak terdengar oleh supir taksi.
Sesampainya di kosnya, Amel langsung masuk. Dia terduduk lemah di balik pintu kamarnya. Amel hanya diam menatap lurus ke depan. pipinya masih basah dengan air mata. Dia mulai terisak lagi saat mengingat semua perkataan Friska.
Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Rendi sudah bertunangan, bahkan sampai sekarang dia tidak bisa melupakan tunangannya.
Selama ini Amel berpikir kalau laki-laki itu tidak akan pernah menghianatinya. Amel mengira rasa cemburu berlebihan dan sikap posesif Rendi selama ini adalah karena Rendi sangat mencintainya, tapi kenyataan berkata lain. Di hati Rendi ada wanita lain yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun, termasuk dirinya.
Setelah puas menangis, Amel berjalan ke tempat tidur. Dia mencoba membaringkan tubuhnya yang lelah, terdengar suara notifikasi masuk di ponselnya. Dengan sedikit enggan Amel meraih ponsel yang ada di saku bajunya. Saat dia membuka layar ponselnya.
Tangisnya kembali pecah saat melihat wallpaper ponselnya. terpampang jelas wajah damai Rendi dengan mata tertutup di layar ponselnya. Itu adalah foto yang Amel ambil diam-diam saat Amel Rendi sedang tertidur. Foto laki-laki yang sangat dia cintai. Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Laki-laki yang tidak pernah bisa dia hilangkan selama 2 tahun ini dari pikirannya.
Tiba-tiba, semua kenangan saat bersama Rendi terlintas di benaknya. Amel mencoba untuk memejamkan matanya dengan tangan yang bergerak mengapus airmata yang keluar dari sudut matanya. Dia mencoba untuk melupakan rasa sakit yang diberikan oleh Rendi. Tidak butuh waktu yang lama untuk Amel tertidur.
*****
__ADS_1
“Kau sudah sadar?” tanya dokter Jhon saat melihat Rendi membuka matanya.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” timpal dokter Bianca cepat saat melihat Rendi terlihat diam saja.
Rendi menatap dokter Jhon dan dokter Bianca yang sedang berdiri di sisinya secara bergantian. “Kak, aku harus pergi untuk menjelaskan pada Amel kesalahpahaman ini,” ucap Rendi tenang saat melihat wajah cemas dari dokter Bianca.
Dokter Bianca maju mendekati Rendi. “Iya, tapi kita harus bicara dulu. Ini mengenai sakitmu,” ujar dokter Bianca menatap serius pada Rendi.
Rendi mendongakkan kepala menatap dokter Bianca sejenak. “Katakan saja ada apa?” Rendi bangun dari tidurnya dan membenahi posisi duduknya dibantu oleh dokter Bianca.
Dokter Jhon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. “Kita harus segera ke Amerika. Besok semua dokumen kepindahanmu akan segera aku urus, termasuk sekolahmu juga. setelah semua selesai, kita akan langsung berangkat ke Amerika.”
“Aku tidak mau..!! masih ada yang harus aku urus di sinim” Rendi mengalihkan pandangannya ke samping saat dokter Jhon sedang menatap tajam dirinya.
Bianca memegang pundak Rendi dengan tangan kirinya. “Kita harus segera mengatasi cidera otak yang kau alami Ren. Kalau tidak akan berakibat fatal untukmu,” ujar Bianca mengingatkan.
Rendi tampak tenang. “Apa aku akan segera mati?” tanya Rendi datar.
Dokter Bianca mengangguk. “Iya, jika kau tetap bersikeras tidak mau berobat dan operasi. Bukankah aku sudah pernah mengingatkanmu untuk tidak berkelahi dan melakukan hal yang bisa memicu kembali penyakitmu ini,” seru dokter Bianca sedikit tinggi pada kalimat terakhirnya.
Dokter Bianca menatap Rendi lagi dengan wajah serius saat melihat Rendi diam saja. “Kondisi semakin parah Ren. Cidera otak yang derita, tidak bisa didiamkan saja. Seharusnya kau tidak menyembunyikan dari kami kalau sebelum perkelahianmu, ternyata ada pendaharan di otakmu, apalagi di tambah dengab perkelahianmu baru-baru ini dan guncangan kuat saat kau menaiki wahana ekstrim itu, memicu memar dan pendarahan lagi otakmu,” jelas dokter Bianca yang melihat Rendi tampak menatap lurus ke depan seperti sedang memikirkan sesuatu.
kecelakaan hebat yang dialami Rendi waktu itu sangatlah parah. Benturan keras saat kecelakaan itu, membuat pendarahan hebat di kepala dan di otak Rendi. Dia hampir saja mati jika terlambat dioperasi. Rendi adalah satu-satunya korban yang bisa selamat dari kecelakaan mobil naas itu.
__ADS_1
Jantungnya bahkan sempat berhenti berdetak saat itu. Dokter dan keluarganya mengira kalau Rendi tidak akan bangun lagi. Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit Rendi sempat berhenti bernapas. Cidera otak yang dialami Rendi sangat parah, bahkan Rendi kehilangan banyak darah saat itu. Rendi bahkan tidak tahu kalau dirinya sempat koma selama 3 bulan.
Butuh waktu lama untuk dirinya bisa beraktiftas normal lagi setelah bangun dari koma. dia melakukan berbagai terapi.
Dokter jhon menarik kursi dan duduk di sebelah Friska dan berhadapan langsung dengan Rendi.
“Aku dengar dari Amel, kalau kau sudah menunjukan perubahan perilaku dari segi sisi emosional. Kau juga sering mengeluh sakit kepala, telingamu juga sering berdenging, pandanganmu mulai kabur, kau juga mudah lelah dan kau kesulitan untuk tidur, itu artinya kondisimu semakin parah Ren.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Rendi tanpa menoleh.
“Kita harus segera berobat dan melakukan operasi segera mungkin,” jelas Bianca.
“Apa kali ini, aku bisa lolos seperti dulu? Apa aku bisa tetap hidup setelah dioperasi? Berapa persen tingkat keberhasilan operasi kali ini?” cecar Rendi. Rendi mengajukan banyak pertanyaan dan menatap dokter Jhon dengan wajah tenang.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk keberhasilan operasi kali ini,” ujar dokter Jhon meyakinkan Rendi.
Rendi yang tidak puas dengan jawab dokter Jhon kembali mengajukan pertanyaan lagi. “Apa kau bisa menjamin aku akan selamat kali ini?” tanya Rendi dengan alis terangkat. “Jika kau tidak yakin..Maka, aku tidak mau dioperasi,” sambung Rendi lagi saat melihat dokter Jhon tampak terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban pasti padanya.
Dokter Bianca mengatur napasnya sesaat. Dia berusaha menekan emosinya. “Apa kau berencana mati begitu saja Ren..!!” tanya dokter Bianca sedikit keras saat melihat sikap keras kepala Rendi.
Rendi beralih menatap dokter Bianca yang terlihat menatap nyalang padanya. “Kak.. Aku juga ingin hidup, bahkan aku sangat ingin hidup, apalagi setelah bertemu dengan Amel. Kadang aku berpikir, Apa ini hukumanku atas kejadian waktu itu? Apa aku memang tidak layak untuk hidup bahagia seperti orang lain?" ucap Rendi dengan wajah frustasi.
"Permintaanku tidaklah banyak. Aku hanya ingin hidup kak, walaupun aku tahu kalau sakitku semakin parah. aku selalu berusaha untuk bertahan karena aku ingin tetap hidup kak. Aku juga sebenarnya lelah terus berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan kalian,” ucap Rendi lirih.
__ADS_1
Bersambung...