
Amel tampak berpikir. "Raka yang rugi kalau putus sama cewek secantik Nita, apalagi dia kan anaknya baik, kalem, nggak aneh-aneh anaknya
"
"Ya elah Mel, mantan Raka mana ada yang jelek sih, lo perhatiin aja, ceweknya itu pasti cewek hits di sekolah," sambung Lisa.
"Benar juga kata Lisa Mel, yang ngejar Raka juga banyak, jadi dia nggak bakal rugi kalau putus sama Nita," ujar Bela
"Gue juga heran, Raka nyari yang gimana sih, perasaan dia itu nggak pernah serius sama cewek, kayak pacaran itu cuma buat ststus doang," ujar Olive.
"Gue juga nggak tau." Amel malas menanggapi
"Raka sakit apaan sih Mel, kok dia belom juga masuk sekolah?" tanya Bela
"Iyaa, dia nggak biasanya nggak masuk sampe berhari-hari," timpal Lisa.
"Dia lagi sakit demam," bohong Amel
"Bisa demam juga ternyata dia, kirain gue dia nggak bisa sakit." Lisa tertawa kecil.
Amel melempar buku ke Lisa. "Lo kira dia robot, nggak bisa sakit." Amel meletakkan HPnya di meja.
Trriiing, bunyi pesan masuk di HP Amel, dengan malas, Amel membuka pesannya, dia tersenyum saat tahu Rendi yang mengirim pesan.
Pacarku sayang (Rendi) :
Kamu lagi ngapain?
...Lagi duduk di kelas....
...Baru selesai makan....
...Kakak lagi ngapain?...
Mikiran kamu.
Pulang sekolah nanti kamu ke sini ya?
Maaf kak, Amel nggak bisa.
__ADS_1
Amel ada urusan.
Urusan apa?
Amel mau ketemu sama temen.
Siapa? Cewek apa cowok?
Cewek Kak, sama Nita.
Kabarin kalau uda selesai ketemuan.
Iyaa Kak.
Amel menyudahi pesan singkatnya, dan memasukan ponselnya ke dalam tas, karena bel masuk sudah berbunyi.
****
Amel sudah berdiri di depan cafe yang dimaksud Nita. Amel masuk ke dalam, bermaksud untuk mencari tempat duduk dan menunggu Nita yang masih belum juga datang.
Amel berjalan ke tempat duduk yang berada di sudut ruangan. Amel terlihat mengetik sesuatu di ponselnya, setelah itu dia meletakkan di atas meja.
Amel melambaikan tangan.
"Nita... di sini."
Nita berjalan mengampiri Amel. "Sorey Mel lama. Tadi gue ada urusan bentar." Nita duduk di depan Amel.
Amel tersenyum. "Nggak apa-apa, gue juga baru dateng kok. Pesen minum aja dulu atau lo mau makan sekalian?" tanya Amel.
"Pesen minum aja deh. Gue masih kenyang." Nita memesan minum kepada pelayan cafe. Setelah itu dia meletakkan tasnya di samping tempat duduknya.
"Katanya ada yang mau lo bicarain Nit. Mau ngmong apa?" Amel menyeruput minumannya.
Nita tampak ragu sebentar. "Lo terakhir ketemu Raka kapan Mel?" tanya Nita membuka suara.
Amel tampak mengingat. "Beberapa hari yang lalu, kenapa?"
Tampak air mata Nita menetes di pipinya. "Gue putus sama Raka," ucap Nita yang mulai terisak.
__ADS_1
"Kok bisa? Bukannya selama ini kalian baik-baik aja?" Amel terkejut dengan perkataan Nita.
Nita menunduk sambil menghapus air matanya yang terus mengalir. "Gue juga nggak tau Mel. Tiba-tiba aja Raka mutusin gue tanpa alasan yang jelas," ungkap Nita.
"Apa kalian pernah berantem sebelumnya?"
Nita menggeleng. "Nggak Mel, kita baik-baik aja sebelumnya, waktu itu tiba-tiba dia ngajak gue ketemuan di luar. Waktu gue ketemu sama dia, gue ngeliat dia kayak habis berantem, ada beberapa luka lebam di badan sama wajahnya. Terus gue tanya dia kenapa, tapi nggak dijawab. Dia malah bilang kalau hubungan kita nggak bisa diterusin. Dia langsung mutusin gue tanpa basa-basi," terang Nita.
"Dia cuma bilang minta maaf karena selama ini, dia belum bisa cinta sama gue. Dia uda nyoba buat buka perasaannya buat gue, tapi nggak bisa. Sudah ada cewek lain di hatinya. Dia minta gue lupain dia." Air mata Nita tidak hentinya keluar dari kelopak matanya.
Amel mengingat sebentar. Itu kejadian saat Rendi dan Raka berkelahi, tapi kenapa Raka tiba-tiba minta putus dengan Nita di hari itu?
"Tapi kenapa Raka nggak cerita ya sama gue, kalau lo putus sama dia? Biasanya apapun itu dia selalu cerita sama gue."
"Gue juga nggak tau Mel. Semenjak Raka mutusin gue. Dia nggak pernah balas pesan atau ngangkat telpon dari gue. Dia menghindar dari gue Mel."
"Kalau dia suka sama cewek lain, terus ngapain dia pacaran sama lo?" tanya Amel geregetan.
"Sebenarnya gue yang nyatain duluan perasaan gue sama dia. Raka memang bilang, kalau dia uda suka sama cewek lain. Dia juga belum bisa buka hatinya buat orang lain, tapi gue berusaha ngeyakinin dia kalau gue bisa buat dia jatuh cinta sama gue. Gue pikir seiring berjalannya waktu, pasti dia bisa buka hatinya buat gue. Raka setuju pacaran sama gue, tapi dengan satu syarat, dia nggak mau kalau gue batesin dia deket sama lo "
Nita menyeka air matanya. "Gue nggak nyangka aja, kenapa dia tiba-tiba mutusin gue tanpa sebab yang jelas. Gue bisa perbaiki kalau kesalahan itu ada di gue," sambung Nita dengan wajah sedih.
Amel menatap iba pada Nita. "Apa lo uda coba temuin Raka langsung ke rumahnya?"
"Gue nggak tau rumahnya di mana Mel? Raka belum pernah bawa gue ke rumahnya selama pacaran. Raka juga sudah berapa hari nggak masuk, jadi gue benar-benar belum pernah ketemu sama dia semenjak putus." Nita menunduk.
"Setau gue, Raka nggak akan tiba-tiba mutusin lo kalau nggak ada penyebabnya. Dia bukan tipe orang yang suka nyakitin hati cewek."
"Iyaa gue tahu Mel. Makanya gue mau minta tolong sama lo. Tolong bujuk Raka untuk ketemuan sama gue. Setidaknya dia ngangkat telpon gue, biar gue bisa nyelesain masalah ini." Nita memegang kedua tangan Amel.
Amel merasa serba salah. "Tapi gue nggak bisa ikut campur urusan kalian, belum tentu juga Raka dengerin kata-kata gue."
"Gue yakin dia pasti dengerin kata-kata lo. Lo kan paling dekat sama dia." Nita memandang wajah Amel dengan mata yang sudah bengkak.
Emosi Raka lagi nggak stabil semenjak dia berkelahi dengan Rendi, kalau gue ikut campur masalahnya, Raka pasti marah sama gue, tapi kasian juga Nita kalau begini.
"Gue akan coba bicara sama Raka, tapi gue nggak janji kalau gue bakal berhasil bujuk dia." ucap Amel mencoba menenangkan Nita.
Bersambung
__ADS_1